Glonggong

glonggong.jpgDe Javasche Oorlog adalah perang 5 tahun yang menguras habis tenaga kedua pihak: Belanda dan rakyat Jawa. Karena perang inilah hutang Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda meningkat tajam yang berarti juga keuangan Kerajaan Belanda terkuras habis untuk membiayai perang ini. Karena perang ini pula jutaan rakyat Jawa mati, baik karena perang ataupun kelaparan sebagai akibat taktik isolasi Benteng Stelsel yang diterapkan Belanda. 

Perang ini menarik karena inilah perlawanan terakhir Kerajaan Jawa yang pengaruhnya menurun semenjak Perjanjian Giyanti 1788. Perang ini juga menarik karena perlawanan yang diberikan bukanlah perlawanan kecil yang gagal, tetapi perlawanan besar setara Perang Kemerdekaan di tahun 1945-1949. Sedemikian besarnya perlawanan itu sehingga Belanda perlu merancang cara untuk menjebak Pangeran Diponegoro melalui sebuah perundingan yang dirancang dilakukan pada bulan Puasa. Sebagai seseorang yang ingin menunjukkan diri sebagai role-model Sultan Kalifah Panata Gama, Diponegoro tidak ingin menumpahkan darah pada Bulan Puasa sebagaimana contoh Rasulullah SAW. Karena itulah undangan Belanda untuk perundingan gencatan senjata pada Bulan Puasa dipenuhinya, sebuah undangan yang berujung pada penangkapan dirinya.  

Junaedi Setiyono menuliskan Perang Jawa itu dari sudut pandang bangsawan rendah yang terbuang: Glonggong. Setiyono nampak berusaha menjelaskan mengapa Perang itu sampai gagal. Kegagalan bukan karena kuwalat yang disebabkan pengangkatan Pangeran Diponegoro sebagai Sultan tanah Jawa, melainkan karena sabotase-sabotase yang dilakukan oleh orang-orang yang justru berada di belakang Pangeran.
 

Glonggong adalah nama panggilan Raden Danukesuma, yang disematkan sendiri oleh Pangeran Diponegoro semasa remaja saat dalam satu perjalanan ia menonton kehebatan Danukesuma bermain pedang Glonggong. Permainan pedang glonggong adalah permainan pedang-pedangan menggunakan glonggong atau buluh batang pepaya. Permainan ini masih ditemukan hingga tahun 1980-an dan perlahan menghilang seiring dengan masuknya permainan-permainan modern yang menjauhkan anak dari lingkungan sosialnya. 

Glonggong sendiri menjalani kehidupannya dengan sangat berat. Ibunya adalah istri seorang senapati Raden Rangga yang memberontak pada awal 1800-an. Raden Mas Suwanda yang menjadi ayah tirinya memperistri ibu Glonggong setelah menipunya dengan mengabarkan bahwa ayah kandung Glonggong mati dalam pemberontakan. 

Glonggong merasakan penderitaan ibunya yang hanya bisa menembang dan melamun. Penderitaan ini dirasa semakin pedih setelah Raden Mas Suwanda mengusir ibunya dan dirinya dari Dalem Suwandan. Pengusiran itu membuat mereka kehilangan trah ningrat mereka. Di sini nampak penggambaran struktur sosial masyarakat Jawa saat itu yang sangat tidak seimbang dan patriarkis. Keningratan Glonggong tidak ditentukan secara genetis tetapi secara politis. Secara politis Glonggong kehilangan gelar Raden setelah ayahnya memberontak. Secara politis pula gelar itu masih dia dapatkan karena ibunya menikah dengan seorang bangsawan. Secara politis juga ia kehilangan kembali keningratannya setelah ayah tirinya menceraikan ibunya setelah mendapatkan istri baru.  

Pada bagian lain, novel ini menggambarkan bagaimana kebobrokan mental para penguasa yang menjadi tumpuan harapan rakyat. Sudut pandang “aku” yang digunakan dan setting sebuah surat yang menjadi dasar cerita, membuat penggambarannya seperti mosaik. Tertempel-tempel dalam potongan-potongan yang berangkai ketika seseorang menulis cerita kehidupannya pada sebuah surat ke teman lama di Amsterdam, dan tempelan itu saling menyambung membentuk sebuah gambaran kehidupan rakyat saat itu yang utuh.   

Semenjak itu, aku cukup laris mengawal para priyayi dengan berbagai macam kegiatannya. Namun, urusan yang paling digemari adalah perkara yang kaitannya dengan judi dan perempuan.

Entah apa arti melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani bagi mereka. Kang Danar pernah membisikiku bahwa pangeran yang baik, yang kita boleh berharap banyak padanya, tidak mungkin berasal dari putra sultan garwa padmi. Yang lebih mungkin adalah pangeran yang lahir dari garwa selir. 

Begitulah kebobrokan mental para trah penguasa yang digambarkan oleh Setiyono. Bagaimana mungkin nasib satu bangsa ditentukan oleh seseorang yang di masa mudanya berfoya-foya, berjudi dan main perempuan. Bagaimana mungkin seorang kalifah pemimpin agama dipimpin oleh pangeran yang justru ma-lima.  

Tapi, keunggulan novel ini justru bukan pada perspektif aku yang dibawakan begitu menarik. Bukan pula pada filosofi Jawa yang diajukan, seperti pada judul-judul babnya yaitu Beda-beda Panduming Dumadi, Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati, Cakra Manggilingan, Yitna Yuwana Lena Kena, dan Jer Basuki Mawa Bea, yang diambil dari Wedhatama.  

Keunggulan novel ini terletak pada pembalikan hitam dan putih tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh yang di awal digambarkan antagonis, di bagian tengah justru menjadi protagonis, seperti Raden Mas Surya. Di awal Den Mas Surya digambarkan sebagai anak priyayi licik yang menggunakan segala cara untuk menang adu pedang glonggong. Tapi di bagian tengah justru Den Mas Suta yang menolongnya setelah rumahnya habis dibakar Den Mas Suwanda.  

Demikian pula dengan tokoh protagonis justru digambarkan sebagai antagonis di bagian tengah dan akhir seperti Kiai Ngali yang sangat bijak pada bagian awal justru mengumpankannya pada pengadilan Belanda dengan menyuruhnya mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan. Begitu pula dengan Suta, anak Kiai Ngali yang berguru pada Kiai Maja. Pada bagian awal Suta adalah teman baik Glonggong. Dia juga digambarkan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Tetapi di bagian akhir disebutkan bahwa Suta yang telah menjadi Kiai Sufyan justru menjadi pengkhianat karena telah mencuri harta pangeran yang dikawalkan ketika dikirim untuk ditukarkan dengan senjata. Bahkan uang harta itulah yang digunakan untuk mendirikan pesantren sehingga ia mendapatkan gelar Kiai.  

Gambaran simbol agama yang tidak hitam putih itulah yang ditunjukkan oleh Setiyono. Gambaran bahwa yang terpenting bukan pada simbol melainkan pada kepribadian. Bukan pada bungkus seperti jubah putih dan surban, atau gelar berderet semacam Kiai atau Bendara Raden Mas, melainkan pada isi diri yang ada di dalam. Filosofi ini terdapat dalam Kitab Wedhatama yang dalam novel ini ditunjukkan sebagai Kitab pertama yang dipelajari oleh tokoh utama yaitu Glonggong.  

Selebihnya, sebagai sebuah novel pertama yang langsung memenangkan Sayembara, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Mengapa sifat Suta menjadi begitu berubah tersilap harta tidak nampak pada percakapan antara Glonggong dan Suta setelah bertahun tidak bertemu. Sebagai seorang teman yang yakin akan kebaikan sahabatnya, tentunya Glonggong akan sangat terkejut mendengar pengkhianatan Suta. Keterkejutan ini tidak nampak. Bahkan Glonggong menceritakan dengan tenang ihwal harta Pangeran yang dibawanya seolah tidak tersirat bahaya dengan menceritakan harta tersebut. Satu hal yang bertolak belakang dari upaya penuh rahasia dan bahaya menyelamatkan harta itu sampai-sampai Glonggong hampir dijatuhi hukuman oleh pengadilan kolonial. Sebagai manusia, tentunya Glonggong akan tutup mulut setelah mengetahui sejarah Suta, apalagi Suta telah bercerita bahwa dia mencuri harta itu dan berpura-pura dibegal. Glonggong tentu juga akan banyak bertanya mengapa Suta bisa sampai hati berkhianat, bahkan pertengkaran mulut tentunya dapat terjadi di bagian ini.  

Kekurangan lain adalah alasan ditulisnya surat ke Hendrik. Memang benar, kesan pertama akan menetap selamanya. Apalagi bagi seorang pribumi yang sempat berbicara dengan orang Eropa yang dianggap asing serta berkuasa. Walaupun begitu, ucapan sambil lalu Johan agar Glonggong menulis surat kepada Hendrik pada saat Pangeran Diponegoro ditangkap tidaklah cukup alasan yang membuat Glonggong menulis surat yang menjadi novel ini. Di sinilah inkonsistensi muncul. Situasi akan nampak lain apabila digambarkan satu adegan setelah Parapatan Agung itu, katakanlah Glonggong bertemu dengan Johan dalam satu saat khusus dan Johan menyampaikan pesan Hendrik dan meminta Glonggong menulis surat pada Hendrik. Tentunya setelah Johan meminta maaf akan perang yang terjadi untuk mencairkan suasana. Tentunya berada pada ujung depan sebuah konflik perang membuat Glonggong tidak lepas dari keberpihakan terutama kebencian pada Belanda.  

Kekurangan lain yang mengganggu terletak di bagian akhir cerita. Akhir cerita menggantung dengan tangisan diam Danukusuma melihat berlalunya kereta yang berisi Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro adalah setting cerita ini, dan tentu bukan tujuan cerita karena yang nampak sebagai tujuan cerita adalah kehidupan Glonggong. Bagaimana dengan Endang? Apakah mereka akan menikah? Yang lebih penting lagi, bagaimana Glonggong dan Endang memaknai kisah ini seperti yang ditandai oleh munculnya simbol-simbol isi Kitab Wedhatama? Lalu, bagaimana dengan Rubinem yang minta ditinggal oleh Glonggong sambil berpesan untuk kembali bila telah menemukan jodoh? Akhir cerita akan sangat menarik dan memuaskan apabila simpul-simpul yang terserak di tengah-tengah novel ini disatukan pada bagian akhirnya.  

Terlepas dari kekurangan novel ini dan bagian akhir yang membuat novel ini bagai baju rajutan yang belum selesai dan tidak terjahit rapi, novel ini telah mengajukan berbagai macam hal yang sangat menarik: mozaik warna-warninya situasi politik di Jawa saat itu, kemunafikan yang terjadi, dan pesan moral untuk menerima hidup apa adanya dan mencari makna terdalam dari kehidupan ini. Novel ini juga tepat bagi pembaca yang hendak memulai membaca novel-novel serius dan berat seperti karya-karya Pramoedya, Soeparto Brata, Gus tf Sakai, atau Umberto Eco.

(Resensi ditulis oleh Jusuf Agung)

5 Responses to “Glonggong”


  1. 1 Hartono Tuesday, September 4, 2007 at 4:55 am

    Dengan bermunculannya novel-novel sejarah, kini kebenaran mulai menampakkan jati dirinya. Tidak lagi milik penguasa. Versi lain dari sejarah mulai terbuka. Sejarah pada awalnya memang ditulis menurut versi yang punya kuasa: HIS STORY (cenderung patriarki), bukan HER STORY atau OUR STORY.

    Kini, kita harus mulai obyektif bahwa Pangeran Diponegoro yang suka bersorban putih, berjubah putih, menunggang kuda putih yang gagah perkasa itu, bukan berarti lalu kita mengkultus-individukan beliau. Segala atribut itu memang dirancang untuk memompa semangat juang prajurit Jawa melawan Kumpeni. Kharisma kepemimpinan akan gampang tersulut dengan atribut yang serba putih itu.

    Untuk kasus yang hampir sama, itulah yang kini dipraktekkan AA Gym dengan sorban dan senyum manisnya itu…

  2. 2 nug Tuesday, September 4, 2007 at 6:16 am

    Wah sepertinya novel ini masuk ke ranah ‘kesukaan saya – novel sejarah. Yang biasanya ‘diawali dengan riset”..? Orang bilang sejarah memang milik penguasa Mas Har,..berawal dari situ saya suka baca Roman2 nya Pram ( yg kata Pak Yusuf dia ahlinya riset ). ..membaca pram paling tidak ada persepsi lain yang dia coba tawarkan.. Come ‘on para pramis .. coba bikin resensi buku2nya Pram and kita bisa mulai diskusi nya,…
    Sekarang saya juga lagi nyari2 buku Indonesia Dalem Api dan bara, karangan Tjamboek Berdoerie (alias opa kwee)….bukan novel tapi lebih mirip reportase. ini juga bercerita soal ‘sejarah’ yang terlupakan ( atau emang sengaja ditutupi..??) ada yang punya info soal buku ini …????

  3. 3 Drs. RM Putra Wisnu Agung Diponegoro, M.Si Thursday, September 6, 2007 at 1:13 am

    Diponegoro itu perang karena kepentingannya terganggu. Beliau ambisi sekali untuk jadi HB. Malima itu biasa dalam tradisi feodal jawa. Perang Jawa itu perang untuk hegemoni kraton dengan memperalat rakyat. Untuk lebih meyakinkan dipakailah agama sebagai alat politik. Ingat, Diponegoro pakai jubah putih yang digunakan sebagai lambang Imam Mahdi. Sebelum perang gaya hidup beliau ya aristokratis.

    Kraton Jawa itu kan gaya hidup hedonis-manipulatif. Raja jawa itu tidak punya karya agung. Bahkan Wedatama yang diklaim karya MN IV, itu karya orang lain. Begitu juga Sultan Agung. Gelar itu dapat dibeli dari Turki. Doktor palsu begitulah. Ini tidak lepas dari politik kompeni untuk memberangus kekuasan raja.

    Memang harusnya kita kocok penulisan sejarah bangsa kita. Kita ini sangat miskin informasi sejarah. Yang ada adalah karya asing. Budaya tulis kita hanya terbatas pada relief dan prasasti. Itu saja sifatnya subyektif.

    Salam.

  4. 4 nug Friday, September 21, 2007 at 4:48 pm

    masak budaya tulis kita hanya terbatas di prasasti dan relief sih …???? atau maksudnya dalam kontek sejarah ..???? karena toh ada beberapa hasil tulisan kita yang juga cukup melegenda ‘salah satunya wedatama,..atau “Centhini” juga La galigo …??? Karya – karya yang ternyata cukup menarik perhatian orang asing juga. Dibeberapa suku bangsa budaya menulis saya pikir juga cukup kuat meski dalam format yang tidak lazim buat pembaca sekarang, kita kenal budaya menulis di lontar misalnya ( bali , sulawesi ..?)

  5. 5 wikupedia Sunday, September 14, 2008 at 2:24 pm

    permisi …ikut berkomentar…

    1. untuk ‘masnya’ yang bergelar RM, lucu juga ya, dalam tulisan anda seperti mengkritik pola aristokrat jawa, namun dari nama anda, begitu aristokrat juga ya…nama yang jowo banged, dan gelar RM yang memakai huruf besar…memang hidup itu melulu tentang paradoks…

    2. untuk tulisan mengenai glonggong :

    a. saya pikir novel ini adalah jenis penulisan sejarah yang lain dari yang lain, kelainannya adalah justru dari ketidakdetailannya, entah sadar atau tidak, tapi saya berkeinginan untuk berpikir bahwa penulis ingin mendobrak cara penulisan sejarah yang melulu harus detail dan terkadang mengorbankan keutuhan cerita. padahal kisah yang harus menyenangkan dibaca dalam kisah dengan unsur-unsurnya seperti plot, tokoh dan kisah itu sendiri. penulis ingin berkisah, berkisah tentang seorang tokoh yang tujuan hidupnya tidak lain tidak bukan untuk menyelesaikan kewajiban, yang adalah mengantarkan barang bawaan pada pemiliknya, pangeran diponegoro.

    b. oleh karena itu ending yang sedemikian rupa, tidaklah masalah, mengenai endang dan rubinem, telah jelas secara simbolik bahwa glonggong memang tidak memikirkan begitu dalam tentang mereka, yang ia pikirkan hanya menyelesaikan kewajibannya yang belum tuntas. saya pikir tokoh laki-laki bernama glonggong adalah tipe jenis lelaki yang hanya bisa fokus pada satu hal, pekerjaan. karakter seperti ini saya pikir sangat relevan, karena di masa dulu, selain para bejat, selalu muncul tokoh-tokoh seperti glonggong, dan dalam novel ini karekternya dibina sejak awal, glonggong tidak pernah tertarik berlebihan pada lawan jenis, dan ini konsisten, bahkan ketika semua kesempatan ada, glonggong tidak bergeming, ia tetap pada tugasnya pada tujuan hidupnya. meski sempat mengajak menikah rubinem, namun pernikahan itu tidak pernah terjadi

    c. dan terakhir, mengapa harus menulis surat. dalam membuat sebuah cerita, tentu penulis harus pintar mencari trik-trik agar pembaca tidak bosan, dan agar cerita tampak seperti menarik. pembukaan surat seperti dalam glonggong adalah tentu sebuah trik yang dilakukan penulis untuk membuka kisahnya. dan saya pikir penggunaan trik surat ini juga tidak masalah, kembali lagi saya menangkap secara tersirat bahwa ‘keterdesakan’ johan yang meminta glonggong untuk menulis surat pada hendrik adalah untuk menceritakan kebenaran yang terjadi dalam seputar kejadian yang menyertai tindak tanduk pangeran diponegoro. pertemuan awal antara glonggong dan johan serta hendrik, sudah cukup menyiratkan (lagi-lagi) sebuah hubungan sahabat yang sering terjadi antara pribumi dan belanda, mengenai bagimana detail hubungannya, yang itu mungkin bisa diceritakan nanti di glonggong edisi 2 (hehehe)..

    begitu deh…maaf nih kalo komentarnya panjang dan banyak salahnya…maklum lagi belajar menulis….

    hatur nuhun


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: