Oeroeg

“Oereog kawanku.”  Itu adalah dua kata pembuka kisah klasik karya sastrawan Belanda,  Hella S. Haasse. Buku kecil yang hanya berjumlah 144 halaman, dan diterjemahkan oleh Gramedia ini ditulis bak buku  nostalgia masa lalu penulisnya yang memang lahir di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Seting cerita adalah di daerah Sukabumi.

Penamaan tokoh Oeroeg sendiri sedikit kontroversial. Dalam sebuah diskusi buku dengan Hella S. Haasse di Indonesia, ketika itu sempat bertanya seorang peserta diskusi mengapa menggunakan nama Oeroeg, karena itu bukan nama orang yang lazim digunakan di Indoensia, apalagi di daerah Pasundan. Bagi Hella S. Haasse, nama Oeroeg memiliki kenangan bawah sadar yang tdak bisa dilepaskan dari ingatan. Oeroeg memiliki makna, menyimpan, menimbun kenangan.

Oeroeg mengisahkan persahabatan dua anak manusia antara Oeroeg dan Aku yang berbeda warna kulit dan kedudukan. Kelak, karena perbedaan itulah mereka berpisah. Tokoh Aku dalam buku ini seolah-olah mewakili kerinduan penulis buku itu sendiri akan alam dan suasana Indonesia pada masa kolonial dulu. Tokoh Oeroeg sendiri menurut intepretasi penulisnya sebenarnya adalah sisi lain dari tokoh Aku yang tidak sepenuhnya mampu menghapus kenangan akan Indonesia.

Buku klasik ini juga sempat dibuat filmnya dengan judul yang sama. Salah satu bintang film yang ikut bermain adalah Christine Hakim. Agak berbeda dengan versi bukunya, kisah dalam film ini menyodorkan kritik tajam tentang perbedaan warna kulit dan betapa bangsa Indonesia tidak dihargai sepadan dengan bangsa kulit putih. Tokoh Aku dalam film memiliki nama Johan. Dalam episode terakhir film itu digambarkan ketika Johan dan Oeroeg dipertemukan di atas jembatan ketika keduanya sama-sama menjadi tawanan perang. Di suatu jembatan kecil yg terbuat dari bambu, terhitung ada sepuluh tawanan pribumi, termasuk Oeroeg yang telah menjadi dokter dan juga pejuang, ditukar dengan seorang tentara Belanda. Kesepakatan yang terjadi kala itu adalah 1 : 10. Saat kedua pemuda yang di masa kecilnya berkawan sangat akrab laksana saudara kandung   berpapasan. Dengan rasa terkejut karena tidak menyangka bakal bertemu kembali dengan Oeroeg, Johan bertanya kepada Oeroeg,  “Kita orang masih saudara, bukan?” Dan Oeroeg pun menjawab, “Saudara yang bagaimana? Sejak kapan kita bersaudara? Bagaimana kita bisa bersaudara kalau 10 orang Indonesia hanya diakui setara dengan 1 orang Belanda? Dimana rasa keadilannya? Itukah yang namanya saudara?”

Perbedaan interpretasi ini sah-sah saja dalam jagat kreatif. Keduanya memiliki pasan moral yang dalam tentang arti persahabatan, kesetiaan, maupun kesetaraan meskipun berbeda warna kulit.

Buku-buku kalsik semacam ini tampaknya bisa menjadi obat rindu akan suasana masa lalu yang kini sudah sulit dijumpai karena keadaan sudah banyak berubah oleh urbanisasi dan modernisasi. Tampaknya saya juga mesti berburu buku klasik lainnya: Saijah dan Adinda, karya Multatuli.

Review oleh Hartono, pengasuh http://www.rumahbaca.wordpress.com

2 Responses to “Oeroeg”


  1. 1 Evi Monday, May 17, 2010 at 10:31 am

    Resensi yang bagus. Saya sudah baca dan menonton filmnya. Memang ada beberapa perbedaan antara buku dan film dan buat saya lebih enak baca bukunya. Di film juga diceritakan bahwa Deppoh, ayah Oeroeg meninggal bukan karena menyelamatkan Johan tapi karena hal lain yang saya lupa dan itu membuat Oeroeg punya dendam pada ayah Johan, sementara dibuku hanya dikisahkan bahwa Deppoh meninggal karena menyelamatkan Johan.

    • 2 Gemma Friday, March 25, 2011 at 4:10 pm

      Deppoh meninggal tersangkut ganggang air karena menyelam terlalu dalam dan tidak dapat menyelamatkan diri ketika mengambil jam milik Hendrik Ten Berghe yang jatuh di danau terserempet Johan yang berlari diatas rakit yang membawa mereka berenang setelah pesta hari kelahiran sang ratu hingga tercebur. Johan berlari karena kaget dengan kemunculan mendadak teman ayahnya dari dalam danau. Jam Hendrik adalah warisan kekeknya, hadiah dari Bupati Sumedang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: