Filosofi Kopi

filosofi-kopi.jpg

Suatu malam di kedai kopi “Jasa Ayah” di daerah Ulee Kareng, Banda Aceh, saya bertanya pada seorang teman penikmat kopi, ”frankly speaking, enakan mana kopi tarik Ulee Kareng dengan kopi Starbuck Coffee?” Teman saya tidak langsung menjawab. Dia sedikit berdiplomasi, “well, dari segi rasa, jelas enakan di sini. Mantap! Tapi kalau saya masih sering ngopi di Starbuck Coffee itu soal lain bung! Di Starbuck Coffee terus terang saya beli suasananya!” Itu dia! Kopi sudah menjadi semacam sub-kultur pada jagat manusia moderen saat ini.  

Kumpulan cerpen dan puisi Dewi Lestari, atau biasa dipanggil Dee, dengan judul sampul ”Filosofi Kopi” berhasil menohok soal kopi secara cerdas. Kumpulan cerpen yang terdiri dari 18 tulisan ini merangkum tulisan Dee yang ia kumpulkan selama periode 1995-2005. Saya sangat tertarik dengan tulisan tantang kopi ini daripada tulisan lain, seperti Mencari Herman, Sikat Gigi, Kuda Liar, Budha Bar, atau Rico de Coro. 

Fiosofi Kopi bercerita tentang obsesi Ben yang gila kopi, hingga rela pergi ke berbagai pelosok dunia hanya untuk mencari racikan kopi yang sempurna. Hasil pengembaraanya kemudian dia wujudkan dengan mendirikan kafe bersama temannya, Jody. Kopi racikan Ben selalu hadir bersama narasi yang dicetak dalam selembar kartu, yang menjelaskan karakter dari kopi yang akan diminum setiap tamunya. Kafe Ben menjadi ramai karena setiap pengunjung bebas memilih kopi yang sesuai dengan karakter mereka. Puncak pergulatan Ben adalah racikan kopi sempurna yang ia beri nama ”Ben Percefto.” Kopi yang dijual Ben sungguh mahal harganya. Anehnya, orang mau saja membeli kopi mahal itu.

Ben merasa inilah puncak pencapaian obsesinya, hingga suatu hari ia kedatangan seorang pengunjung tua yang memesan ”Ben Pefecto.”  Dengan tegang, Ben menunggu reaksi tamu yang barusan minum kopi andalannya itu. Bapak itu tidak segera memuji, tapi cuma berkata datar, ”kopi ini enak, tapi menurut saya ada yang lebih enak lagi.” Ben sungguh cemas mendengar komentar menyakitkan ini. Ben langsung menghujani pertanyaan di mana dia bisa mendapatkan kopi yang lebih enak itu. Bapak itu memberi selembar alamat kedai kopi di sebuah desa lereng gunung Merapi, Jawa Tengah. Kedai kopi sederhana ini milik Pak Seno. Dia menamainya ”Kopi Tiwus.”  Kopi pak Seno tidak mahal, bahkan tidak punya harga pasti. Orang bisa minum kopi sambil makan pisang goreng, kemudian membayar sesuai dengan uang yang ada di saku mereka. Kadang-kadang ada yang membayar 200 rupiah, 500 rupiah, atau 1000 rupiah.  

Jujur, Ben mengakui kopi Pak Seno sungguh nikmat. Tapi di atas segalanya, Ben merasa terpukul bahwa selama ini dia telah membodohi pengunjung setianya dengan narasi yang membuat harga kopinya melambung tinggi, yang membuat dirinya kaya. Di kedai Kopi Pak Seno, Ben menemukan kesederhanaan yang sudah lama dia lupakan.  ”Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap  kopi, punya sisi pahit yang tidak mungkin kamu sembunyikan.” 

(Resensi ditulis oleh Hartono)

16 Responses to “Filosofi Kopi”


  1. 1 Astrikusuma Thursday, September 6, 2007 at 9:51 am

    Filosofi Kopi. Kumpulan cerpen dan prosa satu dekade yang memikat. Kental dengan aroma cinta (terhadap banyak hal) dan persahabatan, meskipun ada juga beberaa tulisan dimana Dee seolah berbicara pada dirinya sendiri sebagai bentuk perenungan tanpa khotbah menjemukan bagi pembacanya. Buku ini seperti secangkir kopi hangat plus creamer di jam setengah 4 sore pada hari kerja. Enak, nyaman.

    Walau kadang terasa tragis, namun persahabatan yang muncul dalam cerpen-cerpen di buku ini indah untuk direnungkan. Persahabatan Ben dan Jody dalam memaknai Filosofi Kopi (Sungguh, cerpen ini BAGUS!). Persahabatan Hera dan teman kakaknya dalam mencari Herman. Persahabatan Tio dan Egi. Ada pula persahabatan Lana dan temannya yang sesama pecandu Kho Ping Hoo.

  2. 2 nug Thursday, September 6, 2007 at 11:46 am

    Saya setuju ama mas har, bahwasanya cerpen yang ajdi judul kumpulan ini emang menarik…
    lebih mnearik juga ketika di akhir cerita ditunjukkan bagaimana Si Tokoh meninggalkan cek – nya kepada Pak Seno… yang akhirnya hanya disimpan di lemari baju sebagai ‘kenang-kenangan orang dari Jakarta” .. tanpa merasa perlu dan tak tahu untuk apa selembar kertas tersebut.. Betapa bagi Pak Seno hidup terasa sangat sederhana,….!! sepertinya Dee secara ironis ingin membandingkan betapa berbedanya nilai hidup masyarakat desa ( baca : filoshopi hidup ‘asli’ kita ) dengan nilai hidup kota ( kapitalisme – globalisasi)yang secara perlahan mulai menggerusnya …??????

  3. 3 hartono Friday, September 7, 2007 at 2:58 am

    Waktu dipanjami buku itu oleh Ibu Esty Febriani, dalam perjalan pulang Surabaya-Jakarta, saya kembali disadarkan bahwa kesederhanaan itu adalah batas tertinggi dari nilai hidup. Sebaliknya ketika orang merasa kurang, akan selalu minta lebih, lebih dan lebih. Dan itu tidak ada batasnya. Kesederhanaan itulah batas tertinggi. Thanks Dee for inspiring me through your “Filosofi Kopi.”

  4. 4 saiful Monday, February 9, 2009 at 11:21 am

    Sangat menyentuh dan menohok ya?! Luar biasa!! Bertahun tahun saya jadi penggemar kopi, sejak kecil bahkan, karena memang sudah jadi kebiasaan keluarga untuk minum kopi. Tapi tak menyangka ternyata kopi punya sisi lain yang luar biasa. Salut buat Dewi Lestari. Aku tetap suka kopi ^_^

  5. 5 albe Tuesday, June 29, 2010 at 10:40 pm

    sinopsis yang saya baca di atas
    membuat saya penasaran untuk memburu bukunya

  6. 7 dinoyudha Friday, July 16, 2010 at 8:51 am

    Saya kok sepertinya pernah membaca cerita tentang Ben, namun tidak di Buku Filosofi Kopi-nya Dee ya.. tapi di mana ya? apa itu Buku Dee ya yang saya baca…

  7. 8 Ijoet Thursday, March 24, 2011 at 2:24 pm

    Kalo boleh tau beli buku ini dimana ya??
    Ini buku lama yang saya cari2
    saya kangen dengan buku ini

  8. 9 yunus rm Thursday, March 22, 2012 at 12:12 pm

    saya sangat senang membaca tulisan ini. salam dari makassar !

  9. 10 biowarda Thursday, November 1, 2012 at 3:32 pm

    ada yang punya karayanya pramoedya, gk?

  10. 11 shofamushofa Sunday, November 11, 2012 at 11:55 pm

    indah memang rasa kopi ter gantung keihlasan sipembuat

  11. 13 Muhammad Reza Jaelani Wednesday, April 8, 2015 at 2:54 pm

    panas – dinginnya sebuah kopi anda haruss tetap bisa menikmatinya secara perlahan lahan ,bukan untuk menghabiskanya secara langsung.
    by(Reza Jaelani) pin 7DC43912


  1. 1 Filosofi Kopi « Trackback on Tuesday, October 6, 2009 at 9:54 am
  2. 2 Perahu Kertas « RUMAH BACA Trackback on Sunday, June 19, 2011 at 5:40 pm
  3. 3 Madre « RUMAH BACA Trackback on Tuesday, November 8, 2011 at 10:10 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: