Gadis Pantai

gadis-pantai.jpgKekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) belakangan ini semakin marak terdengar di masyarakat. KDRT yang sebagian besar (bahkan hampir seluruh) korbannya adalah perempuan, bukan semata-mata masalah pribadi namun lebih merupakan masalah sosial. KDRT yang banyak diberitakan di media, bisa jadi hanya berupa gunung es, yang tampak dipermukaan saja. Padahal, banyak sekali kejadian KDRT yang tidak terlaporkan karena korban merasa malu dan takut. Namum seharusnya, sebagai perempuan yang notabene menjunjung emansipasi, sudah saatnya perempuan lebih berani bersuara jika melihat dan mengalami KDRT di lingkungan kita. KDRT yang dialami Gadis Pantai mungkin lebih kepada penganiayaan batin, ketertindasan, bukan pada kekerasan fisik.

 Roman Gadis Pantai karya Premoedya Ananta Toer sejak lembar pertama akan mampu membius pembacanya untuk terus mengikuti dan masuk ke dalam alur cerita. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana, menjadikan novel dengan setting feodalisme Jawa ini mudah diikuti dan dinikmati.

Gadis Pantai, anak dari rakyat jelata yang hidup di kampung nelayan di pesisir pantai, yang karena kecantikannya dipinang oleh seorang Bendoro ‘alim’ untuk dijadikan istri. Ketika Gadis Pantai mulai masuk kedalam tembok tinggi rumah Bendoro, ini merupakan awal penderitaannya. Semua tingkah dan perilaku Gadis Pantai harus berubah, harus diatur dengan mengedepankan pengabdian dan pengorbanan bagi sang Bendoro. Menjadi istri yang selalu nrimo, walaupun hati berontak.

Walaupun awalnya pernikahan yang terjadi dengan Bendoro tidak diinginkan oleh Gadis Pantai, tetapi seiring dengan waktu Gadis Pantai semakin merasakan bahwa hatinya semakin terisi dengan cinta dan rindu untuk Bendoro. “Sahaya Bendoro…..” hanya kata itu yang seringkali diucapkan Gadis Pantai dalam percakapannya dengan sang suami. Bahkan ketika rindunya berkecamuk, Gadis Pantai tidak mampu mengungkapkannya. Atau ketika Gadis Pantai harus ‘terlempar’ dari sisi Bendoro karena posisinya digantikan dengan wanita yang lebih sederajat dan bermartabat, hanya air mata dan kesedihan yang berbicara. Dan ketika hatinya sakit tak terperi, karena dipisahkan dari anak yang baru beberapa bulan dilahirkannya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan kekuasaaan Bendoro.

Sayang sekali, roman ini seperti tidak selesai. Atau itu memang trik Pram untuk menyudahi tragedi Gadis Pantai dengan ketidakjelasan? Tapi dengar-dengar Roman Gadis Pantai ini pada awalnya memang sudah disiapkan Pram dalam 3 seri, tetapi hanya seri pertama yang berhasil diselamatkan dan dipublikasikan melalui roman Gadis Pantai ini. Seri berikutnya habis dibakar oleh rejim yang merasa takut oleh virus perlawanan yang dikobarkan Pram!

(Resensi ditulis oleh Nony Parmawaty)

2 Responses to “Gadis Pantai”


  1. 1 nugiE Friday, September 21, 2007 at 4:38 pm

    ..Dalam beberapa kesempatan wawancara, secara jelas dan terbuka pram menunjukkan ‘kemuakannya’ dengan budaya feodal Jawa. Roman ini sepertinya menjadi salah satu wujut dari ketidaksenangannya. Aroma anti feodal sangat terasa di roman ini, dimana roman ini mengkritisi budaya para priyayi jawa dahulu yang bisa saja mengambil perempuan dari kasta yang lebih rendah untuk dijadikan “saluran sex – nya” sebelum dia memperistri perempuan yang sederajat.

  2. 2 lukas kristianto Friday, January 29, 2010 at 7:58 am

    Ketika saya membacanya, saya merasa terharu dan terbuka akan fakta sosial pada saat itu. Pram bisa membangkitkan rasa emansipasi akan wanita. Kadang saya merasa gemas. Mengapa gadis pantai tidak mau berontak? Mungkin itulah perbedaannya dengan sekarang. Feodalisme yang diciptakan bahkan oleh bangsa kita sendiri Jawa, membawa bilur -bilur di hati seorang gadis nelayan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: