Archive for March, 2008

Putri Cina

Putri Cina”Kita datang ke dunia ini sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah, yang ternyata hanya memisahkan kita?”

Cinta itu tidak mengenal batas. Ia bisa lintas bangsa, ras, suku, dan agama. Cinta abadi juga tidak bisa diikat oleh sang waktu, bahkan oleh kematian sekalipun. Dalam legenda Sam Pek dan Eng Tay, cinta abadi mereka menjelma dalam sepasang kupu-kupu kuning yang terbang ke utara.

Tragedi cinta antara sepasang kekasih yang berdarah Cina dan Jawa menjadi sentral cerita novel Putri Cina yang ditulis oleh Sindhunata ini.  Tokoh Putri Cina dalam novel ini melesat menembus waktu dan jaman, antara jaman Majapahit hingga kerusuhan Mei berdarah 1998. Dia hadir sebagai Putri Campa pada jaman Prabu Brawijaya, Roro Hoyi pada jaman Amangkurat, Eng Tay pada legenda Sam Pek dan Eng Tay, dan hadir sebagai sosok Giok Tien pada masa ”kerajaan Medang Kamulan Baru”.

Tragedi berdarah yang menimpa keturunan etnis Cina selalu berulang. Celakanya mereka tidak pernah belajar dari sejarah. Sindhunata melakukan otokritik terhadap etnis Cina yang tidak pernah belajar dari sejarah (kebetulan Sindhunata juga berdarah Cina, berayahkan Liem Swie Bie dan beribu Koo Soen Ling). Orientasi etnis Cina yang ada di tanah Jawa selalu mengejar harta dan kekayaan dunia, melupakan tradisi leluhur bangsa Cina. Akibatnya mereka menjadi kelompok kaya elitis yang berada di tengah-tengah mayoritas etnis Jawa yang tertinggal secara ekonomi. Keahlian mereka di bidang perniagaan dimanfaatkan betul  oleh penguasa, sejak jaman Belanda hingga sekarang. Mereka tidak sadar sedang dijadikan sapi perah, dan siap dikorbankan sewaktu-waktu.  Kondisi ini secara laten bisa meledak sebagai bom waktu. Dan bom itu benar-benar meledak (atau tepatnya ”diledakkan”) ketika pecah kerusuhan Mei 1998.  

Tragedi Putri Cina yang diwakili oleh tokoh Giok Tien dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 oleh Sindhunata diubah layaknya lakon ketoprak dengan mengganti nama masa Orde Baru dengan nama Kerajaan Medang Kamulan Baru, dengan raja bergelar Amurco Sabdo. Di sana muncul intrik antara senapati Gurdo Paksi, Patih Wrehonegoro, dan lurah prajurit Tumenggung Joyo Sumengah. Lakon ini mengingatkan pembaca pada perseteruan antara Wiranto dan Prabowo. Putri Cina digambarkan sebagai istri dari senopati Gurdo Paksi yang kemudian menjadi korban intrik tingkat tinggi hingga Giok Tien ternodai harga diri kewanitaannya oleh syahwat kuasa Amurco Sabdo dan menjadi rebutan antara Tumenggung Joyo Sumengah dan Gurdo Paksi. Keduanya telah menaruh hati kepada Giok Tan semenjak dia menjadi primadona ketoprak keliling Sekar Kastubo. Pada kenyataanya cinta Giok Tien hanya untuk Gurdo Paksi, yang waktu itu masih prajurit bernama Setyoko. Cinta Giok Tien yang Cina, dan Setyoko yang Jawa terjalin sudah. Dan itu membawa dendam kekalahan bagi Tumenggung Joyo Sumenggah yang juga termehek-mehek mengharap cinta dari Giok Tien.

Novel ini sangat menyentuh dan mampu mengungkap sisi kelam sejarah dan latar belakang budaya Cina-Jawa serta intrik politik yang melatarbelakangi berbagai peristiwa kerusuhan yang  menjadikan etnis Cina selalu sebagai korbannya.

Di dunia ini semua manusia menanggung nasib yang sama, karena kita hanyalah debu. Cina dan Jawa , sama-sama debunya. Mengapa kita mesti bertanya, siapakah kita? Toh dengan dilahirkan di dunia, kita semua adalah saudara?

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Mengungkap Berita Besar dalam Kitab Suci

KiamatBuku yang diberi judul ”Mengungkap Berita Besar Dalam Kitab Suci” ini bicara tentang kiamat. Buku setebal 446 halaman ini adalah terjemahan karya Abdul Wahab Abdussalam Thawilah. Buku yang menggetarkan untuk para pecinta dunia, sebaliknya mencerahkan untuk mereka yang rindu bertemu dengan Sang Khalik. Gambar sampul depan cukup provokatif dengan gambar malaikat pencabut nyawa dengan latar belakang mata Dajjal. Diterbitakan oleh Penerbit Tiga Serangkai, dan masuk dalam kelompok studi Islam. Secara garis besar, bagian buku ini terbagi dalam 3 bab besar: tanda-tanda kecil (shugra), tanda-tanda besar (kubra) , dan hari kiamat.

Membaca buku ini, untuk sementara orang akan berkomentar, ”ah, kiamat khan masih jauh, ngapain dipikirin.” Sama halnya dengan  ungkapan, ”tenang, belanda masih jauh.” Kapan waktu datangnya kiamat memang tiada seorangpun yang tahu. Dalam satu riwayat Umar r.a. berkata, ”Tatkala kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah saw., tiba-tiba datang kepada kami seorang lelaki amat putih, sedangkan rambutnya hitam pekat, lalu berkata, ”beritahukanlah aku tentang hari kiamat?” Beliau menjawab, ”Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya?” Selanjutnya Rasulullah hanya bisa memberikan tanda-tanda datangnya kiamat.

Jika ditinjau dari tanda-tanda kecil, tanda-tanda besar yang mengawalinya, tampaknya kiamat memang masih perlu sekian ratus tahun lagi.  Kita yang membaca buku ini kemungkinan besar memang tidak sempat menyaksikan runtuhnya dunia. Tapi, minimal setiap dari kita akan menjumpai kiamat kecil: kematian kita sendiri!

Menarik untuk mengamati di sekitar kita beberapa tanda-tanda kecil kiamat yang sudah diramalkan oleh kitab suci. Beberapa tanda kecil yang sudah terjadi diantaranya adalah: pengutusan Muhammad saw dan wafatnya, penakhlukan Baitul Makdis, Kematian kaum muslim secara serentak, harta melimpah dan keengganan menerima sedekah, munculnya fitnah dan peperangan umat Islam, dll.

Tanda-tanda kecil yang sekarang sedang berlangsung antara lain: munculnya nabi palsu (dikatakan ada 30 nabi palsu, termasuk 4 orang diantaranya adalah perempuan), orang miskin arab berlomba meninggikan rumah (bermewah-mewah), kemaksiatan meraja lela,  zina, penyelewengan amanat, dll. Dari beberapa tanda-tanda kecil yang sedang berlangsung itu, Muhammad saw pernah bersabda, menurut Ali r.a. ”Jika umatku telah melakukan lima belas perkara, akan muncul malapetaka.”  Dari kelima belas perkara itu, yang mengejutkan bagi saya adalah perkara nomor (12) yaitu lelaki memakai sutra.  Jadi selama ini kalau saya pergi ke hajatan memakai baju batik berbahan sutra, itu sebenarnya sudah mulai mempertegas bahwa kiamat sudah dekat. Tanda-tanda lain yang cukup membuat saya kaget adalah seperti yang dituturkan dari Ibnu Mas’ud r.a., Rasulullah bersabda, ”Tanda-tanda hari kiamat, antara lain mulai maraknya kegiatan menulis.”  Lho?!. Penjelasannya kemudian adalah bahwa hal ini bukannya mencela kegiatan menulis, tetapi mencela sesuatu yang tidak bermanfaat atau menulis untuk tujuan menyombongkan diri.

Sedangkan tanda-tanda besar (kubra) diantaranya adalah: munculnya Dajjal, kembalinya Isa Bin Maryam, keluarnya Yakjuj dan Makjuj, matahari terbit dari barat, keluarnya hewan melata dari bumi, kabut hitam, lenyapnya Al-Quran, angin lembut, hancurnya Kakbah, tiga kali gempa, dan api yang menggiring manusia ke padang Mahsyar.

Buku ini secara lengkap menganalisis dan menjawab anggapan-anggapan kitab suci dari semua agama samawi tentang waktu berakhirnya alam semesta. Selain itu, dijelaskan pula kesepakatan kaum muslimin dan nasrani bahwa Al-Masih yang ditunggu-tunggu adalah Isa putra Maryam, tetapi berbeda pendapat tentang waktu dan caranya turun.

Meminjam istilah tenses dalam grammer bahasa Inggris, maka soal kiamat dapat dimasukkan dalam kelompok future perfect tense: The end of the day will have … Dia  pasti akan terjadi. Tapi entah kapan… Wallahualam.

(Resensi ditulis oleh Hartono)