The Miracle Life of Edgar Mint

Kini saya jadi faham mengapa Nabi Muhammad S.A.W pernah bersabda tentang anak yatim, “Barangsiapa menanggung anak yatim sehingga menjadi kaya, maka telah wajib baginya memasuki syurga.” Sabda Nabi lagi: “Barangsiapa mengusap kepala seorang anak yatim tanda belas kasihan, maka ia mendapat kebajikan atas setiap rambut yang diusapnya itu.”

Itu pula yang saya rasakan saat menikmati lembar demi lembar novel yang menyentuh dari Brady Udall “The Miracle Life of Edgar Mint,” (Vintage Books, 2001). Ini kisah tentang perjalanan hidup Edgar Mint yang yatim piatu. Edgar Mint dilahirkan kedunia sebagai anak yang tidak diharapkan. Dia adalah buah hubungan “terlarang” antara wanita Indian dan laki-laki kulit putih. Jadilah dia setengah Apache, setengah kulit putih. Padahal di antara para cowboy Amerika, ada stigma buruk perkawinan silang antara wanita Indian dan lelaki kulit putih. Adalah sebuah bencana apabila hubungan itu terjadi. Dan bencana itu benar-benar menimpa Edgar. Dia ditinggal pergi Ayahnya, saat dia dalam kandungan, dan ibunya mati overdosis karena minuman keras, karena tak sanggup menanggung hidup dengan bayi yang telah dikandungnya dari benih lelaki laknat yang tak bertanggung jawab.

Novel Brady Udall ini tampaknya juga ingin menyinggung potret buram bangsa Indian yang kini menjadi kelompok terpinggirkan di Amerika – Brady Udall sendiri lahir dan besar di lingkungan bangsa Indian Northeastern Arizona. Bangsa Indian kini seolah terlempar dari tanah di mana dulu pernah berjaya, menguasai gurun, savanna, bukit-bukit terjal, ngarai, dan hutan belantara.

Mengikuti perjalanan hidup Edgar Mint terasa mengharukkan, sekaligus menimbulkan rasa malu pada diri sendiri. Karena senyatanya, kita justru gampang menyerah dan kadang “cengeng” dengan kondisi fisik normal kita. Sementara Edgar mampu menapaki hidup dengan penuh ketegaran, meskipun dengan tempurung kepala yang hampir remuk karena terlindas ban mobil tukang pos saat dia bermain-main di bawah badan mobil, tanpa menyadari bahaya dari tempat bermainnya itu. “The miracle” terjadi, karena dengan tengkorak kepala yang hampir remuk, Edgar masih bernyawa dan diberi kesempatan untuk mengajarkan kepada kita betapa hidup harus dilalui dengan semangat.

Ada empat babak besar dalam hidupnya yang dilalui setelah itu, yang dalam novel ini terbagi dalam sub judul: St. Divine, Willie Sherman, Richland, dan Stoney Run.

Hidup dengan kondisi seperti Edgar Mint tidaklah mudah. Sebagai anak yang tak diharapkan, saat dia 3 bulan dalam kondisi koma dan harus dirawat di rumah sakit St. Divine berbulan-bulan kemudian, tak ada satupun keluarga yang menjenguknya, termasuk ibunya sendiri. Untunglah dirumah sakit itu dia dikelilingi sahabat-sahabat barunya yang rata-rata usianya lebih tua dari Edgar. Di sana ada Art, Jeffry, dan dr. Berry Pinkley. Mereka seolah “malaikat” yang melindunginya. Saat perpisahan terjadi, ketika Edgar harus pergi menginggalkan St. Divine, Art memberi hadiah sebuah belati untuk melindungi diri, dan hadian mesin ketik Hermes Jubilee, karena setelah kecelakaan itu Edgar tak mampu menulis dengan tangannya.

Pada episode selanjutnya, Edgar harus tinggal dan bersekolah di Willie Sherman. Di sana Edgar harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya hidup melawan anak-anak yang lebih besar. Tapi di sana dia juga menemukan sahabat sejati, Cecil. Di sana Edgar menemukan dunia anak-anak, termasuk kenakalan khas anak-anak, mengintip istri kepala sekolah berselingkuh dengan lelaki Indian. Di sana pula, Edgar masih melanjutkan kebiasaan buruknya: masih suka ngompol.

Titik balik hidup Edgar terjadi ketika sebuah keluarga Kristen Mormon, bermaksud mengadopsinya dan membuatnya tinggal di Richland. Dia merasa bahwa Lana dan Clay, orang tua angkatnya, Brain dan Sunny, benar-benar mencintainya dan menganggapnya saudara sendiri. Termasuk bagaimana Edgar pernah merasakan kecupan hangat Sunny, saudara angkat perempuannya. Tapi itu bukanlah akhir dari perjalanan hidup Edgar Mint, sampai dia menemukan tukang pos yang telah melindas kepalanya. Bukan untuk menuntutnya dan mengirimkan ke penjara, tapi untuk menyampaikan bahwa dia kini baik-baik saja, tidak mati seperti yang mungkin dibayangkan oleh tukang pos.

Berhasilkah Edgar menutup episode hidupnya dengan menebarkan samudra kelapangan hati untuk memaafkan tukang pos, yang pasti amat bersalah karena merasa telah membunuh anak kecil dengan mobilnya? Adakah “miracle” lain yang menantinya diakhir cerita?

(Resensi ditulis oleh Hartono)

0 Responses to “The Miracle Life of Edgar Mint”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: