A Thousand Splendid Suns

Adakah kehidupan yang lebih baik di tengah-tengah kecamuk perang? Wajah Afganistan seakan tak pernah beranjak dari kabut debu sisa mesiu, ledakan bom, rentetan senjata kalashnikov, dan bau anyir darah perang saudara. Sejak dahulu bangsa ini telah dijajah oleh kekuatan asing, sejak masa Genghis Khan, Macedonia, Sassania, Arab, Mongolia, hingga tentara merah Soviet. Dilanjutkan dengan perang saudara yang melahirkan boneka Soviet – Najibullah, lalu Mujahidin, Taliban, dan kini di bawah bayang-bayang Amerika Serikat.

Khaled Hosseini, dalam “A Thousand Splendid Suns,“ dengan kekuatan deskripsi yang sangat teliti dan detail menghadirkan koyak moyak drama kehidupan warga Afganistan dengan sentral dua tokoh perempuan: Mariam dan Laila. Mariam dan Laila hanyalah dua dari jutaan perempuan Afganistan yang seolah dilahirkan di waktu dan tempat yang salah. Mereka seolah makhluk yang pantas mendapatakan perlakuan kejam dari laki-laki. Bahkan dari suami mereka sendiri, Rasheed, kekerasan fisik mereka terima setiap hari. Duka apalagi yang harus ditanggung Mariam, setelah lahir didunia sebagai harami, anak haram jadah! Di tangan suaminya, masa muda dan sisa hidupnya terampas oleh siksaan yang tiada akhir. Sanggupkah Mariam menanggung beban berat itu?

Novel ini hendak menyentak perhatian dunia, bahwa pada era millennium ini, nasib perempuan secara masal masih teraniaya dan diinjak-injak oleh kaum lelaki. Khaled Hosseini seolah hendak menuduh bahwa itu semua bersumber dari kecamuk perang yang tiada akhir. Ajaran Islam yang semestinya menebarkan kedamaian bagi semesta alam, rahmatan lil’alamin, telah berubah menjadi monster yang menakutkan di tangan kelompok Taliban.

Pada titik diskusi tentang Taliban, sebagai penganut ajaran Islam, saya mengalami keraguan. Adakah yang salah dengan Taliban? Ketika syariat Islam benar-benar hendak ditegakkan, segala konsekuensi “ketidaknyamanan” hidup dipertaruhkan. Seorang teman mengajukan argumen, bahwa kehidupan di dunia adalah persoalan bagaimana menjaga “pendulum” tidak terlalu ke kiri atau ke kanan. Syariat yang hendak ditegakkan oleh Taliban telah membawa “kesengsaraan” hidup, membawa pendulum ke arah ekstrim kiri. Sementara di seberang sana, ada pilihan untuk mengajak hidup bergeser ke pendulum sebelah kanan, dengan segala “kenikmatan” dunia. Pilihan ada di tangan kita.

Pada sisi yang lain, saya tidak seratus persen percaya bahwa Taliban benar-benar ingin menegakkan syariat Islam. Sebagaimana kelompok politik lain di muka bumi ini, selalu saja ada maksud terselubung atas pilihan garis keras itu.

(Resensi ditulis oleh Hartono)

0 Responses to “A Thousand Splendid Suns”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: