Archive for October, 2007

Edensor

edensor.jpgEdensor adalah buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang sarat dengan pesan moral yang – jika dipikir – benar adanya.  Membaca seri ini membawa kita pada betapa si penulis – Andrea Hirata - mengutamakan kekuatan cinta: rasa setia dan cinta kepada ayahnya, kepada kekasih kecilnya, A Ling, dan kepada saudara angkatnya, Arai; bahkan pada teman kecilnya “Jimbron”.

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu…”. Keberanian bermimpi itulah yang dipercaya oleh Ikal dan Arai, dan pada akhirnya mereka betul-betul mengalami segala yang dimimpikan.   

Kerinduan, kesetiaan dan mungkin cintanya pada A Ling membawa dia nekad melanglang buana sampai ke Afrika; mendatangi negara dimana diperkirakan A Ling tinggal walaupun dia harus menemui kekecewaan karena semua A Ling yang ditemui bukanlah A Ling yang dicari. Tapi semua itu membuatnya percaya pada satu hal, yaitu “jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya”.  Pencarian diri yang sungguh membuat saya penasaran… apakah Ikal berhenti disini ataukah akan terus mencari…Pelajaran moral lainnya yang mengesankan saya adalah “Tertawalah, maka seisi dunia akan tertawa bersamamu; jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian”..

Kesetiaannya pada A Ling pula yang membuat dia memutuskan hubungannya dengan Katya, si gadis cantik yang jadi rebutan mahasiswa dan memilih Ikal sebagai “lof”-nya. Dan kesetiaannya pada A Ling pula yang membuat dia selalu membaca buku yang diberikan oleh A Ling, bermimpi tentang Edensor dan pada akhirnya menemukan “Edensor” secara tidak disengaja.

Tokoh yang juga membuat sya kagum adalah Arai, si simpai keramat.  Dia begitu cinta, kasih, dan melindungi Ikal; mengorbankan diri demi Ikal.  Dia timbuni Ikal dengan daun rowan ketika hampir mati kedinginan karena ditolak masuk ke dormitory.  Ironisnya, Arai harus pulang ke Indonesia sebelum tesisnya selesai karena penyakitnya; dia terserang vaso kontriksi: pembuluh darahnya mengerut lalu pecah akibat alergi dingin. Sama seperti Ikal, Arai ini juga setia pada wanita yang dicintainya walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan; Arai rela dicaci oleh Azizah padahal dia bermaksud baik, memberi ucapan selamat ulang tahun melalui telephon; toch dia masih menghibur diri bahwa itu tandanya Azizah masih mencitainya.

Dengan memeluk mimpi-mimpinya Ikal dan Arai dapat mewujudkan semua yang diimpikan: meraih ilmu sampai ke Sorbone, berkelana sampai ke Afrika, bahkan Ikal bertemu dengan Andrea Galliano – yang namanya dicomot sebagai nama depannya. Arai akhirnya dapat mengunjungi Jim Morisson – favoritnya – walaupun hanya makamnya seperti yang pernah diucapkan pada Jimbron – teman kecilnya. Maka “Peluklah mimpi-mimpimu…”!!!

(Resensi ditulis oleh Esthy Jonathan)

Laskar Pelangi

novel-_laskar_pelangi1.jpgIni adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya. 

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar.  Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi  dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium karet terbakar dari sepatunya  yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu ”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya.  Tapi Lintang punya jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Revolusi di Nusa Damai

ktut.jpg‘Anda harus sadar bahwa anda hanya diperalat saja oleh orang – orang Indonesia itu. Begitu mereka sudah merdeka, Anda pasti akan mereka lupakan. …..” 

Kata – kata ini diucapkan oleh salah satu pengusaha Belanda yang mencoba membujuk supaya K’tut Tanri menghentikan kampanye Indonesia-nya di Australia sembari menawarkan 100.000 gulden ……… Setelah membaca buku ini perasaan saya kog agak nelangsa…….!!!!, Sepertinya setelah bertahun–tahun kata–kata tersebut di atas menjadi kenyataan, banyak dari kita yang sepertinya tidak tahu siapa dan bagaimana peran K’tut Tantri dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini…!! Seingat saya-pun di pelajaran sejarah masa sekolah dulu nama ini sama sekali tidak pernah disebut…!!!

Kita semua pasti mengetahui pertempuran Surabaya yang termasyur pada tanggal 10 November 1945. Kita juga diberitahu bagaimana pertempuran ini ’bergema” di penjuru dunia. K’tut Tanri ( pers menyebutnya Surabaya Sue ) lah yang berandil besar dalam hal ini dengan siaran bahasa Inggrisnya dari pemancar laskar pejuang pimpinan Bung Tomo . Sejarah kita juga mencatat bahwa pengakuan awal terhadap nation Indonesia datang dari Pemerintah Mesir dan 7 negara Arab. Tapi sejarah kita tidak mencatat bahwa K’tut Tanri lah yang berjasa ‘menyelundupkan” Abdul Monem utusan Raja Farouk dari Singapura ke Yokya menembus blokade Belanda untuk menyerahkan surat pernyataan tersebut kepada Presiden Sukarno.

Buku ini merupakan biografi K’tut Tantri. Pertama kali terbit 1960 dengan judul “Revolt in Paradise,”  yang kemudian diterjemahkan dalam edisi Indonesia menjadi “Revolusi di Nusa Damai.” Sebuah otobiografi yang sudah diterjemahkan lebih dari 12 bahasa. Dalam penulisannya buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : Melanglang Buana, Firdaus Yang Hilang, Berjuang Demi Kemerdekaan.

Perempuan bernama asli Muriel Pearson ini merupakan warga negara Amerika Serikat kelahiran Inggris, seorang seniman yang suatu siang di tahun 1932 menonton film, “Bali-The Last Paradise” di Hollywood. Begitu terkesannya, dia langsung jatuh cinta dengan Bali dan bertekad memulai hidup sebagai artis bohemian di sana. Bagian pertama buku ini menceritakan kisah perjalanan dia yang dimulai dengan mengendarai mobil dari Batavia (Jakarta) – Bali, jatuh cinta dengan alam Bali dan bagaimana akhirnya dia diangkat menjadi anak salah satu raja di sana yang memberinya nama K’tut Tantri.

Bagian kedua buku ini menceritakan jaman dimana Jepang berkuasa di Indonesia dan awal keterlibatan K’tut Tanri dalam gerakan bawah tanah, sampai akhirnya dia tertangkap dan dipenjarakan oleh Jepang. Diberi judul Firdaus yang Hilang karena menurut kesaksiannya apa yang indah dari bali pada waktu itu berangsur hilang, termasuk usaha hotelnya yang dirintis bersama beberapa orang Bali. Di bagian ini secara agak detail K’tut juga bercerita bagaimana persahabatannya dengan Anak Agung Nura, anak raja yang dianggap saudara olehnya yang pada situasi sulit di jaman ini berniat ’mengawini Tantri demi alasan kemanan diri Tanri.

Bagian terakhir buku ini mengisahkan hari – hari yang bersejarah bagi negeri ini, segera setelah kekalahan Jepang , Tantri dirawat oleh laskar pejuang selama beberapa waktu sampai sembuh di Mojokerto, … mengharukan membaca bagaimana para pejuang waktu itu menawarkan bahwa mereka siap mengawalnya kalau dia berkeinginan ke luar dari wilayah Indonesia mengingat apa yang telah dia lakukan dalam gerakan bawah tanah di Jaman Jepang meskipun mereka sendiri juga berharap bahwa Tantri bersedia menggabungkan diri dengan perjuangan mereka.

Pada akhirnya sejarah mencatat bahwa hari-hari berikutnya K’tut Tanri seperti yang belakangan dikatakan oleh Soekarno ’lebih Indonesia  dibanding Inggris atau Amerika”. Membaca apa yang dia lakukan kita seolah nyaris tidak percaya bahwa dia bukan orang Indonesia… Pada waktu itu lewat siaran radionya pihak Belanda bahkan menawarkan 50.000 gulden bagi yang bisa menyerahkan K’tut Tanri. Periode ini juga mencatat bagaimana peran dia dari hari-hari disekitar pertempuran heroik Surabaya sampai peran dia di pusat republik waktu itu Yokya, dan persahabatan erat dia dengan bebeberapa pemimpin waktu itu. Buku ini bukan sebuah otobiografi dari perempuan super karena dalam beberapa kesempatan K’tut sendiri menuliskan ketakutannya ketika harus melakukan beberapa aksi intelejen, ataupun ketika menerobos blokade Belanda dengan berlayar dari Tegal ke Singapura sampai gerakan yang dia lakukan di Australia.

Yang sepertinya cukup berharga (karena sangat jarang literatur yang menyinggung mengenai topik ini) adalah kisah dia mengenai jalur penyelundupan indonesia – singapura yang waktu itu menjadi salah satu sumber utama pendanaan  republik. Sungguh kebetulan kah kalau ternyata soal korupsi oleh aparat negara pada saat itupun sudah ada …dan dikisahkan dalam otobiografi ini?

Menurut saya buku ini cukup berharga sebagai sebuah dokumentasi sejarah, banyak hal yang tidak kita temui di dalam versi sejarah resmi kita. Lewat buku ini kita bisa merenung bahwa diatas sekat–sekat ”nasionalisme” ternyata ada nasionalisme yang lebih tinggi yaitu humanisme. Kisah K’tut Tantri menunjukkan bahwa kemerdekaan bangsa ini dahulu diperjuangkan dan didukung oleh banyak orang , … yang melihat kemanusiaan melebihi dari yang lain, kemanusiaan yang bisa melampaui dinding etnis, keyakinan ataupun budaya bahkan kebangsaan. Ditengah situasi polarisasi dan pengkotakan pada saat ini, kisah K’Tut Tantri bisa membuat kita kembali merenung tentang bagaimana bangsa ini dulu dibangun dan dipertahankan. K’tut Tantri meninggal pada 27 Juli 1997 di Sidney, Australia dengan perasaan cinta kepada Indonesia tidak pernah luntur. Peti matinya dihiasi bendera Indonesia dengan aksen Bali kuning dan putih. Seperti permintaanya, jasadnya diperabukan. Abu jenazahnya disebarkan di Pantai Bali. Sementara harta peninggalannya disumbangkan ke anak-anak Bali yang kurang mampu.

(Resensi ditulis oleh Nugroho)