Tribes

Ada satu kata yang menjadi kata mantra pada abad millennium ini, yaitu change, perubahan. Kata itu juga yang kemudian menghantarkan Barrack Obama menjadi kepala negara kulit hitam pertama di Amerika Serikat. Reinhard Kasali juga sempat melahirkan buku best seller dengan judul Change. Dunia saat ini memang telah mengalami perubahan secara cepat. Mereka yang masih berkutat pada status quo, kemapanan, konservatisme, akan dilibas habis oleh jaman. Tetapi saya berpendapat bahwa pada umumnya manusia secara naluriah tidak suka pada perubahan. Manusia lebih suka pada daerah aman, comfort zone. Hanya sedikit yang memiliki mentalitas perubahan, yaitu mereka yang memiliki mentalitas  pempimpin. Dalam ranah manajemen memang dikenal istilah, the leader make a change, the manager make a widget. Pemimpin membuat perubahan, menajer menyediakan tools atau perangkat manajemen untuk menyokong visi perubahan itu.

Menurut buku Tribes, karya Seth Godin ini, dunia kini terbelah dalam kelompok-kelompok minat yang dipimpin oleh seorang pemimpin informal yang diikuti secara sukarela oleh para pengikutnya. Dunia yang telah berubah ini tak lagi memberi ruang bagi pemimpin yang konservatif dan menghendaki kepatuhan pengikutnya tanpa syarat. Bahkan secara provokatif, Seth Godin mengkritik laku pemimpin spiritual keagamaan yang menyandarkan karisma kepemimpinannya dari dogma agama yang tak boleh dibantah oleh pengikutnya. Agama yang sejak dulu memelihara dogma, ritual, kepatuhan, konservatisme.. Itulah sebabnya di banyak negara maju, agama sudah tidak lagi menjadi pilihan. Bagian ini agak sedikit mengusik saya. Sebab menurut saya, agama itu adalah panduan hidup, termasuk menjaga pikiran agar tak tergoda dan keluar dari jalurnya, menjadi bebas. Tapi mungkin yang dimaksudkan oleh Seth Godin pada perubahan agama adalah pada metodenya, seperti yang dipraktikan oleh AA Gym dengan manajemen qolbunya. Di sini AA Gym menjadi pemimpin tribes, dan pengikutnya adalah mereka yang secara sukarela menjalankan agama dengan lebih condong pada pengelolaan hati atau qolbu. Tribes manajemen qolbu ini sempat juga mengundang kritik dari kelompok konservatif, bahkan ada seseorang yang yang mencoba mengkritiknya secara keras dengan mengelurkan buku ”Raport Merah untuk AA Gym!”

Menurut buku ini, sebuah tribes terbentuk dengan adanya syarat berikut ini: adanya minat yang sama, media untuk menyatukan minat itu, adanya seorang pemimpin dan para pengikut.  Siapapun bisa menjadi pemimpin. Tidak harus mensyaratkan diri keturunan bangsawan atau punya kharisma. Untuk menjadi seorang pemimpin, yang diperlukan hanyalah komitmen dan memiliki visi perubahan.

Senyawa dengan semangat perubahan dan tak mau tunduk pada konservatisme, struktur buku Tribes juga anti kemapanan. Buku ini tidak terbagi dalam bab atau bagian yang terstruktur. Pembahasan hanya terbagi dalam beberapa pointes yang kemudian diuraikan pendek-pendak, ada yang satu halaman dan ada juga yang bahkan hanya setengah halaman. Beberapa pointers terasa seperti pengulangan dari pointers sebelumnya. Mungkin maksudnya semacam penguat atau pengingat akan bahasan sebelumnya. Saat membaca, kita sepertinya diberi kebebasan untuk meloncat-loncat dari satu halaman ke halaman berikutnya. Dia cair dan memang menggambarkan semangat anti kemapanan itu.

Buku ini memang provokatif, demikianlah kira-kira ciri sebuah buku laris, selalu mengundang kontroversi. Ia mendobrak mindset kita, mengedor kemapanan berfikir yang selama ini kita pegang. Semacam buku 4 buku kontroversial karya Malcolm Gladwell yang juga punya ciri serupa: Tipping Point, Blink, Outliers, dan What The Dog Saw.

Review buku ditulis oleh Hartono, pengasuh http://www.rumahbaca.wordpress.com

4 Responses to “Tribes”


  1. 1 melatih daya ingat dan konsentrasi Monday, August 9, 2010 at 10:21 am

    hanya dengan terus berubah, kita menjadi manusia seutuhnya

  2. 2 dewantosinurat Saturday, August 24, 2013 at 11:16 am

    agama bisa menjadi inspirasi ,agama bisa menjadi panduan ,asal jangan agama di jadikan alasan untuk kepentingan karena sangat mudah bahkan terlalu mudah memanfaatkan umat lugu untuk kepentingan pribadi , karena mudah berarti tidak cerdas

  3. 3 dewantosinurat Saturday, August 24, 2013 at 11:17 am

    perubahan adalah keabadian dengan berubah bisa abadi


  1. 1 Backpacking Modal Jempol « RUMAH BACA Trackback on Wednesday, November 3, 2010 at 3:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: