The Starbuks Experience

The Starbucks ExperienceSaya bukan peminum kopi. Kebetulan dokter menganjurkan saya untuk tidak minum kopi, karena akan menimbulkan gangguan pada lambung. Meskipun demikian, saya masih punya selera untuk membahas soal kopi, yang tak akan mengganggu lambung tapi justru merangsang otak kanan saya.

kali ini pembahasan soal kopi diangkat oleh Joseph A. Micelli dalam buku ”The Starbucks Experience.”  Tapi untuk dapat memahami dengan baik ulasan buku ini, saya sarankan anda membaca terlebih dahulu buku “Marketing in Venus” karya Hermawan Kartajaya. Menurut Hermawan Kartajaya, product yang sama akan dihargai berbeda kalau levelnya berbeda. Empat level itu adalah commodity, goods, services, dan experience. Contoh sederhananya adalah soal kopi ini. Sebagai sebuah commodity, harga 1 kg kopi akan relatif sama di pasar manapun. Margin yang diperoleh dari perdagangan komoditas kopi ini pasti kecil sekali. Kopi akan meningkat menjadi sebuah goods apabila sudah ditempeli merek, seperti kopi cap Kapal Api atau kopi cap Tugu Luwak. Harganya akan ditentukan oleh ketenaran sebuah merek dagang. Dari goods, kopi akan meningkat pangkatnya menjadi services kalau kopi itu misalnya dihidangkan di cafe, lounge, atau  restaurant yang ada di hotel bintang lima. Harganya pasti jauh lebih mahal daripada goods, karena di sana ada services, plus tambahan pajak. Pada level yang paling tinggi itulah yang dinamakan experience. Di sini kalkulasi harga sudah memasuki tataran irasional. Dalam teori marketing mix, unsur harga sudah tidak lagi relevan dibahas di sini. Pada tataran experience, emosi orang diaduk-aduk. Ujung-ujungnya margin yang diperoleh bisa sangat luar biasa dan tidak masuk akal, sebab bukan hanya kepuasan yang diperoleh, tapi experience itu sendiri yang priceless.  Dalam ”Marketing in Venus,” manusia bumi sudah berubah menjadi sangat emosional. Tidak peduli laki-laki atau perempuan. Sentuhlah emosi mereka, maka anda akan  memenangkan persaingan bisnis. Embel-embel experience pada judul buku di atas memang dimaksudkan untuk membawa pembaca kepada makna dari sebuah experience itu.

Ada 5 prinsip yang diterapkan Starbucks sejak didirikan tahun 1971 di Seattle, Amerika Serikat dalam mengubah hal biasa menjadi luar biasa. Kelima prinsip itu adalah lakukan dengan cara anda, semuanya penting, surprise and delight, terbuka terhadap kritik, dan leave your mark. Kelima prinsip itu secara detail dipaparkan oleh Joseph A. Micelli melalui pengamatan dan wawancara mendalam terhadap karyawan Starbuck, tidak hanya kepada pendiri atau CEO, tapi justru sebagian besar kepada karyawan Starbuck yang mereka sebut sebagai mitra.  Dari kelima prinsip itu kita dapat banyak belajar tentang kreativitas Starbucks dalam mengubah hal biasa menjadi luar biasa. Ada satu kerativitas yang sangat unik dalam memberi surprise and delight. Starbucks membuat cangkir kopi dengan magnet pada dasarnya dan mereka menempelkannya di atas sebuah taxi. Orang-orang yang melihat ada cangkir di atas taksi biasanya mengingatkan pada sopir taksi bahwa ada sebuah cangkir kopi yang tertinggal di atap mobil. Mereka yang peduli, yang mengingatkan, akan mendapat hadiah secangkir kopi gratis dari Starbuks! Sebuah iklan kreatif dan beyond imagination.

Keberhasilan Starbuck ternyata justru dimulai dari dalam tubuh Starbuck sendiri. Mereka percaya bahwa costumer itu bukan hanya pelanggan yang setiap hari mereka layani, tapi ada juga costumer in the company yang juga harus terus diperhatikan, yaitu karyawan Starbucks. Kisah-kisah para barista, sebutan untuk karyawan peracik dan  penyaji kopi andalan Starbucks,  inilah yang menjadi dasar penulisan buku ini. Startbucks percaya bahwa momment of truth harus sudah terbangun sejak pertama kali pelanggan masuk di kedai Starbucks. Dalam contoh kecilnya adalah, seluruh barista diajarkan untuk mengenal nama pelanggan, pesanan unik mereka, bahkan nama anak atau nama anjing mereka.  Di dalam kedai Starbucks, ada banyak experience lain akan dirasakan oleh pelanggan. Mulai dari sambutan hangat, pilihan kopi yang bisa sangat personal, alias kita boleh cerewet untuk minta pesanan yang sangat unik buat kita seorang, hingga desain interior ruangan. Seluruh orkestra experience itu masuk ke dalam bawah sadar dan mengendap sebagai sebuah kesadaran baru dari tradisi minum kopi. Mulai dari sana, anda akan menjadi paham mengapa orang rela untuk membayar USD 3 untuk segelas kopi Starbucks, sementara kopi biasa yang dijual di kedai lain hanya perlu setengah dolar atau 50 cent. Padahal bahannya sama, yang membedakan adalah experience-nya itu.

Sekali lagi, saya bukan peminum kopi. Tapi saya pernah mendapat kesempatan istimewa untuk minum kopi di kedai Starbuck di Portland, Oregon, pada tahun 1994. Sekedar mencicipi salah satu produk unggulan Amerika Serikat, selain Hollywood, Coca-Cola, Marlboro dan  Levi’s.

Saya tidak menganjurkan anda untuk menghamburkan uang di kedai Starbucks yang lumayan mahal itu. Tapi saya mengajurkan anda untuk belajar dari kisah sukses Starbucks melalui buku ini.

(Resensi di tulis oleh Hartono)

1 Response to “The Starbuks Experience”


  1. 1 Ditya Rizky Yudistira Saturday, July 26, 2008 at 10:06 pm

    Wah..ini memang buku yang luar biasa bagi saya.saya jadi bisa belajar prinsip dan filosofi starbucks.benar2 recommended untuk siapapun dan dari kalangan apapun.banyak hal positif yang bisa kita petik dari buku karangan Joseph Micelli ini.

    Terima kasih telah memberikan reviewnya!Sukses selalu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: