Edensor adalah buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang sarat dengan pesan moral yang – jika dipikir – benar adanya. Membaca seri ini membawa kita pada betapa si penulis – Andrea Hirata - mengutamakan kekuatan cinta: rasa setia dan cinta kepada ayahnya, kepada kekasih kecilnya, A Ling, dan kepada saudara angkatnya, Arai; bahkan pada teman kecilnya “Jimbron”.“
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu…”. Keberanian bermimpi itulah yang dipercaya oleh Ikal dan Arai, dan pada akhirnya mereka betul-betul mengalami segala yang dimimpikan.
Kerinduan, kesetiaan dan mungkin cintanya pada A Ling membawa dia nekad melanglang buana sampai ke Afrika; mendatangi negara dimana diperkirakan A Ling tinggal walaupun dia harus menemui kekecewaan karena semua A Ling yang ditemui bukanlah A Ling yang dicari. Tapi semua itu membuatnya percaya pada satu hal, yaitu “jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya”. Pencarian diri yang sungguh membuat saya penasaran… apakah Ikal berhenti disini ataukah akan terus mencari…Pelajaran moral lainnya yang mengesankan saya adalah “Tertawalah, maka seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian”..
Kesetiaannya pada A Ling pula yang membuat dia memutuskan hubungannya dengan Katya, si gadis cantik yang jadi rebutan mahasiswa dan memilih Ikal sebagai “lof”-nya. Dan kesetiaannya pada A Ling pula yang membuat dia selalu membaca buku yang diberikan oleh A Ling, bermimpi tentang Edensor dan pada akhirnya menemukan “Edensor” secara tidak disengaja.
Tokoh yang juga membuat sya kagum adalah Arai, si simpai keramat. Dia begitu cinta, kasih, dan melindungi Ikal; mengorbankan diri demi Ikal. Dia timbuni Ikal dengan daun rowan ketika hampir mati kedinginan karena ditolak masuk ke dormitory. Ironisnya, Arai harus pulang ke Indonesia sebelum tesisnya selesai karena penyakitnya; dia terserang vaso kontriksi: pembuluh darahnya mengerut lalu pecah akibat alergi dingin. Sama seperti Ikal, Arai ini juga setia pada wanita yang dicintainya walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan; Arai rela dicaci oleh Azizah padahal dia bermaksud baik, memberi ucapan selamat ulang tahun melalui telephon; toch dia masih menghibur diri bahwa itu tandanya Azizah masih mencitainya.
Dengan memeluk mimpi-mimpinya Ikal dan Arai dapat mewujudkan semua yang diimpikan: meraih ilmu sampai ke Sorbone, berkelana sampai ke Afrika, bahkan Ikal bertemu dengan Andrea Galliano – yang namanya dicomot sebagai nama depannya. Arai akhirnya dapat mengunjungi Jim Morisson – favoritnya – walaupun hanya makamnya seperti yang pernah diucapkan pada Jimbron – teman kecilnya. Maka “Peluklah mimpi-mimpimu…”!!!
(Resensi ditulis oleh Esthy Jonathan)



