Maryamah Karpov

maryamah-kapovSebegitu pentingkah arti judul dalam penulisan sebuah novel? Partanyaan ini boleh juga disodorkan ketika kita mengunjungi sebuah pameran lukisan. Pentingkah pemberian judul untuk sebuah lukisan? Saya sendiri, ketika mengunjungi sebuah pameran lukisan, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat lukisan itu sendiri, dari jarak jauh. Ketika tertarik, saya mendekat. Ketika penasaran dan tak jelas dengan maksud lukisan itu, saya baru membaca judulnya.

Novel Maryamah Karpov, buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata memiliki pertanyaan yang sama ketika orang mulai membaca novelnya. Banyak saya dengar komentar dari teman-teman yang telah membaca novel itu mengatakan betapa Maryamah Karpov adalah novel terburuk dari tetralogi lainnya. Kekecewaan mereka yang paling medasar adalah soal judul Maryamah Karpov itu sendiri. Sejak awal, ketika seseorang membaca novel, maka seluruh konsentrasi akan digiring oleh judul buku yang membingkainya. Ditambah dengan tampilan sampul buku yang mencoba menerobos ruang imajinasi di kepala pembaca.

Ketika sesorang membaca novel Maryamah Karpov, maka yang pertama-tama muncul di kepala adalah mencoba mencari sosok yang disebut Maryamah Karpov, lengkap dengan dawai biola dan suasana syahdu yang terbangun lewat desain sampul novel itu. Celakanya, harapan atas imajinasi yang sudah terbangun di kepala menjadi berantakan karena sosok dan suasana tentang Maryamah Karpov tak jua ditemui dalam novel setebal 504 halaman itu. Sosok Maryamah Karpov hanya sekelebat saja dijelaskan sebagai Makcik Nurmi, gadis yang piawai memainkan biola di warung kopi. Gadis yang sedang memainkan biola pada sampul novel Maryamah Karpov adalah Nurmi, bukan Maryamah Karpov itu sendiri.

Saya sendiri mencoba untuk tidak kecewa dengan novel Maryamah Karpov. Saya mencoba untuk dapat nikmati setiap rima kata dan bangunan bahasa yang dirangkai indah oleh Adrea Hirata. Kekuatan seniman kata-kata itu tetap saja belum luntur. Saya masih bisa menikmati novel itu, sambil terus larut dalam bangunan cerita. Tampaknya, dalam novel ini Andrea Hirata sedang menawarkan sebuah pendekatan baru dalam penulisan novel, yakni cultural literacy non fiction, atau karya non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya. Istilah ini saya ambil dari catatan akhir penerbit Bentang yang tertera di sampul belakang bagian dalam.

Novel Maryamah Karpov adalah sebuah penuturan Andrea Hirata tentang budaya masyarakat Melayu yang belum banyak dikenal oleh orang luar. Di sana digambarkan betapa masyarakat Melayu adalah sebuah masyarakat unik, seperti misalnya pandai membual, senang bertaruh, susah untuk diajakan melakukan perubahan, termasuk cenderung apatis untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan kebodohan. Andrea merasa perlu untuk melakukan otokritik atas kaumnya sendiri. Toh, dia sendiri telah membuktikan, bersama Laskar Pelangi, bahwa kekuatan mimpi itu menjadi modal paling mendasar untuk melakukan perubahan. Sosok Lintang dan Mahar mewakili kekuatan otak kanan dan otak kiri manusia, yang sebenarnya dimiliki oleh masyarakat Melayu. Lintang yang jenius dalam ilmu eksakta, Mahar yang kreatif dan memiliki imajinasi luar biasa dalam memecahkan persoalan-persoalan pelik. Kedua sosok jenius itu secara cerdas ditampilkan oleh Ikal ketika keduanya membantu Ikal dalam membuat perahu saat ekspedisi pencarian A Ling.

Sebagai sebuah novel, Maryamah Karpov tetap memiliki kekuatan dalam menggelorakan cinta seorang anak manusia. Gelora cinta Ikal terhadap A Ling, seorang gadis yang telah membuatnya berkelana mengelilingi Eropa hingga Afrika, hingga pada akhirnya Ikal menemukan A Ling di Pulau Batuan, dekat Pulau Karimata, dalam kondisi yang mengenaskan.

Ikal yang Melayu dan beragama Islam, sementara A Ling yang Cina dan berkeyakinan Konghucu, adalah dua kekuatan cinta yang harus berhadapan dengan kekuatan budaya yang melingkupinya. Dapatkah keduanya dipersatukan? Halaman terakhir novel Maryamah Karpov sungguh mengharukan ketika Ikal memohon ijin kepada Ayah yang sangat dihormati setiap keputusannya, untuk dapat meminang A Ling. Adakah Ikal melihat anggukan kepala sang Ayah tanda setuju?

Resensi ditulis oleh Hartono (pengasuh situs www.rumahbaca.wordpress.com)

4 Responses to “Maryamah Karpov”


  1. 1 ayesa Tuesday, December 23, 2008 at 3:24 pm

    marymah karpov kok agak aneh y. ga nyambung sama judulna tapi, kalimat na tetep keren!!

  2. 2 adyi Thursday, January 8, 2009 at 1:29 am

    Judul yg Aneh??? ga nyambung???

    ngga kali ayesa… justru ini suatu terobosan baru dlm penulisan sebuah novel. Judul tidaklh harus sering disebut2 dlm novel ataupun tersurat atau apalah itu namanya… tp judul bisa dipahami dari isi sebuah cerita atau novel. coba kita tengok isi dari crita ini.

    dari cerita ini, si ikal (khususnya)dan laskar pelangi lainnya menuangkan seluruh idenya, unek2nya di sebuah warung kopi yg tak lain ada mak cik Maryamah dengan puluhan papan catur Karpov. Dari smua aktivitas dan sifat warga melayu di belitung diperlihatkan di sebuah warung kopi tersebut. jadi smua isi dari crita ini berpusat di warung kopi tersebut, warung kopi yg tak lepas dari image mak cik Maryamah dengan papan catur Karpov.

    Begitu halnya dengan gambar dari cover novel MK yg tak lain adalah Nurmi yg mahir bermain biola. Nurmi dengan biolanya selalu mengisi suasana warung kopi tersebut. nah coba kita lihat bahwa bagaimana Ikal mencoba belajar biola sendiri menurut perasaan dia sendiri. ini sungguh menarik, Ikal bisa menciptakan sendiri nada sesuai dengan perasaannya. Dan stiap tahap2 Ikal membuat perahu digambarkan dengan bagaimana si Ikal sedikit demi sedikit mencoba belajar menciptakan nada2nya sendiri dengan biolany Nurmi.

    Soal Tagline Maryamah Karpov “Mimpi-mimpi Lintang”, menurut sy jg kurang bisa mewakili Mimpi2 laskar pelangi tu sendiri yg senantiasa menegakkan sumpah; sekolah setinggi-tingginya demi mengangkat martabat kehidupannya.. tp sy hanya bs berpendapat bahwa Tagline ini mungkin bisa dihubungkan dengan aplikasi dari kecerdasan Lintang. dengan kecerdasannya, ia mampu membuat rumus untuk menghitung dengan akurat geometri dari perahu tersebut.

    jadi intinya mah klo kita pahami isi novel ini, smuanya sangat bisa dihubungkan dengan judulnya “Maryamah Karpov”.

    Mari kita hargai Karya anak bangsa…^_^…

  3. 3 IdaHO Tuesday, January 20, 2009 at 9:34 pm

    Yah,mnrt sy,nvel maryamah karpov sngt kren. .

    Judul nya mmpunyai makna yg sngt dalam. .

    ^^

  4. 4 yulia kartika Wednesday, February 4, 2009 at 1:41 pm

    Maryamah Karpov, novel yang ditunggu-tunggu. Covernya saja membuat euforia tersendiri bagi saya. Cover yang indah seperti lukisan malam. dan juga judulnya yang menyihir, menghipnotis semua orang.

    begitu buku ini keluar langsung saya beli saat itu juga, tanpa fikir-fikir panjang lagi (maklum anak kostan). apalagi saat itu diskon 20%. sungguh beruntung.

    Ah, literatur Andrea Hirata ini masih saja manis. membuat rasa penasaran dari bab ke bab nya. apalagi saat ikal pulang dari Prancis. lalu bertemu keluarganya. sungguh mengharukan. Andrea pun menyisipkan adegan-adegan humor desela-selanya, seperti saat ikal menumpangi mobil saat pulang dari Prancis, juga saat ia diserang sang dokter gigi.

    Andrea juga menggambarkan kehidupan masyarakat melayu yang selama baru kita ketahui dari kisahnya. ppemberian nama-nama pada warganya, kehidupan sosial yang penuh dengan kepembualan, namun tetap dalam kekeluargaan yang kental, tidak seperti kehidupan sosial di kota-kota metropolitan.

    namun ada beberapa hal yang saya pertanya-tanyakan. benarkah Ikal dapat membuat perahu yang untuk seorang yang tidak pernah kenal dengan dunia perkapalan dapat membuatnya? walaupun kita tahu hal tersebut juga dibantu oleh Lintang, Mahar, dan lainnya? atau benarkah Ikal dkk dapat mengangkat kembali kapal orang-orang lanun yang sudah terbenam di dasar sungai Linggan berpuluh-puluh tahun yang lalu? atau menyelam ke dasar sungai linggal dalam waktu yang cukup lama?

    namun itu semua tidak lah jadi permasalahan bagi saya ataupun pembaca lainnya. toh penyajiannya tetap membuat saya benar-benar berada di dalamnya, ikut tercebur dan basah.

    semoga akan ada lebih banyak lagi Andrea Hirata-Andrea Hirata lainnya dalam sastra indonesia ini. kiranya setiap kata yang dituliskan oleh setiap penulis Indonesia ini akan dapat melahirkan motivasi dan semangat dalam membangun negeri kita tercinta agar tetap terus berjaya walaupun berada dalam kungkungan peradaban sekalipun…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: