Archive for July, 2008

Aku Ingin Bunuh Harry Potter

Saya bukan pembaca Harry Potter, karena saya merasa bukan lagi remaja seusia kelompok pembaca buku karangan J.K. Rowling itu. Jadinya saya tidak merasa tertarik untuk membacanya. Meskipun sebenarnya dalam soal baca buku, umur tidak bisa dijadikan patokan utama.

Buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” tulisan Hernowo, pada awalnya juga tidak membuat saya tertarik untuk membacanya. Tapi berhubung itu adalah buku hadiah karena telah mengajukan pertanyaan bergizi kepada sang penulis, ketika saya menghadiri satu seminarnya, saya merasa perlu membacanya. Ini adalah hadiah buku kedua saya pada tahun 2008 ini, setelah sebelumnya mendapat hadiah buku dari Andrea Hirata di tahun yang sama.

Kebetulan, buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” itu adalah edisi extended version dari cetakan sebelumnya. Bagian depan buku itu banyak mengupas ringkasan dari seluruh serial buku Harry Potter. Jadi saya lewatkan saja bagian depannya, dan baru merasa tertarik untuk membaca bagian extended version-nya. Pada bagian ini, saya baru merasa perlu berhenti sejenak dan kemudian mulai mengunyah isinya.

Jujur saja, ini buku bagus. Terutama jika dikaitkan dengan nilai-nilai yang ingin ditawarkan kepada pembaca. Bagi Hernowo, sebuah buku tidak boleh sekedar mampir di kepala, bermain-main, lalu lewat begitu saja. Sebuah buku yang telah habis dibaca dan meninggalkan makna pribadi, perlu segera dicatat, dituliskan maknanya. Semacam ringkasan, tapi sebenarnya lebih dari itu. Proses membaca dan menulis secara simultan ini bagi Hernowo kemudian disebutnya dengan istilah “mengikat makna,” Ini semacam proses dialog dengan buku yang telah dibaca. Hasil dialog itu bisa mencerahkan, menggairahkan, atau bahkan memberi nilai baru, terutama yang mampu memberi makna pribadi. Hasil dialog dengan buku bisa juga berarti sebaliknya, kita bisa “memakinya” dan kemudian segera membuangnya, kalau itu adalah buku sampah. Buku yang tak memberi nilai apa-apa, kecuali hanya mengotori pikiran dengan hal-hal yang tak bermanfaat.

Demikian halnya dengan buku Harry Potter yang melegenda. Hernowo merasa perlu membuat buku tentang Harry Potter untuk kalangan remaja, karena ternyata buku Harry Potter juga memiliki makna yang perlu diikat. Makna penting yang perlu diikat itu adalah soal cinta dan imajinasi. Melalui Harry Potter, para remaja diajak untuk mulai belajar mencintai (bukan dicintai), dan berimajinasi. Mencintai sebagai sebuah upaya belajar, bukan “kecelakaan” sebagaimana orang “jatuh” cinta (seharusnya belajar cinta). Berimajinasi itu juga penting, sebagimana para penemu besar dunia – Archimedes, Newton, Kekule – mengawali penemuan besarnya dengan imajinasi.

Tanpa saya sadari, gagasan saya memembuat situs rumah baca di alamat www.rumahbaca.wordpress.com ini, ternyata memiliki makna yang sama dengan konsep “mengikat makna” dari Hernowo itu. Konsep itu bukan sekedar “rajin membaca banyak ilmu” tapi lebih dalam dari semua itu.

Sebagai CEO pada penerbitan Mizan, Hernowo sungguh cerdas dalam melahirkan gagasan konsep itu. Pada satu sisi, konsep itu telah mampu melahirkan pesan moral kepada seluruh pembaca untuk selalu berfikir, menemukan makna, dan mulai belajar menuliskan gagasan-gasan atau nilai-nilai baru yang telah didapat dari membaca buku. Pada sisi yang lain, pada aspek dagang dan financial, konsep baca dan tulis ini tentu akan memberi angin segar bagi bisnis penerbitan. Karena untuk bisa membaca dan menulis, orang perlu membeli buku, dan itu adalah kabar bagus untuk bisnis penerbitan. Tentu Hernowo bukanlah termasuk kelompok orang yang hanya mengejar ambisi dagang dengan melambungnya omzet dari penjualan buku-bukunya, dan melupakan kandungan isinya. Lebih dari itu, dia tentu selalu berupaya agar buku-buku yang diterbitkannya bukanlah sampah yang tak memberi manfaat apa-apa bagi kehidupan ini.

(Review buku ditulis oleh Hartono)

Di Balik Kick Andy

Andy Flores Noya adalah jurnalis yang mempunyai kemampuan luar biasa, terutama dalam menggali informasi yang ”disembunyikan” narasumber. Tetapi di acara Kick Andy yang dia bawakan, ia tidak menjadi satu-satunya tokoh penentu suksesnya acara. Ada kru yang ikut berperan dan menentukan keberhasilan Kick Andy. Diperlukan waktu dan proses panjang sebelum suatu episode Kick Andy tayang di televisi. Selain berdiskusi di forum rapat, tim kreatif Kick Andy turun ke lapangan untuk riset dan investigasi layaknya wartawan media cetak guna menghasilkan produk jurnalistik yang memiliki bobot.

Anggota kerabat kerja Kick Andy berlatar belakang jurnalis. Sebelum masuk ke Metro TV dan bergabung di tim kreatif, mereka memiliki pengalaman di dunia wartawan. Misalnya, Agus Pramono yang dikukuhkan sebagai produser. Pria jebolan dari Sekolah Tinggi Publistik itu mengawali kariernya di Anteve. Orang-orang di balik layar Kick Andy, beberapa masih berumur muda. Ayu Windiyaningrum berposisi sebagai periset. Perempuan kelahiran Jakarta 5 April 1984 ini, alumnus Fakultas Psikologi UI. Greget pada dunia jurnalistik memuncak pada masa kuliah ketika membidani majalah Psyche, sebagai editor. Waktu libur tidak harus berhenti untuk belajar. Ayu memanfaatkan liburan kuliah dengan mengikuti Programme Research and Development di RCTI.

Sementara pemegang posisi reporter, Rani Anandayu dan Gaudensius Aristiandi Pramudityo. Jabatan lainnya, penyelia program yang digawangi Usman Kansong. Wapemred diisi Makroen Sanjaya jebolan harian Surya dan SCTV. Lalu staf produksi diperkuat oleh duet Husin Assegaf dan Indri Nababan. Kekompakan regu kreatif Kick Andy terlukiskan dalam buku ”Kick Andy: Menonton dengan Hati” ini, saat menyiapkan episode Sepenggal Asa di Balik Terali pada Kamis 19 Juli 2007. Di Lembaga Pemasyarakatan Anak (laki-laki) Tangerang, pada hari Kamis 5 Juli 2007, jam belum menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun tim sudah berada di LP guna mempersiapkan rekaman yang akan diputar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Di berbagai sudut telah terpasang lima buah kamera. Di sisi kanan tengah aula telah siap panggung dengan latar belakang gambar Andy Noya dengan rambut kribonya sedang tertawa yang menjadi ciri khas acara yang sering kali membius pembaca dalam keharuan. Sejumlah anggota tim tampak sibuk mengatur dan berdialog dengan anak-anak LP, sementara yang lain sibuk membolak-balik kertas (script) format acara. Narasumber utama pas acara itu, anak-anak penghuni LP Tangerang. Dibutuhkan waktu sedikitnya satu bulan bagi tim dalam menyiapkan taping di penjara ini. Supaya acara punya bobot dan tidak sekadar tayang, tim lebih dahulu menyebarkan angket kepada anak-anak (hal 21-22). Berkat kepiawaian personal menyebabkan tayangan Kick Andy memiliki nilai jurnalistik layaknya sebuah liputan pendalaman di surat kabar dan memberikan dampak kepada masyarakat.

Acara yang menempati posisi teratas dari top 20 acara terfavorit di Metro TV ini, proses kelahirannya tidaklah singkat. Sebetulnya itu didasari atas permintaan Surya Paloh, bos Metro TV, yang ingin mendayagunakan kemampuan Andy Noya yang suaranya cenderung cempreng itu tampil seperti apa adanya di layar kaca. Surya Paloh terpukau manakala melihat kecerdasan Andy memandu acara talk show Today’s Dialogue. Para narasumber yang umumnya politikus dan pejabat kerab dibuat tak berkutik saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Andy yang selalu menukik sasaran yang jawabannya selalu ditunggu-tunggu pemirsa. Dari mimik wajah narasumber, pemirsa dengan gampang menyimpulkan mereka berbohong atau sekadar basa-basi. Jika narasumbernya berlaku seperti ini, kerab Andy mendiamkannya, sehingga lewat simbol gambar yang tertayang di layar kaca, pemirsa semakin mudah menerka seperti apa ”kualitas” atau ”moral” tokoh yang diwawancarai Andy Noya (hal 4).

Akhirnya, tim Metro TV pun dilibatkan untuk mewujudkan ambisi Surya Paloh. Dalam sebuah forum, Adjie S Soeratmadjie yang sehari-harinya menjadi Manajer Promosi di Metro TV mengajukan konsep acara bernama Andy Noya Show. Bukan barang cepat, butuh waktu satu tahun ide ini benar-benar disepakati Surya Paloh. Acara yang sekarang menjadi salah satu ikon Metro TV dan mengundang decak kagum banyak orang ini, formatnya hampir mirip Today’s Dialogue. Hanya saja, Today’s Dialogue banyak memasuki wilayah politik, dan Kick Andy sendiri menyajikan topik-topik sosial, kesehatan, budaya dan masalah kemasyarakatan lainnya.

Kelebihan dari gaya Andy Noya yang mampu membawa acara dalam kejenakaan, nyentil, nyindir, nakal, tajam namun tidak menyakitkan informan. Hercules, preman Tanah Abang yang kondang seramnya, ternyata dalam acara Kick Andy sebagai bintang tamu, setelah diwawancarai kita tahu dia seorang yang baik dan melindungi pedagang. ”Setelah kedatangan Hercules, Pasar Tanah Abang sepi pembunuhan, pemalakan dan perkelahian”, ujar pedagang ketika dimintai komentar. Guna mencari keseimbangan persepsi, tim menghadirkan orang-orang yang sekiranya tahu sehari-hari narasumber. Inilah perspektif yang adil dan memberi warna dalam acara Kick Andy.

Yang menarik untuk dibaca, karya ini juga memuat kumpulan kisah yang ditayangkan di Kick Andy, yang mampu membuat kita termotivasi, terinsiprasi, dan mensyukuri hidup yang sudah diberikan Tuhan. Kisah-kisah itu membuat kita mampu bangkit dari rasa putus asa dan menatap hidup dengan optimis. Ada kisah Jugun Ianfu, kemudian kisah korban Narkoba, lalu riwayat Angun Cipta Sasmi, Xanana Gusmao, Ebit G Ade hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X. Perjalanan atau lika-liku hidup unik mereka terbahas dalam buku ini.

Andrea Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi mengakui, menonton Kick Andy adalah sebuah experience. Terbitnya buku ini kian meyakinkan, menikmati Kick Andy tidak cukup dengan indera mata, melainkan juga kudu menonton dengan hati, seperti yang tertulis dalam judul buku. Tidak sedikit para pemirsa yang menitikkan air mata. Bahkan pernah pula host acara ikut berkaca-kaca. Mereka tak kuasa terseret dalam kesedihan dan keharuan atas petualangan hidup bintang tamu. Benar-benar buku yang menyentuh perasaan.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, UNS, Solo

Peneliti di Kabut Institut, Solo, Telp Hp 081 548 781 140)

Knowledge Management Audit

Setiap organisasi perlu mengembangkan kemampuan atau keunggulan bersaingnya agar dapat bertahan, bersaing dan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan baik. Sumber daya yang dibutuhkan untuk berlangsungnya itu tidak semata-mata dari sumber daya tradisional seperti sumber daya alam, tenaga kerja dan dana, melainkan juga dari sumber daya tanwujud (intangible resources), yaitu pengetahuan (intelectual capital).

Seringkali terjadi dalam organisasi, perusahaan atau lembaga lainnya, bahwa pengetahuan dan keterampilan yang menjadi keunggulan organisasi itu hanya melekat pada (beberapa) individunya saja. Sehingga ketika individu tersebut meninggalkan organisasi, pensiun, maka hilang pula ‘pengetahuan dan keterampilan’ yang menjadi keunggulannya. Untuk itu diperlukan manajemen pengetahuan atau knowledge management.

Untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari pengetahuan yang dimiliki dan untuk mengetahui pengetahuan apa yang harus dimiliki, suatu organisasi harus mengelola pengetahuannya melalui knowledge management (KM). Dengan KM secara sadar organisasi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki, dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan inovasi.

Audit manajemen pengetahuan (knowledge management audit) adalah kegiatan memeriksa secara sistematis kualitas pengelolaan pengetahuan di suatu organisasi. Melalui knowledge management audit dapat diperoleh gambaran tentang:

  • Pengetahuan yang dimiliki dan dibutuhkan oleh organisasi/unit kerja,

  • Kesiapan organisasi dalam memfasilitasi proses pembelajaran, dan

  • Kualitas proses-proses pengelolaan pengetahuan (knowledge management).

Dalam hal ini buku “Knowledge Management Audit – Pedoman evaluasi kesiapan organisasi mengelola pengetahuan,” ini layak untuk dibaca dan dijadikan referensi.

Buku ini terdiri dari tujuh Bab, yaitu: (1) Mengapa knowledge management; (2) Memahami pengetahuan, (3) Kerangka kerja knowledge management audit; (4) Audit kualitas pengetahuan; (5) Audit kualitas pembelajaran; (6) Audit kualitas proses knowledge management; (7) Fokus strategi manajemen pengetahuan (knowledge management strategy).

Sekedar mengintip isinya. Pengetahuan (knowledge) diartikan sebagai keseluruhan kognisi dan keterampilan yang digunakan oleh manusia untuk memecahkan masalah. Atau ringkasnya kapasitas untuk melakukan tindakan dengan efektif. Pengetahuan yang dimiliki organisasi bisa terdiri dari: know-that, know-what, know-how, know-why, dan care-why.

Sementara manajemen pengetahuan (knowledge management) sendiri diartikan pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan kinerja prima atau keunggulan bersaing.

Sedang knowledge management audit adalah kegiatan memeriksa secara sistematis kualitas pengelolaan pengetahuan di suatu organisasi. Ada tiga komponen audit yang diidentifikasi, yaitu: audit kualitas pengetahuan, audit kualitas pembelajaran, dan audit kualitas proses pengelolaan pengetahuan.

Ketiga komponen itu menjadi dasar untuk perancangan strategi untuk: (a) memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan; (b) meningkatkan kesiapan organisasi; (c) meningkatkan efektivitas proses-proses pengelolaan pengetahuan.

Seringkali knowledge management dikaitkan dengan information technology. Namun dari buku ini dapat disimpulkan bahwa tanpa teknologi informasi pun manajemen pengetahuan dapat eksis di berbagai organisasi. Dan, tidak berarti pula dengan adanya teknologi informasi pasti ada manajemen pengetahuan.

Data buku: Ningky Munir, “Knowledge Management Audit – Pedoman Evaluasi Kesiapan Organisasi Pengelola Pengetahuan,” Penerbit PPM, Jakarta, 2008, 99 halaman [RM]