Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro

Di Indonesia, berserakan buku yang membahas tentang masyarakat Cina. Studi tentang Tionghoa di Kota Solo dalam berbagai aspek permasalahan telah menarik para ahli untuk menelitinya. Dari hasil studi sejarah telah muncul beberapa hasil penelitian. Seperti, Sariyatun ”Usaha batik Masyarakat Cina Di Vorstenlanden Surakarta Awal Abad XX” (UNS Press, 2005), membahas munculnya usaha batik Cina yang sukses meramaikan pasar sandang di Solo. Susanto ”Maesenas Cina dan Bisnis Seni Pertunjukan Wayang Wong: Suatu Kajian Sejarah Asimilasi Budaya Di Surakarta Abad XIX dan XX” (1999), mengupas tuntas peranan besar golongan Timur Asing ini ikut menentukan proses sejarah perjalanan Wayang Wong di Solo.

Soedarmono, Konflik Pribumi dan Nonpribumi (1999), merekontruksi sejarah konflik antara masyarakat Jawa dengan Cina yang beberapa kali terjadi di Kota Solo. Konflik bernuansa rasial ini merupakan suatu fenomena penting dan menarik dalam perjalanan sejarah Solo. Selanjutnya, Beny Yuwono ”Etnis Cina  Di Surakarta 1890-1927” (1999) dan Ida Yuliati ”Mindering Di Pedesaan Jawa Awal Abad ke 20” (1999). Kedua alumnus sejarah UGM ini, memaparkan potret kehidupan sosial ekonomi kaum Tionghoa dan jasa peminjaman kepada inlander (pribumi) yang dilakukan oleh Cina yang saat itu tidak diduga telah ada aktivitas pinjam-meminjam.

Terbitnya buku Prof. Dr. Rustopo yang kedua Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro” (Ombak, 2008) ini memberikan warna baru dan mengisi kekosongan historiografi tentang biografi tokoh Cina. Sebelumnya, pengajar ISI Solo tersebut menerbitkan “Menjadi Jawa: Orang-orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa Di Surakarta, 1895-1998” (Ombak, 2007). Atas peristiwa belasan konflik etnis yang pecah, banyak mereka yang trauma. Ada alasan yang argumentatif, untuk melindungi diri dan terjauh dari konflik, maka mereka (Cina) sengaja meleburkan diri “menjadi” wong Jawa, dengan berbudaya dan berkesenian Jawa. Oleh penulis, alasan itu ditolak mentah-mentah. Berdasarkan risetnya, ada seorang Tionghoa yang menggeluti kebudayaan Jawa, tanpa ada niatan untuk melindungi diri. Belajar Jawa karena berkeinginan untuk mencari identitas, yaitu Go Tik Swan Hardjonagoro.

Dalam sejarah Mataram Islam, tidak banyak orang yang menyandang derajat sebagai Panembahan, gelar bangsawan yang sangat tinggi. Di Kerajaan Demak, hanya dua orang yang memperoleh gelar itu, Panembahan Jin Bun (Raden Patah) dan Panembahan Senopati. Sedangkan di Keraton Kasunanan hanya Pangeran Hadiwijaya, Harya Mataram, dan Go Tik Swan. Ditinjau secara fisik, wajar bila orang bertanya mengapa gelar itu diberikan kepada Go Tik Swan yang justru berasal dari keturunan Cina. Dengan segudang pengetahuannya, Go Tik Swan mempunyai peran besar bagi kelangsungan kebudayaan keraton. Misalkan, ia dimintai petunjuk oleh raja untuk jalannya upacara Kirab Malam Satu Suro dan pusaka-pusaka yang dikirabkan.

Go Tik Swan ”jatuh cinta” pada kebudayaan Jawa karena hasil konvergensi antara faktor pribadi dan faktor lingkungan. Dia mengisi masa kanak-kanak dan remajanya dengan seni tradisi Jawa. Seperti nembang, nabuh gamelan, menari, menonton wayang kulit, dan mengoleksi keris. Dia dibesarkan di lingkungan yang sehari-hari penuh kegiatan kesenian. Tinggal serumah bersama kakeknya, Tjan Khay Sing. Kakeknya adalah pengusaha batik nomor satu di Solo. Di rumah pembatikan itu, setiap hari mendengar lantunan tembang-tembang macapat yang dibawakan oleh ibu-ibu pembatik. Tetangganya, Hadiwijaya dan Prabuwinata senang hati mempersilahkan Go Tik Swan untuk belajar gamelan dan tari.

Bila ada pertunjukan wayang kulit yang berada tak jauh dari rumahnya, begadang semalam suntuk melihatnya. Kegilaannya pada kebudayaan Jawa mengakibatkan dia dalam lingkungan keluarga termajinalkan, bahkan dianggap tidak waras. Seharusnya ia belajar Barongsai, tapi malah mengambil kuliah di Sastra Jawa di Universitas Indonesia. Go Dhian Ik dan Tjan Ging Nio, kedua orang tuanya, dari awal wanti-wanti agar masuk jurusan ekonomi. Orangtuanya kecewa, lalu vespa kesayangan ditarik dan biaya kuliah dihentikan. Tidak patah arang, dia mencari kerja sambilan demi memenuhi hasratnya agar tetap bisa menekuni Sastra Jawa. Berkat kepiawaiannya menari di Jakarta, berkenalanlah dengan Presiden Sukarno. Yang selanjutnya menjadi asisten pribadi dan bebas keluar-masuk istana.

Batik Indonesia yang sohor sampai belahan dunia itu adalah hasil kreatifitas Go Tik Swan dan ini merupakan proyek Bung Karno untuk Indonesianisasi dan nasionalisasi batik Jawa. Entah kenapa justru batik ciptaan Go Tik Swan bukan batik Solo, Pekalongan maupun Lasem yang diajukan untuk dinasionalisasi. Batik-batik karyanya didasarkan atas konsep nunggak semi. Maka, motif khas dan kualitasnya diakui di dunia perbatikan Indonesia. Hingga kini, banyak sekali peminat busana atau desainer pakaian batik yang angkat topi kepada Go Tik Swan sebab karyanya tidak kalah bila disejajarkan dengan batik asli buatan pribumi.

Kekurangan buku ini (mungkin) Rustopo tidak menguraikan justru bagaimana pandangan Go Tik Swan tentang hakekatnya Jawa sebagai kebudayaan dan identitas dan nilai kebudayaan Tionghoa yang hidup pula di lingkungan keluarganya. Penulis cuma menyelami kehidupan Go Tik Swan dalam berproses. Namun di sini penulis mampu merekam dan memperlihatkan hubungan antara tindakan dan nilai atau makna (struktur pengalaman) yang dilakukan oleh pelakunya dan bagaimana perbuatan itu dimengerti oleh lingkungan sosialnya.

Guru besar UGM, Bambang Purwanto dalam pengantarnya mengatakan, karya ini memberi kontribusi yang sangat penting untuk memahami salah satu proses sejarah yang unik dalam pembentukan jati diri kejawaan yang diwakili oleh pengalaman Go Tik Swan. Ia tidak melihat perbedaan etnis sebagai sesuatu yang harus dipungkiri. Sebaliknya, melihat perbedaan sebagai sumber kekuatan yang dapat membentuk sebuah jati diri yang lebih kuat. Penulis berhasil memberikan pemahaman yang jembar, mengajak masyarakat untuk menghilangkan jauh-jauh pandangan stereotif.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Peneliti sejarah di Kabut Institut, Solo, Telp Hp 081 548 781140)

4 Responses to “Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro”


  1. 1 fany Tuesday, July 29, 2008 at 2:31 pm

    batikindonrsia perlu dilestarikan……….

  2. 2 Heri Priyatmoko Thursday, November 6, 2008 at 12:21 pm

    satu2nya Budayawan dari etnis Thionghoa ini, telah tutup usia pada Rabu 05-11-08, diumur 77 tahun.

  3. 3 kucing bertopeng Tuesday, March 6, 2012 at 11:39 pm

    bagi teman2 yang tertarik dengan sekilas kisah mengenai Go Tik Swan ini, saya menemukan artikel yang sangat bagus di :http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/3849-pelopor-batik-indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: