Archive for November, 2007

Kia Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

kiai-bejo-emha.jpgSaya adalah pengagum Emha, membaca cerpen, puisi, kolom hingga essainya seakan membawa saya dalam alam berpikir lateral. Itu yang membuat berbagai karya tulis Emha menjadi sarat dengan ruang-ruang kritis untuk direfleksikan.  Belum lagi garapan berpikirnya sangat luas, mulai dari budaya sebagai akar kepiawaiannya, politik, sastra, sosial politik hingga hal-hal berbau nasionalisme. Andaikan saja saya bisa seperti Emha……

Dalam bukunya yang berjudul “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” ini, Emha Ainun Najib coba mengangkat berbagai sudut realitas dan persoalan di masyarakat yang sarat akan kebutuhan solusi,  guna menepis pergi keterpurukan yang dialami bangsa ini. Kata Emha semuanya adalah potret suram yang berkepanjangan. Akar kritik yang ia ungkapkan adalah perlunya bangsa ini melakukan perubahan radikal. Semua cuplikan realitas dan pemikirannya dikemasnya dalam kumpulan essai.

Sebagaimana kelebihan karya Emha lainnya, buku ini pun mengajak kita bukan sekedar membaca—selesai—dan menyimpannya dalam deretan rak buku kita. Namun membacanya, seperti menghentakkan pusat sadar kita atas berbagai fenomena yang terjadi, sekaligus menggugah kita mau merenung sekaligus berpikir.  Emha memang piawai untuk yang satu ini. Ia tak segera memberikan solusi atas persoalan yang dibahasnya. Namun selalu membawa pembaca untuk  melihat lebih kontekstual, komprehensif, tidak mengadili, lebih menohok pada akar masalah dan mempertimbangkan aspek-aspek penyertanya. Memang dengan pola tulisan demikian, tulisan Kyai Muda akan menjadi tulisan yang lumayan berat. Perlu pisau kecermatan dan ketelitian dalam membacanya.

Walau sarat dengan cuplikan terminologi qur’an serta nilai-nilai Islami, essai-essai  ini tak menyurutkan pembaca non muslim untuk mengunyahnya. Emha menjadikan tulisan dengan nilai religi islami yang universal pula untuk golongan lain.

Kumpulan essai ini, penuh dengan nafas demokratis penulisnya. Sebagai penulis ia menepis kesan serba tahu dan sama sekali ia tak menjadi konsultan serba bisa pemberi resep solusi atas tiap persoalan yang diangkatnya. Ia hanya menggunakan setiap tulisannya sebagai alat mengkomunikasi realitas sosial kepada pembacanya. Pertanyaan-pertanyaan renungan dalam tiap essainya, menjadikan tulisan ini seperti ruang demokratis bagi pembacanya untuk urun rembug memikirkan bagaimana solusi terbaik yang harus diambil.

Kepiawaian lainnya yang tercermin dalam tulisan-tulisan ini, adalah kemampuannya mengalirkan kata dan pemikiran lewat berbagai kasus yang sudah cukup familiar bagi pembaca. Seperti Inul dan Tsunami. Bertitik tolak dari situ, ia mengalirkan berbagai pemikiran substansial guna membuka pemikiran kita ke ranah cerdas dan kontempelatif. Sarat pesan spiritual dan humanis yang notabene akan menjadi pembaca berpikir lebih kritis. Berbagai sudut kritis dibedahnya mulai dari budaya, ideologi negara dan kepemimpinan, alam pikir, kekacauan budaya, sikap dan nilai-nilai kepribadian dan kaum marjinal. Makna-makna tersebut dipilahnya menjadi segment isi tulisannya.Sebagai pembaca yang merindukan ruang-ruang guna merefleksikan dan memberi kesempatan melakukan kontempelasi atas realitas sosial. Saya tak melihat adanya kekurangan dari buku ini.

(Resensi ditulis oleh Zusan Zeulvia).

Map of Bones

peta-tulang-belulang.jpgNovel ber-genre thriller ini memiliki gaya bahasa pendek, cepat  dan ringkas. Ketika membaca novel ini, imajinasi saya melayang membayangkan adegan laga bak film 007 James Bond yang dibintangi Sean Conary atau film Tom Raider yang dibintangi Angelina Joly.

Map of Bone karya James Rollins adalah novel best seller di AS yang di Indonesia diberi sub judul ”Peta Tulang Belulang.” Kisah novel ini memang tidak jauh-jauh dengan urusan perburuan harta karun tulang belulang. Bukan tulang manusia sembarangan, tapi tulang belulang ”Magi.” ”Magi” adalah sebutan untuk tiga orang suci yang datang dan membawa persembahan saat Yesus putra Maryam dikabarkan lahir di Betlehem, dengan cara mengikuti sang bintang timur.  

Adegan dibuka dengan flash back ratusan tahun yang lalu ketika prosesi pemindahan ketiga tulang belulang para ”Magi” dicegat ditengah jalan dan terjadilah pertumpahan darah. Kejadian pertumpahan darah kembali terjadi pada masa kini ketika terjadi pembunuhan sadis di Gereja Koln, Jerman. Ini mengawali kisah perseturuan antara kelompok Dragon Court dengan agen rahasia Sigma. Perseteruan mereka menjadi tegang dan berbelit-belit ketika pihak Vatikan juga menggunakan agen rahasia Guild. Dari ketiga kelompok itu, lahirlah jalinan perseteruan antara Roul – Dragon Court, Komandan Gray Pierce – Sigma, dan Seichan – Guild. Perseteruan di antara mereka membawa mereka harus kejar-kejaran dengan waktu dan saling mendahului demi menguak tabir teka-teki kekuasaan dunia masa depan, dan membawa mereka pergi dari Alexandria, Babylon, Olympia, Ephesus, Giza, Roma, hingga Perancis.

Perseteruan antara Dragon Court, yang mewakili kelompok Eropa dengan Sigma yang terdiri dari orang-orang Amerika, seolah membenarkan dugaan saya selama ini bahwa mereka saling mengejek dan mencemooh. Orang Eropa selalu digambarkan kaku, sok borjuis, aristokrat. Sebaliknya orang Amerika selalu digambarkan jagoan, pembebas kebathilan di muka bumi, bebas merdeka.

Saya agak kurang bisa mengikuti percakapan ilmiah tingkat tinggi dan konflik internal agama Katholik diantara mereka, ketika mereka harus memecahkan teka-teki harta karun. Minimal untuk memahaminya perlu ada sedikit referensi tentang ilmu fisika, biologi, atau kima, serta pemahaman tentang adanya perseteruan gereja antara pengikut Injil Yohanes dan Injil Thomas.

Ada kejutan di bab terakhir, di mana tokoh yang selama ini membenci kelompok Dragon Court, justru diincar untuk menjadi ibu dan melahirkan ras pilihan keturunan kaisar dan raja-raja bangsa Eropa. Dari sana Dragon Court ingin membangun tata dunia baru melalui ras terpilih di dunia. Kisah ini ini juga menyelipkan adegan roman antara Komandan Gray  Pierce dan Rachel, khas cerita produk Hollywood. Sekali lagi, khas Hollywood, pada akhirnya kelompok bangsa Amerika memenangkan pertempuran ini. God bless America!

Saya sarankan anda juga membaca secara cepat. Jangan berlama-lama dengan kata-kata yang dirangkai James Rollins ini.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Gadis Tangsi

gadistangsi.jpg“…..Trukbyangane……apik tenan critane….”!  Gadis Tangsi adalah Novel seri ke-1 dari trilogi yang ditulis oleh Suparto Brata.  Cerita dalam buku ini memang ada dalam keseharian kita.  Penulis menuangkan cerita ini dalam novel dengan bahasa yang sangat lugas – kromo inggil, makian dalam bahasa jawa ‘ngoko’, bahkan dalam bahasa Belanda – yang dengan mudah kita mengerti.  Dengan setting cerita jama pendudukan Belanda di Indonesia dengan mengambil lokasi di daerah Sumatera (Medan), pikiran saya ikut terbawa ketika membaca novel ini.

Teyi, si gadis tangsi, hidup dalam kekerasan disiplin si-mbok, bukan dalam kekerasan hidup di tangsi itu sendiri.  Hidup dalam keluarga yang sangat sederhana dalam rumah kecil dilingkungan tangsi; dengan seorang bapak dengan pangkat sersan yang ikut kumpeni dan si-mbok yang punya obsesi jadi orang kaya raya hanya karena ingin menunjukkan pada ipar-nya yang telah melecehkan.  Setiap pagi terbangun karena “kebocoran” ompol adiknya yang tidur di ambin.Teyi kecil sudah harus bangun pagi disaat teman-teman sebayanya masih terlelap; dia harus membantu si mbok berjualan pisang goreng keliling tangsi disaat teman-teman sebayanya bermain; dan dia akan merasa terbebas jika bisa ikut dalam grup mencari kutu sambil bergosip.

Teyi dibesarkan dalam ke-nyinyiran si mbok; dengan batasan-batasan yang dia sendiri sesungguhnya tidak mengerti. Dididik dalam aturan sopan-santun yang menurut si mbok benar. Disaat teman-temannya sudah mengerti apa itu “menyukai” dan “disukai” lawan jenis, dia bahkan mengira bahwa dia kena tulah karena memanjat pohon tanpa pakaian ketika dia menemukan temannya pacaran dikamar mandi umum – haid – itulah tulah yang harus diterima; si mbok jadi bertambah sayang karena mengetahui si gadis sudah haid – ini membuat Teyi bingung.  Ada saat dimana membuat Teyi jenuh, lelah, bosan dan ingin lari dari kesehariannya – jualan pisang goreng dan mendengarkan ocehan si mbok yang tidak habis-habisnya – akhirnya jalan kaki sampai Medan.  Dia harus digelandang keluar toko karena mengagumi pita dan ngotot ingin membeli pita dengan uang jualan pisangnya; akhirnya diantar pulang oleh Ndara Tuan Kapten Sarjubehi.

Teyi menemukan dirinya ketika dia berkenalan dengan Gusti Putri Parasi di rumah Loji – yang adalah istri dari Sarjubehi – yang jatuh hati pada kesopanannya. Dengan sabar Putri Parasi mengajar sopan santun dan tata krama. Putri Parasi merasa sembuh ketika berdekatan dengan Teyi; Teyi adalah semangat hidupnya.  Putri Parasi bercita-cita menjadikan Teyi orang yang pantas untuk mendapatkan jodoh dari kraton; Teyi dipersiapkan untuk itu, dipersiapkan untuk dibawa ke keraton ketika Putri Parasi cuti.  Cinta kasih Putri Parasi bertambah ketika Teyi berhasil menyelamatkan nyawanya pada waktu Putri Parasi terkapar tidak sadarkan diri karena penyakitnya tiba-2 kambuh. Teyi bahkan dibekali dengan keahlian berbahasa Belanda, sehingga dia tidak canggung menghadapi rekan-rekan Ndara Tuan Kapten Sarjubehi yang kebanyakan dari kalangan atas dan bahkan berkomunikasi dengan bahasa Belanda terhadap Putri Parasi dan suaminya.  Teyi bersungguh-sungguh dalam persiapan dirinya untuk keluar dari tangsi menuju dunia yang lebih beradab baginya. Dia sudah menguasai ngadi busana dan ngadi salira juga pandai berbahasa Belanda – baca, tulis dan berbicara; sudah menutup hati buat laki-laki tangsi yang menyukai kecantikannya.   

Kedekatannya dengan keluarga keluarga Putri Parasi itu menebarkan gosip bahwa dia akan di”munci” oleh Sarjubehi. Akan tetapi Teyi harus mengubur semua cita-cita untuk pergi ikut Putri Parasi ke tanah Jawa, ke keraton, mendapatkan jodoh orang keraton ketika tiba-tiba sang junjungannya pergi untuk selamanya.  Sejak saat itu sudah tidak ada yang harus disembunyikan dari si mbok yang selalu melarang dia untuk bermain ke rumah loji.  Hasi didikan sang guru membuat Teyi menjadi pribadi yang kuat tapi rapuh; kuat dalam meyakinkan si mbok bahwa dia akan baik-baik saja membantu tuan Sarjubehi dan tidak akan menjadi munci sang Ndara Tuan; tapi juga lemah karena sebetulnya dia sudah mulai terbiasa dengan keseharian sang tuan, dia juga tertarik dan suka dengan si tuan ini.  Tapi Teyi sangat ingat pesan Gusti, “…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”). Dia menghormati pesan itu, sehingga pada waktu Teyi diminta untuk mencarikan pembantu dan si tuan memilih Dumilah yang selain menjadi pembantu juga menjadi munci, Teyi tidak dapat berkata “tidak”.  Dia hanya menangis kesal dan sesal; akhirnya dia memutuskan untuk bersedia nikah dengan Sapardal, orang yang tidak pernah dicintainya.  Satu hari menikah langsung minta cerai ketika dia bertemu dengan Ndara Mas Kus Bandarkum, yang adalah keponakan Putri Teyi yang memang seyogyanya akan dijodohkan dengan Teyi. Dia merasa sudah mengenal Ndara Mas Kus lama hanya karena cerita-cerita dari Putri Parasi. Teyi, si gadis lugu tapi keras hati, yang sudah berusaha menuruti semua kehendak si mbok, yang selalu kalah karena mempertahankan sesuatu yang baik, akhirnya “menyerahkan” dirinya pada sang Ndara Mas Kus; akhirnya Teyi berpikir bahwa dia tidak berbeda dengan Keminik, yang sudah mengenal seks dari masih belia, bahkan tidak peduli berbuat kesetanan seperti si Mopi, anjing tuan Davenpoort.  Teyi merasa bahwa apa yang dia perbuat ini adalah merupakan sifat dasar; kenikmatan sekaligus pemberontakan untuk memenangkan masa depan ……!”

 trukbyangane……”! Rasanya ingin segera baca seri ke-2 dari trilogi Pak Suparto Brata ini.  

(Resensi ditulis oleh Esthy Jonathan)