Judul : The 7 Laws of Happiness Tujuh rahasia Hidup Yang Bahagia
Pengarang : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Kaifa (Mizan Group)
Halaman : 428 halaman
Cetakan : Kedua (Januari 2009)

Episentrum kehidupan ada di pikiran kita. Semua yang terjadi pada diri kita merupakan buah dari apa yang berulangkali kita pikirkan. Untuk itu sudah sewajarnya, pikiran kita hendaknya diisi dengan hal-hal yang baik. Ibarat makanan, kita pilih makanan bergizi dan hindari makanan sampah (junk food). Apa saja asupan yang sebaiknya mengisi pikiran kita?. Buku ini menawarkan tujuh makanan bergizi yang akan membawa hidup bahagia. Jurus yang diberi nama the 7 Laws of happiness merupakan hasil perjalanan panjang penulis dari perenungan, pembelajaran dan pengalaman hidup. Dengan membangun kekuatan memilih pikiran, kita akan meraih tujuan hidup yaitu mencapai kebahagiaan.
Sepintas apa yang ditawarkan dalam buku ini mirip dengan the 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey yang sangat terkenal. Persamaannya terletak pada struktur yaitu 3+3+1 dan penerapannya yang musti berjenjang. Namun kalau didalami lebih lanjut ternyata terdapat perbedaan yang mencolok. Covey lebih menekankan pada memilih tindakan untuk meraih sukses. Sementara Arvan Pradiansyah (penulis buku ini) menukik lebih dalam lagi yaitu memilih pikiran agar hidup bahagia. Sebagai ilustrasi menolong merupakan hasil suatu tindakan. Di balik tindakan tersebut terdapat beberapa latar belakang pikiran. Menolong karena kasihan, ingin mendapat pahala dari Tuhan atau ingin memberikan sesuatu pada orang lain. Tindakan sama namun ternyata didasari pikiran yang berbeda-beda. Tentu, pada pilihan terakhir kita akan memperoleh kebahagian tak ternilai.
Kesuksesan itu tidak identik dengan kebahagian. Sebaliknya, kebahagiaan akan berujung kepada kesuksesan. Artinya, kalau kita merasa bahagia, apapun hasil yang kita kerjakan selalu sukses di mata kita. Tidak lagi terbelenggu pada target-target tertentu. Hal tersebut yang menjadi inti dari buku ini. Penulis dengan gamblang menyajikan kiat-kiat meraih kesempurnaan hidup melalui penerapan formula 3+3+1. 3 pertama yaitu sabar (patience), syukur(gratefulness) dan sederhana (simplicity) untuk mencapai kebahagian pribadi. Berikutnya kasih (love), memberi (giving) dan memaafkan (forgiving) dalam rangka mencari kebahagian dari hubungan dengan orang lain. Dan puncaknya adalah pasrah (surrender) yang merupakan pencapaian kebahagiaan hakiki yang merefleksikan hubungan dengan Tuhan. Setelah semua tahapan dilalui tentunya kita pasrahkan kepada Tuhan. Apapun keputusan Tuhan itulah yang terbaik bagi kita.
Membaca buku ini, kita akan memperoleh banyak pelajaran berharga bagaimana sebaiknya mengarungi roda kehidupan ini. Terutama dalam hal memilih pikiran. Kebahagiaan yang kita angan-angankan bukanlah fatamorgana. Hal tersebut dapat diwujudkan kalau kita benar-benar mampu menghayati dan melaksanakan ajaran-ajaran dalam buku ini. Agar mudah dipahami, penulis juga melengkapi dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Walau buku ini cukup tebal, namun pilihan gaya bahasa populer membuat buku ini tidak membosankan dan mudah dipahami oleh siapapun. Latar belakang penulis yang sarat pengalaman di bidang SDM, membuat pemikiran-pemikiran yang disampaikan sangat menarik. Ramuan kemampuan yang dimiliki penulis baik di bidang akademis (Master of Science dalam bidang Industrial Relation and Human resources dari The London School of Economics) dan pengalaman sebagai konsultan SDM (pernah bekerja sebagai konsultan di DDI dan Dunamis yang mempunyai reputasi internasional) tertuang secara apik, runtut dan logis. Pembaca akan memperoleh sajian secara utuh bagaimana penulis sampai kepada formula yang dikenal the 7 Laws of Happiness.
Untuk membumikan pemahaman pembaca, pada setiap Bagian dilengkapi dengan box-box yang berisi kasus-kasus nyata. Hal unik lain yang juga menjadi kekuatan buku ini adalah pencetakan kata atau kalimat yang dianggap penting. Penggunaan huruf yang lebih besar dan dicetak tebal dipilih penulis sebagai sinyal yang harus diperhatikan pada setiap halaman pembahasan. Strategi jitu ini akan menggiring pembaca agar lebih mudah menangkap makna dari pesan yang disampaikan penulis.
Sulit untuk menemukan titik lemah dari buku ini. Kalau pun ada kritik sangat minor. Salah satunya adalah huruf yang dipakai pada box “Cermin Sikap Warga Jakarta” (halaman 271) terlalu kecil. Terlepas dari kekurangan minor tersebut, buku ini sangat layak bagi para pembaca yang menginginkan kebahagiaan. Kehidupan yang kita jalani ini bukan vertikal yang terus naik keatas, namun seperti lingkaran. Dimulai dari suatu titik dan akan kembali ke titik tersebut. Keyakinan inilah yang diusung penulis. Dengan berbagai kelebihan yang ada pada buku ini, tidak berlebihan dalam waktu singkat sudah mengalami pencetakan kedua kali dan meraih best seller.
(Peresensi: Heri Ispriyahadi, penikmat buku tinggal di Jakarta)
Archive for February, 2009
Buku seru bersampul biru itu langsung menohok mata, di antara deretan buku-buku yang lain. The Naked-Traveller, hmm …judul yang provokatif. Ditulis oleh orang yang mengaku sebagai Trinity. Dua hal yang segera mengundang rasa penasaran, sebelum benar-benar membaca isinya.
Buku ini tampaknya lumayan laris, terbukti sampai bulan November 2008 merupakan edisi yang kedelapan. Menurut cerita, buku ini awalnya muncul secara on line di dunia maya dengan judul yang sama. Blog hits yang diraih dari tulisan ini lumayan besar, alias banyak pengunjung yang mengakses dan memberi komentar pada tulisan ini. Dari segi bisnis, itu sudah menjadi pertanda bahwa tulisan itu diminati pembaca. Alhasil, diterbitkan oleh C Publishing, masih satu payung dengan Bentang.
Sebagai sebuah bacaan ringan, buku ini benar-benar menarik dan enak diikuti. Ada kejujuran, kepolosan, dan humor yang segar di sana. Sekaligus orang bisa mendapat sesuatu, berupa tips dan trik untuk bebergian. Trinity sudah menjelajahi 33 negara dan hampir semua tempat di Indonesia. Dia menyebut dirinya bukan orang tajir yang banyak uang untuk keliling dunia. Semua itu dia raih dengan cara menabung dan bepergian dengan cara backpacking.
Cara membaca buku ini tidak harus dari depan. Bisa langsung loncat ke bagian yang kita sukai. Buku ini memang tidak dirancang secara kronologis. Pengelompokkan tulisan bukan didasarkan pada periode waktu, tapi pada kumpulan tema: Airport, Alat transportasi, Life Sucks, Sok Beranalisa, Tips, Sok Beranalisa, Adrenaline, Ups. Tulisan terasa mengalir dan lincah, khas gaya anak muda dan backpacker beneran. Latar belakang penulis yang memang sudah suka menulis sejak kecil, plus kuliah di Jurusan Komunikasi Undip, barangkali menjadi faktor suksesnya dalam menulis dan menjadikan buku itu enak dibaca.
Buku ini sekaligus bisa menjadi penyemangat bagi siapapun untuk segera beranjak mengambil kertas dan pena, atau tuts komputer, untuk menuliskan apapun pengalaman kita yang dianggap menarik dan unik. Biarkan orang lain ikut serta menikmati jelajah pikiran dan kembara hatimu!
Resensi ditulis oleh Hartono


