Chocolat

chocolatCoklat  selalu menjadi hadiah istimewa pada perayaan valentine’s day, yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Hampir separuh penduduk dunia merayakannya, terutama kelompok remaja yang sedang dilanda asmara. Dan coklat  menjadi icon paling seksi untuk menyatakan tanda cinta, selain bunga. Di Indonesia, valentine’s day menuai pro dan kontra. Kelompok kontra menyatakan bahwa valentine’s day sungguh jauh dari norma-norma ketimuran. Valentine’s day bisa disalahgunakan oleh kaum remaja yang merasa bebas untuk mengungkapkan kasih sayang, mulai dari kirim-kiriman coklat, pegang-pegangan tangan, berciuman, hingga seks kebablasan. Tapi yang jelas, valentine’s day adalah produk dari  komodifikasi. Kasih sayang, cinta, atau asmara hanyalah narasi, bungkus cantik dari produk yang dijual dan diperdagangkan untuk mendatangkan laba!

Novel Chocolat yang ditulis oleh Joanne Harris, sebuah novel terjemahan yang diterbitkan oleh Bentang, sama sekali tak menyinggung soal valentine’s day. Novel ini justru mendobrak tatanan norma dan nilai-nilai yang mungkin selama ini dipeluk oleh sebagian besar umat Katholik. Novel yang menurut saya nakal dan berani. Tapi gaya bertutur novel ini relative lembut dan tak menghentak. Untuk sementara pembaca, mungkin agak membosankan. Padahal durasi cerita hanya berlangsung sekitar 2-3 bulan saja. Novel terbagi dalam potongan hari yang bertanggal tapi tak bertahun. Mirip buku harian.

Novel dibuka dengan datangnya 2 orang pendatang asing di Lansquenete-Sous-Tannes, sebuah kota kecil di Perancis. Kota kecil yang kuat memeluk agama Katholik. Tapi sebuah kota yang muram. Dingin. Tak menyisakan sedikitpun kegembiraan dan cerianya kehidupan. Hingga datanglah 2 orang pendatang, Vianne Rocher dan Anoux. Dua orang ibu anak ini menyewa rumah tepat di depan gereja yang menjadi pusat kehidupan penduduk Lansquenete-Sous-Tannes. Pertempuran besar yang bernama keyakinan dan nilai-nilai hidup dimulai ketika Vianne Rocher membuka kedai coklat. Kedai ini tetap buka ketika semua orang diwajibkan untuk meninggalkan urusan dunia dan hadir di Misa Minggu. Pada perayaan Paskah, kedai coklat ini justru mengadakan festival coklat! Kedai ini kemudian juga menjadi tempat segala kesumpekan hidup, keluh kesah, dan kepura-puraan ditumpahkan.

Melalui kedai coklatnya, Vianne Rocher menawarkan jalan hidup bebas yang hanya tunduk pada kata hati, bukan kungkungan norma, adat, tata nilai yang membelenggu. Latar belakang Vianne Rocher yang berasal dari keluarga gyspi barangkali yang mendasari sikap hidupnya itu. Itu mungkin buah dari gaya hidup kaun gypsi yang nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Terima kasih kepada Andrea Hirata, yang telah memberikan langsung novel Chocolat ini kepada saya saat acara ”Mengarungi Mimpi Bersama Laskar Pelangi” di Toko Buku Gramedia Matraman, sebagai hadiah telah membaca puisi dadakan untuk Laskar Pelangi.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

9 Responses to “Chocolat”


  1. 1 ithoy Thursday, February 14, 2008 at 4:35 pm

    Mas Har, ini rasanya udah ada filmnya yak? Yang main si Juliette Binoche dan Johnny Depp

  2. 2 hartono Friday, February 15, 2008 at 11:39 am

    Betul. Tapi judulnya “Chocolat” bukan yang “Chocolat Factory” ya, meskipun sama-sama dibintangi oleh Jhonny Deep.

  3. 3 Yustina Friday, February 15, 2008 at 11:40 am

    Sebagai masukkan saja tentang Valentine Day’s.

    Memang 14 February dirayakan menjadi universal dan “jauh panggang dari api” istilahnya. Dari ide awalnya, itu juga kenapa Umat Katolik masih memakai moment ini seperti seharusnya, adalah: waktu itu di Eropa Santo Valentine sangat prihatin dengan keadaan masyarakat dimana dia berkarya. Kondisi mental masyarakat yang ‘miskin’ kasih sayang karena perang, krisis ekonomi dan terutama keluarga-keluarga yang berantakan karena pengungsian dan keterpisahan. Sehingga tidak ada elemen persaudaraan yang berlandaskan Kasih seperti yang diajarkan Yesus. Setiap orang mencoba survive secara fisik dan materi, saling sikut dll. Maka saat itu Santo ini menghimbau umatnya di grejanya untuk ‘take a break’ spent one moment to feel the love of God, and share it to anybody around you, especially your family member (karena beliau percaya kekuatan Kasih tersebar dari Keluarga). In the simple way by word, hug, even just shake hand, that’s love! (Love=kasih, bukan cinta lho). Ternyata moment ajakan ini effektif, dan terus terbudaya. Dibawa keluar Eropa seiring dengan penjelajahan mereka, dan perkembangan ekonomi mereka, akhirnya kebablasan seperti sekarang. Bahkan menjadi sempit artinya, dimana love adalah cinta (amore), hanya dalam konteks remaja. Coklat dan bunga sebenarnya ekpresi dari how easynya menyatakan Kasih itu untuk mensupport orang lain, tapi ya itulah menjadi sebuah romance yang romantis, melankolis dan akhirnya hanya sebatas artificial.

    Harusnya Valentine’s Day, menjadi breaking moment untuk setiap dari kita “berkomunikasi” saja pada diri kita sendiri dan Yang Kuasa tentang “sudahkan saya peduli dan memanusiakan orang-orang terdekat saya” . Saya yakin, seperti juga Santo Valentine yakin itu akan merubah dinamika kehidupan keseharian kita dan masyarakat kita.

    So, choose your own time, feel the love of God, and share it to anybody around you, in simple way!. Bukan hanya 14 February!.

    Salam in love of God,

    YSN

  4. 4 Teguh Friday, February 15, 2008 at 11:43 am

    Tentang uraian filosofis di balik perayaan Valentine, aku pikir itu baik. Buatku baik, ya baik.
    Nggak ada tuh itu baik, tapi kalo dilihat dari kelompok pendukung agama tertentu: nggak baik.
    Karena kalau begitu sudah politik namanya. Dan hal yang menyedihkan agama ikut-ikutan dipolitikkan.
    Sehingga perbuatan baik yang tadinya “objective” menjadi “subjective”
    Nggak heran kalau kemudian John Lennon menulis lagu IMAGINE

  5. 5 Indri Friday, February 15, 2008 at 11:45 am

    Johnny depp main loh, sama Juliet Binoche.. dia jadi Roux, si cowok yang akhirnya kapalnya dibakar, pas dia lgi mengarungi sungai sambil ber——- sama juliet binoche…

    Kalo di Charlie and the chocolate factory, Johnny depp jadi Willy wonka mas pembuat coklat…

    Happy chocolate day…!!
    Saleum,
    Indriyani Ratnaningsih

  6. 6 gac Tuesday, March 4, 2008 at 12:16 am

    saya juga udah baca bukunyaa.
    awalnya memang agak membosankan yah, karena terlalu bingung mencerna gaya bahasa yang dituturkan. tapi lama-lama asyik juga, apalagi gimana penulis menjabarkan tentang cokelat2…
    aduh, thou im not a chocolatefreak, tapi apa yg ditulis sukses bikin ngiler juga.. hehe =)

  7. 7 k-pop mania Tuesday, October 8, 2013 at 1:40 pm

    ini bahasa asli novelnya apa ya? inggris?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: