BLINK

Pernahkah anda membayangkan bagaimana suasana kerja pemimpin redaksi dalam memilih ratusan foto berita untuk dipilih hanya satu saja yang paling bagus?  Saya dulu membayangkannya bakal menghabiskan waktu banyak. Ternyata jawabannya tidak. Gaya khas pemimpin redaksi yang saya maskud dalam memilih foto itu ternyata hanya melihat sekilas dengan kecepatan tinggi, ketika mendapat foto terbaik – BLINK – dia akan berhenti dan langsung mengambilnya, tanpa berpikir panjang, dan mencampakkan foto-foto lainnya.

Bagaimana bisa proses mengambil foto terbaik hanya dengan cara begitu? Seolah mengabaikan analisa berfikir yang rumit, dengan sederet alasan rasional yang dibuat kemudian. Tapi, itulah proses berfikir cepat, secepat kedipan mata: BLINK!

Dalam buku keduanya ini, setelah TIPPING POINT, Malcolm  Gladwell kembali menggedor cara berfikir kita selama ini. Tag line buku BLINK adalah the power of thinking without thinking (kekuatan berfikir tanpa berfikir). Bagaimana sih? Dengan pendekatan ilmu psikologi, dipadu dengan ilmu lain seperti periklanan, ilmu pasti, musik, dll, Malcolm Gladwell memberi contoh bahwa cara berfikir kita selama ini  terlalu dibebani dengan teori dan analisa yang rumit. Lebih parahnya lagi, dalam mengambil kesimpulan kita sering terbebani dengan cara pandang stereotype dan prasangka yang keliru. Masih adakah diantara kita yang punya stereotype tentang orang cina yang pelit, orang madura yang keras kepala, orang jawa yang munafik? Dalam salah satu contoh di buku BLINK ini ada seorang tokoh salesman mobil yang sukses karena memakai pendekatan cara berfikir BLINK. Si salesman ini tidak pernah punya prasangka pada setiap calon pembeli yang datang kepadanya, semuanya dilayani dengan baik, tak peduli calon pembelinya kulit hitam, kulit berwarna, kulit putih, eksekutif, atau bahkan anak remaja sekalipun. Semuanya pasti akan membawa rejeki dan ditutup dengan penjualan. Siapa sangka anak remaja yang datang sendirian dan tidak punya potongan untuk beli mobil mahal, ketika dia pulang kerumah dan kembali lagi dengan bapaknya sambil menunjuk mobil sport di ujung show room?

Apa yang disebut BLINK atau keputusan sekejap itu sebenarnya tidak datang dari langit. Dia adalah tumpukan kompetensi atau keahlian sesorang yang kemudian keluar seperti judgment seketika. Padahal itu adalah proses bawah sadar yang sudah mengendap sekian lama. Saya menyebutnya art, bukan lagi skill. Kalau merujuk pada tingkat keahlian sesesorang, maka dia sudah sampai  level master.

Malcolm Gladwel termasuk sedikit penulis yang mampu meramu informasi keseharian kita dengan cara pandang yang berbeda. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda itu penting. Sebenarnya ada banyak bahan di sekitar kita yang bisa dijadikan bahan tulisan menarik. Yang paling penting adalah sudut pandangnya itu.

Buku berikutnya, OUTLIERS menyajikan infirmasi baru kepada kita bahwa kisah orang sukses ternyata tidak seperti yang kita pahami selam ini. Tunggu review buku berikutnya di www.mengikatmakna.worpress.com !

Review oleh Hartono

0 Responses to “BLINK”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: