Archive for August, 2008

Kapitalisme Jawa

(Pernah dimuat di Harian Solopos, 24/02/08)

Konsep kewirausahawan menurut definisnya adalah tindakan seseorang untuk mengorganisasi, mengelola dan menentukan resiko sebuah bisnis. Pada masa penjajahan Belanda, kaum yang menggeluti dan mendominasi dunia usaha di tanah Jawa justru orang Eropa dan kelompok Vremdeoosterlingen (China-Arab), bukan etnis pribumi. Namun, di Kota Bengawan ada potret wirausahawan Jawa yang eksis sejak jaman Kerajaan Pajang hingga sekarang, yaitu komunitas dagang batik Laweyan.

Buku lahir dari tangan sejarawan Solo, Soedarmono “Mbok Mase Laweyan” (Yayasan Warna-warni, 2006), memaparkan betapa kuatnya mbok mase mengibarkan prestasi perdagangan sampai ke wilayah Pulau Jawa melalui jalur Bengawan Solo. Padahal, mereka saat itu mengalami tiga hal yang seharusnya sulit mendukung, yakni posisi gender, tekanan keraton dan secara geografis letaknya di luar keraton.

Masih dalam konteks Solo, penulis buku ini, Wasino, adalah orang kedua yang menemukan bukti entreprenuer Jawa yang sangat berbeda dengan kategori Soedarmono. Wasino dengan bukunya “Kapitalisme Bumi Putera: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran” ini, membuktikan bahwa dalam tembok keraton lahir pengusaha yang kehebatan bisa disandingkan dengan Mbok Mase Laweyan. Keraton Mangkunegaran tempatnya dan Mangkunegara IV adalah orangnya.

Sebetulnya kalau ditarik dari periode sejarah nusantara, profesi wirausaha di kalangan bangsawan bukan hal baru. Sektor perdagangan abad XV sudah marak, kerajaan-kerajaan di Jawa membidani perniagaan lintas pulau. Namun, era Mataram Islam kalangan elit pengusaha pailit karena kegagalan sentralisasi politik Sultan Agung dan dibarengi ambruknya kongsi dagang VOC, yang ikut menyurutkan perniagaan laut. Lalu, berkembanglah mitos tentang pemisahan kerja antara kaum bangsawan dengan rakyat kebanyakan.

Mangkunegara IV (1853-1881) berusaha mematahkan mitos ini. Beberapa waktu setelah memegang tampuk kekuasaan, ia membangun basis ekonomi modern, berupa perkebunan kopi dan industri gula. Lahan yang semula disewakan kepada para pengusaha Eropa oleh para pemegang lungguh (tanah jabatan) untuk industri perkebunan diambil alih dan dikembangkan sendiri sebagai basis ekonomi praja (kerajaan). Ada tiga hal yang melatarbelakangi Mangkunegara IV mengembangkan industri onderneming (perkebunan). Pertama, gula merupakan produk ekspor yang laku keras di pasaran. Kedua, tanaman tebu sudah terbiasa ditanam di sejumlah daerah Surakarta. Ketiga, penghasilan kerajaan dari pungutan pajak tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup para bangsawan (hal 47). Penulis jauh memandang industri gula Mangkunegaran sebagai bentuk kapitalisme priyayi.

Buku ini mengulas perubahan masyarakat Surakarta akibat kehadiran industri gula. Cara pandang masyarakat lebih maju karena bisa bersekolah dengan adanya pembiayaan dari pihak pabrik gula yang telah dianggarkan oleh penguasa. Fasilitas kesehatan berupa poliklinik di lingkungan pabrik telah meningkatkan standar kualitas hidup penduduk. Masyarakat diajari hidup sehat dengan dibangun jamban-jamban. Bersamaan dengan kemajuan perkebunan telah berdampak pada kemajuan wilayah Surakarta pada umumnya.

Jaringan transportasi dan perdagangan di wilayah perkotaan dan pedesaan berupa kereta api untuk keperluan mengangkut hasil gula dan kopi ternyata membuka isolasi desa-desa di sekitar perkebunan. Demikian pula perkembangan jalan raya Surakarta-Semarang, Surakarta-Yogyakarta, Surakarta-Sragen, Surakarta-Tawangmangu, serta Surakarta-Wonogiri membuka peluang kerja di sektor jasa transportasi, mulai dari gerobak, pedati, andong hingga bus.

Namun, ekses negatifnya pun tidak terelakan. Meluasnya kapitalisme perkebunan tebu telah menyebabkan kesenjangan sosial (social cleavage) yang pada gilirannya melahirkan ketidakpuasan di kalangan kelompok masyarakat terpinggirkan. Imbasnya, pengaruh politik dari pusat Kota Surakarta yang berkembang di abad XX berpengaruh terhadap konflik sosial di pedesaan tebu Mangkunegaran. Kecu, koyok dan begal adalah patologi sosial yang meresahkan warga perkebunan.

Yang memukau, penulis yang sehari-harinya dosen di Universitas Negeri Semarang itu, mendekontruksi tesis Geertz involusi pertanian dan kemiskinan bersama. Geertz yang berani menggeneralisasi bahwa masyarakat Jawa di pedesaan mengalami perkembangan ekonomi yang statis dan terjerat kemiskinan bersama.

Ketidaktepatan teori Geertz untuk wilayah tebu Mangkunegaran, adalah (a) terbukanya peluang ekonomi di luar sektor pertanian seperti jasa transportasi, perdagangan dll; (b) di wilayah perkebunan, tanah Mangkunegaran tidak ada hak kepemilikan tanah secara pribadi, hanya penguasaan tanah; (c) produksi pangan beras mengalami kenaikan yang dapat mengimbangi ledakan populasi penduduk (hal 381).

Buku Prof. Wasino M.Hum kaya arsip sejaman baik kualitatif maupun kuantitatif, yang kemudian dimasak dengan seperangkat metodologi sejarah dengan pendekatan sosial-ekonomi. Terbitnya buku ini sangat baik untuk acuan para pengambil kebijakan pertanian-perkebunan. Apalagi, Indonesia saat ini sedang mengalami keterpurukan ekonomi yang seharusnya dapat ditopang dengan pemberdayaan sektor perkebunan. Dari hasil rekontruksi sejarah ini menunjukkan, para pribumi Jawa atau bumi putra belum tentu kalah bersaing dengan orang asing dalam bidang wirausaha perkebunan. Sebuah karya yang patut diapresiasi, dan terutama menantang untuk dieksplorasi lebih lanjut.

(Reensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, UNS, Telp Hp 081 548 781 140)

Kudeta Mekkah

Terorisme telah menjadi hantu paling menakutkan di abad ini. Gerakannya secepat kilat, tak terduga. Dia bisa muncul di siang bolong, ketika orang sedang sibuk bekerja. Atau bisa saja muncul di malam gelap gulita, ketika orang sedang terlelap tidur. Pelaku terorisme kini tidak selalu dikenali sebagai sosok yang berjenggot lebat, bersorban, berjidat gelap, berhidung bengkok. Dia bisa tampil rapi, klimis, berpendidikan tinggi, merokok, minum alkhohol, dan berbahasa Inggris. Stereotype teroris telah bermetamorphosis sejak runtuhnya menara kembar WTC pada tanggal 11 September 2001. Tapi tunggu dulu. Siapa yang kita maksud dengan teroris? Definisi terorisme yang kita kenal saat ini, adalah buah propaganda AS dan sekutunya. Tepat setelah gedung pencakar langit yang menjulang di Kota New York rontok di hajar pesawat domestik oleh mereka yang disebut teroris, G.W. Bush kemudian memberikan pilihan ganda kepada negara-negara lainnya: “after the 9/11, there are only two choices: either with us, or with the terrorist!”

Apa sebenarnya akar dari terorisme itu? Dalam buku “Kudeta Mekkah” yang ditulis oleh Yaroslav Trofimov – koresponden The Wall Street Journal – menguak misteri sebuah kudeta berdarah yang terjadi pada tanggal 20 November 1979. Peristiwa itu sendiri telah terjadi 30 tahun silam, dan tidak banyak orang mengetahui pokok persoalan serta jalannya peristiwa itu sendiri. Bagi Yaroslav Trofimov, peristiwa “kecil dan tidak penting” itu justru menjadi tonggak bagi gerakan radikalisme yang kini oleh kelompok barat disebut sebagai “hantu terorisme.”

Peristiwa itu dipicu oleh gerakan aliran Wahhabi, gerakan yang menghendaki kembalinya kejayaan Islam pada masa hidupnya Rasulullah Muhammad SAW. Gerakan ini telah berkembang lama dan menyebar di jasirah Arab, yang muak dengan kebobrokan monarki Saudi dalam memberi peluang masuknya unsur-unsur kafir dalam kehidupan Islam di Arab Saudi. Gerakan itu kemudian berkembang sebagai gerakan radikal di bawah komando Juhaiman, seorang kopral Garda Nasional Arab. Juhaiman juga kecewa dengan guru spiritualnya sendiri, Ibn Baz, seorang tokoh spiritual Islam buta, yang lebih condong membela monarki Saudi, daripada ikut meluruskan ajaran Islam yang sudah bengkok-bengkok karena syahwat kuasa dan harta.

Lalu, timbullah kudeta berdarah di tanah suci Mekkah itu, ketika Juhaiman mengikrarkan diri untuk merebut tanah suci dengan senjata dan mengembalikan kejayaan Islam seperti yang telah dijanjikan dalam hadist Nabi, yakni setelah dibaiatnya Imam Mahdi dan turunnya Isa Putra Maryam dari langit. Juhaiman telah menemukan Imam Mahdi yang diramalkan itu, pada sosok pemuda tampan, berdahi lebar, dan memiliki tanda merah di pipi kanan. Dialah Muhammad Abdullah!

Persitiwa itu tentu membuat malu istana Saudi, karena tidak mampu menjaga tempat suci umat Islam dunia. Maka, segala akses informasi tantang peristiwa itu ditutup rapat oleh istana. Celakanya, peristiwa itu bocor dengan berita simpang siur di luaran. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iran yang mulai mengipasi dengan teori konspirasi barat yang ingin menghancurkan Islam. Kerusuhan anti AS meledak di mana-mana. Senyatanya, Juhaiman adalah pengikut Wahabi yang Sunni, dan Iran adalah Syiah. Tapi berita kemudian dipelintir sebagai gerakan Syiah yang harus diperangi karena mengusung bid’ah yang juga bisa menggerogoti Islam. Bahkan seorang pejabat AS menyebut peristiwa Mekkah sebagai “pemberontakan Syiah 1979.”

Teori konspirasi yang dihembuskan Iran terbukti ampuh dalam mengipasi umat Islam untuk mengganyang AS yang kafir. Ketika pada saat yang sama Soviet, yang mengajarkan Marxisme-Leninisme gencar merengsek ke Afganistan, dan memerangi Islam, AS punya alasan untuk mengalihkan musuh besar Islam ke Soviet. Lahirlah sukarelawan Islam yang berangkat jihad ke Afganistan, membantu saudara-saudara sesama muslim. Salah satu diantara para relawan yang pertama pergi ke garis depan Afganistan adalah seorang pria pemalu berusia dua puluh dua tahun, bernama Osama Bin Laden! Terkejut dengan keganasan perang di Mekkah, pendiri Al-Qaeda di masa depan ini tidak dapat menahan simpati kepada Juhaiman dan motif pemberontakannya. Bin Laden menyimpan segenap kemarahannya terhadap rezim Saudi. Juga kepada mereka yang menodai Islam!

(Resensi ditulis oleh Hartono)

The Miracle Life of Edgar Mint

Kini saya jadi faham mengapa Nabi Muhammad S.A.W pernah bersabda tentang anak yatim, “Barangsiapa menanggung anak yatim sehingga menjadi kaya, maka telah wajib baginya memasuki syurga.” Sabda Nabi lagi: “Barangsiapa mengusap kepala seorang anak yatim tanda belas kasihan, maka ia mendapat kebajikan atas setiap rambut yang diusapnya itu.”

Itu pula yang saya rasakan saat menikmati lembar demi lembar novel yang menyentuh dari Brady Udall “The Miracle Life of Edgar Mint,” (Vintage Books, 2001). Ini kisah tentang perjalanan hidup Edgar Mint yang yatim piatu. Edgar Mint dilahirkan kedunia sebagai anak yang tidak diharapkan. Dia adalah buah hubungan “terlarang” antara wanita Indian dan laki-laki kulit putih. Jadilah dia setengah Apache, setengah kulit putih. Padahal di antara para cowboy Amerika, ada stigma buruk perkawinan silang antara wanita Indian dan lelaki kulit putih. Adalah sebuah bencana apabila hubungan itu terjadi. Dan bencana itu benar-benar menimpa Edgar. Dia ditinggal pergi Ayahnya, saat dia dalam kandungan, dan ibunya mati overdosis karena minuman keras, karena tak sanggup menanggung hidup dengan bayi yang telah dikandungnya dari benih lelaki laknat yang tak bertanggung jawab.

Novel Brady Udall ini tampaknya juga ingin menyinggung potret buram bangsa Indian yang kini menjadi kelompok terpinggirkan di Amerika – Brady Udall sendiri lahir dan besar di lingkungan bangsa Indian Northeastern Arizona. Bangsa Indian kini seolah terlempar dari tanah di mana dulu pernah berjaya, menguasai gurun, savanna, bukit-bukit terjal, ngarai, dan hutan belantara.

Mengikuti perjalanan hidup Edgar Mint terasa mengharukkan, sekaligus menimbulkan rasa malu pada diri sendiri. Karena senyatanya, kita justru gampang menyerah dan kadang “cengeng” dengan kondisi fisik normal kita. Sementara Edgar mampu menapaki hidup dengan penuh ketegaran, meskipun dengan tempurung kepala yang hampir remuk karena terlindas ban mobil tukang pos saat dia bermain-main di bawah badan mobil, tanpa menyadari bahaya dari tempat bermainnya itu. “The miracle” terjadi, karena dengan tengkorak kepala yang hampir remuk, Edgar masih bernyawa dan diberi kesempatan untuk mengajarkan kepada kita betapa hidup harus dilalui dengan semangat.

Ada empat babak besar dalam hidupnya yang dilalui setelah itu, yang dalam novel ini terbagi dalam sub judul: St. Divine, Willie Sherman, Richland, dan Stoney Run.

Hidup dengan kondisi seperti Edgar Mint tidaklah mudah. Sebagai anak yang tak diharapkan, saat dia 3 bulan dalam kondisi koma dan harus dirawat di rumah sakit St. Divine berbulan-bulan kemudian, tak ada satupun keluarga yang menjenguknya, termasuk ibunya sendiri. Untunglah dirumah sakit itu dia dikelilingi sahabat-sahabat barunya yang rata-rata usianya lebih tua dari Edgar. Di sana ada Art, Jeffry, dan dr. Berry Pinkley. Mereka seolah “malaikat” yang melindunginya. Saat perpisahan terjadi, ketika Edgar harus pergi menginggalkan St. Divine, Art memberi hadiah sebuah belati untuk melindungi diri, dan hadian mesin ketik Hermes Jubilee, karena setelah kecelakaan itu Edgar tak mampu menulis dengan tangannya.

Pada episode selanjutnya, Edgar harus tinggal dan bersekolah di Willie Sherman. Di sana Edgar harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya hidup melawan anak-anak yang lebih besar. Tapi di sana dia juga menemukan sahabat sejati, Cecil. Di sana Edgar menemukan dunia anak-anak, termasuk kenakalan khas anak-anak, mengintip istri kepala sekolah berselingkuh dengan lelaki Indian. Di sana pula, Edgar masih melanjutkan kebiasaan buruknya: masih suka ngompol.

Titik balik hidup Edgar terjadi ketika sebuah keluarga Kristen Mormon, bermaksud mengadopsinya dan membuatnya tinggal di Richland. Dia merasa bahwa Lana dan Clay, orang tua angkatnya, Brain dan Sunny, benar-benar mencintainya dan menganggapnya saudara sendiri. Termasuk bagaimana Edgar pernah merasakan kecupan hangat Sunny, saudara angkat perempuannya. Tapi itu bukanlah akhir dari perjalanan hidup Edgar Mint, sampai dia menemukan tukang pos yang telah melindas kepalanya. Bukan untuk menuntutnya dan mengirimkan ke penjara, tapi untuk menyampaikan bahwa dia kini baik-baik saja, tidak mati seperti yang mungkin dibayangkan oleh tukang pos.

Berhasilkah Edgar menutup episode hidupnya dengan menebarkan samudra kelapangan hati untuk memaafkan tukang pos, yang pasti amat bersalah karena merasa telah membunuh anak kecil dengan mobilnya? Adakah “miracle” lain yang menantinya diakhir cerita?

(Resensi ditulis oleh Hartono)