Beyond Productivity

Indonesia sangat memerlukan generasi yang produktif, bukan generasi konsumtif. Generasi konsumtif ditandai dengan nafsu berbelanja yang menggebu-gebu, atau nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, dan celakanya nafsu itu didapat dengan cara instan. Kasus korupsi, penyuapan, sampai makelar kasus yang akhir-akhir ini selalu menjadi headline surat kabar adalah potret perilaku manusia yang sungguh kerdil dan tak menyadari ada potensi besar pada dirinya sendiri untuk dapat lebih maju, berkembang, dan pada puncak yang tertinggi mampu membantu orang lain.

Membaca buku ”Beyond Productivity” (Gramedia: 2010) karya Sugeng Santoso saya memang tidak menemukan satu katapun yang mencoba menohok keterpurukan bangsa Indonesia: kebangkrutan mentalitas kerja keras! Tapi saya justru menangkap tema besar itu dalam tulisannya. Buku ini lebih ditujukan untuk individu yang punya semangat menyala-nyala untuk menjadi produkif, atau bahkan lebih daripada itu: beyond productivity!

Buku ini terbagi dalam 7 bab, namun menurut saya dapat dibagi menjadi 3 bagian besar: mendobrak mentalitas kerdil – memahami apa itu perubahan – langkah menuju produktivitas.

Untuk bagian pertama saya menyebutnya sebagai mentalitas kerdil yang ditandai dengan berbagai hambatan untuk maju, dalam buku itu disebut sebagai psycho sclerosis. Hambatan untuk maju ini selalu dihalang-halangi oleh mentalitas kita yang merasa nyaman di area saat ini (comfort zone). Merasa tidak mampu, tidak terampil. Padahal pengalaman menunjukkan  bahwa all skills are learnable.   Mentalitas kerdil itu juga ditandai dengan bekerja tidak dengan sepenuh hati, tidak antusias. Padahal sudah jelas bahwa siapa menabur pasti akan menuai (law of cause and effect dan juga law of correspondence). Mentalitas kerdil harus segera didobrak dalam diri kita, dari kelompok Victim menjadi Victor. Jadilah pemenang, bukan pecundang.

Bagian kedua mengupas tentang aspek perubahan, yang tak sedikit dari kita mengalami kesulitan untuk menerapkannya. Kesulitan terbesar terjadi karena perubahan hanya dimaknai sebatas keinginan, bukan disiplin untuk berubah yang harus dilakukan terus menerus. Dalam bahasa Jepang perubahan atau perbaikan yang terus menerus itu disebut Kaizen (continuous improvement). Ada bab menarik dalam buku ini ketika menyinggung soal perubahan dan apa yang akan terjadi kalau kita tidak berubah. Dalam buku itu disediakan matrik isian yang harus anda tuliskan sendiri ”siapa yang akan hilang dalam hidup anda, kalau anda tidak berubah?” Isian ini menohok bagian terdalam dalam batin manusia yang baru akan berubah kalau menyingung pihak ketiga. Dalam buku ”Mantra” master mentalis Dedy Corbuzier menularkan rahasia bahawa kalau anda ingin meminta seseorang berhenti merokok, jangan mengatakan bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Sebagai gantinya, sentuhlah sisi humanisme manusia dengan menyebut pihak ketiga, dengan mengatakan bahwa dengan merokok berapa panjang umur yang bisa anda persembahkan untuk dapat menyaksikan perkembangan anak-anak anda, mendidik, memberinya nafkah, menyaksikan mereka diwisuda, pesta perkawinannya, dan melihatnya sukses kelak. Jika anda masih tetap merokok, maka kesempatan itu akan hilang!

Bagian ketiga buku ini mengupas secara rinci langkah-langkah yang harus diambil kalau kita ingin menjadi manusia produktif. Bagian ketiga ini banyak dilengkapi dengan isian dan tabel-tabel yang harus diisi. Dengan cara seperti itu, maka saya menyarankan untuk membeli buku ini secara personal dan tidak pernah meminjamkan kepada orang lain, karena di sana akan banyak coretan-coretan yang sifatnya pribadi. Buku itu juga bisa menjadi semacam komitmen diri untuk melakukan perubahan, dan dapat anda buka lagi kalau sewaktu-waktu anda ingkar janji dengan diri anda sendiri.

Mengakhiri review saya tentang buku ini, produktivitas juga mengajarkan  untuk memberi, tidak hanya menerima. Ujung dari produktivitas adalah buah yang namanya sukses: sukses dalam karir, keuangan, kesehatan dan keluarga. Ada saatnya untuk mendapatkan sesuatu, ada saatnya untuk berbagi sesuatu. Dengan membeli buku ini, anda juga ikut serta menyumbang bagi anak-anak Indonesia yang tidak mampu melalui royalti buku ini. Saatnya untuk ikut serta memberi kesempatan melejitkan potensi mereka!

Review buku ditulis oleh Hartono pengasuh www.rumahbaca.wordpress.com

2 Responses to “Beyond Productivity”


  1. 1 indri Wednesday, April 14, 2010 at 11:16 am

    buku yang banyak menginspirasi, saya dulu org yg sll punya keinginan keras, krn sdh berada berada di zona yang aman baik pekerjaan dan ekonomi maka keinginan untuk berkembangpun jadi berkurang. dari buku ini timbul inspirasi…

  2. 2 Lydia Komala Friday, April 16, 2010 at 6:01 pm

    Saya kenal Coach Sugeng baru lewat facebook saja dan kemarin langsung tertarik membeli bukunya. Hari ini menerima pesan dari Beliau bahwa buku sudah direview di web ini. Buku yang sangat menginspirasi. Selama ini saya telah menjadi manusia dengan mentalitas kerdil seperti kata Pak Hartono. Berkat buku ini, saya bertekad untuk berubah karena saya tidak ingin kehilangan kehidupan dan keluarga saya. Di web ini, sekarang juga, saya membuat public commitment seperti yang disarankan Coach Sugeng dalam bukunya! Saya pasti bisa!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: