The Black Swan

black-swanAda pertanyaan sederhana sebelum orang membaca habis buku karya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan (Gramedia: 2009): percayakah anda bahwa di dunia ini ada angsa berwarna hitam? Dapat dipastikan bahwa jawaban yang akan diberikan adalah seragam: tidak percaya! Dari dulu, yang namanya angsa itu berwarna putih, mana ada angsa berwarna hitam? Tapi ketika orang menemukan kenyataan bahwa ada angsa berwarna hitam di Australia, ada kejutan, dan kepercayaan itu runtuh.

Buku ini berbau filosofis, banyak ditemukan istilah dan lintasan pemikir-pemikir besar dunia. Agak kepayahan juga mengunyahnya, apalagi buku ini juga dimasukkan dalam genre bisnis-ekonomi. Tapi penulis buku ini telah berusaha sekerasnya untuk tetap membuat buku ini menjadi bacaan ringan.

Black Swan adalah peristiwa langka yang mustahil dapat terjadi, dan kebanyakan orang alpa dengan kemungkinan ini, hingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Ada tiga karakteristik utama dari Black Swan ini: tidak dapat diramalkan, memiliki dampak yang luar biasa, dan sesudah terjadi orang baru sibuk menyusun teori bahwa kejadian itu sebenarnya bisa diramalkan. Contoh terkini dari Black Swan adalah runtuhnya menara kembar WTC yang dihajar teroris. Siapa sangka bahwa gedung megah yang ada di tengah kota peradaban modern dunia roboh oleh pesawat domestik yang dibajak teroris? Mengapa sebelumnya orang tidak ada yang mempunyai pemikiran antisipatif untuk memuat sistem penguncian ruang kokpit, yang dimasuki oleh teroris? Contoh lainnya adalah keruntuhan sistem financial di Amerika akhir-akhir ini. Amerika kurang apa dengan pakar ekonomi, hingga tak ada satupun yang mampu memberi early warning akan hal itu. Menurut Taleb, adalah karena manusia telah dirancang untuk mempelajari hal-hal yang spesifik ketika seharusnya mereka lebih fokus ke hal-hal umum. Kita berkonsentrasi pada hal-hal yang telah kita ketahui dan berulang-ulang gagal memperhitungkan yang tidak kita ketahui.

Buku ini membeberkan kebodohan kita itu, sekaligus menawarkan teknik-tekniknya untuk mampu mengantisipasinya. Buku ini berangkat dengan keyakinan pada diri sendiri untuk selalu skeptik: jangan mudah percaya dengan apa yang ada di sekitar kita. Kalau perlu jadilah seorang empirisme negatif.

Melintas jauh dari pemikir Amerika kelahiran Lebanon ini, saya teringat dengan ilmu dari tanah Jawa yang bernama ilmu Titen. Ilmu ini mengandalkan kepekaan akan tanda-tanda yang mengawali suatu kejadian besar yang akan terjadi. Tidak semua orang mampu meramalkan datangnya persistiwa besar itu, karena menganggap apa yang terjadi dalam drama hidup keseharian adalah peristiwa biasa yang akan berlalu begitu saja. Contoh empiris ilmu titen adalah misalnya, ketika dulu sedang musim ada es jus, beberapa tahun kemudian muncul penembakan misterius yang membabat habis bromocorah yang meresahkan masyarakat. Kata jus, diidentikan dengan suara tembakan senjata. Atau contoh lain, ketika maraknya makanan jagung baker dan lagu “anoman obong”, beberapa tahun kemudian munculnya tragedi 1998, yang diwarnai dengan pembakaran gedung-gedung dan kerusuhan masal pasca kejatuhan regim Soeharto. Persoalnnya, ilmu titen ala jawa ini berbau mistik dan sulit dijelaskan secara ilmiah. Ilmu titen juga cenderung memotret kejadian lampau guna mencoba mencari keajegan yang muncul daripadanya sebagai tanda akan datangnya kejadian berikutnya yang bisa diramalkan. Sementara menurut Black Swan, kegiatan menoleh ke belakang (retrospective) dan keberulangan (repercursive) itu harus dikaji apakah sudah tepat aturannya (metarules-nya). Dalam Black Swan unsur keacakan (randomness) dan ketidakpastian sangat tinggi. Justru di sinilah seninya. Bagaimana kita menyikapi keacakan ini sebagai bagian sikap terbuka dan waspada akan berbagai kemungkinan.

Apa relevansinya dengan hidup kita sehari-hari? Singkatnya, buku ini mengajarkan kepekaan, mempertajam daya kritis, tidak mudah percaya pada sesuatu yang tergambar secara umum, see the other way around! Lalu kita akan dengan enteng menjalani hidup ini yang selalu penuh kejutan, karena hidup memang telah didesain oleh Tuhan secara kreatif seperti itu.

Review oleh Hartono – Pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “The Black Swan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: