Outliers

Buku ketiga dari Malcolm Gladwell ini kembali mendobrak kemapanan kita dalam berfikir. Buku ini membongkar rahasia dibalik sukses seseorang.

Selama ini kita sudah terlalu banyak menerima informasi dari buku-buku biografi orang-orang sukses, baik yang ditulis sendiri oleh pelaku maupun oleh ghost writer (penulis lain yang tidak disebutkan namanya). Biografi seseorang semestinya berupa non-fiksi, tapi banyak pula yang bersifat fiksi, alias banyak ngibulnya. Kalau mau tengok, kisah raja-raja Jawa jaman dulu banyak dibumbui dengan legenda dan kisah heroik lainnya yang masih diragukan kebenarannya.

Tetap saja, informasi yang dijejalkan kepada kita tentang rahasia sukses adalah kerja keras, tekun, jujur, berani, visioner, dsb. Lalu kita merasa bersalah, bahwa kita tak memiliki semua indikator suskes yang dimiliki oleh orang-orang besar dan sukses tadi.

Ide penulisan Malcolm Gladwell selalu diawali dengan kegelisahan tentang apa sebenarnya yang terjadi dibalik suatu peristiwa. Dia tidak percaya  bahwa sukses seseorang hanya ditentukan oleh kerja keras, tekun, jujur, berani, visioner, itu. Dia justru lebih percaya bahwa ada faktor lain yang selama ini diabaikan. Untuk membuktikannya, dia mulai membongkar hasil penelitian psikologi maupun melakukan wawancara dengan orang-orang suskes.

Temuan mengejutkan dari penjelajahannya itu adalah fakta menarik berikut ini, bahwa kesuksesan tergantung pada bulan lahir,  tahun lahir, keturunan bangsa apa, tempat kelahiran, di mana  mengabiskan masa kecil, dsb. Terdengar seperti klenik,  ramalan bintang, atau ramalan siho. Secara ilmiah, dia mengawali pembuktiannya itu dengan mencari tahu para bintang rugby di Canada, yang setelah ditelusuri rata-rata para bintang lapangan itu lahir pada bulan Januari-Maret. Selidik punya selidik, ternyata mereka yang terlahir pada bulan itu sudah cukup umur dan cukup tinggi untuk bermain rugby. Sementara  anak-anak lain yang terlahir pada bulan September-Desember masih terlihat muda dan tidak cukup tinggi. Sebenarnya kalau diuji secara fair, barangkali mereka yang lahir pada akhir tahun bisa saja lebih juara, cuma mereka kalah lebih dulu pada seleksi alam yang tidak fair itu.

Itu  tadi baru pembuktian awal. Banyak contoh lain yang mengejutkan, tentang misalnya mengapa The Beatles dan Bill Gates bisa sukses dan mendunia. Contoh lain menyebutkan ada anak super jenius yang pada akhir hidupnya tertlunta-lunta dan sama sakali jauh dari ukuran sukses, sementara anak lain yang standar IQ-nya biasa saja mampu meraih sukses.

Kesimpulan yang bisa saya tarik dari tulisan pada buku Outlisers ini adalah bahwa sukses seseorang tidak harus ditentukan oleh tingkat IQ, kerja keras, tekun, dsb, tapi ada faktor lain yang kalau boleh saya sebut adalah KESEMPATAN atau KEBERUNTUNGAN. Kedua kata itu mengingatkan saya pada pepatah Jawa kuno yang mengatakan, “wong bodho kalah karo wonog pinter, wong pinter kalah karo wong bejo” (orang bodoh kalah dengan orang pintar, orang pintar kalah dengan orang beruntung). Wejangan berikutnya agar kesempatan dan keberuntungan itu menyertai kita selalu, maka rumus tombo ati versi tembang Islam bisa juga diterapkan: sholat lima waktu, baca Qur’an dan maknanya, zikir, kumpul dengan orang soleh, dan menahan lapar. Terutama pada poin kumpul dengan orang soleh memberi petunjuk bahwa kesempatan dan keberuntungan akan menjadi semakin lebar kalau perspekstif pertemanan diperlebar dengan kelompok orang-orang sukses atau berpotensi suskes, daripada menghabiskan waktu berjam-jam dengan duduk ngobrol di perempatan jalan, gardu ronda, menggunjingkan artis yang selingkuh atau meperbincangkan carut marut politik yang sama sekali jauh dari urusan kita sehari-hari.

Kepada anak-anak kita, tak ada salahnya mulai sekarang diberi kesempatan selebar-lebarnya untuk menjajal potensi yang ada pada dirinya, mempertemukan dengan orang-orang yang tepat, mengajak mereka pergi atau tinggal di tempat yang tepat. Lalu, saat yang tepat untuk sukses akan muncul dengan sendirinya.

Buku berikutnya, “What the dog saw,”  katanya lebih seru lagi. Itu adalah kumpulan tulisan Malcolm Gladwell pada masa-masa awal kariernya sebagai penulis. Tetap dengan sudut pandang yang tidak biasa, dengan kaca mata yang jarang kita pakai.

Review ditulis oleh hartono, pengasuh www.rumahbaca.wordpress.com

1 Response to “Outliers”


  1. 1 Risfan Munir Thursday, February 25, 2010 at 3:51 am

    Bagus. Ternyata keberuntungan juga bukan takdir, karena tergantung kesiapan kita untuk menyongsong keberuntungan, tsb. Ibarat ‘mendapatkan lotre’, tentu orang yang beli tiket banyaklah lbh mungkin “mendapat keberuntungan”. Dan, the Beatles dll, dikisahkan dalam OUTLIER, “membeli tiket lotre” banyak sekali, yang ditunjukkan dengan bermain lebih dari 10 jam manggung sebelum jadi terkenal.
    (Risfan Munir, penulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati,” Gramedia, Nov 2009)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: