dsc_5283-narsis.jpgKetika saya masih tinggal di Solo, saya mendapat kemewahan dalam hal baca buku. Kakak saya punya perpustakaan pribadi yang hanya saya seorang yang boleh pinjam buku dan dibawa pulang. Orang lain boleh pinjam tapi, tidak boleh keluar dari ruangan. Cakupan tema dari buku yang ada di sana sangat luas, mulai dari buku sejarah, novel, spiritualisme dan agama. Buku yang sangat saya suka adalah tentang spiritualisme. Buku-buku tersebut membebaskan saya dari belenggu fanatisme yang tidak perlu.

Kini kemewahan itu tidak ada, semenjak saya tinggal di Jakarta dan terjebak dalam rutinitas kota besar ini. Kalau mau baca buku ya terpaksa beli sendiri. Lebih banyak masih suka pinjam punya teman he..he..he.. Padahal menurut Gus Dur, “hanya orang tololah yang mau meminjamkan buku ke orang lain.”

Pendapat itu ada benarnya. Soal pinjam-meminjam buku, kaset, apalagi uang, sangat rawan untuk tidak kembali alias bablas angine! Tapi percayalah, mereka yang mau meminjamkan buku untuk dibaca, akan banyak manfaatnya dibandingkan disimpan sendiri. Dengan buku, orang bisa mendapat pencerahan, syukur-sukur berubah menuju yang lebih baik.

5 Responses to “Hartono”


  1. 1 Bayu Wednesday, September 12, 2007 at 2:25 am

    Suatu saat saya akan kirim resensi, saya sedang baca buku “kearifan timur”…tapi belum selesai…coitus terus…he…he..

  2. 2 Arif Rachman Monday, May 26, 2008 at 1:38 pm

    Pak Hartono,

    Salut buat Bapak, yang begitu banyak memberikan referensi buku, terus terang saya ini termasuk orang yg rugi, rugi dalam arti sudah sangat terlambat mempunyai minat baca, baru beberapa bulan ini saya mulai suka baca itupun disaat sedang padat2nya aktivitas pekerjaan saya, minat baca saya ini diawali dari acara Kick Andy yang menguupas novel “Laskas Pelangi” dan ditambah lagi membaca ayat2 cinta (sebelum nonton filmnya) tanpa saya sadari sejak itu rasanya lebih relaks rasanya saat baca, saat ini setidaknya saya sempatkan baca setiap meskipun sebentar (setidaknya menjelang tidur).

    O, ya Pak saya baru selesai baca novel, Matahari diatas Gilli, kalau menurut saya (org yg awam baca) novel ini cocok buat DF, karena novel ini bercerita mengenai perjuangan seorang perempuan (lulusan SMA) untuk menghidupkan kembali Sekolah yang pernah ada dimana masyarakat sekitarnya (suku Madura) sudah tidak percaya dengan guru/orang pendatang apalagi sekolah yang menurut mereka hanya akan menghabiskan uang dan membuat anak2 mereka enggan membantu mencari ikan. Namun Kegigihan perempuan itulah dengan berbagai cara akhirnya mereka bisa menerima bahkan pada akhirnya menghormati dia.

    Terima kasih pak sudah menyediakan wadah seperti ini, ini sangat membantu terutama bagi orang yg baru suka baca seperti saya.

    Salam

    Arief

  3. 3 ABI Monday, February 23, 2009 at 3:26 pm

    TERIMAKASIH,SAYA SEPENDAPAT DEGAN SAUDARA ARIF.MEMANG KEBIASAN MEMBACA ITU SANGAT BERMANFAAT.DAN HARI INI SAYA BENAR2 MEMBUKTIKAN HASILNYA.KUNCI SUKSES ADALAH:1.IKHLAS MENERIMA APAPUN KEADAAN KITA 2.SELALU IKTIAR DAN BERDOA 3.YAKIN BAHWA SUATU SAAT KITA AKAN BERHASIL ATAS APA YANG KITA CITA2KAN.DAN SELALU BERFIKIRAN POSITIF,SERTA MELAKUKAN HAL2 POSITIF,YANG MANA AKAN MEMBAWA DIRI KITA DENGAN SENDIRINYA KEPADA APA YANG KITA INGIN2KAN.


  1. 1 The Naked Traveller « RUMAH BACA Trackback on Thursday, February 12, 2009 at 7:47 am
  2. 2 Ritual Gunung Kemukus « RUMAH BACA Trackback on Wednesday, May 13, 2009 at 8:43 pm

Leave a Reply