Tionghoa Di Vorstenlanden

Sejarawan Solo, Soedarmono (1999), meneliti fenomena konflik yang terjadi di Vostenlanden (wilayah kerajaan) Surakarta. Ada tesis yang menarik, bahwa kerusuhan yang terjadi belasan kali di Kota Bengawan adalah tidak lepas dari lahirnya sebuah ideologi konflik antara pribumi dan nonpribumi atau antara suku Jawa dan Cina, akibat perbedaan argumentasi atau ketimpangan sosial-ekonomi yang lebar.

Etnis Tionghoa, sebagai golongan minoritas di Vostenlanden, keberadaannya menyita perhatian banyak ilmuwan sosial untuk dikaji lebih dalam. Hadir di sini Peter Carey dengan bukuOrang Cina, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-1825”. Sebenarnya tulisan ini adalah hasil terjemahan klasik ”Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java, 1755-1825” yang diterbitkan dalam jurnal Indonesia, Cornell University April 1984.

Dalam periode yang diambil Peter Carey tersebut, bibit konflik etnis muncul dalam peristiwa De Java Oorlog (Perang Jawa) yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro. Hal penting yang lama tidak kita ketahui adalah motivasi Pangeran Dipenegoro angkat senjata tahun 1825-1830, selain penyerobotan tanah kuburan leluhurnya, namun juga semangat anti kaum Tionghoa. Kenapa ini terjadi? Ternyata, semua akibat setting kolonial Belanda. Sejak lama golongan Cina dimanfaatkan sebagai ”perantara” sekaligus ”mesin pencetak uang” oleh penguasa kolonial. Pada dasarnya, Belanda tidak mampu bergerak dalam wilayah ekonomi dagang, mereka lebih lincah dalam kontrol keamanan dan pemerintahan. Karena itu, dengan keterbatasan sumber daya manusia, Belanda mengangkat Tionghoa sebagai perantara antara mereka dengan golongan Inlander (pribumi). Sadar atau tidak, Tionghoa ditempatkan sebagai ”perisai” atau ”kambing hitam” di saat terjadinya kerusuhan menentang penguasa atau ketika terjadinya kevakuman pemerintah.

Belanda menjual berbagai macam pacth (hak pengelolaan) bagi jalan tol, candu, rumah gadai, kepada pengusaha Cina. Para pengusaha ini berani membeli pacht dengan harga tinggi karena mereka tahu bahwa keuntungan yang didapatkan akan berlipat ganda. Dengan dukungan penguasa, para pachter tersebut memeras rakyat dan menjadi kaya karena posisinya. Itulah awal muncul tuduhan, Cina sebagai kambing hitam atas kemiskinan rakyat. Tak pelak, Diponegoro mengumumkan bahwa orang Cina menjadi salah satu target dari perang Jawa. Kian tajam ketegangan dan jauh dari upaya rekonsiliasi manakala disebarluaskan mitos lelaki Jawa takut menikahi perempuan Cina. Mitos lainnya yaitu ”abu” orang Cina lebih tua sehingga nanti anak-anak hasil percampuran itu akan lebih dominan sifat Cina-nya. Perang Jawa memisahkan satu masa yang dibangun atas dasar saling menghargai menjadi saat-saat yang diwarnai kecurigaan dan ketakutan.

Sebuah perkembangan yang menonjol setelah hengkangnya kekuasaan Inggris dari Vostenlanden pada bulan Agustus 1816. Belanda berhasil memulihkan kembali kedudukannya di tanah jajahan. Tapi harus menghadapi persoalan hutang-hutang raksasa dan pemasukan yang tidak memadai dari penyewaan tanah yang dilimpahkan Raffles. Dari sana muncul niat memanfaatkan gerbang-gerbang tol sebagai sumber pemasukan untuk menutupi kekurangan pajak pemerintah. Dilakukanlah perluasan yang cepat perdagangan eceran candu (hal 72). Orang-orang Cina terkenal sebagai bandar candu dan pengecernya di wilayah kerajaan. Dari tahun ke tahun usaha yang digeluti Cina semakin maju karena penjualan-penjualan candu dan pemakaian candu di wilayah kerajaan mengalami peningkatan. Sekitar 16 persen orang-orang Jawa telah memakai candu.

Sebetulnya angka pemakaian candu hampir dapat dikatakan jauh lebih tinggi kalau dihitung dari kenyataan merakyatnya pemakaian jenis-jenis candu ”orang-orang miskin”, seperti rokok yang dicelupkan ke dalam candu, kopi yang dibumbui candu dan buah pinang yang dibubuhi candu. Candu secara luas juga digunakan sebagai obat perangsang dan sebagai bagian berharga ilmu obat-obatan orang Jawa untuk mengobati berbagai macam penyakit yang berbeda. Tak ayal, orang-orang Cina penjaja candu mereguk keuntungan yang kian besar.

Kalau kecanduan opium merupakan hiburan bagi orang-orang kaya, bagi orang miskin itu adalah bencana. Jalan menuju kemerosotan sosial serta kejahatan setiap saat terbuka lebar. Mereka kecanduan, tidak mau bekerja dan rawan melakukan aksi-aksi kriminalitas demi terbelinya candu. Bahkan, beberapa orang Pangeran dari Yogyakarta dan sejumlah pejabat tinggi terjerumus kepada kegemaran menghisap candu bermutu tinggi. Cina amat memainkan perannya di Kasunanan dan Kasultanan. Kemudian akrab kita mendengar istilah Kapiten Cina. Yaitu, orang yang ditunjuk oleh Belanda untuk menjadi kepala suku di titik-titik ekonomi (pasar, bandar, dan jalan tol).

Karya akan terasa lebih lengkap jika saja Peter Carey menggunakan sumber-sumber Cina. Bagaimanapun ini sebuah buku yang menarik untuk dibaca oleh peminat sejarah dan persoalan Cina di Jawa. Selain hadir melengkapi historiografi tentang etnis Cina di Vostenlanden, penulis juga memaparkan sejarah yang tidak banyak diketahui oleh publik terutama dalam mengupas dominasi Cina di abad XVIII dan XIX.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Peneliti Kabut Institut, Solo, Hp 081 548 781 140)

5 Responses to “Tionghoa Di Vorstenlanden”


  1. 1 mashar Friday, June 6, 2008 at 8:06 am

    Bahasan yang berbau Cina paling tidak sudah ada 3 buku yang direview di Rumah Baca.
    – China Undercover
    – Putri Cina
    – Tionghoa di Vorstenlanden.

    Novel Putri Cina tulisan Sindhunata mungkin akan lebih baik di baca oleh mereka yang sedang mendalami riset tentang fenomena konflik yang berbau sara etnis Cina.

    Hartono

  2. 2 priyonggo Tuesday, June 17, 2008 at 10:11 pm

    Sy nasionalis jg sy pluralis tp melilht, tanah jawa dikuasai cina, sak nasinalis2ny tetap tdk bs terima. Properti di jln2 protokol dikuasai cina, tmpt2x hiburan kelas atas dipenuhi cina, semua yg serba elit – serba wah dinikmati cina. knp ? pdhl jumlah mrk kcl. Kenapa jawa tdk bs berkuasa ditnhnya sendiri ? Apa betul jawa bermental kuli ? Apa betul tdk ada yg berjiwa Diponegoro, atau Sultan Agung, atau Panembahan Senopati, atau Brawijoyo atau Joyoboyo ? Dmn heroisme jawa skrg ? Sy kaget ketika melihat di tv mengenai cina miskin di daerah Tangerang, dmn seorang cina yg ahli kebudayaan cina ditanya kenapa cina didaerah itu bs miskin ? jwbnya : krn mrk kawin dengan pribumi. Berarti menurutnya gen pribumi miskin – kotor. Dan memang kenyataannya org cina ekslusif tdk mau membaur dng pribumi apalagi kawin. Dan cilakanya sy melht di tnh jawa org jawa anteng2x sj. Sy org jawa tdk hbs pikir trhdp kultur jawa sendiri yg nrimo – pasrah. Menurut sy kultur jawa hrs diubah menjadi kultur priyayi kultur bangsawan yg selalu tdk bs terima klo haknya diinjak-injak. yg selalu mau menjadi tuan di tanahnya sendiri. Ya smua org jawa hrs bangkit – bersatu – kerja keras menghapus dominasi cina di tanah jawa merobahnya menjadi jawa menjadi tuan di tanahnya sendiri. Barulah leluhur kita Diponegoro, Sultan Agung, Panembahan Senopati, Brawijoyo, Joyoboyo bisa bahagia krn perjuangannya tdk sia-sia. Jawa menjadi Tuan di tanah Jawa.

  3. 3 jarot Tuesday, December 9, 2008 at 3:01 pm

    wah bahaya tuh mas pri… jgn kesusu lan pragmatis. jarene nasionalis, ngono ya ngono tapi aja ngono…

  4. 4 rey Saturday, February 20, 2010 at 4:57 am

    ik maoe itoe troes ada diskoesi….boekan masalah tidak ada itoe pemimpin jang seperti dia, tapi tidak ada itoe dari kita jang mendjiwai sifat-sifat kita poenja pahlawan..bangsa ini boekan bangsa ontjom, djangan mengeloeh troes, tapi bekerdja….djangan sekali-kali meloepakan sedjarah…mari sama-sama kita poenja hati bersifat seperti itoe pahlawan…

  5. 5 rey Saturday, February 20, 2010 at 5:00 am

    semoea bangsa itoe diberi kemampoean…makanja berdjoeang, djangan tjepat menjalahkan kita poenja saoedara Tionghoa….dia telah berdjoeang dengan gigih…kita sahadja jang tiada taoe dan menghargai…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: