Kudeta Mekkah

Terorisme telah menjadi hantu paling menakutkan di abad ini. Gerakannya secepat kilat, tak terduga. Dia bisa muncul di siang bolong, ketika orang sedang sibuk bekerja. Atau bisa saja muncul di malam gelap gulita, ketika orang sedang terlelap tidur. Pelaku terorisme kini tidak selalu dikenali sebagai sosok yang berjenggot lebat, bersorban, berjidat gelap, berhidung bengkok. Dia bisa tampil rapi, klimis, berpendidikan tinggi, merokok, minum alkhohol, dan berbahasa Inggris. Stereotype teroris telah bermetamorphosis sejak runtuhnya menara kembar WTC pada tanggal 11 September 2001. Tapi tunggu dulu. Siapa yang kita maksud dengan teroris? Definisi terorisme yang kita kenal saat ini, adalah buah propaganda AS dan sekutunya. Tepat setelah gedung pencakar langit yang menjulang di Kota New York rontok di hajar pesawat domestik oleh mereka yang disebut teroris, G.W. Bush kemudian memberikan pilihan ganda kepada negara-negara lainnya: “after the 9/11, there are only two choices: either with us, or with the terrorist!”

Apa sebenarnya akar dari terorisme itu? Dalam buku “Kudeta Mekkah” yang ditulis oleh Yaroslav Trofimov – koresponden The Wall Street Journal – menguak misteri sebuah kudeta berdarah yang terjadi pada tanggal 20 November 1979. Peristiwa itu sendiri telah terjadi 30 tahun silam, dan tidak banyak orang mengetahui pokok persoalan serta jalannya peristiwa itu sendiri. Bagi Yaroslav Trofimov, peristiwa “kecil dan tidak penting” itu justru menjadi tonggak bagi gerakan radikalisme yang kini oleh kelompok barat disebut sebagai “hantu terorisme.”

Peristiwa itu dipicu oleh gerakan aliran Wahhabi, gerakan yang menghendaki kembalinya kejayaan Islam pada masa hidupnya Rasulullah Muhammad SAW. Gerakan ini telah berkembang lama dan menyebar di jasirah Arab, yang muak dengan kebobrokan monarki Saudi dalam memberi peluang masuknya unsur-unsur kafir dalam kehidupan Islam di Arab Saudi. Gerakan itu kemudian berkembang sebagai gerakan radikal di bawah komando Juhaiman, seorang kopral Garda Nasional Arab. Juhaiman juga kecewa dengan guru spiritualnya sendiri, Ibn Baz, seorang tokoh spiritual Islam buta, yang lebih condong membela monarki Saudi, daripada ikut meluruskan ajaran Islam yang sudah bengkok-bengkok karena syahwat kuasa dan harta.

Lalu, timbullah kudeta berdarah di tanah suci Mekkah itu, ketika Juhaiman mengikrarkan diri untuk merebut tanah suci dengan senjata dan mengembalikan kejayaan Islam seperti yang telah dijanjikan dalam hadist Nabi, yakni setelah dibaiatnya Imam Mahdi dan turunnya Isa Putra Maryam dari langit. Juhaiman telah menemukan Imam Mahdi yang diramalkan itu, pada sosok pemuda tampan, berdahi lebar, dan memiliki tanda merah di pipi kanan. Dialah Muhammad Abdullah!

Persitiwa itu tentu membuat malu istana Saudi, karena tidak mampu menjaga tempat suci umat Islam dunia. Maka, segala akses informasi tantang peristiwa itu ditutup rapat oleh istana. Celakanya, peristiwa itu bocor dengan berita simpang siur di luaran. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iran yang mulai mengipasi dengan teori konspirasi barat yang ingin menghancurkan Islam. Kerusuhan anti AS meledak di mana-mana. Senyatanya, Juhaiman adalah pengikut Wahabi yang Sunni, dan Iran adalah Syiah. Tapi berita kemudian dipelintir sebagai gerakan Syiah yang harus diperangi karena mengusung bid’ah yang juga bisa menggerogoti Islam. Bahkan seorang pejabat AS menyebut peristiwa Mekkah sebagai “pemberontakan Syiah 1979.”

Teori konspirasi yang dihembuskan Iran terbukti ampuh dalam mengipasi umat Islam untuk mengganyang AS yang kafir. Ketika pada saat yang sama Soviet, yang mengajarkan Marxisme-Leninisme gencar merengsek ke Afganistan, dan memerangi Islam, AS punya alasan untuk mengalihkan musuh besar Islam ke Soviet. Lahirlah sukarelawan Islam yang berangkat jihad ke Afganistan, membantu saudara-saudara sesama muslim. Salah satu diantara para relawan yang pertama pergi ke garis depan Afganistan adalah seorang pria pemalu berusia dua puluh dua tahun, bernama Osama Bin Laden! Terkejut dengan keganasan perang di Mekkah, pendiri Al-Qaeda di masa depan ini tidak dapat menahan simpati kepada Juhaiman dan motif pemberontakannya. Bin Laden menyimpan segenap kemarahannya terhadap rezim Saudi. Juga kepada mereka yang menodai Islam!

(Resensi ditulis oleh Hartono)

2 Responses to “Kudeta Mekkah”


  1. 1 aziz phamuk Tuesday, September 2, 2008 at 2:40 pm

    ane harus cari tu buku!!! must

  2. 2 erwin Monday, April 20, 2009 at 7:32 pm

    buku ini keren..
    Ada buku lain gak yang sejenis itu??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: