Di Balik Kick Andy

Andy Flores Noya adalah jurnalis yang mempunyai kemampuan luar biasa, terutama dalam menggali informasi yang ”disembunyikan” narasumber. Tetapi di acara Kick Andy yang dia bawakan, ia tidak menjadi satu-satunya tokoh penentu suksesnya acara. Ada kru yang ikut berperan dan menentukan keberhasilan Kick Andy. Diperlukan waktu dan proses panjang sebelum suatu episode Kick Andy tayang di televisi. Selain berdiskusi di forum rapat, tim kreatif Kick Andy turun ke lapangan untuk riset dan investigasi layaknya wartawan media cetak guna menghasilkan produk jurnalistik yang memiliki bobot.

Anggota kerabat kerja Kick Andy berlatar belakang jurnalis. Sebelum masuk ke Metro TV dan bergabung di tim kreatif, mereka memiliki pengalaman di dunia wartawan. Misalnya, Agus Pramono yang dikukuhkan sebagai produser. Pria jebolan dari Sekolah Tinggi Publistik itu mengawali kariernya di Anteve. Orang-orang di balik layar Kick Andy, beberapa masih berumur muda. Ayu Windiyaningrum berposisi sebagai periset. Perempuan kelahiran Jakarta 5 April 1984 ini, alumnus Fakultas Psikologi UI. Greget pada dunia jurnalistik memuncak pada masa kuliah ketika membidani majalah Psyche, sebagai editor. Waktu libur tidak harus berhenti untuk belajar. Ayu memanfaatkan liburan kuliah dengan mengikuti Programme Research and Development di RCTI.

Sementara pemegang posisi reporter, Rani Anandayu dan Gaudensius Aristiandi Pramudityo. Jabatan lainnya, penyelia program yang digawangi Usman Kansong. Wapemred diisi Makroen Sanjaya jebolan harian Surya dan SCTV. Lalu staf produksi diperkuat oleh duet Husin Assegaf dan Indri Nababan. Kekompakan regu kreatif Kick Andy terlukiskan dalam buku ”Kick Andy: Menonton dengan Hati” ini, saat menyiapkan episode Sepenggal Asa di Balik Terali pada Kamis 19 Juli 2007. Di Lembaga Pemasyarakatan Anak (laki-laki) Tangerang, pada hari Kamis 5 Juli 2007, jam belum menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun tim sudah berada di LP guna mempersiapkan rekaman yang akan diputar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Di berbagai sudut telah terpasang lima buah kamera. Di sisi kanan tengah aula telah siap panggung dengan latar belakang gambar Andy Noya dengan rambut kribonya sedang tertawa yang menjadi ciri khas acara yang sering kali membius pembaca dalam keharuan. Sejumlah anggota tim tampak sibuk mengatur dan berdialog dengan anak-anak LP, sementara yang lain sibuk membolak-balik kertas (script) format acara. Narasumber utama pas acara itu, anak-anak penghuni LP Tangerang. Dibutuhkan waktu sedikitnya satu bulan bagi tim dalam menyiapkan taping di penjara ini. Supaya acara punya bobot dan tidak sekadar tayang, tim lebih dahulu menyebarkan angket kepada anak-anak (hal 21-22). Berkat kepiawaian personal menyebabkan tayangan Kick Andy memiliki nilai jurnalistik layaknya sebuah liputan pendalaman di surat kabar dan memberikan dampak kepada masyarakat.

Acara yang menempati posisi teratas dari top 20 acara terfavorit di Metro TV ini, proses kelahirannya tidaklah singkat. Sebetulnya itu didasari atas permintaan Surya Paloh, bos Metro TV, yang ingin mendayagunakan kemampuan Andy Noya yang suaranya cenderung cempreng itu tampil seperti apa adanya di layar kaca. Surya Paloh terpukau manakala melihat kecerdasan Andy memandu acara talk show Today’s Dialogue. Para narasumber yang umumnya politikus dan pejabat kerab dibuat tak berkutik saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Andy yang selalu menukik sasaran yang jawabannya selalu ditunggu-tunggu pemirsa. Dari mimik wajah narasumber, pemirsa dengan gampang menyimpulkan mereka berbohong atau sekadar basa-basi. Jika narasumbernya berlaku seperti ini, kerab Andy mendiamkannya, sehingga lewat simbol gambar yang tertayang di layar kaca, pemirsa semakin mudah menerka seperti apa ”kualitas” atau ”moral” tokoh yang diwawancarai Andy Noya (hal 4).

Akhirnya, tim Metro TV pun dilibatkan untuk mewujudkan ambisi Surya Paloh. Dalam sebuah forum, Adjie S Soeratmadjie yang sehari-harinya menjadi Manajer Promosi di Metro TV mengajukan konsep acara bernama Andy Noya Show. Bukan barang cepat, butuh waktu satu tahun ide ini benar-benar disepakati Surya Paloh. Acara yang sekarang menjadi salah satu ikon Metro TV dan mengundang decak kagum banyak orang ini, formatnya hampir mirip Today’s Dialogue. Hanya saja, Today’s Dialogue banyak memasuki wilayah politik, dan Kick Andy sendiri menyajikan topik-topik sosial, kesehatan, budaya dan masalah kemasyarakatan lainnya.

Kelebihan dari gaya Andy Noya yang mampu membawa acara dalam kejenakaan, nyentil, nyindir, nakal, tajam namun tidak menyakitkan informan. Hercules, preman Tanah Abang yang kondang seramnya, ternyata dalam acara Kick Andy sebagai bintang tamu, setelah diwawancarai kita tahu dia seorang yang baik dan melindungi pedagang. ”Setelah kedatangan Hercules, Pasar Tanah Abang sepi pembunuhan, pemalakan dan perkelahian”, ujar pedagang ketika dimintai komentar. Guna mencari keseimbangan persepsi, tim menghadirkan orang-orang yang sekiranya tahu sehari-hari narasumber. Inilah perspektif yang adil dan memberi warna dalam acara Kick Andy.

Yang menarik untuk dibaca, karya ini juga memuat kumpulan kisah yang ditayangkan di Kick Andy, yang mampu membuat kita termotivasi, terinsiprasi, dan mensyukuri hidup yang sudah diberikan Tuhan. Kisah-kisah itu membuat kita mampu bangkit dari rasa putus asa dan menatap hidup dengan optimis. Ada kisah Jugun Ianfu, kemudian kisah korban Narkoba, lalu riwayat Angun Cipta Sasmi, Xanana Gusmao, Ebit G Ade hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X. Perjalanan atau lika-liku hidup unik mereka terbahas dalam buku ini.

Andrea Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi mengakui, menonton Kick Andy adalah sebuah experience. Terbitnya buku ini kian meyakinkan, menikmati Kick Andy tidak cukup dengan indera mata, melainkan juga kudu menonton dengan hati, seperti yang tertulis dalam judul buku. Tidak sedikit para pemirsa yang menitikkan air mata. Bahkan pernah pula host acara ikut berkaca-kaca. Mereka tak kuasa terseret dalam kesedihan dan keharuan atas petualangan hidup bintang tamu. Benar-benar buku yang menyentuh perasaan.

(Resensi ditulis oleh Heri Priyatmoko, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, UNS, Solo

Peneliti di Kabut Institut, Solo, Telp Hp 081 548 781 140)

5 Responses to “Di Balik Kick Andy”


  1. 1 aziz phamuk Tuesday, September 2, 2008 at 2:36 pm

    mau donk bukunya, gratis ya…

  2. 2 mashar Tuesday, September 2, 2008 at 2:40 pm

    kalau ikutan acara Kick Andy ya gratis. kalau yg ini mah beli lagi..

  3. 3 zamronia79@ Thursday, September 25, 2008 at 2:04 am

    bang Andy orang HEBAT oprah winfry made in Indonesia.CALON PRESIDEN INDONESIA 2009.

  4. 4 yoke suryadarma Wednesday, October 29, 2008 at 3:34 pm

    wah, kayaknya kita yang masih muda perlu membeli bukunya. tapi bener-bener sangat baik jika tim krew memberi kita gratisan. hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: