Kia Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

kiai-bejo-emha.jpgSaya adalah pengagum Emha, membaca cerpen, puisi, kolom hingga essainya seakan membawa saya dalam alam berpikir lateral. Itu yang membuat berbagai karya tulis Emha menjadi sarat dengan ruang-ruang kritis untuk direfleksikan.  Belum lagi garapan berpikirnya sangat luas, mulai dari budaya sebagai akar kepiawaiannya, politik, sastra, sosial politik hingga hal-hal berbau nasionalisme. Andaikan saja saya bisa seperti Emha……

Dalam bukunya yang berjudul “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” ini, Emha Ainun Najib coba mengangkat berbagai sudut realitas dan persoalan di masyarakat yang sarat akan kebutuhan solusi,  guna menepis pergi keterpurukan yang dialami bangsa ini. Kata Emha semuanya adalah potret suram yang berkepanjangan. Akar kritik yang ia ungkapkan adalah perlunya bangsa ini melakukan perubahan radikal. Semua cuplikan realitas dan pemikirannya dikemasnya dalam kumpulan essai.

Sebagaimana kelebihan karya Emha lainnya, buku ini pun mengajak kita bukan sekedar membaca—selesai—dan menyimpannya dalam deretan rak buku kita. Namun membacanya, seperti menghentakkan pusat sadar kita atas berbagai fenomena yang terjadi, sekaligus menggugah kita mau merenung sekaligus berpikir.  Emha memang piawai untuk yang satu ini. Ia tak segera memberikan solusi atas persoalan yang dibahasnya. Namun selalu membawa pembaca untuk  melihat lebih kontekstual, komprehensif, tidak mengadili, lebih menohok pada akar masalah dan mempertimbangkan aspek-aspek penyertanya. Memang dengan pola tulisan demikian, tulisan Kyai Muda akan menjadi tulisan yang lumayan berat. Perlu pisau kecermatan dan ketelitian dalam membacanya.

Walau sarat dengan cuplikan terminologi qur’an serta nilai-nilai Islami, essai-essai  ini tak menyurutkan pembaca non muslim untuk mengunyahnya. Emha menjadikan tulisan dengan nilai religi islami yang universal pula untuk golongan lain.

Kumpulan essai ini, penuh dengan nafas demokratis penulisnya. Sebagai penulis ia menepis kesan serba tahu dan sama sekali ia tak menjadi konsultan serba bisa pemberi resep solusi atas tiap persoalan yang diangkatnya. Ia hanya menggunakan setiap tulisannya sebagai alat mengkomunikasi realitas sosial kepada pembacanya. Pertanyaan-pertanyaan renungan dalam tiap essainya, menjadikan tulisan ini seperti ruang demokratis bagi pembacanya untuk urun rembug memikirkan bagaimana solusi terbaik yang harus diambil.

Kepiawaian lainnya yang tercermin dalam tulisan-tulisan ini, adalah kemampuannya mengalirkan kata dan pemikiran lewat berbagai kasus yang sudah cukup familiar bagi pembaca. Seperti Inul dan Tsunami. Bertitik tolak dari situ, ia mengalirkan berbagai pemikiran substansial guna membuka pemikiran kita ke ranah cerdas dan kontempelatif. Sarat pesan spiritual dan humanis yang notabene akan menjadi pembaca berpikir lebih kritis. Berbagai sudut kritis dibedahnya mulai dari budaya, ideologi negara dan kepemimpinan, alam pikir, kekacauan budaya, sikap dan nilai-nilai kepribadian dan kaum marjinal. Makna-makna tersebut dipilahnya menjadi segment isi tulisannya.Sebagai pembaca yang merindukan ruang-ruang guna merefleksikan dan memberi kesempatan melakukan kontempelasi atas realitas sosial. Saya tak melihat adanya kekurangan dari buku ini.

(Resensi ditulis oleh Zusan Zeulvia).

2 Responses to “Kia Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki”


  1. 1 Hartono Thursday, November 29, 2007 at 5:53 am

    Menurut saya, gaya penulisan Cak Nun hampir satu aliran dengan Kang Sobari, cenderung ke pesan sufistik, sarat dengan pesan moral, tapi agak sedikit cerewet dan menggurui. Beda dengan tulisan Dawam Raharjo yang lugas, polos, tanpa tedeng aling-aling, cenderung kontroversial, tidak menggurui, membongkar keterikatan pada norma yg terlanjur kuat mengakar, baca kumpulan cerpennya di “Anjing Yang Masuk Surga.”

  2. 2 ava wonk Thursday, May 5, 2011 at 10:34 am

    yang aku dapatkan dari esai cak nun selama ini (aku cuman punya 5-6 buku beliau) biasa aku sebut dengan ‘humanisme transendental’. menguak sisi-sisi kemanusiaaan dengan mengkorelasikan terhadap kehendak Tuhan akan manusia itu sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: