Archive for November, 2008

Larasati

larasati1Baru kali ini saya membaca roman Pramoedya Ananta Toer terasa kurang ada greget. Biasanya, dalam setiap tulisannya Pram berhasil membetot emosi pembacanya untuk ikut larut dalam emosi tokoh yang ditampilkan. Secara tidak sadar, kadang-kadang saya ikut larut dengan emosi perlawanan atau dendam kesumat dari tokoh yang teraniaya oleh kuasa.

 

Roman Larasati (Lentera Dipantara, 2005) maunya dimaksudkan untuk memotret gelora revolusi kaum muda pasca kemerdekaan vs kaum tua yang korup. Karakter korup, jahat, atau licik dari kaum tua tak tergambar lewat tampilan karakter tokohnya, tapi hanya muncul secara verbal dari mulut Larasati yang mengolok-olok kaum tua.  

 

Roman dibuka dengan perjalanan Larasati dari Jogja ke Jakarta dengan naik kereta. Tokoh Larasati digambarkan sebagai primadona bintang film yang sedang naik daun. Tujuan ke Jakarta bukan untuk semakin melambungkan namanya dengan menjadi bintang film terkenal, tapi justru bersimpati pada perjuangan pemuda di seberang kali Bekasi. Meskipun di Jakarta, ia berjumpa dengan Mardjohan yang ambisius ingin mengajak Larasati jadi mitra di dunia perfileman. Menjadikannya bintang film terkenal. Ajakan itu ditolaknya, karena Larasatri tak sudi dijadikan alat propaganda NICA. Di Jakarta, Larasati bertemu dengan ibunya yang sudah lama tak ditemuinya. Di sana, ibunya menjadi pembantu di rumah orang Arab. Di rumah orang itu pulalah Larasati mau dijadikan istri tak resmi dari pemuda Arab, yang jelas-jelas menjadi mata-mata Belanda.

 

Saya tidak mengerti mengapa Larasati mau dijadikan istri tak resmi orang Arab itu, padahal orang Arab itu mempunyai andil atas matinya banyak pemuda yang dianggap ektremis oleh Belanda. Ataukah Pram hanya ingin menegaskan sekali lagi tentang kebusukan orang Arab di Indonesia, yang hanya pandai mengumbar syahwat dan berotak dagang? Dalam banyak novel atau roman yang ditulis Pram, selalu dijumpai orang Arab yang tak jauh dari urusan syahwat dan harta, sambil memperlihatkan kemunafikan sebagai ahli ibadah. Tokoh antagonis lain yang sering dihujatnya adalah etnis Jawa yang feodal, dan kaum tua yang korup seperti dalam roman Larasati ini.

 

Membaca roman Larasati ini terasa melelahkan, meskipun sebenarnya roman ini tergolong tipis. Penyebabnya barangkali dalam roman ini tidak ada pembabakan dalam penulisannya. Jadi tidak ada jeda atau perhentian buat pembaca untuk beristirahat.

 

Satu-satunya yang membuat saya tertarik adalah menatap sampul yang dikerjalan oleh Ong Hary Wahyu, dengan suasana tempo doeloe. Wajah klasik Larasati terasa mewakili potret kecantikan wanita pada masanya, dengan rambut berombak, alis melengkung tipis, hindung bangir, dan bibir merah merona.

 

Review ditulis oleh Hartono

Wisata Kerajinan Di Jogja

dsc02954-webBelakangan ini banyak terbit buku mengenai wisata kuliner dengan berbagai judul, yang fokus ke kota Jakarta (Jabodetabek), Bandung, Yogya dan seterusnya. Namun yang belum banyak ditemukan adalah mengenai wisata kerajinan. Inilah menariknya buku Wisata Kerajinan Yogyakarta: 19 Sentra Layak Dikunjungi, 35 Barang Layak Dibeli,” (Prima Media) yang ditulis oleh dua wanita bersaudara B. Anindyaning Pratisari dan C. Antari Pratista ini.

 

Buku ini layak menyandang judul wisata kerajinan, karena keseluruhan 96 halamannya tampil berwarna dan berfoto. Membaca buku ini kita diajak berwisata, mulai dari mengenal transportasi menuju Yogya. Lalu memilih penginapan, dari yang kelas melati hingga hotel berbintang. Pilihan moda transpor dalam kota, serta tempat bersantap.

 

Mulai mengunjungi sentra-sentra, dimulai dari Kotagede yang menyajikan pesona kilauan kerajinan peraknya, berlanjut ke Desa Gamplong yang menyajikan kerajinan tenun khas. Ke Malangan, yaitu desa wisata kerajinan anyaman bambu. Sentolo yang menawarkan kerajinan serat tumbuhan. Dan, Lemah Dadi yang desa ukiran batu.

 

Pilihan selanjutnya ialah ke Karebet yang memproduksi batik kayu yang unik. Di lanjutkan melihat sentra kerajinan tatah di Sungging. Ke Giriloyo melihat batik asli Yogyakarta, atau mencari keris di Banyu Sumurup.

 

Bisa juga ke Manding pusatnya industri kulit di selatan Yogya. Serta ke Kasongan, yang ternyata bukan hanya menjual gerabah. Dan, seni keramik yang juga ada di Pundong. Atau berburu kerajinan anyaman di Beringharjo, yang kaya pilihan batik juga. Serta Pasar Seni Gabusan yang menyajikan segala rupa kerajinan.

 

Bagi pemburu furnitur dan interior, ada Bab khusus berjudul ”Mari Berburu Furnitur!

 

Nikmat nian berwisata melalui buku ini, karena selain dilengkapi foto berwarna, juga penjelasan ringkas tapi informatif, termasuk sejarah ringkas sentra tersebut, apa ciri khas produk kerajinannya, serta latar budayanya. Kalau lagi malas baca, melihat-lihat fotonya saja sudah bisa punya gambaran apa yang kita dapat dari situ. Mengenai harga, ini memang bukan bukan katalog barang, jadi ada rentang harga di sana-sini, cukup untuk tahu itu level harganya di lapis mana.

 

Secara keseluruhan desain buku ini bagus, ukuran dan penataan foto-foto yang harmonis, enak dilihat. Ini mungkin didukung latar belakang kedua kaka beradik ini sebagi kontributor Tabloid RUMAH. Hanya kalau boleh dibilang kekurangannya, penulis tidak menyertakan Peta Kota Yagya, atau setidaknya orientasi lokasinya. Namun kekurangan ini ditutupi oleh adanya daftar alamat tiap sentra kerajinan, lengkap dengan nomor telpon tempat, dan HP contact personnya.


Reviewer: Risfan Munir, Local Economic & Urban Planner

Kentut Kosmopolitan

kentut-kosmopolitanHidup di kota besar seperti Jakarta apalagi sampai tua bisa menghabiskan umur di tempat kerja dan di jalan, bisa membuat manusia (Homo Jakartensis) kehilangan makna alias mehong. Untuk itu diperlukan permenungan, obrolan, setidaknya dengan diri sendiri tentang makna dari pengalaman keseharian yang bisa dikatakan penuh tantangan, impian, ataupun ilusi, kerutinan, kebosanan, juga kelucuan dan keharuan. Itu kesan saya dalam menikmati buku Kentut Kosmopolitan” (Penerbit Koekoesan, Agustus 2008) yang ditulis Seno Gumira Ajidarma (SGA) ini.

 

SGA sendiri menyebutnya sebagai ”hanya sebuah obrolan” yang mencoba memahami, menertawakan kelakuan sebagian orang dan diri sendiri. Ambil satu judul ”The Motorcycle People” yang mengamati tingkah akrobatik harian para pengendara sepeda motor yang mendominasi kota besar seperti Jakarta. Satu sepeda motor ditumpangi lima manusia: ”bapak nyetir, ibu membonceng di belakang, dua anak dijepit di antara mereka berdua, dan anak pertama duduk di atas tangki bensin dengan kacamata terlalu besar.” Dengan komentar:”wajah-wajah mereka: bahagia!  … tidak peduli kredit bank macet,…”

 

Juga ”Bakpao”, yaitu obrolan tentang peran tukang bakpao. ”Bakpao adalah penyelamat. Dalam kemacetan, ketika jam makan tiba, dan perut mulai menggerus …., bakpao menjadi makanan pengganti yang lumayan.” Barangkali posisi gerobak bakpao itu melanggar hukum, nelonong ke jalur hijau, ditengah jalan sempit. Namun siapakah akan tega mempersoalkannya? Barangkali ada anak kecil sakit menunggu obat yang ditebus dari penjualan bakpao itu.

 

Banyak judul-judul sejenis itu dalam buku yang terdiri dari 65 judul ini. Kepedulian kepada dunia sekitar, sepanjang jalan, yang sebetulnya bisa menjengkelkan, tapi kalau dipandang secara lain bisa sangat lucu dan haru, seperti: the Story of Mister Cepek atawa Jalan Gronjal, Manusia Toilet, Ojek Sudirma –Thamrin dan sejenisnya. Namun bukan SGA namanya kalau tidak ada sindiran, kritik sosial. Seperti pada judul-judul: Jalan Tol, Puisi Jalan Tol, Listrik Mati, Uang Dengar, Kolonisasi, Jaguar dan Pancasila, dan seterusnya.

 

Sindiran (menertawakan) juga ditujukan kepada gaya hidup yang dikembangkan kelompok tertentu dalam kehidupan perkotaan, seperti pada judul-judul: Udel Bodong, Politik Busana, Kentut Kosmopolitan, Kartu Nama, SMS atawa Haiku, Istilah-istilah Keren Abis, Berhala, Bahaya Sebuah Ilusi dan lainnya. Pada Udel Bodong misalnya, dikatakan ”Mode yang satu ini bermain-main dengan lingkar pinggang, para pengguna memanfaatkan busana ini untuk bukan hanya sudi dilihat, tetapi memang memperlihatkannya.” Tapi kemudian yang di’kritik’ adalah ketidak jelasan mangsud pemakainya yang lalu sibuk menutupi lingkar pinggangnya – ”Maunya diperlihatkan atau ditutupi sih?”.  Sedang Kentut Kosmopolitan yang dijadikan judul buku membahas politik kentut dalam konteks sopan-santun versus kesehatan. Sebagai karikatur bagaimana tujuan kesehatan (faali, alami) sering dikalahkan oleh yang simbolis gaya hidup yang sesungguhnya relatif.

 

Yang menarik untuk dikaji adalah ternyata ada ”benang merah” kerangka berfikir, kalau boleh disebut begitu, antar keseluruhan judul yang tadinya adalah judul-judul kolom, yang sebagian besar dari tabloid Djakarta! terbitan dari 2004-2008 itu.

 

Intinya pelajaran yang saya tangkap, sebagai bukan orang budaya. Bahwa ”nilai baik”, dianggap benar, dianggap pantas, terpuji, beradab dan selanjutnya itu bukanlah kebenaran universal alami dari sono nya. Tapi merupakan hasil pergulatan budaya antar pihak, atau antar kuasa. Yang jika berubah hubungan-hubungan kuasanya, maka akan berubah pula nilai-nilai nya. Pesawat terbang arti kata atau denotasi-nya adalah alat angkut lewat udara. Tapi konotasi-nya adalah kendaraan kalangan atas, simbol posisi sosial. Tapi setelah ada penerbangan ekonomis, arti pesawat terbang kembali ke denotasinya, sebagai alat angkut saja, sehingga tak apa pakai sandal dan bawa kotak diikat tali plastik.

 

Konotasi, yang mengandung nilai tinggi/rendah, baik/nista itu diciptakan melalui hegemoni wacana, yang sering oleh pengusungnya dipompakan melalui media dan berbagai kesempatan. Pesannya, tiap kelompok sosial setiap saat harus mengambil sikap atas hegemoni nilai yang mencoba mendominasinya, apakah dengan: menerima, bernegosiasi, atau melawan. [RM]

 

Review oleh Risfan Munir.