Archive for June, 2008

Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro

Di Indonesia, berserakan buku yang membahas tentang masyarakat Cina. Studi tentang Tionghoa di Kota Solo dalam berbagai aspek permasalahan telah menarik para ahli untuk menelitinya. Dari hasil studi sejarah telah muncul beberapa hasil penelitian. Seperti, Sariyatun ”Usaha batik Masyarakat Cina Di Vorstenlanden Surakarta Awal Abad XX” (UNS Press, 2005), membahas munculnya usaha batik Cina yang sukses meramaikan pasar sandang di Solo. Susanto ”Maesenas Cina dan Bisnis Seni Pertunjukan Wayang Wong: Suatu Kajian Sejarah Asimilasi Budaya Di Surakarta Abad XIX dan XX” (1999), mengupas tuntas peranan besar golongan Timur Asing ini ikut menentukan proses sejarah perjalanan Wayang Wong di Solo.

Soedarmono, Konflik Pribumi dan Nonpribumi (1999), merekontruksi sejarah konflik antara masyarakat Jawa dengan Cina yang beberapa kali terjadi di Kota Solo. Konflik bernuansa rasial ini merupakan suatu fenomena penting dan menarik dalam perjalanan sejarah Solo. Selanjutnya, Beny Yuwono ”Etnis Cina  Di Surakarta 1890-1927” (1999) dan Ida Yuliati ”Mindering Di Pedesaan Jawa Awal Abad ke 20” (1999). Kedua alumnus sejarah UGM ini, memaparkan potret kehidupan sosial ekonomi kaum Tionghoa dan jasa peminjaman kepada inlander (pribumi) yang dilakukan oleh Cina yang saat itu tidak diduga telah ada aktivitas pinjam-meminjam.

Terbitnya buku Prof. Dr. Rustopo yang kedua Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro” (Ombak, 2008) ini memberikan warna baru dan mengisi kekosongan historiografi tentang biografi tokoh Cina. Sebelumnya, pengajar ISI Solo tersebut menerbitkan “Menjadi Jawa: Orang-orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa Di Surakarta, 1895-1998” (Ombak, 2007). Atas peristiwa belasan konflik etnis yang pecah, banyak mereka yang trauma. Ada alasan yang argumentatif, untuk melindungi diri dan terjauh dari konflik, maka mereka (Cina) sengaja meleburkan diri “menjadi” wong Jawa, dengan berbudaya dan berkesenian Jawa. Oleh penulis, alasan itu ditolak mentah-mentah. Berdasarkan risetnya, ada seorang Tionghoa yang menggeluti kebudayaan Jawa, tanpa ada niatan untuk melindungi diri. Belajar Jawa karena berkeinginan untuk mencari identitas, yaitu Go Tik Swan Hardjonagoro.

Dalam sejarah Mataram Islam, tidak banyak orang yang menyandang derajat sebagai Panembahan, gelar bangsawan yang sangat tinggi. Di Kerajaan Demak, hanya dua orang yang memperoleh gelar itu, Panembahan Jin Bun (Raden Patah) dan Panembahan Senopati. Sedangkan di Keraton Kasunanan hanya Pangeran Hadiwijaya, Harya Mataram, dan Go Tik Swan. Ditinjau secara fisik, wajar bila orang bertanya mengapa gelar itu diberikan kepada Go Tik Swan yang justru berasal dari keturunan Cina. Dengan segudang pengetahuannya, Go Tik Swan mempunyai peran besar bagi kelangsungan kebudayaan keraton. Misalkan, ia dimintai petunjuk oleh raja untuk jalannya upacara Kirab Malam Satu Suro dan pusaka-pusaka yang dikirabkan.

Go Tik Swan ”jatuh cinta” pada kebudayaan Jawa karena hasil konvergensi antara faktor pribadi dan faktor lingkungan. Dia mengisi masa kanak-kanak dan remajanya dengan seni tradisi Jawa. Seperti nembang, nabuh gamelan, menari, menonton wayang kulit, dan mengoleksi keris. Dia dibesarkan di lingkungan yang sehari-hari penuh kegiatan kesenian. Tinggal serumah bersama kakeknya, Tjan Khay Sing. Kakeknya adalah pengusaha batik nomor satu di Solo. Di rumah pembatikan itu, setiap hari mendengar lantunan tembang-tembang macapat yang dibawakan oleh ibu-ibu pembatik. Tetangganya, Hadiwijaya dan Prabuwinata senang hati mempersilahkan Go Tik Swan untuk belajar gamelan dan tari.

Bila ada pertunjukan wayang kulit yang berada tak jauh dari rumahnya, begadang semalam suntuk melihatnya. Kegilaannya pada kebudayaan Jawa mengakibatkan dia dalam lingkungan keluarga termajinalkan, bahkan dianggap tidak waras. Seharusnya ia belajar Barongsai, tapi malah mengambil kuliah di Sastra Jawa di Universitas Indonesia. Go Dhian Ik dan Tjan Ging Nio, kedua orang tuanya, dari awal wanti-wanti agar masuk jurusan ekonomi. Orangtuanya kecewa, lalu vespa kesayangan ditarik dan biaya kuliah dihentikan. Tidak patah arang, dia mencari kerja sambilan demi memenuhi hasratnya agar tetap bisa menekuni Sastra Jawa. Berkat kepiawaiannya menari di Jakarta, berkenalanlah dengan Presiden Sukarno. Yang selanjutnya menjadi asisten pribadi dan bebas keluar-masuk istana.

Batik Indonesia yang sohor sampai belahan dunia itu adalah hasil kreatifitas Go Tik Swan dan ini merupakan proyek Bung Karno untuk Indonesianisasi dan nasionalisasi batik Jawa. Entah kenapa justru batik ciptaan Go Tik Swan bukan batik Solo, Pekalongan maupun Lasem yang diajukan untuk dinasionalisasi. Batik-batik karyanya didasarkan atas konsep nunggak semi. Maka, motif khas dan kualitasnya diakui di dunia perbatikan Indonesia. Hingga kini, banyak sekali peminat busana atau desainer pakaian batik yang angkat topi kepada Go Tik Swan sebab karyanya tidak kalah bila disejajarkan dengan batik asli buatan pribumi.

Kekurangan buku ini (mungkin) Rustopo tidak menguraikan justru bagaimana pandangan Go Tik Swan tentang hakekatnya Jawa sebagai kebudayaan dan identitas dan nilai kebudayaan Tionghoa yang hidup pula di lingkungan keluarganya. Penulis cuma menyelami kehidupan Go Tik Swan dalam berproses. Namun di sini penulis mampu merekam dan memperlihatkan hubungan antara tindakan dan nilai atau makna (struktur pengalaman) yang dilakukan oleh pelakunya dan bagaimana perbuatan itu dimengerti oleh lingkungan sosialnya.

Guru besar UGM, Bambang Purwanto dalam pengantarnya mengatakan, karya ini memberi kontribusi yang sangat penting untuk memahami salah satu proses sejarah yang unik dalam pembentukan jati diri kejawaan yang diwakili oleh pengalaman Go Tik Swan. Ia tidak melihat perbedaan etnis sebagai sesuatu yang harus dipungkiri. Sebaliknya, melihat perbedaan sebagai sumber kekuatan yang dapat membentuk sebuah jati diri yang lebih kuat. Penulis berhasil memberikan pemahaman yang jembar, mengajak masyarakat untuk menghilangkan jauh-jauh pandangan stereotif.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Peneliti sejarah di Kabut Institut, Solo, Telp Hp 081 548 781140)

Onghokham Dalam Kenangan

Sejarawan di Indonesia yang kali pertama mempelopori penulisan persoalan sejarah di media adalah Ong Hok Ham atau Onghokham (1 Mei 1933-30 Agustus 2007). Kliping tulisannya di Majalah Tempo (1976-2001) sudah diterbitkan dengan judul “Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang” merupakan fakta konsistensi Ong di dunia tulis-menulis. Begitu juga dengan karyanya, “Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong”.

Ia juga salah satu sejarawan yang berani mengkritik penguasa Orde Baru yang otoriter dan militeristik, meski lewat opini yang disamarkan dengan mengambil peristiwa sejarah periode kolonial. Keberanian Ong diakui sejarawan lain dan para sahabatnya. Lain halnya dengan mendiang Prof. Sartono Kartodirjo, Begawan Sejarah Indonesia. Ketidaksenangan dengan penguasa lebih diperlihatkan pada upaya diam, tanpa reaksi keras. Contoh, beliau undur diri dari tim penulisan Sejarah Nasional Indonesia edisi terakhir.

Mungkin sudah menjadi semacam “keumuman” di Indonesia, di mana ada tokoh yang mumpuni dan terkenal meninggal dunia, sekadar untuk mencurahkan atawa melampiaskan kenang-kenangan maka dibuatlah buku yang berisi kumpulan tulisan baik dari keluarga, teman atau penggemar. Buku yang berjudul “Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan” (Komunitas Bambu, 2007) ini, merupakan kumpulan artikel dari mantan murid, sahabat, hingga kerabat. Buku yang disunting David Reeve, JJ Rizal dan Wasmi Alhaziri ini diluncurkan berbareng acara 100 hari peringatan meninggalnya Onghokham.

Pilihannya untuk mengucapkan “selamat tinggal” kuliah dan tumpukan teori hukum di Fakultas Hukum di Universitas Indonesia (UI) pada 1955 merupakan kreativitas dan keberanian Onghokham. Padahal saat itu Fakultas Hukum UI menjadi fakultas favorit dan berwibawa. Mungkin karena pada masa itu belum banyak advokat yang terang-terangan bicara soal kejujuran advokat dan pada saat yang sama berani menyuap polisi, jaksa dan hakim seperti saat ini. Ia lebih suka mendalami ilmu di Jurusan Sejarah dan skripsinya lalu dibukukan Runtuhnya Hindia Belanda”, (Gramedia, 1987). Dan itu menjadi rujukan bagi peminat sejarah Indonesia periode 1930 dan 1940-an.

Berkat kecerdasan dan keseriusan, sejarawan berdarah Tionghoa ini berhasil menyelesaikan gelar doktor di Yale University, Amerika Serikat tahun 1975. Dan tidak ala kadarnya bersekolah, Ong melahirkan disertasi bermutu. Tidak tedeng aling-aling Benyamin White, guru besar pada Institut Studi Sosial, Belanda, memberikan pernyataan tegas, “kalau orang mau belajar sejarah petani Indonesia, dia mutlak harus membaca dua buku, yaitu disertasi Sartono Kartodirdjo, “The Peasant’s Revolt of Banten in 1888” dan Onghokham “The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the 19th Century”. Menurut White, kedudukan Ong sejajar dengan Sartono dalam studi tentang sejarah petani di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Tiga tema fokusnya, petani, priyayi, dan kolonialisme.

Selain pandai mengolah arsip sejarah, ternyata Ong piawai memasak makanan dan seorang gourmet (ahli mencicipi makanan). Untuk kepentingan kuliner, dengan naik bus kota Ong sering keluar-masuk ke pasar. Glodok, Petak Sembilan, Pasar Ikan Muara Karang, Pasar Senen dan Pasar Blok M, tempatnya berbelanja. Ia senantiasa membikin pesta kecil di rumahnya dengan mengundang para artis, kolega, dan muridnya. Dalam hal penampilan, dia low profile. Tetapi untuk acara yang berhubungan dengan urusan perut, Ong tidak mau kalah dengan pejabat, tampil necis memakai jas walau tak diundang. Ada ungkapan, makan untuk hidup, namun oleh Ong dibalik, hidup untuk makan. Sederetan makanan yang tak luput digarap dan dicicipinya antara lain rijstafel, martabak, lumpia-hok-hay, sio bak-Malang, mi jangkrik, dll.

Ketika seminar ingat wisky, di kala ngajar ingat barang belanjaan di pasar, bahkan sewaktu sakitpun ingat barang yang masih di dalam kulkas. Cerita lucu diungkap oleh sahabatnya, AB Lapian (sejarawan maritim). Saat Ong inap di Rumah Sakit Panti Rapih tahun 2001 silam, dia membuat geli penjenguk. Meski divonis dokter gejala stroke, sempat-sempatnya mendiktekan surat wasiat yang ditulis oleh AB Lapian. Kurang lebih isinya, kalau dia betul menerima ajal, maka ikan bandeng di deep freeze untuk si A, dan botol-botol minuman keras untuk si B. Sudah menghadapi maut tapi masih memikirkan isi lemari es dan koleksi alkohol (hal 11).

Dalam buku terbitan Komunitas Bambu tersebut, Onghokham mendapat seperangkat gelar sebagai seorang sejarawan, intelektual publik, koki, penggila pesta, dan antiquarian. Ditemukan ada kekeliruan dalam buku ini. Tidak terteranya nama penulis Goenawan Mohamad di daftar isi. Penulis di kolom Catatan Pinggir Tempo ini menulis dengan judul “Ong” (hal 131-134) dan di daftar isi dicantumkan nama Hamish McDonald, padahal dalam isi asli buku menulis berjudul “Teman Ria” (hal 135-143). Tulisan Goenawan Mohamad diunduh dari Catatan Pinggir Majalah Tempo Edisi 28/XXXIIIIII/03-9 September 2007. Kekeliruan penyunting saat menyatakan ada 52 tulisan dalam buku kenang-kenangan ini, sesungguhnya ada 53 tulisan yang ditulis oleh 54 penulis. Memang dalam mewujudkan buku ini waktunya sangatlah pendek, maka bisa dipermaklum.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Peneliti sejarah di Kabut Institut, Solo, Hp 081548 781140)

Extremely loud and incredibly close

Oscar, tokoh utama, dalam novel “Extremely loud and incredibly close” karya Jonathan Safran Foer digambarkan sebagai seorang anak yang sangat mencintai dan mengidolakan sosok sang ayah. Tapi apa yang terjadi ketika sang ayah yang didiolakan pergi untuk selama-lamanya? Kehilangan cinta dari sang ayah dan menjumpai sang ibu seolah tidak lagi menaruh perhatian padanya, dan sebaliknya menjalin hubungan dengan lelaki lain, telah membuat Oscar merasa kesepian dan sendiri.

Rasa kehilangan yang amat sangat itu membuat Oscar mencari jejak sang ayah di antara barang-barang peninggalannya, hingga dia menemukan sebuah kunci, surat, dan coretan tulisan “Black” dalam vas di atas toilet kamar mandi. Sejak kunci itu ditemukan Oscar mengalami pengembaraan untuk menemukan jejak asal muasal kunci tersebut dan membuatnya berkelana di belantara kota New York, dan berjumpa dengan orang-orang yang memiliki family name “Black.”.

Ini adalah novel paling kreatif yang pernah saya baca. Bagaimana tidak, hanya gara-gara soal kunci dan nama “Black”yang ditemukan ada banyak hal yang bisa diceritakan dari sana. Soal bagaimana mencocokkan anak kunci dengan lobang kunci di antara jutaan lobang kunci yang ada di New York. Dari hitung-hitungan yang dibuat Oscar saja, rasanya tugas itu tidak akan terlaksana, karena setiap detik saja ada banyak anak kunci dilahirkan di kota New York. Perjumpaannya dengan orang-orang yang memiliki nama “Black” saja sudah banyak menghadirkan diskusi mengejutkan dari seorang anak usia 9 tahun. Dan yang paling mengejutkan bagi saya adalah bahwa dalam usianya yang masih sangat muda, Oscar sudah berani menyatakan diri sebagai seorang atheis.

Dengan setting tragedy 11 September 2001, runtuhnya menara kembar WTC di New York, telah merenggut cinta sang ayah dari seorang anak. Tapi novel ini tidak mengumbar urai air mata. Toh mengikuti perjalanan Oscar dalam mencari cinta yang hilang, tak urung mengundang haru juga. Di manapun, tragedy dampak perang fisik maupun perang ideology selalu menyisakan derita dari orang-orang yang tak berdosa.

Dengan gaya bertutur yang kadang-kadang tidak lazim, membuat novel ini terus mengundang penasaran dan mengajak tamasya imajinasi pembaca. Media bertutur tidak hanya mengandalkan deretan teks, tapi juga diselipi foto ilustrasi yang juga tampil tak kalah aneh bin eksentrik.

Kendala paling mendasar dalam memahami keutuhan cerita dalam novel ini adalah pada masalah bahasa, karena novel ini masih asli berbahasa Inggris.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

Tionghoa Di Vorstenlanden

Sejarawan Solo, Soedarmono (1999), meneliti fenomena konflik yang terjadi di Vostenlanden (wilayah kerajaan) Surakarta. Ada tesis yang menarik, bahwa kerusuhan yang terjadi belasan kali di Kota Bengawan adalah tidak lepas dari lahirnya sebuah ideologi konflik antara pribumi dan nonpribumi atau antara suku Jawa dan Cina, akibat perbedaan argumentasi atau ketimpangan sosial-ekonomi yang lebar.

Etnis Tionghoa, sebagai golongan minoritas di Vostenlanden, keberadaannya menyita perhatian banyak ilmuwan sosial untuk dikaji lebih dalam. Hadir di sini Peter Carey dengan bukuOrang Cina, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-1825”. Sebenarnya tulisan ini adalah hasil terjemahan klasik ”Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java, 1755-1825” yang diterbitkan dalam jurnal Indonesia, Cornell University April 1984.

Dalam periode yang diambil Peter Carey tersebut, bibit konflik etnis muncul dalam peristiwa De Java Oorlog (Perang Jawa) yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro. Hal penting yang lama tidak kita ketahui adalah motivasi Pangeran Dipenegoro angkat senjata tahun 1825-1830, selain penyerobotan tanah kuburan leluhurnya, namun juga semangat anti kaum Tionghoa. Kenapa ini terjadi? Ternyata, semua akibat setting kolonial Belanda. Sejak lama golongan Cina dimanfaatkan sebagai ”perantara” sekaligus ”mesin pencetak uang” oleh penguasa kolonial. Pada dasarnya, Belanda tidak mampu bergerak dalam wilayah ekonomi dagang, mereka lebih lincah dalam kontrol keamanan dan pemerintahan. Karena itu, dengan keterbatasan sumber daya manusia, Belanda mengangkat Tionghoa sebagai perantara antara mereka dengan golongan Inlander (pribumi). Sadar atau tidak, Tionghoa ditempatkan sebagai ”perisai” atau ”kambing hitam” di saat terjadinya kerusuhan menentang penguasa atau ketika terjadinya kevakuman pemerintah.

Belanda menjual berbagai macam pacth (hak pengelolaan) bagi jalan tol, candu, rumah gadai, kepada pengusaha Cina. Para pengusaha ini berani membeli pacht dengan harga tinggi karena mereka tahu bahwa keuntungan yang didapatkan akan berlipat ganda. Dengan dukungan penguasa, para pachter tersebut memeras rakyat dan menjadi kaya karena posisinya. Itulah awal muncul tuduhan, Cina sebagai kambing hitam atas kemiskinan rakyat. Tak pelak, Diponegoro mengumumkan bahwa orang Cina menjadi salah satu target dari perang Jawa. Kian tajam ketegangan dan jauh dari upaya rekonsiliasi manakala disebarluaskan mitos lelaki Jawa takut menikahi perempuan Cina. Mitos lainnya yaitu ”abu” orang Cina lebih tua sehingga nanti anak-anak hasil percampuran itu akan lebih dominan sifat Cina-nya. Perang Jawa memisahkan satu masa yang dibangun atas dasar saling menghargai menjadi saat-saat yang diwarnai kecurigaan dan ketakutan.

Sebuah perkembangan yang menonjol setelah hengkangnya kekuasaan Inggris dari Vostenlanden pada bulan Agustus 1816. Belanda berhasil memulihkan kembali kedudukannya di tanah jajahan. Tapi harus menghadapi persoalan hutang-hutang raksasa dan pemasukan yang tidak memadai dari penyewaan tanah yang dilimpahkan Raffles. Dari sana muncul niat memanfaatkan gerbang-gerbang tol sebagai sumber pemasukan untuk menutupi kekurangan pajak pemerintah. Dilakukanlah perluasan yang cepat perdagangan eceran candu (hal 72). Orang-orang Cina terkenal sebagai bandar candu dan pengecernya di wilayah kerajaan. Dari tahun ke tahun usaha yang digeluti Cina semakin maju karena penjualan-penjualan candu dan pemakaian candu di wilayah kerajaan mengalami peningkatan. Sekitar 16 persen orang-orang Jawa telah memakai candu.

Sebetulnya angka pemakaian candu hampir dapat dikatakan jauh lebih tinggi kalau dihitung dari kenyataan merakyatnya pemakaian jenis-jenis candu ”orang-orang miskin”, seperti rokok yang dicelupkan ke dalam candu, kopi yang dibumbui candu dan buah pinang yang dibubuhi candu. Candu secara luas juga digunakan sebagai obat perangsang dan sebagai bagian berharga ilmu obat-obatan orang Jawa untuk mengobati berbagai macam penyakit yang berbeda. Tak ayal, orang-orang Cina penjaja candu mereguk keuntungan yang kian besar.

Kalau kecanduan opium merupakan hiburan bagi orang-orang kaya, bagi orang miskin itu adalah bencana. Jalan menuju kemerosotan sosial serta kejahatan setiap saat terbuka lebar. Mereka kecanduan, tidak mau bekerja dan rawan melakukan aksi-aksi kriminalitas demi terbelinya candu. Bahkan, beberapa orang Pangeran dari Yogyakarta dan sejumlah pejabat tinggi terjerumus kepada kegemaran menghisap candu bermutu tinggi. Cina amat memainkan perannya di Kasunanan dan Kasultanan. Kemudian akrab kita mendengar istilah Kapiten Cina. Yaitu, orang yang ditunjuk oleh Belanda untuk menjadi kepala suku di titik-titik ekonomi (pasar, bandar, dan jalan tol).

Karya akan terasa lebih lengkap jika saja Peter Carey menggunakan sumber-sumber Cina. Bagaimanapun ini sebuah buku yang menarik untuk dibaca oleh peminat sejarah dan persoalan Cina di Jawa. Selain hadir melengkapi historiografi tentang etnis Cina di Vostenlanden, penulis juga memaparkan sejarah yang tidak banyak diketahui oleh publik terutama dalam mengupas dominasi Cina di abad XVIII dan XIX.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Peneliti Kabut Institut, Solo, Hp 081 548 781 140)