Rara Mendut

Rara_MendutSetelah sekian waktu membaca novel-novel luar negeri dengan suasana yang relatif moderen, saatnya kembali ke tanah air, sekalian kilas balik sejarah nusantara. Jadinya terpikat dengan novel Rara Mendut  karya YB Mangun Wijaya, atau lebih akrab dipanggil Romo Mangun (alm).

Ini adalah novel trilogi: Rara  Mendut – Genduk Duku – Lusi Lindri, yang dijadikan satu. Alhasil, novel ini menjadi lumayan tebal, 802 halaman! Tapi dengan kualitas kertas yang prima, novel tabal terbitan Gramedia itu jadi terasa ringan.

Kesan pertama yang tertangkap dari novel ini adalah hawa pemberontakan, atau lebih tepatnya kemandirian dan ketegaran, sosok perempuan atas dominasi kaum laki-laki yang berkuasa. Ketiga tokoh perempuan yang diangkat Romo Mangun seolah memiliki karakter khas yang sama: gadis pantai, berjiwa harimau, cantik, trengginas, cekatan. Mereka seolah dilahirkan untuk menjadi saksi dan sekaligus korban dari dominasi laki-laki ningrat yang segera meningkat syahwatnya ketika melihat perempuan cantik dan sulit ditaklukkan. Dan benar, mereka memang tidak bisa ditaklukkan, meskipun maut adalah  imbalannya. Cinta sejati mereka jauh lebih mulia daripada silau oleh iming-iming derajad bangsawan yang ternyata tak lebih dari hewan yang haus syahwat. Rara Mendut menemukan cinta sejati dengan Pranacitra, Genduk Duku dengan Slamet, lalu Lusi Lindri dengan Hans. Mereka lebih memilih mati atau menjadi pemberontak, daripada menyerahkan cinta dan tubuh lepada laki-laki keparat seperti Tumenggung Wiraguna dan Aria Mataram, yang kelak bergelar Amangkurat I.

Romo Mangun mengupas habis sisi kelam kebesaran kerajaan Mataram dari balik tembok keraton, sekaligus ketegaran perempuan yang bernama Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri itu. Hal yang menurut saya unik dari novel ini adalah kehebatan Romo Mangun untuk membangun cerita yang diambil dari Babad Tanah Jawi ini dalam bungkus kisah asmara, karonsih, bagai cerita Kamajaya dan Kamaratih dalam jagad pewayangan, dengan bahasa yang halus dan indah. Padahal senyatanya, Romo Mangun tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan menikah – dalam ajaran Katholik Romo memang hidup selibat alias tidak boleh menikah. Penggambaran adegan percintaan sungguh hebat dan mendebarkan dengan di sana sini menyitir berbagai cerita pewayangan dan tembang jawa yang adiluhung. Romo Mangun juga seorang humoris, ada canda dalam setiap getir peristiwa yang disajikan.

Sebagai laki-laki, saya juga ikut tersihir untuk membayangkan kecantikan Rara Mendut, dan gayanya yang menggoda ketika menghisap rokok dan menjual bekas puntung rokok yang telah basah oleh bibir sensualnya, seperti yang tergambarkan dalam cover novel ini. Tapi di balik itu, saya juga segera tersadar bahwa Rara Mendut bukanlah perempuan murahan yang rela menjadi tontonan kalap mata kaum laki-laki dengan menjual puntung rokok. Itu adalah upaya pemberontakannya terhadap Tumenggung Wiraguna tuwir yang sepantasnya menjadi kakeknya.

Resensi ditulis oleh Hartono –  pengasuh Rumah Baca

0 Responses to “Rara Mendut”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: