Archive for February, 2008

Corporate Confidential

corporate-confidential.jpgSelama ini saya mencoba meyakini dan berusaha untuk mampu menerapkan 2 prinsip kesuksesan di tempat kerja: memahami pola hubungan dan be a good STAF.

Pertama adalah pola hubungan. Ini berlandaskan pada asumsi dasar bahwa hanya ada 4 aktor yang harus anda perhatikan dengan baik di tempat kerja: decision maker, gate keeper, influencer, colleague.  Jabarannya adalah:  (1). Tidak perlu menjadi penjilat dengan langsung dekati decision maker (big boss), cukup melalui influencer atau gate keeper, (2). Jangan pernah langkahi influencer (direct supervisor), dialah juru kunci keberhasilan karir anda. Ada influencer lain yg perlu diperhatikan, yaitu manajer lain atau supervisor lain, (3). Jaga hubungan baik dengan gate keeper (meskipun pangkatnya hanya secretary, dia punya akses langsung dengan big boss). (4). Hubungan dengan colleage sebatas profesionalisme, tidak terbawa dalam “clique” atau “persekongkolan.”  Untuk membantu anda memahaminya, saya coba gambarkan dalam diagram di bawa ini.

pola hubungan

Kedua adalah be a good STAF. Prinsip ini saya pelajari dari kuliah subuh Toto Tasmara sekian tahun lalu. STAF adalah kepanjangan dari S = Sidiq (jujur), T = Tumaninah (teratur, rapi, tahap demi tahap), A = Amanah (bertanggung jawab), F = Fathonah (profesional, kompeten, selalu mengasah dengan ilmu terbaru).

Membaca buku “Corporate Confidential” seakan menggenapi keyakinan saya selama ini dalam menggapai prestasi di tempat kerja. Buku Corporate Confidential membeberkan 50 rahasia perusahaan yang disembunyikan dari anda, para karyawan, dan apa yang dapat anda lakukan untuk menyiasatinya. Ke-50 rahasia  perusahaan itu dibeberkan oleh Cynthia Shapiro, penulis buku yang mantan eksekutif SDM dan wakil presiden perusahaan terkemua di AS. Paparan ke-50 rahasia itu terbagi dalam 5 bab besar. Dari kelima bab itu sebenarnya ada tiga kelompok pemikiran yang terdiri dari bagaimana memahami ranjau atau jebakan berbahaya yang tidak diketahui karyawan, menyingkap mitos-mitos perusahaan, dan  bagaimana anda bersikap ketika telah sampai dipuncak karir.

Ada beberapa rahasia penting yang saya peroleh dan ingin saya bagi bersama anda di Rumah Baca ini. Juru kunci, ini adalah soal bagaimana bersikap terhadap juru kunci (dalam istilah yang saya pahami di atas adalah influencer atau atasan langsung). Atasan langsung adalah orang yang paling menentukan karir anda. Jangan pernah melangkahi atasan langsung anda. Jika anda punya ide-ide brillian, anda harus mengkomunikasikannya lebih dulu dengan atasan langsung. Dan never ever  mempermalukan dia di depan umum.

HRD,  jangan pernah mengeluh dan curhat dengan bagian HRD. Mereka bukanlah dewa penolong atau orang tua anda. Jika dihadapkan pada pilihan, kemana HRD akan perpihak, kepada karyawankah atau kepada perusahaankah? Maka jawaban pasti adalah HRD akan memihak pada perusahaan. Percayalah!

E-mail,  ini adalah hasil tekhnologi terbaru menggantikan memo surat resmi perusahaan. Jangan anggap remeh barang yang satu ini. Jadikan e-mail sebagai sarana bekerja, bukan tempat chating, nge-rumpi atau bahkan nge-gosip. Dan yang lebih parah lagi, jangan pernah memakai jalur e-mail untuk memojokkan salah satu orang, memfitnah, atau menjatuhkan orang. Percayalah, bos besar anda punya kuasa untuk membuka akses e-mail pribadi di tempat kerja. Itu hal yang mudah. Bahkan untuk menyadap pembicaraan lewat telepon, juga bukan hal yang susah. Waspasdalah! 

Pertemanan, ini kedengarannya positif. Pertemanan menunjukkan bagaimana anda bersosialisasi di tempat kerja. Tapi hati-hati, dengan siapa anda berteman. Adalah ranjau bahaya jika anda terlihat berteman, bersekongkol dengan salah satu teman yang masuk dalam black list perusahaan. Nge-rumpi di kantin, pantry kantor juga akan segera mengindikasikan pada kelompok mana anda berada.

Masalah pribadi, sangat banyak anda mengobral persoalan domestik di tempat kerja: suntuk dengan istri atau suami, resah karena pasangan selingkuh, anak-anak yang mulai nakal, pembantu kabur, sakit kronis, dll adalah sesuatu yang harus anda tutup rapat-rapat. Selalu tampil happy dan bersemangat di kantor meskipun di belakang anda kacau balau. Pada bagian lain dalam buku ini juga diungkapkan betapa masalah pribadi tidak harus diobral di tempat kerja: pajangan foto anak, membawa bantal atau boneka di tempat kerja, pot bunga. Ini kantor, bukan rumah!

Masih banyak lagi rahasia lain yang selama ini anda anggap sepele ternyata berdampak besar pada terhambatnya karir dan tersingkirnya anda pada jenjang promosi. Beberapa yang menarik untuk diperhatikan adalah: soal berpakaian, kerapian meja, dekorasi ruangan, pengorganisasian, penguasaan data, dll.

Diskusi selanjutnya adalah apa yang akan anda lakukan apabila puncak karir telah anda raih?  Siapkah anda menanggung beban dan tantangan berat yang siap menghadang di depan mata? Dengan menduduki puncak karir, maka praktis hampir 75% hidup anda harus siap diabdikan untuk perusahaan. Puncak karir juga menyidiakan ruang yang luas untuk tertiup badai.

Untuk mencapai puncak karir, anda juga harus siap dicap sebagai orang ambisius. Menjadi orang berprestasi bukanlah soal menjadi orang baik atau sebaliknya menjadi orang jahat, tapi bagaimana anda secara cerdas mengatasi segala persoalan. Dengan berpegang pada  prinsip be a good STAF, menurut saya, insya Alloh, setiap langkah anda akan selalu mendapat lindungan dari Alloh SWT.  Sungguhpun anda sudah berbuat baik dan  berprestasi,  tapi tetap saja terdepak dari tempat kerja saat ini, maka ada satu rahasia lain yang perlu anda ketahui: Tuhan telah menyimpan rencana terbaik untuk anda di tempat kerja yang baru. Selamat!

(Resensi dibuat oleh Hartono)

Our Iceberg is Melting

our iceberg is meltingBuku “Our Iceberg is Melting: Perubahan dan Kesuksesan dalam Berbagai Kondisi.”  berkisah tentang koloni 268 penguin yang hidup di suatu bukit es (iceberg) di Antartika. Mereka hidup aman dan makmur di lingkungan itu, sebagai habitatnya, sampai satu saat seekor penguin remaja bernama Fred, menemukan kenyataan yang merisaukan pikirannya.

Fred adalah penguin yang selalu ingin tahu dan senang mengamati segala sesuatu. Dia mengamati bahwa ada gejala yang mengancam kelangsungan hidup koloni di bukit es itu. Yaitu gejala mencairnya es, yang  memicu pecahnya dinding es, dan berturut-turut akan menghancurkan lingkungan hidup koloni tersebut. Kejadiannya diperkirakan saat memasuki  musim dingin, yang tinggal dua bulan lagi.Fred gelisah dengan hasil temuannya itu. Mau cerita ke orang lain, dia takut dianggap aneh, takut tak dipercaya, karena sadar dia bukan apa-apa. Untung dia ingat temannya Alice , yang punya akses ke pimpinan, yang ternyata mau mendengar cerita yang menggelisahkannya. Selanjutnya, Alice yang lebih mudah bergaul itu mengabarkan cerita kepada Louis, sang Ketua Koloni Penguin. Karena kuncinya adalah meyakinkan Dewan Koloni, maka Alice membujuk Louis agar mau mengundang Fred ke pertemuan Dewan Koloni. Dan ini dipenuhi Louis yang memang juga ingin tahu teori ‘mencairnya bukit salju’ yang dibawa Fred.

Dapat dibayangkan, menjelaskan suatu ancaman bencana dengan cuma berdasar teori itu tentu tidaklah mudah. Apalagi Dewan lebih asyik dengan urusan-urusan remeh seperti debat soal tunjangan jabatan, atau sekedar ribut soal semantik, istilah, redaksional, makan-makan dan pertemuan di tempat mewah. Untuk itu, Fred harus menguras akalnya untuk meyakinkan dewan. Cara yang dia temput adalah “show it” bukan penjelasan teori yang rumit. Maka untuk melakukan show, sekaligus memberikan efek kejut, Fred membuat model gunung es dan efek mencair yang dampaknya merontokkan dinding es tersebut. Hasilnya sebagian anggota Dewan bisa diyakinkan, kecuali Senator Nono dan pengikutnya, yang memang selalu berkata “No” untuk apa pun.

Selanjutnya mudah diduga bahwa kisah dalam buku yang ditulis oleh John Kotter dan Holger Rathgeber sebetulnya adalah metafora untuk menjelaskan strategi mengelola perubahan. Proses yang melalui tahapan menanamkan kesadaran, menggalang sekutu dengan membentuk tim, mengkomunikasikan, menciptakan visi yang dituju, strategi perubahan, menggalang partisipasi, menciptakan sukses kecil tapi segera terwujud untuk meyakinkan, memantapkan perubahan  dan memelihara momentumnya. Sebagai detail ada delapan langkah perubahan yang disarankan melalui metafora kisah penguin dalam buku ini, yaitu: Pertama, ciptakan perasaan mendesak dan gawat. Bantu orang melihat perlunya perubahan dan pentingnya segera bertindak. Ini adalah fase kritikal awal.

Kedua, susun tim pemandu. Pastikan ada kelompok ini kuat dalam memandu perubahan, memiliki kemampuan memimpin, memiliki kredibilitas, kemampuan berkomunikasi, kekuasaan, kemampuan analisis dan perasaan mendesak (sense of urgency). Mencari sekutu yang percaya, lalu champion pionir perubahan adalah seni yang menentukan.

Ketiga, kembangkan Visi dan Strategi perubahan. Perjelas bagaimana masa depan akan berbeda dari masa lalu. Dan, bagaimana Anda membuat masa depan itu menjadi kenyataan. Menggunakan otak kanan, mengembangkan imajinasi, visualisasi perubahan yang dituju. Dalam kisah penguin, perubahan mindset dari “penghuni tetap” suatu bukit es (sehingga tergantung padanya) menjadi koloni penguin “pengembara”, terilhami oleh burung walet yang mereka temui, yang ternyata adalah burung pengintai pencari habitat yang lebih menjamin kehidupan.

Keempat, komunikasikan untuk memperoleh pemahaman, yakinkan sebanyak mungkin orang untuk dapat memahami dan menerima visi dan strategi. Komunikasi dalam bentuk apapun, lisan, tulisan (poster), dan ilustrasi terus menerus dilakukan. Ada kalanya pelaku perubahan bosan, ada kegagalan, yang dimanfaatkan oleh oposan untuk menyerang. Maka komunikasi dan menunjukkan bukti adalah penting untuk memelihara psikologi masa.

Kelima, berikan kewenangan kepada orang lain untuk bertindak, berbagi peran. Lenyapkan sebanyak mungkin penghalang agar mereka yang akan dapat membuat visi menjadi kenyataan dapat melakukannya. Berikan, ciptakan peran dalam perubahan, sekalipun kepada anak-anak. Karena seringkali sekali bisa diyakinkan, justru anak-anaklah yang bisa ‘menggeret’ atau menarik ortu-nya.

Keenam, hasilkan kemenangan jangka pendek. Ciptakan beberapa sukses kecil, yang mudah dicapai, dan segera tampak wujudnya. Perjalanan panjang menciptakan perubahan besar memerlukan waktu lama, sering pelaku atau pengikut akan lelah, bosan, lalu tidak yakin atau meragukan ‘perlunya’ perubahan. Oleh karena itu diperlukan keberhasilan, kemenangan-kemenangan kecil yang segera, agar manfaatnya juga dapat segera dinikmati. Ini yang akan menjadi insentif nyata dari proses perubahan yang dilakukan. Kalau perlu, berikan award, hadiah, pengakuan bagi yang berhasil mencapai suatu titik tertentu, menghasilkan karya tertentu sejalan misi perubahan.

Ketujuh, jangan mudah berhenti. Never give up. Juga, jangan mudah berpuas diri. Buat target yang lebih tinggi, tekanan yang lebih keras, dan lebih cepat setelah keberhasilan pertama. Ciptakan, tunjukkan perubahan demi perubahan hingga visi menjadi kenyataan.

Kedelapan, ciptakan budaya baru. Pelihara, pertahankan cara-cara baru yang menunjukkan reaksi dan pastikan dapat berhasil, hingga cara-cara tersebut cukup kokoh dan mantap menggantikan tradisi dan kebiasaan lama, yang ingin diubah. Jadikan praktek yang baik menjadi kebiasaan, lembagakan sebagai tradisi dan gaya hidup. Sekali berubah dari penguin “penetap” manjadi penguin “pengembara,” maka pengembaraan harus menjadi cara hidup, way of life. Menjadi tradisi yang dilembagakan.Pelajaran yang ditunjukkan melalui metafora kisah koloni penguin, yang enak dibaca dan menghanyutkan itu, sebetulnya relevan untuk mengelola perubahan dalam bidang apa saja. Bisa untuk perubahan diri, keluarga, tempat kerja, lingkungan sosial. Ini karena kita hidup di era pancaroba. Kita sedang dihadapkan pada perubahan situasi pasca reformasi politik, kondisi ekonomi, dampak naiknya harga minyak, naiknya harga kebutuhan pokok, perubahan iklim dan sebagainya, yang pengaruhnya ke semua aspek kehidupan.

Memang saat membaca buku ini pikiran saya terpicu untuk mengingat rencana atau angan-angan perubahan yang ingin saya lakukan dalam pengembangan diri, juga program lain. Ada beberapa hal menyangkut tahapan manajemen perubahan tersebut yang selama ini tidak saya sadari harus dilakukan. Mungkin karena metafora kisah koloni penguin ini begitu jelas maksudnya, berlaku universal, tanpa diganggu contoh spesifik ke bidang tertentu. Bagi pembaca yang tinggal di Jakarta, Semarang, Padang  atau kota pantai lain yang menjadi langganan banjir, yang katanya akibat perubahan iklim, atau perubahan perilaku penduduk yang kian buruk, maka tidak sulit untuk memahami fenomena ”mencairnya salju” ini. Dan, memahami betapa sulitnya menyadarkan Pemda, developer, dan perusak lingkungan lainnya akan bencana yang mengancam.

Reputasi Kotter yang memang pakar manajemen perubahan berskala dunia  tampak nyata dalam buku sederhana, mudah diikuti. Seperti yang ditulis salah satu endorser-nya, buku ini bisa dibaca bapak, ibu dan anaknya lalu menjadi topik diskusi di ruang keluarga. Enak dibaca karena ceritanya mengalir, font huruf yang digunakan cukup besar, diselingi dengan ilustrasi penguin dalam berbagai aksi. Tapi buku ini juga bisa dinikmati sebagai bacaan cerita ringan saja, kalau memang tidak ingin mengartikannya terlalu jauh.

(Resensi ditulis oleh Risfan Munir, penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif”).

Setelah Dia Pergi

soahartoTempo Edisi 4-10 Februari 2008. Edisi Khusus Soeharto: Setelah Dia Pergi. Beberapa waktu lalu Soeharto telah pergi. Ia berkuasa begitu lama : 32 tahun – hanya bisa dikalahkan oleh pemimpin Kuba Fidel Castro. Tentunya kita belum lupa bagaimana semua stasiun televisi menyuguhkan ‘opera’ di hari – hari terakhirnya. Beberapa kolomnis yang terlibat dalam edisi khusus ini diantaranya adalah : Asvi Warman Adam, Saiful Mujani, M.Sadli, Arif Budiman, R.William Liddle, Harold Crouch, dan Bambang Harymurti.

Sekitar 100 halaman Edisi khusus tempo ini konon sudah dipersiapkan sejak tahun 2001 ketika awal-awal Pak Harto dilaporkan masuk rumah sakit. Setelah itu kita sama-sama mengetahui antara 2001 – 2007 Soeharto bolak – balik masuk rumah sakit dan selama itu pula Tempo sudah berganti pemimpin redaksi – demikian juga tim edisi khusus ini yang juga sudah berganti orang. Bahkan ada penulis kolom yang sudah duluan meninggal seperti Pramoedya Ananta Toer dan Prof.Sadli. Dalam pernyataannya redaksi Tempo menyatakan bahwa keseriusan menggarap edisi khusus Soeharto ini bukan karena mereka ingin mendahului takdir tapi lebih karena kesadaran bahwa Soeharto adalah tokoh yang penting bagi negeri ini. Edisi khusus ini adalah ihtiar Tempo untuk mencatat sepak terjang Sang Jenderal Besar. Sejarah adalah guru terbaik demikian pernyataan mereka. Suka tidak suka semua pihak pasti bersepakat bahwasanya Soeharto cukup ‘mewarnai’ Indonesia tercinta ini.

Dari sampulnya edisi ini sudah cukup ‘menggoda keingintahuan “, di situ terdapat repro salah satu lukisan masterpiece Leonardo Da Vinci – Makan Malam Terakhir..! Digambarkan Soeharto sebagai pusat (di posisi Yesus pada versi aslinya) diapit ke enam putra-putrinya. Sesuatu yang juga menjadi bahasan dalam edisi ini … hubungan kekuasaan Soeharto dan keagresifan sepak terjang bisnis putra – putrinya. Sesuatu yang bagi sebagian pengamat  dianggap sebagai awal keruntuhan Soeharto. Mengenai hal ini sebenarnya , sejak awal Soeharto pernah diperingatkan oleh LB.Moerdani (Kisah Dua Prajurit), sesuatu yang membuat hubungan keduanya memburuk pada akhir 1980-an yang berujung pada pemecatan Benny sebagai Panglima ABRI seminggu sebelum SU MPR 1988.

Edisi khusus ini memberikan sesuatu yang lebih berimbang, dengan kata lain edisi ini juga memberikan tempat bagi ‘suara para korban’, sesuatu yang hampir tidak muncul dari liputan – liputan stasiun televisi pada hari-hari itu ……. Hal ini nampak dari disusunnya kolom khusus tentang peristiwa – peristiwa kontroversial selama kekuasaan Orde Baru sebagai berikut : Tragedi 1965, Malari, Petrus, Peristiwa  Talangsari, Tanjungpriok, Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli), Operasi Militer Aceh – Papua, Penculikan aktivis tahun 1998,Trisakti dan Kedungombo. Bagi kita yang belum pernah mengetahui detail peristiwa – peristiwa tersebut , apa yang tertulis di edisi ini bisa memberikan gambaran yang singkat – padat- jelas.

Muncul juga profil singkat para seteru seperti : Pram, Amin Rais, Budiman Sujatmiko, Syahris, Ali Sadikin, Soebandrio, Dewi Soekarno dan Beny Biki disamping profil para loyalis Soeharto seperti Ismail Saleh, Haryono Suyono, Bustanul Arifin, Sudharmono, Saadilah Mursyid. Gambaran Soeharto sebagai seorang manusia juga bisa dilihat dari kesaksian beberapa orang yang pernah berada dekat dengan Soeharto seperti mantan ajudan, teman memancing, wartawan istana dan fotograper istana. Hubungan Soeharto dan Ibu Tien ( Setelah Sang Ibu Berpulang …..) juga bisa memberikan gambaran kepada kita tentang  sisi manusiwi Soeharto saat wafatnya Ibu Tien.

Yang juga menarik dalam edisi ini adalah kolom tentang spiritual Pak Harto sebagai orang Jawa  dan bagaimana hubungannya dengan Soedjono Hoemardhani – seseorang yang konon menjalin hubungan persaudaraan mistikal dengannya. Konon laku dan kepercayaan Kejawennya dilaporkan cukup mewarnai gaya kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan politik orde baru ketika itu. Selebihnya dalam edisi ini juga dibahas tentang hari-hari terakhir menjelang dan setelah ‘turunnya’ Soeharto dari tumpuk kekuasaan ( Cendana, Setelah Keputusan itu …). bagian ini bisa memberikan gambaran sesuatu yang pada saat itu ‘kurang nampak’ muncul di permukaan dan tak lupa juga kontroversi yang pernah muncul mengenai asal usul silsilah Soeharto pada tahun 1974 (Misteri Anak Desa Kemusuk).

Kurang jelas apa yang menjadi pertimbangan redaksi sehingga dalam edisi ini tidak muncul soal ‘supersemar, ataupun kebijakan Soeharto yang menginvasi Timor-Timor pada saat itu. Yang jelas saya merasa beruntung bisa mendapatkan edisi khusus ini. Edisi khusus Tempo yang menurut saya cukup berharga untuk ‘membaca sejarah” selain “Edisi G-30-S dan  Peran Aidit”  tahun 2007 lalu.  

(Resensi ditulis oleh Nugroho)

Chocolat

chocolatCoklat  selalu menjadi hadiah istimewa pada perayaan valentine’s day, yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Hampir separuh penduduk dunia merayakannya, terutama kelompok remaja yang sedang dilanda asmara. Dan coklat  menjadi icon paling seksi untuk menyatakan tanda cinta, selain bunga. Di Indonesia, valentine’s day menuai pro dan kontra. Kelompok kontra menyatakan bahwa valentine’s day sungguh jauh dari norma-norma ketimuran. Valentine’s day bisa disalahgunakan oleh kaum remaja yang merasa bebas untuk mengungkapkan kasih sayang, mulai dari kirim-kiriman coklat, pegang-pegangan tangan, berciuman, hingga seks kebablasan. Tapi yang jelas, valentine’s day adalah produk dari  komodifikasi. Kasih sayang, cinta, atau asmara hanyalah narasi, bungkus cantik dari produk yang dijual dan diperdagangkan untuk mendatangkan laba!

Novel Chocolat yang ditulis oleh Joanne Harris, sebuah novel terjemahan yang diterbitkan oleh Bentang, sama sekali tak menyinggung soal valentine’s day. Novel ini justru mendobrak tatanan norma dan nilai-nilai yang mungkin selama ini dipeluk oleh sebagian besar umat Katholik. Novel yang menurut saya nakal dan berani. Tapi gaya bertutur novel ini relative lembut dan tak menghentak. Untuk sementara pembaca, mungkin agak membosankan. Padahal durasi cerita hanya berlangsung sekitar 2-3 bulan saja. Novel terbagi dalam potongan hari yang bertanggal tapi tak bertahun. Mirip buku harian.

Novel dibuka dengan datangnya 2 orang pendatang asing di Lansquenete-Sous-Tannes, sebuah kota kecil di Perancis. Kota kecil yang kuat memeluk agama Katholik. Tapi sebuah kota yang muram. Dingin. Tak menyisakan sedikitpun kegembiraan dan cerianya kehidupan. Hingga datanglah 2 orang pendatang, Vianne Rocher dan Anoux. Dua orang ibu anak ini menyewa rumah tepat di depan gereja yang menjadi pusat kehidupan penduduk Lansquenete-Sous-Tannes. Pertempuran besar yang bernama keyakinan dan nilai-nilai hidup dimulai ketika Vianne Rocher membuka kedai coklat. Kedai ini tetap buka ketika semua orang diwajibkan untuk meninggalkan urusan dunia dan hadir di Misa Minggu. Pada perayaan Paskah, kedai coklat ini justru mengadakan festival coklat! Kedai ini kemudian juga menjadi tempat segala kesumpekan hidup, keluh kesah, dan kepura-puraan ditumpahkan.

Melalui kedai coklatnya, Vianne Rocher menawarkan jalan hidup bebas yang hanya tunduk pada kata hati, bukan kungkungan norma, adat, tata nilai yang membelenggu. Latar belakang Vianne Rocher yang berasal dari keluarga gyspi barangkali yang mendasari sikap hidupnya itu. Itu mungkin buah dari gaya hidup kaun gypsi yang nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Terima kasih kepada Andrea Hirata, yang telah memberikan langsung novel Chocolat ini kepada saya saat acara ”Mengarungi Mimpi Bersama Laskar Pelangi” di Toko Buku Gramedia Matraman, sebagai hadiah telah membaca puisi dadakan untuk Laskar Pelangi.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

The Starbuks Experience

The Starbucks ExperienceSaya bukan peminum kopi. Kebetulan dokter menganjurkan saya untuk tidak minum kopi, karena akan menimbulkan gangguan pada lambung. Meskipun demikian, saya masih punya selera untuk membahas soal kopi, yang tak akan mengganggu lambung tapi justru merangsang otak kanan saya.

kali ini pembahasan soal kopi diangkat oleh Joseph A. Micelli dalam buku ”The Starbucks Experience.”  Tapi untuk dapat memahami dengan baik ulasan buku ini, saya sarankan anda membaca terlebih dahulu buku “Marketing in Venus” karya Hermawan Kartajaya. Menurut Hermawan Kartajaya, product yang sama akan dihargai berbeda kalau levelnya berbeda. Empat level itu adalah commodity, goods, services, dan experience. Contoh sederhananya adalah soal kopi ini. Sebagai sebuah commodity, harga 1 kg kopi akan relatif sama di pasar manapun. Margin yang diperoleh dari perdagangan komoditas kopi ini pasti kecil sekali. Kopi akan meningkat menjadi sebuah goods apabila sudah ditempeli merek, seperti kopi cap Kapal Api atau kopi cap Tugu Luwak. Harganya akan ditentukan oleh ketenaran sebuah merek dagang. Dari goods, kopi akan meningkat pangkatnya menjadi services kalau kopi itu misalnya dihidangkan di cafe, lounge, atau  restaurant yang ada di hotel bintang lima. Harganya pasti jauh lebih mahal daripada goods, karena di sana ada services, plus tambahan pajak. Pada level yang paling tinggi itulah yang dinamakan experience. Di sini kalkulasi harga sudah memasuki tataran irasional. Dalam teori marketing mix, unsur harga sudah tidak lagi relevan dibahas di sini. Pada tataran experience, emosi orang diaduk-aduk. Ujung-ujungnya margin yang diperoleh bisa sangat luar biasa dan tidak masuk akal, sebab bukan hanya kepuasan yang diperoleh, tapi experience itu sendiri yang priceless.  Dalam ”Marketing in Venus,” manusia bumi sudah berubah menjadi sangat emosional. Tidak peduli laki-laki atau perempuan. Sentuhlah emosi mereka, maka anda akan  memenangkan persaingan bisnis. Embel-embel experience pada judul buku di atas memang dimaksudkan untuk membawa pembaca kepada makna dari sebuah experience itu.

Ada 5 prinsip yang diterapkan Starbucks sejak didirikan tahun 1971 di Seattle, Amerika Serikat dalam mengubah hal biasa menjadi luar biasa. Kelima prinsip itu adalah lakukan dengan cara anda, semuanya penting, surprise and delight, terbuka terhadap kritik, dan leave your mark. Kelima prinsip itu secara detail dipaparkan oleh Joseph A. Micelli melalui pengamatan dan wawancara mendalam terhadap karyawan Starbuck, tidak hanya kepada pendiri atau CEO, tapi justru sebagian besar kepada karyawan Starbuck yang mereka sebut sebagai mitra.  Dari kelima prinsip itu kita dapat banyak belajar tentang kreativitas Starbucks dalam mengubah hal biasa menjadi luar biasa. Ada satu kerativitas yang sangat unik dalam memberi surprise and delight. Starbucks membuat cangkir kopi dengan magnet pada dasarnya dan mereka menempelkannya di atas sebuah taxi. Orang-orang yang melihat ada cangkir di atas taksi biasanya mengingatkan pada sopir taksi bahwa ada sebuah cangkir kopi yang tertinggal di atap mobil. Mereka yang peduli, yang mengingatkan, akan mendapat hadiah secangkir kopi gratis dari Starbuks! Sebuah iklan kreatif dan beyond imagination.

Keberhasilan Starbuck ternyata justru dimulai dari dalam tubuh Starbuck sendiri. Mereka percaya bahwa costumer itu bukan hanya pelanggan yang setiap hari mereka layani, tapi ada juga costumer in the company yang juga harus terus diperhatikan, yaitu karyawan Starbucks. Kisah-kisah para barista, sebutan untuk karyawan peracik dan  penyaji kopi andalan Starbucks,  inilah yang menjadi dasar penulisan buku ini. Startbucks percaya bahwa momment of truth harus sudah terbangun sejak pertama kali pelanggan masuk di kedai Starbucks. Dalam contoh kecilnya adalah, seluruh barista diajarkan untuk mengenal nama pelanggan, pesanan unik mereka, bahkan nama anak atau nama anjing mereka.  Di dalam kedai Starbucks, ada banyak experience lain akan dirasakan oleh pelanggan. Mulai dari sambutan hangat, pilihan kopi yang bisa sangat personal, alias kita boleh cerewet untuk minta pesanan yang sangat unik buat kita seorang, hingga desain interior ruangan. Seluruh orkestra experience itu masuk ke dalam bawah sadar dan mengendap sebagai sebuah kesadaran baru dari tradisi minum kopi. Mulai dari sana, anda akan menjadi paham mengapa orang rela untuk membayar USD 3 untuk segelas kopi Starbucks, sementara kopi biasa yang dijual di kedai lain hanya perlu setengah dolar atau 50 cent. Padahal bahannya sama, yang membedakan adalah experience-nya itu.

Sekali lagi, saya bukan peminum kopi. Tapi saya pernah mendapat kesempatan istimewa untuk minum kopi di kedai Starbuck di Portland, Oregon, pada tahun 1994. Sekedar mencicipi salah satu produk unggulan Amerika Serikat, selain Hollywood, Coca-Cola, Marlboro dan  Levi’s.

Saya tidak menganjurkan anda untuk menghamburkan uang di kedai Starbucks yang lumayan mahal itu. Tapi saya mengajurkan anda untuk belajar dari kisah sukses Starbucks melalui buku ini.

(Resensi di tulis oleh Hartono)