The Tipping Point

Tahukah anda bahwa virus mampu menduplikasi dirinya secara deret ukur: 2, 4, 8, 16, 32, 64, dst…? Bukan deret hitung 1, 2, 3, 4, 5, 6, dst? Penyebaran virus semacam itulah yang dalam istilah kedokteran disebut epidemic, atau mewabahnya penyakit dalam komunitas atau daerah tertentu dalam jumlah yang melebihi batas jumlah normal atau yang biasa. Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia, pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi, yaitu “berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi … keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka” (UU 4/1984).

Dalam kehidupan sosial, pola penyebaran virus semacam itu ternyata dapat pula terjadi di masyarakat dalam bentuk social epidemic. Pola penyebaran ”virus” itu dapat terjadi secara alamiah, tapi sebenarnya dapat pula dilakukan dengan rekayasa, asal kita mengetahui apa faktor-faktor pendukung percepatan penyebaran ”virus” tersebut. Buku Malcolm Gladwell, secara gamblang membedah fenomena social epidemic dalam buku best seller-nya, ”Tipping Point” (Back Bay Books, 2000).

Ada 3 ciri utama dalam epidemic, yaitu bersifat menular, membesar, dan radikal. Dari sana, Malcolm Gladwell kemudian mengupas adanya 3 faktor utama: (1) The law of the few, (2) The stickiness, (3) The Power of context. Gladwell membedah ketiganya dalam gaya bertutur yang enak dan mengalir. Teori psikologi sosial, marketing, atau manajemen, dibahas dengan cara yang ringan. Didukung dengan kajian kasus secara ilustratif, membuat buku ini enak dibaca.

Melalui The law of the few, Gladwell ingin menunjukkan bahwa penyebaran “virus” membutuhkan peran orang-orang terpilih, yang jumlah sangatlah sedikit. Mereka itu adalah Connector, Maven, dan Salesman. Connector adalah penghubung yang handal, berfungsi sebagai social glue dan spread message. Maven adalah sesorang yang memiliki informasi, berfungsi sebagai data bank dan provide message. Sedangkan Salesman adalah seorang penjual informasi yang ulung, berfungsi sebagai persuader. Dalam buku ini dicontohkan betapa heroiknya Paul Revere – sebagai connector – dalam mengobarkan perang melawan Inggris dengan menunggang kuda di malam hari, menggedor pintu-pintu rumah penduduk. Atau Mark Alpert – sebagai maven – yang berperan menyediakan informasi akuran soal harga-harga dipasaran. Dan Tom Gau – sebagai salesman.

Faktor kedua adalah The stickiness, atau terjemahan bebasnya adalah faktor kelekatan. Artinya sebuah pesan atau gagasan yang berhasil menembus pikiran, kesadaran, dan tersimpan di memori kepala, hingga merasuk ke hati. Proses pelekatan itu biasanya dilakukan dengan paparan yang berulang-ulang atau terus menerus. Contoh sehari-hari adalah tayangan iklan di TV. Di sini dicontohkan perbedaan mendasar pada kasus program TV Sesame Street dan Blues Clues.

Faktor ketiga adalah The Power of Context. Konteks dalam pengertian ini adalah situasi atau kondisi yang melingkupinya. Konteks di sini bisa berarti waktu yang tepat atau tempat yang mendukung. Dalam buku ini dibahas tentang menurunnya angka kejahatan karena adanya faktor pemicu yang pas. Atau meningkatnya kasus bunuh diri di Micronesia karena adanya pemicu dari peristiwa sebelumnya.

Resensi ditulis oleh Hartono

0 Responses to “The Tipping Point”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: