Archive for January, 2008

The Air Asia Story

air asiaSen Ze & Jayne Eng. The Air Asia Story: Kisah Maskapai Tersukses di Asia. (terjemahan). Penerbit Ufuk. Desember 2007. Tebal 204 halaman.

Air Asia tiba-tiba menarik perhatian para pengguna jasa penebangan di wilayah Asean. Mana ada penerbangan yang begitu murah. Hanya dengan lima ribu rupiah, bisa terbang dari Jakarta atau Surabaya ke seluruh jurusan Asia Air. Bahkan ke Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok dengan tarif di bawah Rp 50 ribu. Belum pernah terjadi sebelumnya.Itulah ciri strategi bersaing Air Asia dengan fokus pada penerbangan murah, atau low cost carrier (LCC). Segmen yang dilayanai terutama mereka yang sensitif terhadap harga, bahkan lapisan masyarakat yang belum pernah menggunakan transportasi udara.

Buku ‘cerita legenda non-fiksi’ ini mengisahkan perjalanan Air Asia menuju suksesnya menjadi maskapai berskala regional. Namun kisah ini juga dapat dibaca sebagai perjuangan seorang Tony Fernandes, sang pemilik dan pemimpin maskapai ini.

Kisah dimulai dari ketika Tony Fernandes, Wakil Presiden Times Warner Music Southeast Asia, memutuskan untuk beralih dari bisnis musik ke bisnis penerbangan. Dunia yang memang pernah diimpikannya. Pilihannya pada konsep penerbangan murah diilhami oleh easyJet, Ryanair di Eropa, lalu pendahulu mereka yaitu Southwest Airlines di AS. Saat proposal konsep penerbangan murah diajukan kepada Perdana Menteri Malaysia, waktu itu Dr. Mahathir Mohamad, beliau mendukung, tetapi syaratnya harus mengakuisisi maskapai yang ada, karena ijin baru telah ditutup. Ini merupakan tantangan awal.

Namun tidak berapa lama Tony dapat kabar bahwa Asia Air yang awalnya milik seorang bangsawan kaya Malaysia sedang menuju kebangkrutan, akan  dijual. Maka, dengan hanya 1 Ringgit Malaysia (Rp 2500) maskapai itu dibeli. Untuk itu dia dapat dua pesawat Boeing 737-300, tapi harus menanggung hutangnya yang hampir Rp 100 milyar.

Konsep penerbangan murahnya ternyata berhasil. Dalam waktu tujuh bulan (Desember 2002) dia sudah memperoleh pemasukan Rp 282,5 milyar, membukukan keuntungan Rp 48,5 milyar, dengan 1,1 juta penumpang.Dengan sukses ini tantangan yang menghadang di depan adalah persaingan dengan Malaysia Air Service (MAS), maskapai milik pemerintah Malaysia, seperti Garuda di Indonesia. Untuk itu Tony memilih untuk membuka rute penerbangan regional, ke Thailand dan Indonesia. Dan ini tantangan yang tidak mudah. Berbagai strategi dan cara dia tempuh hingga akhirnya berhasil. Ini terjadi setelah dia mendirikan perusahaan Air Asia Thailand, yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Thaksin, Perdana Menteri Thailand saat itu.

Untuk masuk ke Indonesia Air Asia ‘beruntung,’ karena saat itu ada Awair yang kebetulan diambang kebangkrutan. Tony membelinya sebagai ‘pintu masuk’ ke Indonesia. Dengan demikian maka tercapailah tujuannya menjadi maskapai penerbangan murah skala regional. Tapi itu belum komplit tentunya sebelum Air Asia bisa masuk Singapura, hub internasional di wilayah ini.

Sebelum masuk ke Singapura, Tony masih harus memantapkan posisinya di Malaysia sendiri. Sebagai maskapai  penerbangan murah (LCC) efisiensi adalah hal pokok. Karena itu Air Asia  perlu punya lapangan terbang sendiri yang biaya operasinya juga murah. Tony berencana membangun bandara Subang yang letaknya tak jauh dari Kuala Lumpur. Tapi keinginan ini langsung ditentang oleh pengelola dan serikat pekerja Kuala Lumpur International Airport (KLIA), karena akan mengancam cita-cita KLIA menjadi pusat (hub) regional, bersaing dengan Changi Airport, Singapura. Setelah melalui perjuangan yang alot dengan Kementerian Perhubungan, akhirnya Air Asia mendapat terminal khusus di KLIA. Walau kurang happy, karena kepadatan jadwal penerbangan membuat banyak waktu pesawat menunggu, yang berarti pemborosan bahan bakar. Tapi apa boleh buat.Persaingan atau kadang konflik dengan MAS tak dapat dihindarkan. Bisa diperkirakan MAS pasti cemburu  dengan kehadiran pesaing. Walaupun Tony berkali-kali menyatakan bahwa pangsa pasarnya berbeda, karena dia fokus pada kelas yang sebelumnya tidak membayangkan dirinya naik pesawat terbang. Maka tatkala MAS juga membuka penerbangan murah, dia teriak. Dia menyatakan itu tidak fair, karena MAS kan mendapat subsidi pemerintah.

Tapi perjuangan yang paling seru adalah bagaimana Air Asia bisa masuk Singapura.  Ini adalah perjuangan panjang yang akhirnya dimenangkannya. Walau faktor eksternal turut mendukung, terutama dengan masuknya saham Temasek, perusahaan holding milik pemerintah Singapura, ke Air Asia Thailand, setelah Thaksin runtuh.

Lalu apa kiat Air Asia sehingga bisa menjual tiket Jakarta-Surabaya dengan harga Rp 5000, dan berbagai tawaran murah yang diiklankan periodik di beberapa surat kabar dan websitenya yang multi bahasa itu? Ternyata itu kiat sederhana saja, yang entah kenapa hanya Air Asia yang melakukan, atau yang pertama. Yaitu, menjual kursi yang menurut statistik rute dan waktunya, memang kemungkinan besar kosong. Jadi kalau tidak dijual murah juga kosong. Lha kenapa tidak dijual murah via internet, sebagai sarana promosi.

Membaca buku ini serasa bukan membaca kisah maskapai penerbangan, tapi kisah Tony Fernandes sendiri. Ada semangat menggebu dan pantang menyerah, keberanian ambil risiko, selalu ingin menjadi yang pertama. Juga kejeliannya dalam beriklan, selain promo harga tiket murah, juga mengasosiasikan Air Asia dengan Manchester United (MU), yang sama-sama menggunakan warna merah, dengan cara menjadi sponsor pusat latihan MU di Trafford, UK.

Kisah ini juga bisa menyadarkan bahwa kita hidup di wilayah Asean yang dinamis, interaksi antar negara tinggi. Dimana persaingan kepentingan antar negara terutama dalam bidang ekonomi cukup tinggi. Saling bersaing menjadi hub internasional terkemuka. Menguasai saham perusahaan yang maju di wilayah ini. Ini bisa diperhatikan dari agresifnya Temasek mengambil alih banyak perusahaan terkemuka. Namun juga kerjasama yang mau tidak mau harus dijalin secara saling menguntungkan. Ini bisa dikaitkan dengan bagaimana bangsa Indonesia marah atas ‘pengakuan’ banyak produk kesenian oleh negeri tetangga, tapi mesti disadari juga bahwa masyarakat kita membutuhkan pekerjaan dari negeri-negeri tetangga tersebut, dengan berbagai persoalannya. Juga soal kiriman asap lantaran kebakaran hutan yang sering terjadi.

Buku ini seolah memang buku cerita yang alurnya lancar, mudah diikuti. Bisa dibaca sebagai rangkaian strategi  bisnis, tapi juga dapat dinikmati sebagai kisah perjuangan yang cukup memancing emosi pembacanya. Walaupun, entah ini positip atau negatip, kisah ini terasa ditulis dari ‘luar’. Kelihatannya tidak ada wawancara atau sumber langsung seperti dari Tony sendiri. Ucapan-ucapan Tony terasa kalau diambil dari media masa.

Mungkin karena judulnya kisah sukses (success story) maka isinya satu arah menuju sukses. Ini bisa juga dianggap kelemahan buku ini. Tidak ada opini lain dari luar maupun dari dalam Air Asia. Sebagian pembaca mungkin ingin tahu opini dari luar misalnya dari eksekutif MAS, otorita bandara KLIA, Singapore Airlines, Bandara Changi. Opini dari dalam misalnya dari karyawan. Padahal opini-opini itu penting agar buku ini tidak menjadi mirip media promosi perusahaan. Namun bagaimanapun banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, tentang kepemimpinan, strategi menajemen, maupun sebagai penghuni wilayah Asean.

(Resensi ditulis oleh Risfan Munir, penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif.”)

Setengah Isi Setengah Kosong

setengah isi setengah kosongKetika melihat judul buku “half full – half empty” saya langsung tertarik. Judulnya menyimpan optimisme hidup. Buku ini pasti mengajarkan cara melihat kehidupan dari sisi yang penuh (optimisme), bukan dari sisi yang kosong (pesimisme). Pada jaman Orde Baru pernah ada berita di koran  yang mengabarkan bahwa ada 50% anggota DPR-RI melakukan korupsi. Headline berita yang menohok harga diri dan kehormatan anggota dewan langsung mendapat reaksi keras. Esoknya, berita itu diralat menjadi: 50% anggota DPR tidak melakukan korupsi. Alhamdulillah!

Buku saku yang berjudul ”Setengah Isi Setengah Kosong” dengan tag line berbahasa Inggris, ”Half Full-Half Empty,” karya Parlindungan Marpaung ini mengingatkan saya pada buku kecil yang biasa dibaca sahabat kristiani: ”Saat Teduh.”  ”Saat Teduh” mengajarkan pernak-pernik kehidupan dengan ilustrasi yang menyentuh. Ilustrasi cerita ditaruh di depan, dibelakangnya adalah inti ajaran hidup yang bersumber dari kitab suci. Buku saku terbitan MQS Publishing ini tak jauh beda dengan ajaran hidup kristiani itu. Bedanya, cakupan wilayah ajaran hidup tak dibatasi oleh sekat agama. Dia cair dan bisa masuk ke dalam ajaran agama manapun. Ada 63 ajaran hidup yang terbagi dalam 5 pokok bahasan tentang kasih sayang, komunikasi, motivasi, profesionalisme, dan sikap hidup.

Model paparan ilustrasi di depan dan bahasan pelajaran kunci di belakang, cukup lazim dipakai oleh banyak orang, baik oleh kalangan agamawan, pendidik ataupun fasilitator pelatihan. Model ini cukup efektif untuk membenamkan pemahaman tentang  sesuatu yang cukup abstrak dan membutuhakn penjelasan yang rumit. Dengan ilustrasi, orang akan mudah memahaminya, mengasosiasikannya. Latar belakang Parlindungan Marpaung memang seorang certified trainer John C Maxwell. Kumpulan ilustrasi ini memang bersumber dari rangkaian catatan perjalanan melatihnya sejak dia menceburkan diri sebagai seorang trainer bidang pengembangan pribadi dan SDM.  

Kelemahan utama dari buku ini, menurut saya, adalah pada orisinalitas  kumpulan ilustrasi yang disampaikan. Banyak dari ilustrasi yang dipaparkan sebenarnya sudah pernah diulas oleh sumber lain, dan penulis tidak menyebutkan sumbernya. Seolah-olah itu adalah buah dari perenungannya, padahal bukan. Bisa jadi, ilustrasi yang tersebar itu memang sumbernya anonim, tapi minimal bisa disebutkan dari mana cerita itu berasal.Terlepas dari kelemahan itu, buku saku ini layak dimiliki oleh para pelatih, fasilitator, atau mereka yang bergelut dengan masalah pengembangan SDM. Ada banyak sumber inspirasi yang boleh ”dipinjam” dan ”disebarluaskan.” Untuk kalangan umum, buku ini sanggup memberi santapan ruhani ala chicken soup yang marak belakangan ini.

Membaca buku ”Setengah Isi Setengah Kosong” tidak harus dimulai dari halaman pertama dan berakhir di halaman terakhir. Teknik membacanya boleh meloncat-loncat. Bahkan boleh dibaca sesuai dengan mood saat itu. Untuk memudahkan, bisa merujuk pada kelima pokok bahasan yang ditawarkan tadi.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

The Secret of Mindset

the-secret.jpgJudul buku The Secret of Mindset ini terkesan mengikuti popularitas buku The Secret, sekaligus Mindset, tapi isinya beda. Bagi mereka yang menyukai buku pengembangan diri, dan yang berminat mempelajari NLP (neuro linguistic programming) buku tulisan Adi W. Gunawan ini layak dibaca. Saya sendiri suka karena seperti pada buku-buku yang dia tulis sebelumnya, konsep dan teknik NLP diuraikan secara eksplisit, mudah difahami dan dipraktekkan. Untuk ini penulis bermurah hati membagikannya kepada pembaca, berbeda dengan penulis masalah ‘pengembangan diri’ berbasis NLP juga yang secara implisit saja mengungkap tekniknya.

The Secret of Mindset banyak membahas tentang belief (kepercayaan, keyakinan) yang bersemayam dalam pikiran, yang pengaruhnya sangat besar dalam membentuk pola pikir dan keputusan seseorang. Belief disini maksudnya bukan agama atau aliran kepercayaan, tetapi keyakinan dalam bahasa sehari-hari, seperti pernyataan ’saya berbakat….’ atau ’saya tidak bisa ….(bergaul/menulis/ berbicara di depan umum/ matematik/dst).’

Belief positip, yang mendukung sukses tentu layak dikembangkan terus, dengan belief ini maka secara konsisten dan otomatis kita punya pedoman untuk bertindak sesuai keyakinan. Sebaliknya belief negatip, yang menghambat harus disingkirkan agar tidak jadi perangkap penghalang kemajuan. Masalahnya menepis belief penghambat itu tidak mudah, karena itu buku ini menyajikan anatomi dari belief, asal muasal dan proses-proses terbentuknya, hingga kemudian bagaimana teknik melemahkan dan menepisnya, kalau toh tidak mau hilang.

Buku setebal 273 halaman ini dibagi dalam dua bagian, total 16 topik atau bab yang dibahas. Bagian Kesatu diberi judul Memetakan dan Memahami Belief. Penulis secara provokatif mengajak kita untuk mempertanyakan baberapa belief yang kita yakini selama ini, bagaimana kalau ternyata salah. Bagaimana kalau kita sesungguhnya ’sukses sebagai orang gagal.’ Selanjutnya mengurai betapa sulit membongkar belief yang terbangun kuat dan kita yakini sejak masa kanak-kanak, tapi ternyata jadi kendala utama bagi sukses kita. Dalam kasus akut ini belief sudah dibentengi oleh behavior, emosi, sikap (state), persepsi, dan selftalk atau dialog internal yang selalu menguatkan belief tersebut. Repotnya belief tersebut, telah menjadi filter penyaring informasi bagi pikiran kita, alternatif-alternatif disaring atau ditolaknya, sehingga kalau tidak kita sadari makin sulit bagi kita untuk mencari jalan keluar. Sekali kita yakin ‘tidak berbakat’ maka semua informasi atau teknik yang diajarkan akan ditampik atau tidak ditangkap oleh pikiran. Bagian ini juga membahas hubungan belief dengan value. Kalau belief biasanya bicara soal ‘bisa/tidak bisa’ atau ‘mungkin/tidak mungkin’, maka value bicara tentang ‘baik/tidak baik’ serta ‘benar atau salah’. Value yang digambarkan sebagai kompas bagi ‘perahu’ kehidupan, adakalanya mengalami konflik dengan value lain yang dianut orang yang sama. Berita baiknya, ada teknik-teknik yang bisa digunakan untuk memperbaiki belief dan value tersebut.

Bagian Kedua, Dekonstruksi dan Rekonstrukturisasi Belief. Menguraikan tentang beberapa teknik merubah belief, antara lain dengan teknik mengajukan pertanyaan kritis; dengan afirmasi dan visualisasi; dengan EFT (emotional freedom therapy); dengan hipnoterapi; atau dengan NLP.

Saya juga suka dengan buku ini karena disajikan dalam bahasa yang santai, misalnya ungkapan “..pangsit…eh maaf wangsit…”. Sebagai ilustrasi juga digunakan beberapa cerita, misalnya tentang kepercayaan adat tentang larangan memetik buah mangga pada anak-anak suku tersebut, bagaimana anak kecil polos begitu berani memetik buahnya, tapi generasi kakaknya yang sudah terkontaminasi belief ‘bisa kuwalat’ jadi takut, padahal itu makanan satu-satunya yang tersisa.

Poin lainnya adalah adanya bahan latihan mulai dari kuestioner untuk mengidentifikasi dan menguji belief yang mendominasi pikiran kita. Juga formulir-formulir untuk mempraktekkan teknik tertentu, serta gambar baik diagram ataupun foto yang menjelaskan teknik-teknik yang ditawarkan.

Kalau saya diharuskan mencatat kelemahan dari buku ini, maka salah satu kelemahannya adalah justru pada banyaknya teknik mengatasi belief negatip (dekonstruksi, restrukturisasi) yang kalau hanya mengandalkan mebaca buku ini saja tidak cukup menghayati. Perlu buku lain, baik yang ditulis Adi, maupun ahli lainnya. Hal ini setengahnya disadari oleh Adi dengan beberapa kali merujuk ke buku-buku yang dia tulis sebelumnya, seperti Becoming a Money Magnet dan Hypnotheraphy: The Art of Subconscious Restructuring. Sekali lagi buku yang kata pengantarnya ditulis oleh pakar pemasaran dan manajemen perubahan Rhenald Kasali ini layak dibaca untuk pengantar dan menambah pemahaman atas konsep-konsep dan teknik-teknik olah pikiran seperti NLP, hypnotheraphy, EFT dan lainnya. Selain untuk merekonstruksi belief sendiri, sebagai trainer atau fasilitator, pemahaman tentang konsep belief dan teknik rekayasanya tentunya bermanfaat untuk mengenali belief, value atau mindset para peserta, agar bisa membuka ‘jendela’ pikirannya, mengajaknya keluar dari ‘comfort zone’ yang membatasi ruang gerak pikiran mereka.

[Resensi ditulis oleh Risfan Munir].