Kearifan Timur

kearifan-timur.jpgKearifan Timur menjadi relevan dan kontektual untuk diaktualisasikan kembali di saat proses kehidupan ini dihegemoni oleh perilaku kehidupan industri yang menekankan pada produksi. Hiruk-pikuk industrialisasi ternyata telah mencerabut hakekat kemanusiaan yang tak jarang seseorang menjadi asing bagi dirinya sendiri. Kenapa? Karena manusia telah diperlakukan sebagai mesin produksi, hidup yang terdiri atas momen-momen yang sangat khas dan unik pada setiap manusia terstandarisasi ke dalam sebuah sistem yang namanya kapitalisme industri. Makna dari momen-momen tersebut telah tereduksi menjadi aktivitas instrumental yang jauh dari makna sosial yang reflektif.

Aktualisasi kearifan timur akan sangat bermakna bagi para kaum urban, masyarakat kota, commuters dan para manusia yang telah terjerembab sebagai pengumpul uang, untuk merefleksikan makna di setiap aktivitas kehidupannya. Dapatkah anda benar-benar hidup dan mengisi setiap momen masing-masing secara mendalam? Dapatkah anda meninggalkan setiap momen yang telah berlalu dan lahir kembali pada setiap momen baru? Dapatkah anda mengisi momen yang baru dengan penuh keyakinan, kegembiraan dan semangat? Dengan memandang setiap momen adalah baru, maka kita akan mampu menceburkan diri ke dalamnya dan menjalaninya dengan sepenuhnya: apakah itu saat mancuci piring, minum teh, memeluk bocah kecil, menatap ke dalam mata orang yang kita kasihi, menahan rasa sakit atau bahkan ketika menghadapi kematian. Semakin terus membaca buku ini, pembaca akan didorong untuk masuk ke dalam lorong perenungan dan refleksi terhadap proses kehidupan kita. Teguran sekaligus otokritik akan menjadi makna penting dari buku ini, lebih-lebih jika para pembaca adalah orang timur. Otentiksitas ketimuran kita akan dipertanyakan ulang yang mana nalar atau logika yang memisahkan objek dengan subjeknya telah mendominasi cara berpikir sebagian besar masyarakat timur. Sementara kearifan timur tidak pernah memandang suatu masalah sebagai sesuatu yang bisa diisolasi dari lingkungannya. Bunga tidak bisa dipetik dari bayangannya di kaca, Rembulan tidak bisa dipungut dari pantulannya air”. 

Harapannya setelah kita membaca buku yang ditulis oleh Jusuf Sutanto ini kita akan menolak cara berpikir mainstream yang selalu mempertanyakan siapa yang “menang”, apa untungnya” tetapi akan selalu mempertanyakan “apa yang benar?”. Bagi para pembaca selamat menjalani kehidupan dan ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan: 
Bebaskanlah dirimu dari kebencian
Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

Hiduplah sederhana

Berilah lebih banyak

Berharaplah lebih sedikit

Tersenyumlah 
 
(Resensi ditulis oleh Lukas Bayu Setyatmoko)

1 Response to “Kearifan Timur”


  1. 1 hartono Friday, September 21, 2007 at 6:34 am

    Buku ini mengingatkan saya pada tulisan Radhar Panca Dahana dalam buku “Inikah kita.” Persoalan mendasar bangsa kita saat ini adalah hilangnya jati diri bangsa. Kita rela saja dikooptasi secara mental oleh sesuatu yang berada diluar diri kita. Timur selalu dikaitkan dengan keterbelakangan, klenik, irasional, amuk, teroris, kebodohan, korupsi. Sementara barat selalu dikaitkan dengan kemajuan, industri, iptek, rasional, futuristik, dll.

    Saya mau tulis review tentang bukunya Radhar itu. Senafas dengan bukunya Jusuf Sutanto ini, tapi punya Radhar kayaknya lebih radikal ke-kiri-kirian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: