Putri Cina

Putri Cina”Kita datang ke dunia ini sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah, yang ternyata hanya memisahkan kita?”

Cinta itu tidak mengenal batas. Ia bisa lintas bangsa, ras, suku, dan agama. Cinta abadi juga tidak bisa diikat oleh sang waktu, bahkan oleh kematian sekalipun. Dalam legenda Sam Pek dan Eng Tay, cinta abadi mereka menjelma dalam sepasang kupu-kupu kuning yang terbang ke utara.

Tragedi cinta antara sepasang kekasih yang berdarah Cina dan Jawa menjadi sentral cerita novel Putri Cina yang ditulis oleh Sindhunata ini.  Tokoh Putri Cina dalam novel ini melesat menembus waktu dan jaman, antara jaman Majapahit hingga kerusuhan Mei berdarah 1998. Dia hadir sebagai Putri Campa pada jaman Prabu Brawijaya, Roro Hoyi pada jaman Amangkurat, Eng Tay pada legenda Sam Pek dan Eng Tay, dan hadir sebagai sosok Giok Tien pada masa ”kerajaan Medang Kamulan Baru”.

Tragedi berdarah yang menimpa keturunan etnis Cina selalu berulang. Celakanya mereka tidak pernah belajar dari sejarah. Sindhunata melakukan otokritik terhadap etnis Cina yang tidak pernah belajar dari sejarah (kebetulan Sindhunata juga berdarah Cina, berayahkan Liem Swie Bie dan beribu Koo Soen Ling). Orientasi etnis Cina yang ada di tanah Jawa selalu mengejar harta dan kekayaan dunia, melupakan tradisi leluhur bangsa Cina. Akibatnya mereka menjadi kelompok kaya elitis yang berada di tengah-tengah mayoritas etnis Jawa yang tertinggal secara ekonomi. Keahlian mereka di bidang perniagaan dimanfaatkan betul  oleh penguasa, sejak jaman Belanda hingga sekarang. Mereka tidak sadar sedang dijadikan sapi perah, dan siap dikorbankan sewaktu-waktu.  Kondisi ini secara laten bisa meledak sebagai bom waktu. Dan bom itu benar-benar meledak (atau tepatnya ”diledakkan”) ketika pecah kerusuhan Mei 1998.  

Tragedi Putri Cina yang diwakili oleh tokoh Giok Tien dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 oleh Sindhunata diubah layaknya lakon ketoprak dengan mengganti nama masa Orde Baru dengan nama Kerajaan Medang Kamulan Baru, dengan raja bergelar Amurco Sabdo. Di sana muncul intrik antara senapati Gurdo Paksi, Patih Wrehonegoro, dan lurah prajurit Tumenggung Joyo Sumengah. Lakon ini mengingatkan pembaca pada perseteruan antara Wiranto dan Prabowo. Putri Cina digambarkan sebagai istri dari senopati Gurdo Paksi yang kemudian menjadi korban intrik tingkat tinggi hingga Giok Tien ternodai harga diri kewanitaannya oleh syahwat kuasa Amurco Sabdo dan menjadi rebutan antara Tumenggung Joyo Sumengah dan Gurdo Paksi. Keduanya telah menaruh hati kepada Giok Tan semenjak dia menjadi primadona ketoprak keliling Sekar Kastubo. Pada kenyataanya cinta Giok Tien hanya untuk Gurdo Paksi, yang waktu itu masih prajurit bernama Setyoko. Cinta Giok Tien yang Cina, dan Setyoko yang Jawa terjalin sudah. Dan itu membawa dendam kekalahan bagi Tumenggung Joyo Sumenggah yang juga termehek-mehek mengharap cinta dari Giok Tien.

Novel ini sangat menyentuh dan mampu mengungkap sisi kelam sejarah dan latar belakang budaya Cina-Jawa serta intrik politik yang melatarbelakangi berbagai peristiwa kerusuhan yang  menjadikan etnis Cina selalu sebagai korbannya.

Di dunia ini semua manusia menanggung nasib yang sama, karena kita hanyalah debu. Cina dan Jawa , sama-sama debunya. Mengapa kita mesti bertanya, siapakah kita? Toh dengan dilahirkan di dunia, kita semua adalah saudara?

(Resensi ditulis oleh Hartono)

8 Responses to “Putri Cina”


  1. 1 nug Thursday, April 24, 2008 at 9:49 pm

    pertama kali baca bukunya sindhunata adalah ‘anak bajang mengiring angin”.Ide2 bukunya terkadang cukup aneh …. misalnya “tak enteni keplokmu …” yg diilhami lukisan Djoko Pekik shg jadilah satu buku dg tema utama “Celeng”.Sayangnya dia sekarang ‘berhenti’ menulis catatan sepakbola di kompas,saya cukup suka baca catatan sepakbolanya sindhu – justru karena dia tidak membahas sepakbola dari sisi teknis, tapi mengemasnya dan menggunakan pertandingan sepakbola untuk membahas soal humanismenya,… ada yg tau dimana bisa beli roman-roman dalam bahasa jawa karangan sindhu ??

  2. 2 hartono Friday, May 2, 2008 at 8:46 am

    Mas Nug, Novel Putri Cina ini juga terilhami oleh lukisan sahabat Sindhunata yang bertemakan kerusuhan Mei 1998. Pada awalnya Sindhunata dimintai tolong untuk membuatkan katalog pengantar untuk pameran lukisan tersebut. Dari sana lalu lahir novel ini.

  3. 3 Nana Podungge Saturday, May 24, 2008 at 7:47 am

    Kemarin aku menghadiri acara BEDAH BUKU novel tulisan Sindhunata yang berjudul PUTRI CINA ini. Yang ketiban sampur membedah buku ini ada empat orang yang super keren, menurutku. Yakni LIC Widjajanti Dharmowijono (ketua jurusan Program Studi Bahasa Belanda di AKABA 17 Semarang), Prof. Abdul Jamil (rektor IAIN Walisongo Semarang), Prof. John Titaley (mantan rektor UKSW Salatiga), dan Prof. Budi Widianarko (dosen UNIKA Soegijapranata Semarang).
    Aku juga jadi pengen menulis hasil ‘bacaanku’ waktu mengikuti bedah buku ini.
    Btw, aku belum punya bukunya🙂 tanggal tua, aku belum bisa beli. Well, aku tertarik membeli buku ini ya tentu setelah mengikuti bedah bukunya.🙂

  4. 4 priyonggo Tuesday, June 17, 2008 at 10:31 pm

    Sindhunata mestinya bicara yg lbh esensial mau menyatunya cina dng pribumi. melalui lembaga perkawinan. maknany cina menganggap pribumi sederejat dng cina. tp tdk, mrk menganggap pribumi rendah ada aturan tdk tertulis dari mrk keturunan cina tdk boleh kawin dng pribumi. klo itu dilakukan mk tdk dianggap anggota keluarga lg. Sepanjang cina tdk mau menyatu dng pribumi mk semangat anti cina akan trus muncul. Apalagi ditmbh cina mendominasi perekonomiaan. Maka setiap krisis politik, etnik cina jd sasaran itu sdh logis. Hilangkan akarnya masalah. Jadikan kita smua satu dalam bumi nusantara. Satu rasa – satu jiwa.

  5. 5 Yap Fu Lan Sunday, September 14, 2008 at 6:45 pm

    Menanggapi Priyonggo, apakah hanya etnis tionghoa yang memiliki tradisi lisan “tidak boleh kawin dengan orang dari suku lain”?
    Saya punya 1 kakak ipar orang Jawa, dan 1 orang Sunda.
    Menurut saya, masing-masing pihak punya stereotip terhadap yang lain. Stereotip itu dibentuk oleh pengalaman pahit. Jangan lupakan sejarah penjajahan Belanda dan Orde Baru, yang mempersempit ruang lingkup orang Tionghoa di bidang ekonomi. Semua pihak harus berani dan berinisiatif membongkar stereotipnya masing-masing. Kalau saling tunggu atau saling tuntut, tidak akan ada perubahan. Rekonsiliasi dimulai dari dalam diri kita masing-masing.

  6. 6 Agnes Natalia Wednesday, March 2, 2011 at 9:21 pm

    Salam buat semuanya. Saya memiliki buku “Putri Cina” dengan tidak sengaja. Saya kagum dengan Romo Sindhunata yang berani untuk mengangkat mengenai masalah Etnis Cina di Indonesia. Saya banyak belajar. Saya berasal dari keluarga Cina yang masih memegang aturan lama, dimana harus menikah dengan orang Cina juga. Lewat buku ini membuat saya memahami masalah yang ada dan saya juga merasa bahwa saya tidak sendirian.

  7. 7 cansalony Thursday, January 19, 2012 at 11:10 am

    Baru aja beli…dan blum baca…masih ngantri dengan buku lain…thx resensi dan komentar atas buku ini.

  8. 8 nanang HARYONO Wednesday, August 27, 2014 at 10:17 am

    Kalau bicara masalah cina melebur ke orang Pribumi, kalau saya lihat ada perbedaan antara Cina Surabaya, Cina Solo dan Cina di Jakarta, kalau di Surabaya Cina lebih terbuka membaur dengan oranga Surabaya demikian juga yang di Solo tapi kalau Cina di Jakarta lebih exclusive membuat komunitas sendiri anatar sesama orang cina.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: