The Sampoerna Legacy

samlegacy.jpgAkulturasi budaya adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada bersikeras pada fanatisme tradisi masa lalu yang rigid. Oerang Moeda Indonesia kini berada di persimpangan budaya timur dan barat. Tampaknya dalam benturan budaya ini, budaya barat lebih dominan dan relatif menang di sini. Tapi benarkan yang serba barat mesti di tolak? Budaya timur yang katanya adiluhung itu harus dilestarikan?

Baik Djenar Maesa Ayu maupun Sudjiwo Tedjo, lebih sepakat untuk tidak memandang keduanya secara konfrontatif, karena keduanya sebenarnya punya sisi universalnya. Keduanya bisa melebur. Taruhlah misalnya ketika Sudjiwo Tedjo masuk MTV, apakah itu berarti dia sudah terkooptasi dengan budaya barat? Karena bagi dia, memahami dan melakoni seni tradisi wayang dan gemelan tidak harus menduplikasi habis cetak biru kesenian tradisional itu. Dia harus bisa mewujud dalam berbagai bentuk. Seperti ketika Sudjiwo Tedjo diminta membuat lukisan tentang tokoh Semar, visualisasi Semar sudah mengalami deformasi sesuai dengan pergulatan batinnya selama ini. Di sana ada kontras. Dan itu sungguh asyik!

Tema oerang moeda berboedaja ini diangkat oleh The Sampoerna Foundation ketika melakukan peluncuran buku The Sampoerna Legacy pada hari kedua di toko buku ak.’sa.ra, di bilangan Kemang, Jakarta.  Semangat akulturasi budaya itu sebenarnya telah menjadi semangat hidup Mr. Liem Seeng Tee, pendiri imperium rokok kretet ”Dji-Sam-Soe.” Semangat itu tergambar jelas lewat perjalanan hidupnya yang terekam dengan manis dan indah lewat cerita yang disusun oleh Michelle Sampoerna, yang kemudian ditulis  dan mendapat sentuhan artisitik dari Diana Hollingsworth Gessler. Visualisasi gambar dibuat sangat cermat dan artistik.

Kembali kepada soal akulturasi budaya, itu semua telah dipraktekkan oleh Mr. Liem Seeng Tee. Lihatlah bagaimana dia mampu bertahan hidup di tanah perantauan sebagai orang Cina daratan, berganti nama Sampoerna, beristrikan Cina peranakan, menyekolahkan anak-anaknya di sekolah barat, dan sangat mencintai seni budaya, hingga pada tahun-tahun pertama pada saat dia memulai bisnis rokok masih sempat membuka ”Taman Sampoerna” sebagai tempat menampung segala aktivitas seni panggung dan bioskop pada masa itu.

Kekuatan buku The Sampoerna Legacy adalah pada diseminasi semangat akulturasi itu, selain tentu saja semangat hidup yang memiliki  visi jauh ke depan. Kita bisa belajar bahwa sukses itu tidak diraih dengan mudah dan serba instan. Melalui buku ini, kita bisa merunut balik kisah hidup Mr. Lee ketika pada usia 5 tahun harus meninggalkan desa Anxi, bersama bapak dan saudara perempuannya di atas keranjang pikulan. Saat tiba di Penang, saudara perempuannya terpaksa harus ditinggal dan diangkat oleh salah seorang keluarga Hokian di Penang, karena bapaknya tidak punya cukup uang untuk biaya berlayar 3 orang. Dengan sedih, akhirnya hanya mereka berdua melanjutkan pelayaran ke Surabaya. Belum genap 6 bulan, bapaknya meninggal karena penyakit Kolera.  Sejak itulah, Mr. Liem hidup sebatang kara sebagai anak yatim piatu dan memulai babak baru kehidupannnya dengan penuh perjuangan.

Sambil membaca buku ini, saya mencoba menangkap spirit hidup Mr. Liem. Di sana ada perjuangan, tapi dia juga meyakini bahwa segala sesuatu itu sudah ada takarannya.  Itu yang dinamakan takdir. Mr. Liem berhasil meletakan pondasi ketegaran berjuang kepada generasi penerusnya, Pak Aga Sampoerna, Pak Putera Sampoerna, dan Pak Michael Sampoerna sepanjang hampir 100 tahun imperium Sampoerna hingga dibeli oleh Phillip Moris. 

Dalam melihat kehidupan, segala sesuatu juga mesti memakai perhitungan, misalnya soal angka 9. Anda akan banyak menemukan angka 9 bertebaran di Sampoerna. Dji-Sam-Soe adalah kombinasi angka 2-3-4 yang jika dijumlah akan menjadi 9. Dji-Sam-Soe dan Sampoerna sendiri terdiri 9 huruf. Nomor rumah tinggal, nomor kantor, nomor telepon, nomor mobil dan segala pernak-perniknya akan ketemu angka 9. Jumlah ikan koi di museum Sampoerna ada 18, artinya 1 tambah 8 jadi 9. Bahkan pada saat peluncuran buku The Sampoerna Legacy, saya baru sadar kalau hari pertama peluncuran adalah tanggal 9 bulan 9. Mau tahu harga buku The Sampoerna Legacy? Harganya Rp. 270.000, yang berarti 2 tambah 7 jadi 9. Menakjubkan!

Bagi saya, mistikisasi angka 9, bukan semat-mata klenik seperti yang diyakini oleh orang jawa. Tapi di sana ada prinsip, ada  value yang harus secara konsisten dijaga dan dipertahankan.

Beberapa kekurangan yang menyertai buku ini adalah pada tingginya harga buku itu sendiri- meskipun hasil penjualan buku merupakan donasi untuk pendidikan Indonesia. Kalau sasarannya adalah oerang moeda, maka saya sangsi target akan tercapai melalui penjulan buku. Spirit buku hanya akan bisa ditangkap oleh mereka yang punya uang. Kekurangan kedua adalah dalam soal pilihan bahasa yang digunakan-Bahasa inggris. Lagi-lagi hanya sedikit orang yang mampu memahami isinya. Kekurangan lain yang sedikit mengganggu adalah 12 erata yang belum-belum sudah muncul di book divider.

Above all, buku ini telah menjadi salah satu sumbangsih bagi kemajuan Indonesia.  Terutama melalui The Sampoerna Foundation yang peduli pada pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah buku sejarah keluarga dan bisnis Sampoerna, dia tidak lagi berhenti di wilayah kenangan nostalgia keluarga Sampoerna. Dia telah melampaui itu semua. Telah menjadi milik publik, yang harus disemangati dan menjadi jiwa, terutama oerang moeda dalam menyongsong hari depan yang lebih cerah.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

2 Responses to “The Sampoerna Legacy”


  1. 1 michael Wednesday, September 12, 2007 at 7:50 am

    congratulation, pak hartono atas resensi bukunya. kebetulan waktu acara dialog tersebut saya di ulemi oleh pak hartono sehingga kita berdua menjadi salah satu peserta acara dialog budaya orang muda dan sekaligus membedah isi bukunya.
    yang bisa saya tangkap dari substansi buku itu sebenarnya dari sisi mikro ada dua hal yang mau dikembangkan michelle sampoerna: pertama, buku ini mencoba menawarkan budaya wirausaha kepada kawula muda bahwa untuk mencapai kesuksesan bukan barang yang mudah serta mencoba merefleksikan budaya instan dalam menggapai kesuksesan yang saat ini masih begitu banyak terpraktik di kanan kiri kita (untuk membangun kerajaan bisnisnya sampoerna perlu waktu 100 tahun dan tiga generasi- bukan waktu yang lama) untuk mencapai kesuksesan. kedua, genre baru dari kerajaan sampoerna yang terepresentasikan melalui sampoerna foundation yang digawangi michelle sampoerna mencoba menawarkan bangunan budaya berfilantropi melalui penjualan buku yang harganya menurut ukuran anak kos seperti saya kelewat mahal. just informed, potensi dana publik yang tergalang melalui beberapa lembaga filantropi seperti : DKK, YDD, PUNDI AMAL SCTV dan lain sebagainya baru mampu menggalang 60% dari total potensi dana yang ada. hitung- hitungan pusat riset filantropi UIN Syarif Hidayatullah potensi dana publik yang bisa digalang mencapai 51 triliun sedangkan yang baru terserap secara nasional baru 31 trilliun. budaya berfilantropi saat ini juga sedang tumbuh subur di negara kita melalui momen cobaan yang diberikan oelh Tuhan tanpa mengenal suku, agama, ras dan antargolongan sumbangan warga kepada korban tsunami di aceh, gempa di yogya luar biasa.
    dalam konteks makro bagaimana momen – momen ini bisa kita bangun secara kolektif untuk membangun strategi budaya agar bangsa ini memiliki jatidiri, bukankah proklamator kita pernah mempraktikkan melalui MANIKEBU (terlepas dari praktik diskursif yang ada) nampaknya pasca kolonial kita baru membangun satu strategi budaya tersebut.

  2. 2 yani Wednesday, April 15, 2009 at 8:08 pm

    Isinya kan untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan dan kegigihan generasi muda Indonesia yang sebagian besar ( berapa persen?) tidak mempunyai kemampuan membeli buku itu. Jadi bagaimana ? Kalau dicetak dengan edisi ekonomis bisa mengurangi pesan dan kesan yang ingin disampaikan penulis. Jadi maksud saya disumbangkan saja ke perpustakaan perpustakaan sekolah. Misalnya di perpustakaan sekolah anak saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: