Archive for December, 2007

Sang Pemimpi

Sang PemimpiSejak bertemu langsung dengan Andrea Hirata pada acara diskusi buku “Mengarungi Mimpi Bersama Laskar Pelangi,” di Toko Buku Gramedia Matraman, kesan saya tentang penulis tetralogi “Laskar Pelangi” itu adalah sosok yang amat sangat sederhana, pendiam, santun, dan cenderung introvert. Tapi justru dengan “kekurangannya’ itu dia punya kesempatan yang amat besar untuk peka pada setiap desir angin, gemericik air, rima kata, atau jiwa bahasa.  

Ketika namanya semakin melambung akhir-akhir ini, saya justru semakin khawatir, kalau-kalau Andrea Hirata tak kuasa terseret popularitas bak selebriti, dan hanyut oleh arus besar yang bernama ”pasar.” Saya takut, seniman kata-kata itu tak lagi bisa melahirkan gurindam mimpi anak-anak Balitong. Saya hanya bisa berharap, Andrea Hirata tetap bermimpi dan percaya bahwa Tuhan masih setia memeluk mimpi-mimpinya yang lain.

Melalui ”Sang Pemimpi,” buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata kembali mengangkat tema putihnya nilai persahabatan sebagai anugerah terindah dalam hidup, dan tentu saja adalah mimpi anak-anak asuhan alam yang merindukan kebebasan dari himpitan hidup yang semakin berat di pulau Belitong: Ikal – Arai – Jimbron.

Arai adalah sosok seniman kehidupan yang pandai membuat momen-momen terindah buat dipersembahkan bagi kehidupan yang agung ini. Lihatlah ketika dengan cerdas, ia nekat memecah celengan, melesat menerobos pasar dengan sepeda untuk membeli sekarung gandum buat dipersembahkan kepada Maryamah (saya menduga tokoh inilah yang akan diangkat pada buku terakhir yang diberi judul: Maryamah Karpov), agar segera terbebas dari kekurangan beras buat keperluan sehari-hari. Atau ketika Arai melihat Jimbron yang menderita gejala obsesif-impulsif pada seekor kuda, dengan segala kenekatannya Arai berhasil mempersembahkan kuda putih Pangeran Raja Brana ke hadapan Jimbron yang gila kuda.  Sebaliknya Jimbron yang gagap dan selalu dapat nomor urut ranking diatas angka 100, justru mempersembahkan 2 celengan kuda sumbawa dan kuda sandel untuk kedua sahabatnya yang masih punya banyak kesempatan buat menimba ilmu di pulau Jawa. ”Kalian lebih pintar, lebih punya kesempatan untuk sekolah lagi, kalian berangkat saja ke Jawa. Pakailah uang itu, kejarlah cita-cita……..”   Berkat Jimbron, Arai dan Ikal berhasil mewujudkan mimpi untuk berdiri di altar suci Universitas Sorbonne Perancis, keliling Eropa hingga Afrika.

Masih adakah nilai-nilai persahabatan tulus suci pada jaman kalabendu ini?  Sahabat bisa berarti sesama umat manusia, tidak harus berasal dari satu kampung. Kini nilai-nilai persahabatan universal sudah mulai luntur. Yang kian marak adalah persekongkolan kelompok buat menumpuk harta dan kuasa, yang tidak dilandasi hati bersih. Karena yang ada tinggal nafsu hitam kelam dari sifat manusia yang paling purba.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

China Undercover: Rahasia Di Balik Kemajuan Cina

china-undervocer.jpgBeberapa kali saya memiliki pengalaman yang “berbau” Cina. Saat pertama ketika sempat berkunjung ke Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, sepuluh tahun lalu. Kesan pertama yang menyergap mata adalah suasana kota yang kental dengan “suasana komunis.” Kumuh, berdebu, dekil, jorok! Beda jauh dengan “suasana kapitalis” yang wangi, harum, rapi, bersih! Sempat saya susuri pojok-pojok kota yang masih menyimpan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan barang-barang bekas, komplek pelacuran yang buka di siang hari, dan atraksi seorang pembuat mie dengan cara mencabik dan mengayun adonan tepung dengan kedua tangannya, tanpa alat apapun.

Pengalaman kedua adalah ketika menjadi pemandu rombongan pejabat dari Provinsi Sichuan  yang belajar tentang “livestock and husbandry” di Indonesia. Kesan paling mendalam yang masih tersimpan di kepala adalah praktik korupsi luar biasa yang mereka lakukan di Indonesia. Ceritanya, ketika mereka akan melakukan pembayaran untuk urusan akomodasi dan travelling selama di Indonesia, mereka minta dibuatkan kwitansi dengan nilai yang berlipat-lipat dari yang seharusnya mereka bayarkan. Madame  Zhang yang menjadi pimpinan rombongan dengan gaya aristokratnya seolah tak bersentuhan dengan perkara nista ini. Anak buahnya dengan cantik telah menyelesaikan segala urusan ini. Hasil “mark-up” yang mereka lakukan mereka pakai buat belanja patung kayu di Jogja, perak di Bali, dan seabrek oleh-oleh yang tentu saja akan dibagi rata di sana.

Membaca buku kisa nyata “China Undercover” karya Chen Guidi dan Wu Chuanto menjadi mudah bagi saya untuk memahami konteks cerita yang terbangun di sana. Ini kisah pilu dan berdarah-darah dari sebagian besar penduduk Cina yang petani itu. Kisah diawali dengan matinya seorang petani Ding Zuomang dari Desa Luying karena terlalu vokal menuntut pembebasan pajak yang semakin mencekik leher petani desa. Kisah kedua adalah pembantaian 4 petani Desa Zhang yang dilakukan oleh kader partai desa yang murka karena para petani tak mau diperas dengan berbagai pajak ngawur yang mereka ciptakan. Cerita ketiga adalah tragedi Desa Gao, yang mengumbar keangkaramurkaan Zhang Jidong untuk mengobrak-abrik penduduk desanya sendiri karena adanya perlawanan petani. Tragedi keempat terjadi di Desa Wang, Kecamatan Baumiao. Seluruh peristiwa itu terjadi di Provinsi Anhui, Cina, dalam rentang tahun 1992-1996. Itu artinya terjadi pada abad 21 di mana hak asasi dan keadilan di depan hukum harusnya sudah ditegakkan.

Ketika seorang petani berteriak, “tak seorangpun dapat melebihi hukum.”  Dengan entengnya seorang pejabat mencemooh: “Kau benar-benar percaya omong kosong yang kau lihat di TV dan kau baca di Koran-koran mengenai aturan hukum? jangan tolol. Mungkin di Amerika seorang pejabat lokal dapat mendakwa presiden – tapi itu di Amerika, bukan Cina. Biar kuberi tahu, ini Cina, di sini manusia yang mengatur, dan aku mengaturmu!”

Kisah nyata ini menjadi kontroversial di Cina dan sempat dilarang oleh pemerintah. Karena bisa menjatuhkan citra bangsa Cina dengan sederet cap negative: korup, sadis, rakus, dsb. Tapi 10 juta kopi bajakannya sempat beredar di pasar gelap di Cina dan kini bahkan sudah beredar di banyak negara.  

Kekuatan kisa nyata ini adalah pada gaya bertutur yang seolah didramatisasi hingga membuat pembaca ikut merasakan penderitaan para petani. Padahal bahan dasar penulisan buku ini adalah hasil riset Chen Guidi dan Wu Chuanto, yang tak lain adalah suami-istri yang menaruh perhatian pada masalah social ekonomi bangsanya.

Kisah ini boleh jadi tak hanya terjadi di Cina, tapi bisa saja hadir di halaman depan republik kita ini, tentu dengan sedikit kecanggihan modus operandi-nya.

(Resensi ditulis oleh Hartono)