Archive for December, 2008

Running to Riches

running-to-riches“Berlari untuk kaya?” Wow… saya ingin secepatnya menjadi kaya, pensiun diusia muda dan menghabiskan waktu dengan cucu-cucu dengan keluarga yang sejahtera. Itulah yang ada dalam pikiran saya ketika melihat buku ini di toko buku Bandara Sepinggan, Balikpapan saat saya menunggu pesawat ke Jakarta yang terlambat. Buku ini pasti akan mengajarkan cara dan metode meraih kekayaan itu, seperti ilustrasi disampulnya, menurut saya gambar sepatu merupakan wujud dari suatu alat yang dipakai untuk melindungi kaki (perwujudan dari usaha kita) sehingga bisa memaksimalkan usaha kita dan mereduksi dampak dari kesalahan yang kita lakukan untuk mencapai tujuan (seperti ilustrasi gambar dolar yang merupakan perwujudan dari tujuan), bukankah mustahil kita akan kaya tanpa uang? Entah itu kaya dalam hal materiil maupun kebahagiaan batin, karena mustahil kita akan tentram apabila stabilitas ekonomi keluarga belum mapan.

 

Buku yang berjudul “Running to Riches” karya Didik Wijaya hampir sama dengan buku “Perubahan” karya Rhenal Kasali, bedanya disini Didik Wijaya selain membahas petunjuk universal tentang pencarian kekayaan, dia juga membahas makna dari kekayaan dan kebahagiaan.

 

Buku ini merupakan pandangan tentang uang, memang di mana-mana kalau bicara tentang uang akan sama saja prinsipnya, cuma bedanya cara kita masing-masing untuk meraih uang itu sendiri.

 

Pada setiap bab pembahasan, Didik selalu mengajak kita untuk berinteraksi di dalamnya, seperti memberi pertanyaan-pertanyaan kepada kita untuk pembuktian, selain itu Didik juga memberikan suatu ilustrasi cerita yang berhubungan dengan metode yang sedang dibahas, seperti cerita Pohon Pengabul Permohonan yang merupakan contoh ilustrasi seberapa kuat keyakinan kita untuk menajdi kaya dengan harapan-harapan yang ada.

 

Buku setebal 118 halaman ini akan mengajak kita untuk membuat suatu system, metode, dan rumus yang sangat praktis untuk meraih tujuan, sehingga paradigma kita mengenai bagaimana sulitnya jalan yang ditempuh untuk menjadi kaya, paradigma bahwa orang miskin, orang yang tak tamat kuliah, atau orang cacat sekalipun, yang mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah bisa kaya akan berubah.

 

Penulis dengan pendekatan-pendekatan yang mudah dipahami akan mengajak untuk mengenali diri sendiri, dengan mengenali diri sediri itulah maka potensi diri yang merupakan modal dasar untuk meraih kekayaan atau tujuan dapat dimaksimalkan. Bagimana kita bangkit dari keterpurukan atau kegagalan dan membuat suatu tujuan hidup yang baru, bantuan seperti apa yang kita butuhkan, karena tidak selamanya kita akan mencapai tujuan tanpa bantuan orang lain. Dan hal-hal apa saja yang perlu kita persiapkan apabila kita mengalami kegagalan. Hidup ngga selalu mulus kan? Jalan tol aja ada putusnya. Permasalahannya mau tidak kita memulai jalan tersebut?

 

Resensi ditulis oleh Parama Wisnu Putra

Maryamah Karpov

maryamah-kapovSebegitu pentingkah arti judul dalam penulisan sebuah novel? Partanyaan ini boleh juga disodorkan ketika kita mengunjungi sebuah pameran lukisan. Pentingkah pemberian judul untuk sebuah lukisan? Saya sendiri, ketika mengunjungi sebuah pameran lukisan, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat lukisan itu sendiri, dari jarak jauh. Ketika tertarik, saya mendekat. Ketika penasaran dan tak jelas dengan maksud lukisan itu, saya baru membaca judulnya.

Novel Maryamah Karpov, buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata memiliki pertanyaan yang sama ketika orang mulai membaca novelnya. Banyak saya dengar komentar dari teman-teman yang telah membaca novel itu mengatakan betapa Maryamah Karpov adalah novel terburuk dari tetralogi lainnya. Kekecewaan mereka yang paling medasar adalah soal judul Maryamah Karpov itu sendiri. Sejak awal, ketika seseorang membaca novel, maka seluruh konsentrasi akan digiring oleh judul buku yang membingkainya. Ditambah dengan tampilan sampul buku yang mencoba menerobos ruang imajinasi di kepala pembaca.

Ketika sesorang membaca novel Maryamah Karpov, maka yang pertama-tama muncul di kepala adalah mencoba mencari sosok yang disebut Maryamah Karpov, lengkap dengan dawai biola dan suasana syahdu yang terbangun lewat desain sampul novel itu. Celakanya, harapan atas imajinasi yang sudah terbangun di kepala menjadi berantakan karena sosok dan suasana tentang Maryamah Karpov tak jua ditemui dalam novel setebal 504 halaman itu. Sosok Maryamah Karpov hanya sekelebat saja dijelaskan sebagai Makcik Nurmi, gadis yang piawai memainkan biola di warung kopi. Gadis yang sedang memainkan biola pada sampul novel Maryamah Karpov adalah Nurmi, bukan Maryamah Karpov itu sendiri.

Saya sendiri mencoba untuk tidak kecewa dengan novel Maryamah Karpov. Saya mencoba untuk dapat nikmati setiap rima kata dan bangunan bahasa yang dirangkai indah oleh Adrea Hirata. Kekuatan seniman kata-kata itu tetap saja belum luntur. Saya masih bisa menikmati novel itu, sambil terus larut dalam bangunan cerita. Tampaknya, dalam novel ini Andrea Hirata sedang menawarkan sebuah pendekatan baru dalam penulisan novel, yakni cultural literacy non fiction, atau karya non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya. Istilah ini saya ambil dari catatan akhir penerbit Bentang yang tertera di sampul belakang bagian dalam.

Novel Maryamah Karpov adalah sebuah penuturan Andrea Hirata tentang budaya masyarakat Melayu yang belum banyak dikenal oleh orang luar. Di sana digambarkan betapa masyarakat Melayu adalah sebuah masyarakat unik, seperti misalnya pandai membual, senang bertaruh, susah untuk diajakan melakukan perubahan, termasuk cenderung apatis untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan kebodohan. Andrea merasa perlu untuk melakukan otokritik atas kaumnya sendiri. Toh, dia sendiri telah membuktikan, bersama Laskar Pelangi, bahwa kekuatan mimpi itu menjadi modal paling mendasar untuk melakukan perubahan. Sosok Lintang dan Mahar mewakili kekuatan otak kanan dan otak kiri manusia, yang sebenarnya dimiliki oleh masyarakat Melayu. Lintang yang jenius dalam ilmu eksakta, Mahar yang kreatif dan memiliki imajinasi luar biasa dalam memecahkan persoalan-persoalan pelik. Kedua sosok jenius itu secara cerdas ditampilkan oleh Ikal ketika keduanya membantu Ikal dalam membuat perahu saat ekspedisi pencarian A Ling.

Sebagai sebuah novel, Maryamah Karpov tetap memiliki kekuatan dalam menggelorakan cinta seorang anak manusia. Gelora cinta Ikal terhadap A Ling, seorang gadis yang telah membuatnya berkelana mengelilingi Eropa hingga Afrika, hingga pada akhirnya Ikal menemukan A Ling di Pulau Batuan, dekat Pulau Karimata, dalam kondisi yang mengenaskan.

Ikal yang Melayu dan beragama Islam, sementara A Ling yang Cina dan berkeyakinan Konghucu, adalah dua kekuatan cinta yang harus berhadapan dengan kekuatan budaya yang melingkupinya. Dapatkah keduanya dipersatukan? Halaman terakhir novel Maryamah Karpov sungguh mengharukan ketika Ikal memohon ijin kepada Ayah yang sangat dihormati setiap keputusannya, untuk dapat meminang A Ling. Adakah Ikal melihat anggukan kepala sang Ayah tanda setuju?

Resensi ditulis oleh Hartono (pengasuh situs www.rumahbaca.wordpress.com)