Larasati

larasati1Baru kali ini saya membaca roman Pramoedya Ananta Toer terasa kurang ada greget. Biasanya, dalam setiap tulisannya Pram berhasil membetot emosi pembacanya untuk ikut larut dalam emosi tokoh yang ditampilkan. Secara tidak sadar, kadang-kadang saya ikut larut dengan emosi perlawanan atau dendam kesumat dari tokoh yang teraniaya oleh kuasa.

 

Roman Larasati (Lentera Dipantara, 2005) maunya dimaksudkan untuk memotret gelora revolusi kaum muda pasca kemerdekaan vs kaum tua yang korup. Karakter korup, jahat, atau licik dari kaum tua tak tergambar lewat tampilan karakter tokohnya, tapi hanya muncul secara verbal dari mulut Larasati yang mengolok-olok kaum tua.  

 

Roman dibuka dengan perjalanan Larasati dari Jogja ke Jakarta dengan naik kereta. Tokoh Larasati digambarkan sebagai primadona bintang film yang sedang naik daun. Tujuan ke Jakarta bukan untuk semakin melambungkan namanya dengan menjadi bintang film terkenal, tapi justru bersimpati pada perjuangan pemuda di seberang kali Bekasi. Meskipun di Jakarta, ia berjumpa dengan Mardjohan yang ambisius ingin mengajak Larasati jadi mitra di dunia perfileman. Menjadikannya bintang film terkenal. Ajakan itu ditolaknya, karena Larasatri tak sudi dijadikan alat propaganda NICA. Di Jakarta, Larasati bertemu dengan ibunya yang sudah lama tak ditemuinya. Di sana, ibunya menjadi pembantu di rumah orang Arab. Di rumah orang itu pulalah Larasati mau dijadikan istri tak resmi dari pemuda Arab, yang jelas-jelas menjadi mata-mata Belanda.

 

Saya tidak mengerti mengapa Larasati mau dijadikan istri tak resmi orang Arab itu, padahal orang Arab itu mempunyai andil atas matinya banyak pemuda yang dianggap ektremis oleh Belanda. Ataukah Pram hanya ingin menegaskan sekali lagi tentang kebusukan orang Arab di Indonesia, yang hanya pandai mengumbar syahwat dan berotak dagang? Dalam banyak novel atau roman yang ditulis Pram, selalu dijumpai orang Arab yang tak jauh dari urusan syahwat dan harta, sambil memperlihatkan kemunafikan sebagai ahli ibadah. Tokoh antagonis lain yang sering dihujatnya adalah etnis Jawa yang feodal, dan kaum tua yang korup seperti dalam roman Larasati ini.

 

Membaca roman Larasati ini terasa melelahkan, meskipun sebenarnya roman ini tergolong tipis. Penyebabnya barangkali dalam roman ini tidak ada pembabakan dalam penulisannya. Jadi tidak ada jeda atau perhentian buat pembaca untuk beristirahat.

 

Satu-satunya yang membuat saya tertarik adalah menatap sampul yang dikerjalan oleh Ong Hary Wahyu, dengan suasana tempo doeloe. Wajah klasik Larasati terasa mewakili potret kecantikan wanita pada masanya, dengan rambut berombak, alis melengkung tipis, hindung bangir, dan bibir merah merona.

 

Review ditulis oleh Hartono

1 Response to “Larasati”


  1. 1 nug Tuesday, April 7, 2009 at 12:19 pm

    roman ini merupakan karya ‘masa – masa awal kepenulisan Pram,.. kayaknya semua masterpiece pram justru lahir ketika periode di’buru’kan,..,kalau mau yg tipis2 dari pram kayaknya masih mendingan ‘Bukan pasar Malan” ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: