Archive for May, 2008

A Thousand Splendid Suns

Adakah kehidupan yang lebih baik di tengah-tengah kecamuk perang? Wajah Afganistan seakan tak pernah beranjak dari kabut debu sisa mesiu, ledakan bom, rentetan senjata kalashnikov, dan bau anyir darah perang saudara. Sejak dahulu bangsa ini telah dijajah oleh kekuatan asing, sejak masa Genghis Khan, Macedonia, Sassania, Arab, Mongolia, hingga tentara merah Soviet. Dilanjutkan dengan perang saudara yang melahirkan boneka Soviet – Najibullah, lalu Mujahidin, Taliban, dan kini di bawah bayang-bayang Amerika Serikat.

Khaled Hosseini, dalam “A Thousand Splendid Suns,“ dengan kekuatan deskripsi yang sangat teliti dan detail menghadirkan koyak moyak drama kehidupan warga Afganistan dengan sentral dua tokoh perempuan: Mariam dan Laila. Mariam dan Laila hanyalah dua dari jutaan perempuan Afganistan yang seolah dilahirkan di waktu dan tempat yang salah. Mereka seolah makhluk yang pantas mendapatakan perlakuan kejam dari laki-laki. Bahkan dari suami mereka sendiri, Rasheed, kekerasan fisik mereka terima setiap hari. Duka apalagi yang harus ditanggung Mariam, setelah lahir didunia sebagai harami, anak haram jadah! Di tangan suaminya, masa muda dan sisa hidupnya terampas oleh siksaan yang tiada akhir. Sanggupkah Mariam menanggung beban berat itu?

Novel ini hendak menyentak perhatian dunia, bahwa pada era millennium ini, nasib perempuan secara masal masih teraniaya dan diinjak-injak oleh kaum lelaki. Khaled Hosseini seolah hendak menuduh bahwa itu semua bersumber dari kecamuk perang yang tiada akhir. Ajaran Islam yang semestinya menebarkan kedamaian bagi semesta alam, rahmatan lil’alamin, telah berubah menjadi monster yang menakutkan di tangan kelompok Taliban.

Pada titik diskusi tentang Taliban, sebagai penganut ajaran Islam, saya mengalami keraguan. Adakah yang salah dengan Taliban? Ketika syariat Islam benar-benar hendak ditegakkan, segala konsekuensi “ketidaknyamanan” hidup dipertaruhkan. Seorang teman mengajukan argumen, bahwa kehidupan di dunia adalah persoalan bagaimana menjaga “pendulum” tidak terlalu ke kiri atau ke kanan. Syariat yang hendak ditegakkan oleh Taliban telah membawa “kesengsaraan” hidup, membawa pendulum ke arah ekstrim kiri. Sementara di seberang sana, ada pilihan untuk mengajak hidup bergeser ke pendulum sebelah kanan, dengan segala “kenikmatan” dunia. Pilihan ada di tangan kita.

Pada sisi yang lain, saya tidak seratus persen percaya bahwa Taliban benar-benar ingin menegakkan syariat Islam. Sebagaimana kelompok politik lain di muka bumi ini, selalu saja ada maksud terselubung atas pilihan garis keras itu.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Misteri Otak Kanan Manusia

Sebulan yang lalu saya mengikuti sebuah kursus tentang “Creative Thinking Technique” di Jakarta. Pokok bahasannya adalah tentang pemecahan masalah secara kreatif, yaitu metode pemecahan masalah dengan cara memaksimalkan otak kanan kita. Kursus itu telah membantu saya untuk mampu melihat dan mencoba menyelesaikan berbagai persoalan secara lebih kreatif.

Dalam perjalanan Jakarta – Surabaya minggu lalu, saya tertarik untuk membeli sebuah buku yang berjudul “Misteri Otak Kanan Manusia”. Buku ini ditulis oleh Daniel H. Pink, seorang penulis best seller dari AS. Pada awalnya saya menduga buku ini akan me-refresh pemahaman saya tentang materi otak kanan yang pernah saya peroleh lewat kursus sebulan yang lalu. Nyatanya, buku ini memberi saya lebih dari yang saya harapkan. Buku ini sungguh luar biasa!

Buku ini mengupas soal misteri otak kanan manusia tidak dalam pengertian pembahasan neurology, atau seperti yang biasa dibahas dalam ruang-ruang kuliah. Tapi mengupas keajaiban otak kanan dalam kontek kehidupan masa kini, tentang bagaimana merespon perubahan dunia dengan menggunakan otak kanan kita.

Dunia masa depan telah memasuki sebuah era baru, meninggalkan era-era sebelumnya: pertanian – industri – informasi – dan kini memasuki era konseptual. Era pertanian mengandalkan otot, era industri mengandalkan otot dan otak, era informasi mengandalkan otak. Tapi era informasi semata-mata mengandalkan otak kiri, dan kini pergeseran terjadi ke arah otak kanan yang konseptual.

Mereka yang sanggup bertahan dan menang pada era mendatang adalah mereka yang mampu menggunakan otak kanan mereka. Otak kiri yang bertugas untuk berfikir logis, rasional, numerik, sistematis, matematis, akan mudah untuk digantikan dengan kecepatan dan ketepatan mesin-mesin komputer supercanggih. Sebagaimana dulu ketika era pertanian dan industri, tenaga manusia mudah digantikan dengan traktor atau mesin-mesin otomatis lainnya. Dalam buku ini diceritakan kisah John Henry, manusia superkuat yang diabadikan dalam perangko di AS, pada akhirnya bisa dikalahkan oleh sebuah mesin. Ini adalah awal kekalahan manusia yang mengandalkan otot. Pada cerita yang yang lain dikisahkan kekalahan Garry Kasparov, master catur dunia, melawan komputer super canggih.

Ada satu ruang dalam diri manusia yang tak tergantikan oleh mesin atau komputer, yaitu kreativitas dan emosi. Mereka yang mampu mengoptimalkan kreativitas dan emosilah yang akan mampu bertahan dan menguasai dunia pada era konseptual. Dalam bahasa Daniel H. Pink, adalah mereka yang memiliki kemampuan high concept dan high touch. High concept mencakup kemampuan untuk menciptakan keindahan artistik dan emosional, untuk mendeteksi pola-pola dan peluang-peluang, menyusun kisah yang memuaskan, dan menggabungkan ide-ide yang tidak berhubungan ke dalam satu penemuan baru. High touch mencakup kemampuan untuk memberikan simpati, memahami seluk beluk interaksi manusia, mendapatkan kesenangan dalam diri seseorang dan memberikannya pada orang lain, dan melewati kehidupan sehari-hari dalam mencari tujuan dan makna.

Pada era konseptual, manusia perlu melengkapi penalaran yang diarahkan kepada otak kiri dengan menguasai enam kecerdasan yang diarahkan pada otak kanan. Keenam kecerdasan (the six senses) itu adalah desain, cerita, simponi, empati, permainan dan makna. Saya tidak akan meriew satu persatu dari keenam kecerdasan itu di sini, karena itu akan merusak pemahaman yang seharusnya anda peroleh secara utuh dengan membaca buku luar biasa ini.

Terkait dengan otak kiri dan kanan (the left and the right), saya sungguh tidak berharap anda masuk dalam golongan orang dengan predikat seperti ini, “The left is nothing right. The right is nothing left.” Jika demikian halnya, anda telah tamat sebagai manusia!

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Amarah

Kill Your TV!” itulah sepenggal kata yang saya baca ketika membuka salah satu halaman di blog ini. Kata-kata itu mungkin tidak sepenuhnya mutlak berlaku bagi saya mengingat kebiasaan yang wajib saya lakukan sebelum tidur, nonton berita! Seketika ingatan saya tergugah saat menyaksikan salah satu topik dalam salah satu berita di TV, tentang pemblokiran jalan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa Makassar beberapa hari yang lalu dalam rangka memperingati tragedi berdarah tahun 1996 yang menewaskan beberapa kawan mereka. Dan seketika itu pula timbul hasrat dalam diri saya untuk mereview buku lama (tidak terlalu lama sih) yang pernah saya dapatkan di bazaar buku murah tahun lalu. Buku Amarah: Refleksi April Makassar Berdarah 1996 mencoba merefleksikan kembali peristiwa berdarah yang menewaskan 3 orang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Mereka adalah: Andi Sultan Iskandar, Tasrif Daming dan Saiful Biya. Selain mengakibatkan 3 korban tewas, juga banyak yang menderita luka-luka hingga cacat, baik dari pihak mahasiswa maupun pihak aparat. Kebetulan, blog ini tidak mensyaratkan bahwa buku yang di review harus buku baru. Melalui pesan singkat, Mas Har menjawab pertanyaan saya, “Any book, menurut anda menarik, maka menarik untuk orang lain”.

Insiden diawali dengan demonstrasi oleh mahasiswa Makassar pada tanggal 24 April 1996 yang menolak pemerintah menaikkan tarif angkot yang dirasa sangat memberatkan masyarakat pada saat itu. Instruksi kenaikan tarif angkot yang berawal dari SK Menteri Perhubungan tanggal 3 April 1996 ditindaklanjuti oleh Wali Kota Ujungpandang (sekarang Makassar) Malik B. Masry dengan mengeluarkan SK bernomor 900/1V/1996 dan tanpa disosialisasikan secara maksimal kepada masyarakat. (SK tersebut akhirnya juga disebut sebagai “SK Maut” yang mengantar kematian 3 mahasiswa UMI Makassar). Kenaikan tarif angkot yang akhirnya berdampak pada sektor lain membuat masyarakat merasa tercekik oleh harga-harga kebutuhan pokok dan kebutuhan transportasi. Fenomena tersebut kemudian respon oleh para mahasiswa dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab moral sebagai Agent of Change. Beberapa mahasiswa yang ikut ambil bagian dari aksi tersebut berasal dari beberapa perguruan tinggi, antara lain UMI, Universitas 45, STIMIK Dipanegara, UVRI, IAIN Alaudin, STIE YPUP.

Ratusan prajurit diterjunkan ke lapangan untuk “melawan” aksi mahasiswa. Kata-kata makian yang dilontarkan para demonstran pada aparat membuat ratusan aparat merangsak masuk ke kampus UMI dan membabi buta mengejar mahasiswa. Dengan dilengkapi persenjataan lengkap layaknya maju dalam pertempuran perang yang sebenarnya, aparat seolah-olah melakukan show of force di dalam kampus. Pengejaran yang dilakukan aparat membuat mahasiswa merasa terjepit di dalam kandang mereka sendiri. Ratusan mahasiswa berusaha menceburkan diri ke sungai yang menjadi batas wilayah kampus mereka. Sungai Pampang, itulah nama sungai yang akhirnya 3 mahasiswa yang namanya tersebut di atas ditemukan tewas mengenaskan di sana. Membacanya kita langsung menghela nafas panjang, betapa kampus hijau bernuansa islami disulap menjadi medan latihan tempur para aparat militer dengan persenjataan lengkap dan dibantu dengan Panser, sedangkan sparing partner-nya hanya sekelompok demonstran yang hanya bersenjatakan “kata”, poster dan batu sebagai tameng petahanan diri.

Seperti dalam kasus-kasus serupa yang terjadi yang pernah saya dengar atau baca, pemerintah dan petinggi militer selalu berusaha cuci tangan atas pengusutan kasus yang terjadi dan prajurit selalu menjadi pion-pion catur untuk dikorbankan dan dijadikan kambing hitam oleh atasan mereka. “Prajurit vs mahasiswa/demonstran”, murni seperti itu yang diinginkan petingi-petinggi militer karena mereka tidak pernah mau disalahkan ataupun bertanggungjawab atas apa yang terjadi ketika terjadi bentrokan yang melibatkan aparat. Lagi-lagi, masyarakat tidak pernah puas atas hasil pengusutan dan akan semakin bertanya-tanya, menggantungkan tanda tanya yang besar dalam otak mereka tentang siapa yang harus bertanggungjawab. 6 prajurit TNI dijadikan tumbal oleh atasan mereka untuk bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Mereka dituding sebagai prajurit yang lalai ketika menjalankan tugas.

Rasmi Ridjang Sikati, si penulis buku yang juga berprofesi sebagai wartawan berusaha obyektif dan tidak mencari-cari kambing hitam atas permasalahan tersebut, berbekal pengalaman pribadi, kesaksian korban dan bukti di lapangan. Mahasiswa memang tidak bisa sepenuhnya dibenarkan dan aparat memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Namun, arogan memang seolah-olah menjadi karakter yang sangat kuat yang tertanam dalam tubuh institusi militer pada masa orde baru dan anarkis memang menjadi karakter mahasiswa pada masa menjelang runtuhnya orde baru. Gaya tulisan buku yang bersifat naratif membuat kita akan semakin terbawa dalam imajinasi dan suasana peristiwa tersebut. Gambar dan foto koleksi yang dilampirkan akan semakin membuat kita semakin miris, seakan-akan membangkitkan jiwa kita semasa menjadi mahasiswa untuk kembali “bergerak”. Cerita dalam buku ini menambah satu catatan dalam daftar kekerasan yang melibatkan mahasiswa sebagai wakil rakyat dan aparat militer sebagai tameng politik pemerintahan orde baru di mana duelisme kedua belah pihak tersebut selalu memunculkan equalisasi “Otak VS Otot”.

(Resensi ditulis oleh Satrio)