Para Priyayi

para_priyayi.jpgNovel ini bercerita tentang Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan sanak saudaranya diharapkan dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten ia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa. Dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya melawati zaman Belanda dan zaman Jepang tumbuh sebagai guru opsir peta dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Benarkah? Lalu apakah sesungguhnya “priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya? 

Bagi yang senang dengan sejarah, romansa dan drama, buku ini mungkin merangkum semuanya. Novel “Para Priyayi“-nya Umar Kayam ini memberikan suatu gambaran masyarakat Jawa yang paling elaboratif dari karya lain yang pernah saya baca. Sungguh “Jawa”, ringan, diplomatis, sopan, berkesan basa-basi, tapi barmakna sangat dalam. Umar Kayam mereka–reka sebuah kota bernama “Wanagalih” yang sepertinya identik dengan Ngawi. Tidak jelas kenapa dia memakai nama ini sementara dari keseluruhan plot cerita, setting tempat dan waktunya boleh dikata nyata (tidak ada tempat rekaan) mulai dari Suasana perkampungan di Solo, Wonogiri, Yogya, sampai Istana Mangkunegaran, dll yang mencakup  tiga generasi di masa transisi Indonesia, dari zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan, Gestapu, sampai akhir 60-an.

Zaman-zaman yang penuh gejolak, dan sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Jaman yang tidak pernah saya alami sendiri, membaca novel ini ada gambaran yang bisa dimunculkan di dalam kepala tentang situasi saat-saat itu.Sebagian diantara setting novel ini merupakan daerah darimana saya berasal, dan tumbuh sehingga sangat subyektif memang kalau itu menjadi salah satu keasyikan saya membaca novel ini. Seperti mengendarai “mesin waktu”  balik ke masa lalu. Dan membandingkannya dengan gambaran yang saya punyai saat ini.

Cara bercerita dalam novel ini unik. Novel ini dibagi menurut tokoh tokohnya, Umar Kayam  bercerita sebagai orang pertama dari tiap tokohnya. Walaupun begitu, antara bagian satu dan seterusnya tetap menjadi bagian yang utuh yang menjadi satu kesatuan cerita yang bisa juga dibaca secara terpisah meskipun tidak terkotak kotak menjadi seperti kumpulan cerpen.

Bagian yang mengajak kita merenung ( dan cukup menarik menurut saya ) adalah dialog antara Lantip dan Pakdenya di akhir cerita setelah pemakaman Eyang Soedarsono ….

“Kalau menurut kamu, apa arti kata priyayi itu, Tip?”
“Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting bagi saya.”

Lewat novel ini sepertinya Umar Kayam ingin menyampaikan bahwa seseorang disebut priyayi bukan karena kedudukan dan kekayaannya, karena banyak juga para priyayi ( dalam kontek sekarang kita bisa membacanya pejabat / penguasa..? ) yang justru tidak ’mriyayeni’. Sebuah karya yang bisa menjadi rujukan bagi mereka yang ingin mengenal kehidupan masyarakat tradisional Jawa, ataupun buat mereka yang ingin mencari akar Jawanya..!!?

(Resensi ditulis oleh Nugroho)

17 Responses to “Para Priyayi”


  1. 1 Hartono Friday, August 31, 2007 at 2:35 am

    Saya dulu juga menikmati novel Umar Kayam ketika masih kuliah di Jogja, “Mangan Ora Mangan Kumpul.” Nuansa egaliter, kerakyatan dan apa adanya memang kuat tergambar di sana, bahkan tergambar jelas lewat karakter sesungguhnya dari Umar Kayam sendiri. Melihat hidup tidak secara rumit dan basa-basi. Dalam urusan makan misalnya, dia enak saja menikmati “jerohan” atau “rempelo-ati” yang full colesterol itu, meskipun tahu itu tidak baik bagi kesehatan tubuhnya. Gimana lagi, lha wong enak tenan je!

    Saya tunggu tulisan resensi berikutnya Mas Nug!

  2. 2 Book Lover Tuesday, September 4, 2007 at 9:12 am

    Seems like you love to read…

  3. 3 Ipul Tuesday, December 4, 2007 at 11:55 am

    buku ini benar2 ngasih pemahaman mengenai jawa , bener2 buat kerasa jadi WONG JOWO SING ORA NJOWO. pemahamannya simpel untuk dicerna tapi dalam banget artinya, buku keren nie…

  4. 4 Priharto Thursday, January 24, 2008 at 9:36 am

    Saya setuju Mas Nug: Para Priyayi memang enak dibaca, ringan, elaboratif,informatif,kontempaltif juga. Saya berkali-kali baca, terutama bagian Harimurti yang keseret Gestapu itu, lho. Jan, mengharukan tenan. Kasihan, orang sebaik dia harus menderita seperti itu: dipenjara dan kehilangan anak-bojo.

    Saya juga setuju Mas Hartono: Mangan Ora Mangan Kumpul memang gurih. Sampai sekarang, buku itu selalu ada di kolong tempat tidur saya. Sebelum tidur, paling tidak saya sempat baca 1 atau 2 cerita. Isteri saya pernah tanya: nggak bosan, Pak? Eh, waktu dia ikutan baca, nggak mau berhenti sebelum semua selesai. Dan tanya ‘lanjutannya”. Dia sudah melahap Mangan Ora Mangan Kumpul dan Sugih Tanpa Banda. Padahal dia bukan orang Jawa. Gaya ceritanya enak, gampang ditangkap, katanya. Dan Jawa banget, katanya lagi.

    Juga dia jadi percaya bin yakin, Bondan Winarno memang ngambil “mak nyus” yang suka dia omongkan di acara kuliner di televisi itu dari Mangan Ora Mangan Kumpul-nya Kayam.

    Baguslah! Mudah-mudahan itu jadi bekal tambahan buat memahami suaminya yang Jowo, baik hati, dan tidak sombong ini. Juga suka menabung –kalo pas ada duit lebih. Nabung di toko buku, maksudnya.

  5. 5 maskun Wednesday, February 27, 2008 at 8:08 pm

    buku ini benar benar membuat kita masih dibumi (?). Jaman yang serba cepat, serba individualistis pokoknya serba sok modern yang akhirnya melupakan tatakrama, melupakan kekerabatan. Dengan membaca buku ini, irama hidup diperlambat. Disegarkan kembali jiwa kemanusiaan kita. Diingatkan kembali akar budaya. Pokoke, murid saya wajib baca buku ini.

  6. 6 agung Tuesday, April 15, 2008 at 4:39 pm

    Para Priyayi menggugah kejawaan saya sebagai orang jawa. Matur Suwun sanget kagem (alm) Prof Umar Kayam yang telah (membuat saya) membenahi diri ttg bagaimana seharusnya/ sebaiknya menjadi orang jawa bersikap.
    Setelah membaca novel ini menagnatar perubahan tentang cara pandang saya dalam mendifinisikan priyayi.

  7. 7 vivin Friday, May 30, 2008 at 8:09 pm

    gara-gara ada tugas apresiasi prosa untuk membuat kritik terhadap novel Para Priyayi, saya diharuskan untuk membaca novel ini. awalnya mwales pwol, karena tebal bukunya lebih dari 300hal. tapi setelah baca, malas untuk istirahat karena segera ingin mengetahui isi novel dan siapa dan bagaimana priyayi itu.
    ternyata seru juga ya..
    aku kagum terhadap para pejuang karya sastra .

  8. 8 pandita Monday, November 3, 2008 at 4:56 pm

    wah kalo saya lain lagi…
    saya beruntung sudah membaca novel karya (alm) Prof.Umar Kayam ini saat saya masih di bangku SMP. memang pada awalnya saya malas membaca tapi saya terarik pada tantangannya. terakhir keberuntungannya adalah ternyata saya disuruh dosen daya memberikan komentar saya untuk novel ini. tinggal ngetik deh.

  9. 9 Yue Sunday, December 7, 2008 at 1:38 pm

    Salah seorang teman yang kebetulan menyukai buku karya Umar Kayam meminjamkan buku ini. Benar-bener buku yang bagus…membaca buku ini membuat saya mengerti apa itu priyayi dan hubungan sebuah kekeluargaan dalam arti yang sesungguhnya…

  10. 10 trex Thursday, February 12, 2009 at 10:42 pm

    falsafah hidup tiap anak manusia memang tak ada yang sama, namun beliau dengan ringkas dan tanpa “nylentik thinthil” (menyinggung hati) telah menampar nadi kesadaran kita untuk kembali mawas bahwasanya “label buatan” manusia tak ada artinya di hadapan-Nya
    tanpa mengurangi rasa hormat kepada Saudaraku yang lain: jadilah WONG JAWA SING NJAWANI
    jadilah MANUSIA YANG SADAR AKAN KE-MANUSIAAN-NYA

  11. 11 Rachel Wednesday, February 25, 2009 at 11:25 pm

    Betul-betul buku yang indah. Saya jadi bangga memiliki setitikpun darah Jawa. Benak juga jadi tergugah untuk menjadi priyayi jaman modern; tumbuh jadi seorang pribadi berpendidikan tinggi yang mampu serta sangat sudi memimpin bangsa ke masa depan.

    Saya kagum berat kepada Umar Kayam yang telah mengabadikan budaya Jawa dalam buku-bukunya. Saya doakan supaya Indonesia melahirkan lagi sastrawan yang menyaingi dan turut meneruskan karya Umar Kayam, Pramoedya, Tohari dan lain-lainnya.

  12. 12 potpet Monday, April 13, 2009 at 7:25 pm

    mau aja membaca buku/novel ini. harapnya dilibrary ada. kerna disini susah mahu mendapatkan buku-buku dari sana. lebih-lebih lagi yang telah lama ditulis. cheers.

  13. 13 chy yank manEz Saturday, February 6, 2010 at 7:08 pm

    buku yang saya anggap sangat menarik untuk dbaca. cerita yang sederhana djaman sejarah. crita ini mampu memberi motivasi dan plajaran sederhana dalam kehidupan. buku ini salah satu buku yg tidak bisa saya lupakan setelah membacanya. benar-benar buku yang indah.

  14. 14 Fajar Tuesday, October 26, 2010 at 6:10 pm

    Wah, saya curiga. Jgn2 ini mas nugroho nya mbah sastrodarsono. hehehe. canda mas. saya sudah baca. memang betul ,justu para priyayi2 yg palsu itu yg merusak citra priyayi sesungguhnya. Di sisi lain, saya menangis ketika selesai membaca novel ini. Di mana lantip yg mulai merenungi “nasib” dia. Saya terharu di bag akhir. “Apakah mbok dan ibu mendengar keputusan musyawarah keluarga sastrodarsono, bgmn bila mereka mendengar itu?” (kalimat tepatnya saya lupa, yg di bagian ketika mereka hendak mengiringi jenasah sastrodarsono.

  15. 15 Maria Nugraheni Tuesday, December 28, 2010 at 12:53 pm

    Membaca novel ini membuat saya memiliki sedikit gambaran tentang keadaan keluarga eyang saya pada jamannya.🙂

  16. 16 gathot aw Thursday, October 27, 2011 at 9:50 am

    “madhep ngalor sugih madhep ngidhul sugih” juga mak nyuusss…..

  17. 17 dewa Tuesday, March 27, 2012 at 4:47 pm

    pengen membaca dan membaca lagi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: