Bertempat di Toko Buku Gramedia Matraman lantai 2, diskusi buku bersama Andrea Hirata berlangsung meriah. Ada kegaduhan kecil ketika para pengunjung yang tidak kebagian tempat duduk memadati area tengah sambil berdiri. Kontan saja para pengunjung yang duduk di samping kiri bereriak-teriak karena tidak bisa melihat sosok idola mereka. Panitia akhirnya tanggap dan meminta pengunjung bagian tengah untuk tertib dan duduk memadati area tengah.
Ketika pukul 13.00 sudah lewat barang 5 menit, pengunjung sudah mulai gelisah, karena Andrea Hirata dan bintang tamu yang dijanjikan, Wulan Guritno belum juga muncul di panggung. Itu barangkali taktik panitia untuk membuat fans si Ikal jadi histeris. Padahal menurut jadwal, acara kan dimulai tepat pukul 13.00 siang. Lewat 10 menit kemudian, Ikal dan Wulan muncul dengan dikawal petugas Gramedia yang berseragam hitam-hitam. Kontan saja pengunjung berdiri dan mengelu-elukan idola mereka, sambil berteriak, Ikal…..Ikal….Ikal!
Sesi tanya jawab langsung dibuka, dan hampir semua pengunjung angkat tangan untuk dapat bertanya langsung, termasuk saya. Beberapa kali saya gagal untuk dapat mengajukan pertanyaan. Menjelang tengah acara, dibuka lagi sesi sukarelawan untuk maju kedepan. Kali ini saya sudah hampir menyerah, karena banyaknya tangan yang terangkat. Dengan setengah semangat saya angkat tangan. Ternyata justru kali ini saya dapat kesempatan emas untuk maju ke panggung.
Saya tidak tahu mau disuruh apa oleh panitia. Ada 6 sukarelwan yang ditunjuk maju ke depan. Ternyata kami diminta membuat puisi tentang apa saja yang terkait dengan Ikal atau Laskar Pelangi. Wah, seru juga nih. Puisi apa ya? Sambil menunggu giliran, saya panggil anak terkecil saya untuk maju sambil membawa buku Laskar Pelangi untuk dimintakan tanda tangan kepada Andrea Hirata.
Pada giliran terakhir, akhirnya saya dapat ide puisi setelah melihat anak saya yang terkecil maju ke dapan sambil mebwa buku Laskar Pelangi. Beda dengan sukarelawan lainnya, saya baca puisi sambil menggendong anak saya. Inilah puisinya:
Setiap orang boleh punya mimpi
Setiap orang boleh punya cita-cita
Tapi nasib jualah yang akan menentukan
Kita akan jadi ada di masa depan
Seperti Lintang yang jenius itu, akhirnya menjadi seorang supir tronton
Kalupun saya punya impian atau cita-cita
Dan impian itu tidak terwujud
Saya akan titipkan impian itu
Kepada anak saya ini
Imantopo Dipo Suksma!
Dari 6 orang sukrelawan yang maju, saya termasuk dari 3 orang yang mendapat hadiah novel ”Chocolate” karya Joanne Harris dari Bentang. Saya pastikan untuk segera menulis review novel Chocolate ini, sambil menunggu munculnya Maryamah Karpov di penghujung tahun ini.
Bagi yang penasaran dengan penampilan baru Ikal, inilah dia:
<
Foto diambil dari www.sastrabelitong.multiply.com
Hartono



Selamat ya… Terima kasih atas kunjungannya.
lucunya… anak memang bawa berkah ya.
saya juga pernah datang ke salah satu acaranya andrea hirata dimana syukur banget nggak terlalu gaduh seperti yang di gramedia matraman, acaranya sendiri intim dan dikemas sederhana.
salam.
Want to joint, just leave a reply.. Numpang lewat doank,,
numpang asyik wae
Halo, gambar selebarnnya saya kopy ya untuk selebaran saya . Boleh kan?