Setelah Dia Pergi

soahartoTempo Edisi 4-10 Februari 2008. Edisi Khusus Soeharto: Setelah Dia Pergi. Beberapa waktu lalu Soeharto telah pergi. Ia berkuasa begitu lama : 32 tahun – hanya bisa dikalahkan oleh pemimpin Kuba Fidel Castro. Tentunya kita belum lupa bagaimana semua stasiun televisi menyuguhkan ‘opera’ di hari – hari terakhirnya. Beberapa kolomnis yang terlibat dalam edisi khusus ini diantaranya adalah : Asvi Warman Adam, Saiful Mujani, M.Sadli, Arif Budiman, R.William Liddle, Harold Crouch, dan Bambang Harymurti.

Sekitar 100 halaman Edisi khusus tempo ini konon sudah dipersiapkan sejak tahun 2001 ketika awal-awal Pak Harto dilaporkan masuk rumah sakit. Setelah itu kita sama-sama mengetahui antara 2001 – 2007 Soeharto bolak – balik masuk rumah sakit dan selama itu pula Tempo sudah berganti pemimpin redaksi – demikian juga tim edisi khusus ini yang juga sudah berganti orang. Bahkan ada penulis kolom yang sudah duluan meninggal seperti Pramoedya Ananta Toer dan Prof.Sadli. Dalam pernyataannya redaksi Tempo menyatakan bahwa keseriusan menggarap edisi khusus Soeharto ini bukan karena mereka ingin mendahului takdir tapi lebih karena kesadaran bahwa Soeharto adalah tokoh yang penting bagi negeri ini. Edisi khusus ini adalah ihtiar Tempo untuk mencatat sepak terjang Sang Jenderal Besar. Sejarah adalah guru terbaik demikian pernyataan mereka. Suka tidak suka semua pihak pasti bersepakat bahwasanya Soeharto cukup ‘mewarnai’ Indonesia tercinta ini.

Dari sampulnya edisi ini sudah cukup ‘menggoda keingintahuan “, di situ terdapat repro salah satu lukisan masterpiece Leonardo Da Vinci – Makan Malam Terakhir..! Digambarkan Soeharto sebagai pusat (di posisi Yesus pada versi aslinya) diapit ke enam putra-putrinya. Sesuatu yang juga menjadi bahasan dalam edisi ini … hubungan kekuasaan Soeharto dan keagresifan sepak terjang bisnis putra – putrinya. Sesuatu yang bagi sebagian pengamat  dianggap sebagai awal keruntuhan Soeharto. Mengenai hal ini sebenarnya , sejak awal Soeharto pernah diperingatkan oleh LB.Moerdani (Kisah Dua Prajurit), sesuatu yang membuat hubungan keduanya memburuk pada akhir 1980-an yang berujung pada pemecatan Benny sebagai Panglima ABRI seminggu sebelum SU MPR 1988.

Edisi khusus ini memberikan sesuatu yang lebih berimbang, dengan kata lain edisi ini juga memberikan tempat bagi ‘suara para korban’, sesuatu yang hampir tidak muncul dari liputan – liputan stasiun televisi pada hari-hari itu ……. Hal ini nampak dari disusunnya kolom khusus tentang peristiwa – peristiwa kontroversial selama kekuasaan Orde Baru sebagai berikut : Tragedi 1965, Malari, Petrus, Peristiwa  Talangsari, Tanjungpriok, Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli), Operasi Militer Aceh – Papua, Penculikan aktivis tahun 1998,Trisakti dan Kedungombo. Bagi kita yang belum pernah mengetahui detail peristiwa – peristiwa tersebut , apa yang tertulis di edisi ini bisa memberikan gambaran yang singkat – padat- jelas.

Muncul juga profil singkat para seteru seperti : Pram, Amin Rais, Budiman Sujatmiko, Syahris, Ali Sadikin, Soebandrio, Dewi Soekarno dan Beny Biki disamping profil para loyalis Soeharto seperti Ismail Saleh, Haryono Suyono, Bustanul Arifin, Sudharmono, Saadilah Mursyid. Gambaran Soeharto sebagai seorang manusia juga bisa dilihat dari kesaksian beberapa orang yang pernah berada dekat dengan Soeharto seperti mantan ajudan, teman memancing, wartawan istana dan fotograper istana. Hubungan Soeharto dan Ibu Tien ( Setelah Sang Ibu Berpulang …..) juga bisa memberikan gambaran kepada kita tentang  sisi manusiwi Soeharto saat wafatnya Ibu Tien.

Yang juga menarik dalam edisi ini adalah kolom tentang spiritual Pak Harto sebagai orang Jawa  dan bagaimana hubungannya dengan Soedjono Hoemardhani – seseorang yang konon menjalin hubungan persaudaraan mistikal dengannya. Konon laku dan kepercayaan Kejawennya dilaporkan cukup mewarnai gaya kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan politik orde baru ketika itu. Selebihnya dalam edisi ini juga dibahas tentang hari-hari terakhir menjelang dan setelah ‘turunnya’ Soeharto dari tumpuk kekuasaan ( Cendana, Setelah Keputusan itu …). bagian ini bisa memberikan gambaran sesuatu yang pada saat itu ‘kurang nampak’ muncul di permukaan dan tak lupa juga kontroversi yang pernah muncul mengenai asal usul silsilah Soeharto pada tahun 1974 (Misteri Anak Desa Kemusuk).

Kurang jelas apa yang menjadi pertimbangan redaksi sehingga dalam edisi ini tidak muncul soal ‘supersemar, ataupun kebijakan Soeharto yang menginvasi Timor-Timor pada saat itu. Yang jelas saya merasa beruntung bisa mendapatkan edisi khusus ini. Edisi khusus Tempo yang menurut saya cukup berharga untuk ‘membaca sejarah” selain “Edisi G-30-S dan  Peran Aidit”  tahun 2007 lalu.  

(Resensi ditulis oleh Nugroho)

1 Response to “Setelah Dia Pergi”


  1. 1 Hartono Wednesday, February 20, 2008 at 8:00 am

    Membaca edisi khusus Tempo ini saya menangkap ada satu pelajaran penting dari perjalanan seorang anak manusia bernama Soeharto. Soeharto memang sosok tangguh secara fisik dan spiritual. Laku spiritual sebagai orang Jawa telah tuntas dilaksanakan. Cuma, ini godaaan yang selalu tak berhasil dilalui sebagian besar manusia: takabur pada kuasa. Gembelangan olah batin dan kekuatan Soeharto semestinya diupayakan untuk kemaslahatan orang banyak. Memikirkan bagaimana membawa bangsa Indonesia ini ke ambang kejayaan, bukan memikirkan kejayaan trahnya sendiri.

    Pesan guru spiritualnya pada tahun 1984, Romo Dijat, dengan mengirimkan jantung pisang raja, jeruk bali, dan kelapa gading, yang memiliki makna: Soeharto harus meninggalkan kekuasaannya di saat masa keemasan, tak digubrisnya. Soeharto terbuai dengan kuasa, hingga terjungkal tahun 1998!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: