The Kite Runner

kite-runner.jpgThe Kite Runner bertutur tentang perjalanan panjang tokoh sentral Amir, hubungan emosionalnya dengan Baba, persahabatan dan pengkhianatan. Dengan latar belakang kultur Afghanistan yang kental, The Kite Runner membawa pembaca memaknai tindakan seorang anak kaya yang menggunakan kekuatan pengetahuan dan kekuasaan atas sahabatnya Hassan. Hasrat untuk menjadi anak terbaik Babanya yang tidak sudi berbagi ruang bahkan dengan orang yang sangat mencintainya dibalut rasa cemburu, iri hati dan kegelisahan, menuntun Amir kecil melukai Hassan dengan sadar. Sejalan dengan waktu, Amir tidak pernah sungguh-sungguh lepas dari masa kecil dan rasa bersalah terhadap Hassan.

Novel ini dibuka dengan ingatan Amir tentang masa kecilnya di Afghanistan, rangkaian kejadian yang memaksa dia dan Baba meninggalkan tanah kelahiran, menjadi pengungsi di negeri asing, memulai hidup baru di Amerika dan keengganan untuk kembali berhubungan dengan rumah sejati Baba.

Kekuatan novel ini terletak pada kemampuan Khaled Hosseini memberi nilai persahabatan bagi seorang Amir dan seorang Hassan. Karakter Amir dibangun dan bertumbuh atas balutan emosi – sisi-sisi gelap yang manusiawi ­– yang membuatnya sangat nyata bagi pembaca. Sentuhan Hosseini menyadarkan kita tentang pilihan yang dapat dibuat oleh seorang manusia, bahkan ketika masih kanak-kanak, yang pada akhirnya bermuara ke pencarian sejati tentang siapa kita sesungguhnya. Toh, kejujuran atas kelemahan seorang Amirlah yang membuat pembaca melihat Amir apa adanya, tidak ada simpati yang berlebihan atau rasa benci yang berkepanjangan. Karakter Hassan, di lain sisi, dibangun dan dipelihara secara konsisten sebagai seseorang yang karena kemurniaan hatinya menciptakan ketidakamanan bagi seseorang yang ”senormal” Amir. Namun dengan cerdas, Hosseini tidak membawa karakter Hassan ke titik dimana kemurniaan jiwa menjadi naif. Hubungan Amir dengan Baba diwarnai dengan kekuatiran Baba sepanjang kisah akan ketidakmampuan Amir membela dirinya sendiri — naluri seorang ayah untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya dan hasrat seorang anak untuk menjadi kebanggaan ayahnya. Hubungan ini terbangun jauh melewati batas permainan kanak-kanak seperti yang diungkapkan Amir: ”we actually deceived ourselves into thinking that a toy made of tissue paper, glue and bambo could somehow close the chasm between us”.

Bagi sebuah kisah yang dilatarbelakangi sejarah, perubahan politik di Afghanistan dan tradisi yang kental, The Kite Runner justru menawarkan hubungan manusia yang sangat universal. Seluruh rangkaian peristiwa maupun tokoh-tokoh yang hadir dan memperkaya kehidupan Amir, dipertimbangkan dengan cermat oleh Hosseini tanpa menciptakan hiruk pikuk yang tak berarti. Sebuah kisah yang merefleksikan ”sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang”

(Resensi ditulis oleh Sylvia Bakarbessy)

6 Responses to “The Kite Runner”


  1. 1 yustina Friday, May 2, 2008 at 8:33 am

    Sepulang saya dari Aceh, seorang ustadz senior HSP meminjamkan buku bacaan pada saya berjudul “ The Kite Runner” karangan Khaled Hosseini. LUAR BIASA, menyentuh hati dan menguras air mata. Dengan buku inilah saya beristirahat menghabiskan libur kemarin. Ada bagian yang menyentuh, dimana seorang Bapak yang sibuk dan kaya raya, berpesan pada putranya hanya satu hal “Jangan Mencuri” itu saja. Ternyata mencuri yang Bapak tersebut maksudkan adalah sbb:

    Kalau kau membunuh seorang pria, kamu mencuri kehidupannya
    Kalau kau mencuri seorang suami dari istrinya, berarti kau merampok seorang ayah dari anak-anaknya
    Kalau kau berbohong , kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebernaran
    Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan,
    Tidak ada tindakan yang lebih hina daripada MENCURI.

  2. 2 Hartono Wednesday, May 21, 2008 at 8:13 am

    Penyesalan dan rasa bersalah memang selalu menghantui ruang jiwa seseorang. Ia perlu pembebasan. Kisah yang universal, dengan setting budaya Afganistan dan kritik terhadap perilaku Taliban yang nyatanya tak beda dengan kekejaman Hitler. Hitler membunuh ras yang lebih rendah karena alasan keunggulan ras, Taliban membunuh ras lainnya karena merasa mendapat “mandat” dari Tuhan.

    Yang patut kita kritisi adalah: selalu saja buku-buku semacam ini yang membedah “kekurangan” bangsa timur selalu mendapat tempat di publik barat. Terbukti selalu best seller. Tanpa sadar kita lalu melihat “kelebihan” bangsa barat yang demokratis, liberal.
    Selama ini hanya ada 2 cerita (film) yang secara seimbang menguliti “kekurangan” bangsa barat (baca: AS), yaitu film “Brokeback Mountain” dan “Crash”.

  3. 3 insansains Friday, June 6, 2008 at 11:17 am

    ^_^ Terima kasih atas resensinya. Jadi pengen beli..🙂

  4. 4 Adhi Monday, December 15, 2008 at 7:38 pm

    Buku ini menarik bgt, ceritanya beda ‘n latarnya di afghanistan
    itu point yang paling bikin gw pingin baca nie buku
    Gw tau buku ini dari temen gw (Lia NA called Lia)

    Thx………

  5. 5 ananda Friday, February 11, 2011 at 4:01 pm

    koq bda gambar nya dgn pnya q?/

  6. 6 nenden fauziah Tuesday, May 6, 2014 at 11:27 pm

    GOOD BOOK! sangat menyentuh hati :’


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: