Archive for September, 2007

Kearifan Timur

kearifan-timur.jpgKearifan Timur menjadi relevan dan kontektual untuk diaktualisasikan kembali di saat proses kehidupan ini dihegemoni oleh perilaku kehidupan industri yang menekankan pada produksi. Hiruk-pikuk industrialisasi ternyata telah mencerabut hakekat kemanusiaan yang tak jarang seseorang menjadi asing bagi dirinya sendiri. Kenapa? Karena manusia telah diperlakukan sebagai mesin produksi, hidup yang terdiri atas momen-momen yang sangat khas dan unik pada setiap manusia terstandarisasi ke dalam sebuah sistem yang namanya kapitalisme industri. Makna dari momen-momen tersebut telah tereduksi menjadi aktivitas instrumental yang jauh dari makna sosial yang reflektif.

Aktualisasi kearifan timur akan sangat bermakna bagi para kaum urban, masyarakat kota, commuters dan para manusia yang telah terjerembab sebagai pengumpul uang, untuk merefleksikan makna di setiap aktivitas kehidupannya. Dapatkah anda benar-benar hidup dan mengisi setiap momen masing-masing secara mendalam? Dapatkah anda meninggalkan setiap momen yang telah berlalu dan lahir kembali pada setiap momen baru? Dapatkah anda mengisi momen yang baru dengan penuh keyakinan, kegembiraan dan semangat? Dengan memandang setiap momen adalah baru, maka kita akan mampu menceburkan diri ke dalamnya dan menjalaninya dengan sepenuhnya: apakah itu saat mancuci piring, minum teh, memeluk bocah kecil, menatap ke dalam mata orang yang kita kasihi, menahan rasa sakit atau bahkan ketika menghadapi kematian. Semakin terus membaca buku ini, pembaca akan didorong untuk masuk ke dalam lorong perenungan dan refleksi terhadap proses kehidupan kita. Teguran sekaligus otokritik akan menjadi makna penting dari buku ini, lebih-lebih jika para pembaca adalah orang timur. Otentiksitas ketimuran kita akan dipertanyakan ulang yang mana nalar atau logika yang memisahkan objek dengan subjeknya telah mendominasi cara berpikir sebagian besar masyarakat timur. Sementara kearifan timur tidak pernah memandang suatu masalah sebagai sesuatu yang bisa diisolasi dari lingkungannya. Bunga tidak bisa dipetik dari bayangannya di kaca, Rembulan tidak bisa dipungut dari pantulannya air”. 

Harapannya setelah kita membaca buku yang ditulis oleh Jusuf Sutanto ini kita akan menolak cara berpikir mainstream yang selalu mempertanyakan siapa yang “menang”, apa untungnya” tetapi akan selalu mempertanyakan “apa yang benar?”. Bagi para pembaca selamat menjalani kehidupan dan ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan: 
Bebaskanlah dirimu dari kebencian
Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

Hiduplah sederhana

Berilah lebih banyak

Berharaplah lebih sedikit

Tersenyumlah 
 
(Resensi ditulis oleh Lukas Bayu Setyatmoko)

Gadis Pantai

gadis-pantai.jpgKekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) belakangan ini semakin marak terdengar di masyarakat. KDRT yang sebagian besar (bahkan hampir seluruh) korbannya adalah perempuan, bukan semata-mata masalah pribadi namun lebih merupakan masalah sosial. KDRT yang banyak diberitakan di media, bisa jadi hanya berupa gunung es, yang tampak dipermukaan saja. Padahal, banyak sekali kejadian KDRT yang tidak terlaporkan karena korban merasa malu dan takut. Namum seharusnya, sebagai perempuan yang notabene menjunjung emansipasi, sudah saatnya perempuan lebih berani bersuara jika melihat dan mengalami KDRT di lingkungan kita. KDRT yang dialami Gadis Pantai mungkin lebih kepada penganiayaan batin, ketertindasan, bukan pada kekerasan fisik.

 Roman Gadis Pantai karya Premoedya Ananta Toer sejak lembar pertama akan mampu membius pembacanya untuk terus mengikuti dan masuk ke dalam alur cerita. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana, menjadikan novel dengan setting feodalisme Jawa ini mudah diikuti dan dinikmati.

Gadis Pantai, anak dari rakyat jelata yang hidup di kampung nelayan di pesisir pantai, yang karena kecantikannya dipinang oleh seorang Bendoro ‘alim’ untuk dijadikan istri. Ketika Gadis Pantai mulai masuk kedalam tembok tinggi rumah Bendoro, ini merupakan awal penderitaannya. Semua tingkah dan perilaku Gadis Pantai harus berubah, harus diatur dengan mengedepankan pengabdian dan pengorbanan bagi sang Bendoro. Menjadi istri yang selalu nrimo, walaupun hati berontak.

Walaupun awalnya pernikahan yang terjadi dengan Bendoro tidak diinginkan oleh Gadis Pantai, tetapi seiring dengan waktu Gadis Pantai semakin merasakan bahwa hatinya semakin terisi dengan cinta dan rindu untuk Bendoro. “Sahaya Bendoro…..” hanya kata itu yang seringkali diucapkan Gadis Pantai dalam percakapannya dengan sang suami. Bahkan ketika rindunya berkecamuk, Gadis Pantai tidak mampu mengungkapkannya. Atau ketika Gadis Pantai harus ‘terlempar’ dari sisi Bendoro karena posisinya digantikan dengan wanita yang lebih sederajat dan bermartabat, hanya air mata dan kesedihan yang berbicara. Dan ketika hatinya sakit tak terperi, karena dipisahkan dari anak yang baru beberapa bulan dilahirkannya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan kekuasaaan Bendoro.

Sayang sekali, roman ini seperti tidak selesai. Atau itu memang trik Pram untuk menyudahi tragedi Gadis Pantai dengan ketidakjelasan? Tapi dengar-dengar Roman Gadis Pantai ini pada awalnya memang sudah disiapkan Pram dalam 3 seri, tetapi hanya seri pertama yang berhasil diselamatkan dan dipublikasikan melalui roman Gadis Pantai ini. Seri berikutnya habis dibakar oleh rejim yang merasa takut oleh virus perlawanan yang dikobarkan Pram!

(Resensi ditulis oleh Nony Parmawaty)

The Sampoerna Legacy

samlegacy.jpgAkulturasi budaya adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada bersikeras pada fanatisme tradisi masa lalu yang rigid. Oerang Moeda Indonesia kini berada di persimpangan budaya timur dan barat. Tampaknya dalam benturan budaya ini, budaya barat lebih dominan dan relatif menang di sini. Tapi benarkan yang serba barat mesti di tolak? Budaya timur yang katanya adiluhung itu harus dilestarikan?

Baik Djenar Maesa Ayu maupun Sudjiwo Tedjo, lebih sepakat untuk tidak memandang keduanya secara konfrontatif, karena keduanya sebenarnya punya sisi universalnya. Keduanya bisa melebur. Taruhlah misalnya ketika Sudjiwo Tedjo masuk MTV, apakah itu berarti dia sudah terkooptasi dengan budaya barat? Karena bagi dia, memahami dan melakoni seni tradisi wayang dan gemelan tidak harus menduplikasi habis cetak biru kesenian tradisional itu. Dia harus bisa mewujud dalam berbagai bentuk. Seperti ketika Sudjiwo Tedjo diminta membuat lukisan tentang tokoh Semar, visualisasi Semar sudah mengalami deformasi sesuai dengan pergulatan batinnya selama ini. Di sana ada kontras. Dan itu sungguh asyik!

Tema oerang moeda berboedaja ini diangkat oleh The Sampoerna Foundation ketika melakukan peluncuran buku The Sampoerna Legacy pada hari kedua di toko buku ak.’sa.ra, di bilangan Kemang, Jakarta.  Semangat akulturasi budaya itu sebenarnya telah menjadi semangat hidup Mr. Liem Seeng Tee, pendiri imperium rokok kretet ”Dji-Sam-Soe.” Semangat itu tergambar jelas lewat perjalanan hidupnya yang terekam dengan manis dan indah lewat cerita yang disusun oleh Michelle Sampoerna, yang kemudian ditulis  dan mendapat sentuhan artisitik dari Diana Hollingsworth Gessler. Visualisasi gambar dibuat sangat cermat dan artistik.

Kembali kepada soal akulturasi budaya, itu semua telah dipraktekkan oleh Mr. Liem Seeng Tee. Lihatlah bagaimana dia mampu bertahan hidup di tanah perantauan sebagai orang Cina daratan, berganti nama Sampoerna, beristrikan Cina peranakan, menyekolahkan anak-anaknya di sekolah barat, dan sangat mencintai seni budaya, hingga pada tahun-tahun pertama pada saat dia memulai bisnis rokok masih sempat membuka ”Taman Sampoerna” sebagai tempat menampung segala aktivitas seni panggung dan bioskop pada masa itu.

Kekuatan buku The Sampoerna Legacy adalah pada diseminasi semangat akulturasi itu, selain tentu saja semangat hidup yang memiliki  visi jauh ke depan. Kita bisa belajar bahwa sukses itu tidak diraih dengan mudah dan serba instan. Melalui buku ini, kita bisa merunut balik kisah hidup Mr. Lee ketika pada usia 5 tahun harus meninggalkan desa Anxi, bersama bapak dan saudara perempuannya di atas keranjang pikulan. Saat tiba di Penang, saudara perempuannya terpaksa harus ditinggal dan diangkat oleh salah seorang keluarga Hokian di Penang, karena bapaknya tidak punya cukup uang untuk biaya berlayar 3 orang. Dengan sedih, akhirnya hanya mereka berdua melanjutkan pelayaran ke Surabaya. Belum genap 6 bulan, bapaknya meninggal karena penyakit Kolera.  Sejak itulah, Mr. Liem hidup sebatang kara sebagai anak yatim piatu dan memulai babak baru kehidupannnya dengan penuh perjuangan.

Sambil membaca buku ini, saya mencoba menangkap spirit hidup Mr. Liem. Di sana ada perjuangan, tapi dia juga meyakini bahwa segala sesuatu itu sudah ada takarannya.  Itu yang dinamakan takdir. Mr. Liem berhasil meletakan pondasi ketegaran berjuang kepada generasi penerusnya, Pak Aga Sampoerna, Pak Putera Sampoerna, dan Pak Michael Sampoerna sepanjang hampir 100 tahun imperium Sampoerna hingga dibeli oleh Phillip Moris. 

Dalam melihat kehidupan, segala sesuatu juga mesti memakai perhitungan, misalnya soal angka 9. Anda akan banyak menemukan angka 9 bertebaran di Sampoerna. Dji-Sam-Soe adalah kombinasi angka 2-3-4 yang jika dijumlah akan menjadi 9. Dji-Sam-Soe dan Sampoerna sendiri terdiri 9 huruf. Nomor rumah tinggal, nomor kantor, nomor telepon, nomor mobil dan segala pernak-perniknya akan ketemu angka 9. Jumlah ikan koi di museum Sampoerna ada 18, artinya 1 tambah 8 jadi 9. Bahkan pada saat peluncuran buku The Sampoerna Legacy, saya baru sadar kalau hari pertama peluncuran adalah tanggal 9 bulan 9. Mau tahu harga buku The Sampoerna Legacy? Harganya Rp. 270.000, yang berarti 2 tambah 7 jadi 9. Menakjubkan!

Bagi saya, mistikisasi angka 9, bukan semat-mata klenik seperti yang diyakini oleh orang jawa. Tapi di sana ada prinsip, ada  value yang harus secara konsisten dijaga dan dipertahankan.

Beberapa kekurangan yang menyertai buku ini adalah pada tingginya harga buku itu sendiri- meskipun hasil penjualan buku merupakan donasi untuk pendidikan Indonesia. Kalau sasarannya adalah oerang moeda, maka saya sangsi target akan tercapai melalui penjulan buku. Spirit buku hanya akan bisa ditangkap oleh mereka yang punya uang. Kekurangan kedua adalah dalam soal pilihan bahasa yang digunakan-Bahasa inggris. Lagi-lagi hanya sedikit orang yang mampu memahami isinya. Kekurangan lain yang sedikit mengganggu adalah 12 erata yang belum-belum sudah muncul di book divider.

Above all, buku ini telah menjadi salah satu sumbangsih bagi kemajuan Indonesia.  Terutama melalui The Sampoerna Foundation yang peduli pada pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah buku sejarah keluarga dan bisnis Sampoerna, dia tidak lagi berhenti di wilayah kenangan nostalgia keluarga Sampoerna. Dia telah melampaui itu semua. Telah menjadi milik publik, yang harus disemangati dan menjadi jiwa, terutama oerang moeda dalam menyongsong hari depan yang lebih cerah.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Mangir

mangir.jpgMangir adalah nama sebuah desa di daerah Jogja. Pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Mangir merupakan daerah perdikan, atau daerah bebas pajak. Sama seperti desa Galia yang tidak mau tunduk pada kekuasan Romawi, pada serial komik Aterix. Bagi kekuasan kerajaan Mataram Jogja, Mangir adalah duri dalam daging. Desa ini secara terang-terangan tidak mau tunduk pada kerajaan Mataram, apalagi membayar upeti seperti wilayah lainnya.  Tokoh pemberontak dari Mangir itu adalah Ki Ageng Mangir. Dia ditakuti karena memiliki pusaka sakti, tombak Kyai Plered. 

Kekuatan Mangir, oleh Pramoedya Ananta Toer diangkat sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasan hegemonik feodalistik. Karya Pram ini agak beda dengan novel-novel sebelumnya. Teknik penulisannya berupa skenario pementasan, atau naskah drama yang harus dibaca oleh para pemainnya. Lengkap dengan prolog, dialog yang harus diucapkan oleh setiap pemainnya, serta keterangan yang membingkai jalinan cerita. Tapi hasilnya sama saja. Bagi pembaca yang terus mengikuti setiap jengkal kata akan segera menangkap hawa perlawanan itu. 

Melalui Mangir pula, Pram ingin menguak kabut misteri yang selama ini menutupi sosok Ki Ageng Mangir yang sebenarnya. Menurut versi Mataram, Ki Ageng Mangir adalah pemberontak yang halal darahnya untuk dibunuh. Maka diaturlah sebuah skenario untuk menjebak Ki Ageng Mangir. Caranya,  Panembahan Senopati mengirim Pambayun, yang tak lain adalah anak perempuan tertuanya, untuk menyamar sebagai penari ronggeng ke desa Mangir, dengan harapan Mangir terpikat dan menjadikan Pambayun sebagai istrinya. Jebakan itu berhasil. Ki Ageng Mangir jatuh cinta. 

Persoalan menjadi rumit ketika Pambayun kemudian secara tulus jatuh cinta kepada Ki Ageng Mangir, padahal tugasnya adalah membawa kepala Ki Ageng Mangir ke hadapan ayahandanya. Pambayun meminta Ki Ageng Mangir untuk mau datang menghadap ayahandanya, musuh politik  Ki Ageng Mangir sendiri yang kini adalah mertuanya sendiri.  

Berangkat dari sini, terjadi perbedaan versi. Ketika Ki Ageng Mangir menghadap Panembahan Senopati, kepala Ki Ageng Mangir pecah diantamkan ke batu. Peristiwa itu terjadi ketika Ki Ageng Mangir tunduk sujud  kepada mertuanya, setelah semua senjata dia lepaskan. Sebab menurut tradisi jawa, seorang menantu yang sedang sujud kepada mertua harus melepaskan seluruh senjatanya. Di sini Panembahan Senopati menang telak.  Setelah mati, jasad Ki Ageng Mangir dikubur dengan bagian kepala masuk dalam tembok kraton, sementara bagian kaki berada di luar tembok. Karena Ki Ageng Mangir adalah menantu raja tapi sekaligus pemberontak. Jadi jasadnya tidak bisa diterima secara utuh oleh istana. 

Versi Pram, adalah keniscayaan bagi Ki Ageng Mangir untuk begitu saja tunduk kepada Raja Mataram. Itu bukanlah watak aslinya. Mangir sebelum mati pasti melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Bukan mati secara sia-sia di atas bongkahan batu, di bawah injakan kaki kuasa Panembahan Senopati! 

Naskah Pram ini ingin membuka mata dunia bahwa kraton Mataram itu menyimpan watak licik, menghalalkan segala cara. Maestro perancang skenario pembunuhan itu adalah Ki Juru Martani.  Tentu dengan persetujuan Panembahan Senopati yang merasa kedudukannya terusik. Kisah ini tidak hanya berhenti pada masa kekuasaan Mataram.

Pada masa kini, masih banyak beredar Ki Juru Martani yang lain, yang siap mengganyang siapa saja yang dianggap lawan politiknya. Waspadalah! 

(Resensi ditulis oleh Hartono)

The Kite Runner

kite-runner.jpgThe Kite Runner bertutur tentang perjalanan panjang tokoh sentral Amir, hubungan emosionalnya dengan Baba, persahabatan dan pengkhianatan. Dengan latar belakang kultur Afghanistan yang kental, The Kite Runner membawa pembaca memaknai tindakan seorang anak kaya yang menggunakan kekuatan pengetahuan dan kekuasaan atas sahabatnya Hassan. Hasrat untuk menjadi anak terbaik Babanya yang tidak sudi berbagi ruang bahkan dengan orang yang sangat mencintainya dibalut rasa cemburu, iri hati dan kegelisahan, menuntun Amir kecil melukai Hassan dengan sadar. Sejalan dengan waktu, Amir tidak pernah sungguh-sungguh lepas dari masa kecil dan rasa bersalah terhadap Hassan.

Novel ini dibuka dengan ingatan Amir tentang masa kecilnya di Afghanistan, rangkaian kejadian yang memaksa dia dan Baba meninggalkan tanah kelahiran, menjadi pengungsi di negeri asing, memulai hidup baru di Amerika dan keengganan untuk kembali berhubungan dengan rumah sejati Baba.

Kekuatan novel ini terletak pada kemampuan Khaled Hosseini memberi nilai persahabatan bagi seorang Amir dan seorang Hassan. Karakter Amir dibangun dan bertumbuh atas balutan emosi – sisi-sisi gelap yang manusiawi ­– yang membuatnya sangat nyata bagi pembaca. Sentuhan Hosseini menyadarkan kita tentang pilihan yang dapat dibuat oleh seorang manusia, bahkan ketika masih kanak-kanak, yang pada akhirnya bermuara ke pencarian sejati tentang siapa kita sesungguhnya. Toh, kejujuran atas kelemahan seorang Amirlah yang membuat pembaca melihat Amir apa adanya, tidak ada simpati yang berlebihan atau rasa benci yang berkepanjangan. Karakter Hassan, di lain sisi, dibangun dan dipelihara secara konsisten sebagai seseorang yang karena kemurniaan hatinya menciptakan ketidakamanan bagi seseorang yang ”senormal” Amir. Namun dengan cerdas, Hosseini tidak membawa karakter Hassan ke titik dimana kemurniaan jiwa menjadi naif. Hubungan Amir dengan Baba diwarnai dengan kekuatiran Baba sepanjang kisah akan ketidakmampuan Amir membela dirinya sendiri — naluri seorang ayah untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya dan hasrat seorang anak untuk menjadi kebanggaan ayahnya. Hubungan ini terbangun jauh melewati batas permainan kanak-kanak seperti yang diungkapkan Amir: ”we actually deceived ourselves into thinking that a toy made of tissue paper, glue and bambo could somehow close the chasm between us”.

Bagi sebuah kisah yang dilatarbelakangi sejarah, perubahan politik di Afghanistan dan tradisi yang kental, The Kite Runner justru menawarkan hubungan manusia yang sangat universal. Seluruh rangkaian peristiwa maupun tokoh-tokoh yang hadir dan memperkaya kehidupan Amir, dipertimbangkan dengan cermat oleh Hosseini tanpa menciptakan hiruk pikuk yang tak berarti. Sebuah kisah yang merefleksikan ”sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang”

(Resensi ditulis oleh Sylvia Bakarbessy)

Filosofi Kopi

filosofi-kopi.jpg

Suatu malam di kedai kopi “Jasa Ayah” di daerah Ulee Kareng, Banda Aceh, saya bertanya pada seorang teman penikmat kopi, ”frankly speaking, enakan mana kopi tarik Ulee Kareng dengan kopi Starbuck Coffee?” Teman saya tidak langsung menjawab. Dia sedikit berdiplomasi, “well, dari segi rasa, jelas enakan di sini. Mantap! Tapi kalau saya masih sering ngopi di Starbuck Coffee itu soal lain bung! Di Starbuck Coffee terus terang saya beli suasananya!” Itu dia! Kopi sudah menjadi semacam sub-kultur pada jagat manusia moderen saat ini.  

Kumpulan cerpen dan puisi Dewi Lestari, atau biasa dipanggil Dee, dengan judul sampul ”Filosofi Kopi” berhasil menohok soal kopi secara cerdas. Kumpulan cerpen yang terdiri dari 18 tulisan ini merangkum tulisan Dee yang ia kumpulkan selama periode 1995-2005. Saya sangat tertarik dengan tulisan tantang kopi ini daripada tulisan lain, seperti Mencari Herman, Sikat Gigi, Kuda Liar, Budha Bar, atau Rico de Coro. 

Fiosofi Kopi bercerita tentang obsesi Ben yang gila kopi, hingga rela pergi ke berbagai pelosok dunia hanya untuk mencari racikan kopi yang sempurna. Hasil pengembaraanya kemudian dia wujudkan dengan mendirikan kafe bersama temannya, Jody. Kopi racikan Ben selalu hadir bersama narasi yang dicetak dalam selembar kartu, yang menjelaskan karakter dari kopi yang akan diminum setiap tamunya. Kafe Ben menjadi ramai karena setiap pengunjung bebas memilih kopi yang sesuai dengan karakter mereka. Puncak pergulatan Ben adalah racikan kopi sempurna yang ia beri nama ”Ben Percefto.” Kopi yang dijual Ben sungguh mahal harganya. Anehnya, orang mau saja membeli kopi mahal itu.

Ben merasa inilah puncak pencapaian obsesinya, hingga suatu hari ia kedatangan seorang pengunjung tua yang memesan ”Ben Pefecto.”  Dengan tegang, Ben menunggu reaksi tamu yang barusan minum kopi andalannya itu. Bapak itu tidak segera memuji, tapi cuma berkata datar, ”kopi ini enak, tapi menurut saya ada yang lebih enak lagi.” Ben sungguh cemas mendengar komentar menyakitkan ini. Ben langsung menghujani pertanyaan di mana dia bisa mendapatkan kopi yang lebih enak itu. Bapak itu memberi selembar alamat kedai kopi di sebuah desa lereng gunung Merapi, Jawa Tengah. Kedai kopi sederhana ini milik Pak Seno. Dia menamainya ”Kopi Tiwus.”  Kopi pak Seno tidak mahal, bahkan tidak punya harga pasti. Orang bisa minum kopi sambil makan pisang goreng, kemudian membayar sesuai dengan uang yang ada di saku mereka. Kadang-kadang ada yang membayar 200 rupiah, 500 rupiah, atau 1000 rupiah.  

Jujur, Ben mengakui kopi Pak Seno sungguh nikmat. Tapi di atas segalanya, Ben merasa terpukul bahwa selama ini dia telah membodohi pengunjung setianya dengan narasi yang membuat harga kopinya melambung tinggi, yang membuat dirinya kaya. Di kedai Kopi Pak Seno, Ben menemukan kesederhanaan yang sudah lama dia lupakan.  ”Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap  kopi, punya sisi pahit yang tidak mungkin kamu sembunyikan.” 

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Glonggong

glonggong.jpgDe Javasche Oorlog adalah perang 5 tahun yang menguras habis tenaga kedua pihak: Belanda dan rakyat Jawa. Karena perang inilah hutang Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda meningkat tajam yang berarti juga keuangan Kerajaan Belanda terkuras habis untuk membiayai perang ini. Karena perang ini pula jutaan rakyat Jawa mati, baik karena perang ataupun kelaparan sebagai akibat taktik isolasi Benteng Stelsel yang diterapkan Belanda. 

Perang ini menarik karena inilah perlawanan terakhir Kerajaan Jawa yang pengaruhnya menurun semenjak Perjanjian Giyanti 1788. Perang ini juga menarik karena perlawanan yang diberikan bukanlah perlawanan kecil yang gagal, tetapi perlawanan besar setara Perang Kemerdekaan di tahun 1945-1949. Sedemikian besarnya perlawanan itu sehingga Belanda perlu merancang cara untuk menjebak Pangeran Diponegoro melalui sebuah perundingan yang dirancang dilakukan pada bulan Puasa. Sebagai seseorang yang ingin menunjukkan diri sebagai role-model Sultan Kalifah Panata Gama, Diponegoro tidak ingin menumpahkan darah pada Bulan Puasa sebagaimana contoh Rasulullah SAW. Karena itulah undangan Belanda untuk perundingan gencatan senjata pada Bulan Puasa dipenuhinya, sebuah undangan yang berujung pada penangkapan dirinya.  

Junaedi Setiyono menuliskan Perang Jawa itu dari sudut pandang bangsawan rendah yang terbuang: Glonggong. Setiyono nampak berusaha menjelaskan mengapa Perang itu sampai gagal. Kegagalan bukan karena kuwalat yang disebabkan pengangkatan Pangeran Diponegoro sebagai Sultan tanah Jawa, melainkan karena sabotase-sabotase yang dilakukan oleh orang-orang yang justru berada di belakang Pangeran.
 

Glonggong adalah nama panggilan Raden Danukesuma, yang disematkan sendiri oleh Pangeran Diponegoro semasa remaja saat dalam satu perjalanan ia menonton kehebatan Danukesuma bermain pedang Glonggong. Permainan pedang glonggong adalah permainan pedang-pedangan menggunakan glonggong atau buluh batang pepaya. Permainan ini masih ditemukan hingga tahun 1980-an dan perlahan menghilang seiring dengan masuknya permainan-permainan modern yang menjauhkan anak dari lingkungan sosialnya. 

Glonggong sendiri menjalani kehidupannya dengan sangat berat. Ibunya adalah istri seorang senapati Raden Rangga yang memberontak pada awal 1800-an. Raden Mas Suwanda yang menjadi ayah tirinya memperistri ibu Glonggong setelah menipunya dengan mengabarkan bahwa ayah kandung Glonggong mati dalam pemberontakan. 

Glonggong merasakan penderitaan ibunya yang hanya bisa menembang dan melamun. Penderitaan ini dirasa semakin pedih setelah Raden Mas Suwanda mengusir ibunya dan dirinya dari Dalem Suwandan. Pengusiran itu membuat mereka kehilangan trah ningrat mereka. Di sini nampak penggambaran struktur sosial masyarakat Jawa saat itu yang sangat tidak seimbang dan patriarkis. Keningratan Glonggong tidak ditentukan secara genetis tetapi secara politis. Secara politis Glonggong kehilangan gelar Raden setelah ayahnya memberontak. Secara politis pula gelar itu masih dia dapatkan karena ibunya menikah dengan seorang bangsawan. Secara politis juga ia kehilangan kembali keningratannya setelah ayah tirinya menceraikan ibunya setelah mendapatkan istri baru.  

Pada bagian lain, novel ini menggambarkan bagaimana kebobrokan mental para penguasa yang menjadi tumpuan harapan rakyat. Sudut pandang “aku” yang digunakan dan setting sebuah surat yang menjadi dasar cerita, membuat penggambarannya seperti mosaik. Tertempel-tempel dalam potongan-potongan yang berangkai ketika seseorang menulis cerita kehidupannya pada sebuah surat ke teman lama di Amsterdam, dan tempelan itu saling menyambung membentuk sebuah gambaran kehidupan rakyat saat itu yang utuh.   

Semenjak itu, aku cukup laris mengawal para priyayi dengan berbagai macam kegiatannya. Namun, urusan yang paling digemari adalah perkara yang kaitannya dengan judi dan perempuan.

Entah apa arti melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani bagi mereka. Kang Danar pernah membisikiku bahwa pangeran yang baik, yang kita boleh berharap banyak padanya, tidak mungkin berasal dari putra sultan garwa padmi. Yang lebih mungkin adalah pangeran yang lahir dari garwa selir. 

Begitulah kebobrokan mental para trah penguasa yang digambarkan oleh Setiyono. Bagaimana mungkin nasib satu bangsa ditentukan oleh seseorang yang di masa mudanya berfoya-foya, berjudi dan main perempuan. Bagaimana mungkin seorang kalifah pemimpin agama dipimpin oleh pangeran yang justru ma-lima.  

Tapi, keunggulan novel ini justru bukan pada perspektif aku yang dibawakan begitu menarik. Bukan pula pada filosofi Jawa yang diajukan, seperti pada judul-judul babnya yaitu Beda-beda Panduming Dumadi, Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati, Cakra Manggilingan, Yitna Yuwana Lena Kena, dan Jer Basuki Mawa Bea, yang diambil dari Wedhatama.  

Keunggulan novel ini terletak pada pembalikan hitam dan putih tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh yang di awal digambarkan antagonis, di bagian tengah justru menjadi protagonis, seperti Raden Mas Surya. Di awal Den Mas Surya digambarkan sebagai anak priyayi licik yang menggunakan segala cara untuk menang adu pedang glonggong. Tapi di bagian tengah justru Den Mas Suta yang menolongnya setelah rumahnya habis dibakar Den Mas Suwanda.  

Demikian pula dengan tokoh protagonis justru digambarkan sebagai antagonis di bagian tengah dan akhir seperti Kiai Ngali yang sangat bijak pada bagian awal justru mengumpankannya pada pengadilan Belanda dengan menyuruhnya mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan. Begitu pula dengan Suta, anak Kiai Ngali yang berguru pada Kiai Maja. Pada bagian awal Suta adalah teman baik Glonggong. Dia juga digambarkan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Tetapi di bagian akhir disebutkan bahwa Suta yang telah menjadi Kiai Sufyan justru menjadi pengkhianat karena telah mencuri harta pangeran yang dikawalkan ketika dikirim untuk ditukarkan dengan senjata. Bahkan uang harta itulah yang digunakan untuk mendirikan pesantren sehingga ia mendapatkan gelar Kiai.  

Gambaran simbol agama yang tidak hitam putih itulah yang ditunjukkan oleh Setiyono. Gambaran bahwa yang terpenting bukan pada simbol melainkan pada kepribadian. Bukan pada bungkus seperti jubah putih dan surban, atau gelar berderet semacam Kiai atau Bendara Raden Mas, melainkan pada isi diri yang ada di dalam. Filosofi ini terdapat dalam Kitab Wedhatama yang dalam novel ini ditunjukkan sebagai Kitab pertama yang dipelajari oleh tokoh utama yaitu Glonggong.  

Selebihnya, sebagai sebuah novel pertama yang langsung memenangkan Sayembara, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Mengapa sifat Suta menjadi begitu berubah tersilap harta tidak nampak pada percakapan antara Glonggong dan Suta setelah bertahun tidak bertemu. Sebagai seorang teman yang yakin akan kebaikan sahabatnya, tentunya Glonggong akan sangat terkejut mendengar pengkhianatan Suta. Keterkejutan ini tidak nampak. Bahkan Glonggong menceritakan dengan tenang ihwal harta Pangeran yang dibawanya seolah tidak tersirat bahaya dengan menceritakan harta tersebut. Satu hal yang bertolak belakang dari upaya penuh rahasia dan bahaya menyelamatkan harta itu sampai-sampai Glonggong hampir dijatuhi hukuman oleh pengadilan kolonial. Sebagai manusia, tentunya Glonggong akan tutup mulut setelah mengetahui sejarah Suta, apalagi Suta telah bercerita bahwa dia mencuri harta itu dan berpura-pura dibegal. Glonggong tentu juga akan banyak bertanya mengapa Suta bisa sampai hati berkhianat, bahkan pertengkaran mulut tentunya dapat terjadi di bagian ini.  

Kekurangan lain adalah alasan ditulisnya surat ke Hendrik. Memang benar, kesan pertama akan menetap selamanya. Apalagi bagi seorang pribumi yang sempat berbicara dengan orang Eropa yang dianggap asing serta berkuasa. Walaupun begitu, ucapan sambil lalu Johan agar Glonggong menulis surat kepada Hendrik pada saat Pangeran Diponegoro ditangkap tidaklah cukup alasan yang membuat Glonggong menulis surat yang menjadi novel ini. Di sinilah inkonsistensi muncul. Situasi akan nampak lain apabila digambarkan satu adegan setelah Parapatan Agung itu, katakanlah Glonggong bertemu dengan Johan dalam satu saat khusus dan Johan menyampaikan pesan Hendrik dan meminta Glonggong menulis surat pada Hendrik. Tentunya setelah Johan meminta maaf akan perang yang terjadi untuk mencairkan suasana. Tentunya berada pada ujung depan sebuah konflik perang membuat Glonggong tidak lepas dari keberpihakan terutama kebencian pada Belanda.  

Kekurangan lain yang mengganggu terletak di bagian akhir cerita. Akhir cerita menggantung dengan tangisan diam Danukusuma melihat berlalunya kereta yang berisi Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro adalah setting cerita ini, dan tentu bukan tujuan cerita karena yang nampak sebagai tujuan cerita adalah kehidupan Glonggong. Bagaimana dengan Endang? Apakah mereka akan menikah? Yang lebih penting lagi, bagaimana Glonggong dan Endang memaknai kisah ini seperti yang ditandai oleh munculnya simbol-simbol isi Kitab Wedhatama? Lalu, bagaimana dengan Rubinem yang minta ditinggal oleh Glonggong sambil berpesan untuk kembali bila telah menemukan jodoh? Akhir cerita akan sangat menarik dan memuaskan apabila simpul-simpul yang terserak di tengah-tengah novel ini disatukan pada bagian akhirnya.  

Terlepas dari kekurangan novel ini dan bagian akhir yang membuat novel ini bagai baju rajutan yang belum selesai dan tidak terjahit rapi, novel ini telah mengajukan berbagai macam hal yang sangat menarik: mozaik warna-warninya situasi politik di Jawa saat itu, kemunafikan yang terjadi, dan pesan moral untuk menerima hidup apa adanya dan mencari makna terdalam dari kehidupan ini. Novel ini juga tepat bagi pembaca yang hendak memulai membaca novel-novel serius dan berat seperti karya-karya Pramoedya, Soeparto Brata, Gus tf Sakai, atau Umberto Eco.

(Resensi ditulis oleh Jusuf Agung)