Ritual Gunung Kemukus

gunungNovel “Ritual Gunung Kemukus,” kental dengan bau seks. Tapi kesan yang tertangkap tidaklah sevulgar buku Moamar Emka, “Jakarta Under Cover.” Buku terakhir ini lebih banyak mengeksploitasi seks sebagai bacaan dangkal, hanya mengumbar syahwat semata. Buku pertama mengupasnya dari tinjauan antropologis. Ditulis dengan gaya dialog, dikupas habis dengan sudut pandang wartawan. Kebetulan penulis novel ini memang wartawan yang penyair, F. Rahardi. Cover novel digarap oleh Si Ong, menambah kesan mistis dan sunyi.

Novel ini mampu menghadirkan sisi unik dari ritual orang Jawa mencari srono untuk kaya, dengan ziarah di makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus. Ritual diakhiri dengan berhubungan seks di tempat terbuka dengan pasangan yang didapat di tempat tersebut. Dan itu harus dilakukan selama 7 kali setiap malam Jumat Pon. Untuk menggenapi 7 kali ritual itu diperlukan waktu hampir 8 bulan. Dalam kalender Jawa perputaran bulan terjadi setiap 35 hari. Di mana jumlah hari kalender Masehi yang tujuh hari itu, bertemu dengan jumlah hari Jawa yang hanya terdiri dari lima hari: legi, pahing, pon, wage, kliwon.

Membaca novel ini, serasa menambah miris tentang perilaku masyarakat Jawa yang kebingungan mencari pegangan atas segala derita kemiskinan yang mendera, serta keingingan untuk kaya secara instan. Ritual di atas Gunung Kemukus, seakan menggenapi kebingungan atas praktik keagamaan yang diyakini. Di atas makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan, orang sibuk membawa sesaji kembang tujuh rupa, tapi tetap berdoa, berdzikir, bahkan sholat, dan ditutup dengan berhubungan seksual dengan pasangan lawan jenis yang didapat di sana. Lebih kacau lagi, Pemda Sragen menulis legenda tentang Pangeran Samodra sebagai pembawa syiar Islam. Tapi kok mempraktekan perbuatan mesum? Padahal legenda yang berkembang di masyarakat meyakini bahwa Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan adalah pasangan antara ibu tiri dengan anak tiri Brawijaya VI yang menjalin asmara, melakukan hubungan intim di atas bukit itu, dan dibunuh sebelum selesai melampiaskan hasrat seksual. Keduanya dikubur dalam satu lihat lahat. Dari lobang kubur lalu keluar asap, kukus, dan terdengar kutukan, “barang siapa mampu menyelesaikan hubungan intim di sini, akan terkabul keinginannya.” Entah siapa yang memulai menebarkan legenda itu, nyatanya, kini ritual Gunung Kemukus telah menjadi bisnis seks yang mendatangkan pendapatan baik bagi Pemda maupun masyarakat sekitar.

Cerita dalam novel mengalir dengan gaya dialog apa adanya, dengan beberapa istilah Jawa yang kental. Cerita dibuka dengan ditugaskanya, Meilan, wartawai majalah Fidela, untuk membuat tulisan berseri seputar praktik ritual. Dari sana mengalirlah cerita potret para pelaku ritual, dari penuturan tokoh utama, Mas Sarmin. Dari mulut Sarminlah, mengalir muncul tokoh-tokoh lain: Wati, istrinya yang selalu mengomel karena capek hidup miskin dan meminta Sarmin untuk pergi ke Gunung Kemukus. Sarmin kemudian ketemu Bu Yuyun, pasangan ritualnya, pedangan beras dari Ponorogo. Bu Yuyun adalah wanita cantik, berkulit putih, kaya, dan Sarmin tak pernah menyangka bakal mendapat pasangan seperti itu.

Ada juga tokoh Romo Drajad yang eksentrik, yang menyatakan bahwa ritual Gunung Kemukus justru mengakui eksistensi perempuan untuk punya hak dalam menentukan pasangan seksual. Selama ini, privilege itu hanya dimiliki kaum priyayi, laki-laki, dan kaya. Wanita hanya menerima nasib, tapi tidak di Gunung Kemukus.

Cerita Sarmin mengalir deras, disampaikan di atas gerbong kereta Argo Lawu jurusan Solo Balapan – Gambir, kepada Meilan yang mengoreknya sebagai imbalan telah menyelamatkan Sarmin karena uangnya telah ludes menunggu Ibu Yuyun di Gunung Kemukus yang tak kunjung datang. Padahal itu adalah kunjungan ketujuh, atau kunjungan terakhir untuk menggenapi ritual itu. Artinya Sarmin telah gagal menjalani ritual itu, dan harus mengulanya dari awal lagi sebanyak tujuh kali dengan pasangan yang berbeda. Maukah Sarmin mengulangi kebodohannya? Adakah pelajaran yang ia peroleh dari hasil mencari srono itu?

Review oleh Hartono

11 Responses to “Ritual Gunung Kemukus”


  1. 1 nug Thursday, May 14, 2009 at 9:25 pm

    .. selintas gaya penuturannya mengingatkan dengan Roman “Sang Priyayi” nya Umar Kayam.
    Aneh juga kalau di akhir cerita (meski ritual ngga selesai) baik karmin dan bu yuyun pada akhirnya justru merasa bahwa hubungan dengan pasangannya masing2 (suami & istri) menjadi lebih baik,
    sepertinya itu neh pelajarannya — atau justru sindiran karena banyak dari kita yg cenderung mengejar harta padahal ada “harta” lain yg lebih bernilai ..keluarga..?

  2. 2 kanjeng dipo Wednesday, May 27, 2009 at 6:44 pm

    Gunung Kemukus. orang hanya akan tertarik atau malah mecaci perilaku nyleneh seks bebas yang dibungks ritual. tapi kalau kita memahami sejarah kita akan tahu kalau sebenarnya apa yang mereka lakukan sudah ada sejak jaman Singosari. Raja Kertanegara setiap tahun konon melakukan ritual semacam itu. juga Caligula kaisar Roma melakukan ritual pesta seks untuk melanggengkan kekuasaanya.

  3. 3 tribuana murti Monday, July 13, 2009 at 10:44 am

    siap membantu memandu ke kemukus

  4. 5 ciyu♥pyon Monday, July 13, 2009 at 1:24 pm

    waks tmpat setan cmua ttu…

    ko gug dtu2p ea, hran dech!!!

    punya banyak sjrah, bdya, ma bragam cara Ritual heuh

  5. 7 ciyu♥pyon Monday, July 13, 2009 at 1:26 pm

    waks tmpat setan cmua ttu…

    ko gug dtu2p ea, hran dech!!!

    tpi Indonesia kren ea♥

    punya banyak sjrah, bdya, ma bragam cara Ritual heuh

  6. 9 iqbalmuttaqin Sunday, July 19, 2009 at 2:11 am

    ada film documenternya, maksudnya

  7. 10 menot Wednesday, November 9, 2011 at 3:39 pm

    …..selain alur yang di tampilkan, membacanya sedikit mengusik bathin karena bersinggungan langsung dengan budaya yang kebetulan berada di jawa, dan hal itu menjadi salah satu daya tarik dari novel ini. satu hal yang kontradiksi tergambar jelas. namun dari referensi lainnya yang mengetengahkan penuturan sang kuncen kemukus; Hasto, bahwa ritual berhubungan seks di tempat tersebut merupakan mitos yang tidak di ketahui dari mana asalnya. semakin penasaran………………

  8. 11 mashar Thursday, November 10, 2011 at 2:55 pm

    Bung Menot, penasaran tidak berrarti harus mencoba mbak-mbak yg ada di sana, kan? Saya pernah ke sana dengan anak-anak saya (siang hari) mbak-mbaknya lemu-lemu🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: