Archive for August, 2007

Para Priyayi

para_priyayi.jpgNovel ini bercerita tentang Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan sanak saudaranya diharapkan dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten ia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa. Dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya melawati zaman Belanda dan zaman Jepang tumbuh sebagai guru opsir peta dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Benarkah? Lalu apakah sesungguhnya “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya? 

Bagi yang senang dengan sejarah, romansa dan drama, buku ini mungkin merangkum semuanya. Novel “Para Priyayi“-nya Umar Kayam ini memberikan suatu gambaran masyarakat Jawa yang paling elaboratif dari karya lain yang pernah saya baca. Sungguh “Jawa”, ringan, diplomatis, sopan, berkesan basa-basi, tapi barmakna sangat dalam. Umar Kayam mereka–reka sebuah kota bernama “Wanagalih” yang sepertinya identik dengan Ngawi. Tidak jelas kenapa dia memakai nama ini sementara dari keseluruhan plot cerita, setting tempat dan waktunya boleh dikata nyata (tidak ada tempat rekaan) mulai dari Suasana perkampungan di Solo, Wonogiri, Yogya, sampai Istana Mangkunegaran, dll yang mencakup  tiga generasi di masa transisi Indonesia, dari zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan, Gestapu, sampai akhir 60-an.

Zaman-zaman yang penuh gejolak, dan sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Jaman yang tidak pernah saya alami sendiri, membaca novel ini ada gambaran yang bisa dimunculkan di dalam kepala tentang situasi saat-saat itu.Sebagian diantara setting novel ini merupakan daerah darimana saya berasal, dan tumbuh sehingga sangat subyektif memang kalau itu menjadi salah satu keasyikan saya membaca novel ini. Seperti mengendarai “mesin waktu”  balik ke masa lalu. Dan membandingkannya dengan gambaran yang saya punyai saat ini.

Cara bercerita dalam novel ini unik. Novel ini dibagi menurut tokoh tokohnya, Umar Kayam  bercerita sebagai orang pertama dari tiap tokohnya. Walaupun begitu, antara bagian satu dan seterusnya tetap menjadi bagian yang utuh yang menjadi satu kesatuan cerita yang bisa juga dibaca secara terpisah meskipun tidak terkotak kotak menjadi seperti kumpulan cerpen.

Bagian yang mengajak kita merenung ( dan cukup menarik menurut saya ) adalah dialog antara Lantip dan Pakdenya di akhir cerita setelah pemakaman Eyang Soedarsono ….

“Kalau menurut kamu, apa arti kata priyayi itu, Tip?”
“Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting bagi saya.”

Lewat novel ini sepertinya Umar Kayam ingin menyampaikan bahwa seseorang disebut priyayi bukan karena kedudukan dan kekayaannya, karena banyak juga para priyayi ( dalam kontek sekarang kita bisa membacanya pejabat / penguasa..? ) yang justru tidak ’mriyayeni’. Sebuah karya yang bisa menjadi rujukan bagi mereka yang ingin mengenal kehidupan masyarakat tradisional Jawa, ataupun buat mereka yang ingin mencari akar Jawanya..!!?

(Resensi ditulis oleh Nugroho)

Etalase

etalase.jpgSetiap manusia dilahirkan dengan kodrat dan takdirnya masing-masing dan kita punya pilihan dalam menjalani hidup ini.

” Hidup itu seperti sebuah sungai yang mengalir menuju muara “ 

Etalase kata inilah yang dipilih oleh penulis Budi Gunawan untuk memaparkan sebuah cerita kehidupan seseorang dengan  sisi lain yang patut untuk dilihat dengan mata hati. Kelainan jender yang dialami oleh tokoh aku ( Eka ) dalam buku ini sungguh luar biasa. Sebagai seorang laki-laki sekaligus wanita dia membutuhkan pengakuan dan kejelasan. Dia menjalani hidup penuh dengan liku-liku perjuangan dan kejujuran yang akhirnya mendapatkan lebih dari apa yang selama ini dia harapkan…bukan saja pengakuan tetapi sebagai pribadi yang utuh. Transformasi Jender adalah jalan yang di pilih. 

Buku ini dikemas dalam bahasa yang sangat sederhana namun sarat dengan makna hidup yang tinggi. Penasaran dengan Etalase dan bagaimana endingnya ?

(Resensi ditulis oleh Vista  Yulianti)

Pitaloka

pitaloka.jpgYang ada di dadamu itu elang 

Sayapnya adalah ilham

Agar dia selalu terbang 

Lalu, atas nama apa hingga engkau mengiba ingin mengekang? 

(Curahan hati Purandara terpahat di dinding Gua Taruma) 

“Di wajahnya tak ada kesan lain kecuali bencana. Sinar matanya menembus. Lebih sering memicing, memasang kesan menyepelekan apapun yang ada di hadapannya….Dia memiliki seluruh syarat untuk membikin jerih siapapun yang dia inginkan. Seperti kuda yang belum dijinakkan atau harimau yang kelaparan…Purandara, lelaki bermata bencana itu menarik tali kekang kudanya, setelah lebih dulu tangan kirinya menerima busur panah dari anak buahnya, sang lelaki berwajah penuh bekas luka.” 

Purandara, atau lebih dikenal sebagai Elang Merah, perampok yang paling ganas dan ditakuti di tanah sunda, ternyata menyimpan cinta yang tulus pada Dyah Pitaloka, puteri Raja tanah Sunda. Dyah Pitaloka, pada masa kecilnya pernah diculik kawanan perampok yang diketuai Yaksapurusa, dan tiga murid utamanya, Elang Merah, Kuda Putih (kekasih Merak Hitam yang diam-diam juga mencintai Dyah) dan Merak Hitam. Setelah selamat dari penculikan, Dyah berguru pada Candrabagha. Tak dikira, bertahun-tahun kemudian, Dyah diutus ayahnya untuk kembali ke perguruan Candrabagha dan memperingatkan gurunya untuk menutup padepokan yang dianggap sesat itu (Candrabagha, walaupun tidak pernah disebutkan secara jelas, kelihatannya adalah penyebar agama Islam). Tak dinyana perguruan tersebut juga telah disusupi murid-murid kawanan perampok Yaksapurusa yang berusaha membunuh dan menghabisi perguruan tersebut. Bagaimana Elang Merah harus bersikap? Karena dengan menghabisi perguruan tersebut berarti dia harus membunuh Dyah Pitaloka, wanita yang membuat hatinya bergetar dan menjinakkan kebuasan hatinya.  

Cerita berlatar belakang sejarah ini terjadi sebelum perang Bubat yang terkenal, di mana Patih Gajah Mada membantai seluruh penguasa tanah Sunda tanpa terkecuali, karena Raja Maja Pahit, Hayam Wuruk menginginkan Citraresmi atau Dyah Pitaloka sebagai istri, namun ditolak.  

Pitaloka: Cahaya adalah buku I dari trilogy Pitaloka; Cahaya, Mahkota dan Nirwana,  ditulis oleh Taufiq Saptato Rohadi (Tasaro) ini punya gaya bahasa yang sangat puitis. Silahkan membaca kisah cinta dua orang yang saling berlawanan yang dituturkan secara halus…..

(Resensi ditulis oleh Damar Suryaningsih)

My name is Red!

pamuk.jpgKini saya jadi tahu, mengapa wayang kulit proporsi anatominya “aneh.”  Coba perhatikan bentuk mata yang terlihat utuh,  padahal itu terlihat dari samping.  Panjang lengan dan tangan yang sampai menyentuh tanah, sejajar dengan posisi kaki. Pundak depan lebih pendek daripada pundak belakang, dan masih banyak lagi yang tidak “proporsional.” Jawabnya adalah bahwa wayang diciptakan sebagai penggambaran manusia dengan segala ceritanya, tapi tidak boleh meniru persis manusia. Jika itu dilakukan, maka manusia telah memasuki wilayah kekuasaan Tuhan dengan mencoba meniru ciptaanya. Pertanyaanya, bolehkan manusia mencoba memasuki wilayah sakral itu?

Novel “My Name Is Red” karya Orhan Pamuk mengangkat kegelisahan yang sama di Turki.  Turki sebagai sebuah entitas budaya berada dipersimpangan antara budaya barat dan timur.  Novel yang dibuka dengan misteri terbunuhnya seseorang di dasar sumur mulai mengajak pembaca menikmati tamasya budaya dan pergulatan yang terjadi antara dua kutub budaya itu. Tradisi seni lukis Turki kuno mengajarkan untuk tidak mencoba masuk wilayah ego seniman dengan mencantumkan nama diri dan membuat gambar manusia secara perspektif proporsional. Sementara tradisi barat mengajarkan sebaliknya. Pembunuhan adalah ekses dari tarik-menarik dikotomi itu, yang melanda bengkel seni masa Kesultanan Murat Utsmaniyah III. Tapi sesungguhnya pembunuhan adalah trik penulis untuk menguras dahaga pembaca akan teka-teki siapa pembunuh yang sebenarnya. Kupasan dan lapisan sejarah masa lalu Turki, menurut saya lebih indah. Mungkin seindah ilustrasi lukisan yang terpahat pada buku-buku kuno yang mereka ciptakan itu.

Gaya bertutur Orhan Pamuk sungguh memikat. Tokoh-tokoh muncul satu persatu dengan personifikasi “aku:” Aku Pembunuh, Aku Elok Effendi, Aku Zaitun, Aku Bangau, Aku Merah, dll.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

The Pillars

pillars.jpgKehidupan biara Katholik sangat mengusik penasaran orang luar. Ada apa di balik sana? Kehidupan yang menurut pandangan awam serba agung dan suci, ternyata tiada beda dengan kehidupan dunia luar yang hiruk pikuk dengan nafsu, amarah, kekuasaan. Biarawan, pastor, bruder, uskup sekalipun adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari sifat kodrati manusia itu.

Cerita yang berlatar abad 12 ini memotret dengan detail pertarungan kekuasaan pasca mangkatnya Raja Henry. Tapi menurut saya, ada 2 tokoh penting di sini: Philip dan Tom.  Phillip berjuang menegakkan moral biara Katholik, di tengah carut marut perebutan kekuasaan dan nafsu serakah manusia. Tom berjuang mewujudkan impianya menjadi orang yang akan dikenang sepanjang sejarah sebagai perancang katedral yang mahsyur, dan tanda cintanya yang mendalam pada istrinya, Agnes. Sanggupkah Tom mewujudkan impiannya itu?

Jalinan cerita “The Pillars” yang dirangkai oleh Ken Follett sungguh menggugah rasa penasaran orang untuk terus membaca buku setebal 1,131 halaman ini! Dari prolog satu paragraf saja sudah membuat orang merasa dipersiapkan untuk mulai membuka babak menegangkan:

Pada malam tanggal 25 November 1120 Kapal Putih berlayar menuju Inggris dan tenggelam di Barlfeur, hanya seorang awaknya yang selamat… Kapal itu merupakan alat transportasi laut yang paling canggih, dilengkapi semua peralatan yang diketahui pembuat kapal masa itu…Kehebohan berita tenggelamnya kapal ini dikarenakan banyaknya orang penting yang menjadi penumpangnya; selain raja dan pewaris takhta, ada juga dua anak haram Raja, beberapa earl dan baron, dan sebagian besar keluarga istana..efek historisnya adalah kecelakaan itu menyebabkan Henry tidak punya ahli waris…hasil alkhirnya adalah suksesi yang kisruh dan periode anarki menyusul kematian Henry.”

Sejarah umat manusia seperti terulang kembali. Karena kecamuk perang, kehidupan biara, ambisi pembangunan katedral,  belum lengkap tanpa kisah gairah cinta membara dua anak manusia. Tom dengan Agnes, lalu Ellen. Dan Aliena dengan Jack.

(Resensi ditulis oleh Hartono)