Panggil Aku Kartini Saja

Hampir setiap tanggal 21 April kita selalu disuguhi pemandangan yang menyenangkan. Apa itu? Perempuan berkebaya, baik yang masih duduk di TK sampai kepada karyawan, bahkan polisi wanitapun turut berkebaya. Ya kita menyebutnya Hari Kartini. Memang berkebaya secara berjemaah pada tanggal itu identik dengan peringatan lahirnya RA. Kartini.

Untuk menggali sisi kepahlawanan RA. Kartini saya menyarankan membaca buku “Panggil Aku Kartini Saja” (Lentera Dipantara: 2003) karya Pramoedya Ananta Toer. Mengapa? Paling tidak ada 2 alasan yang bisa saya kemukakan di sini. Pertama, buku karya Pram ini mencoba melihat sisi lain dari sejarah RA. Kartini. Apa yang dimaksud dengan sisi yang lain itu?

Selama ini saya memahami RA. Kartini dari pelajaran sejarah sebagai pembela kaum wanita dan pejuang emansipasi wanita. Namun dari buku ini saya mendapat pencerahan yang hebat bahwa sebenarnya Kartini tidak sekedar pembela emansipasi wanita, tapi lebih dari itu!

Kartini melalui kehidupan sejarahnya telah mencoba mendobrak sebuah tembok yang luar biasa tinggi dan tebal, yaitu kolonialisme dan feodalisme. Dua isme yang pada waktu itu sedang bercokol di bumi Indonesia, dan Jawa khususnya. Memang Kartini tidak bisa meruntuhkan isme itu tetapi dengan kegigihan beliau,  tonggak ke arah perubahan sudah mulai.

Perjumpaannya dengan budaya dan bahasa Belanda pada waktu dia sekolah rendah menjadi modal yang besar. Penguasaan bahasa Belanda yang baik membuat Kartini mampu membaca banyak buku dan majalah, tentunya dalam bahasa Belanda. Benar kata pepatah buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku dan berkorespondensi  dengan sahabat penanya seperti misalnya  Stella dan Nyonya Abendanon , pemikiran Kartini mulai terasah. Observasinya terhadap kemiskinan dan kebodohan rakyatnya membuatnya bangkit, dan ini memotivasi  Kartini kepada satu cita-cita luhur yaitu ingin mengangkat derajat bangsanya dari kebodohan dan kemiskinan.

Alasan kedua, alat perjuangan Kartini tidak menggunakan senjata, artinya adalah perjuangan yang beliau lakukan adalah nirkekerasan. Ini berbeda dengan pendahulu-pendahulunya yang berjuang mengusir penjajah dengan angkat senjata dan saling mematikan. Hanya melalui tulisan  yang halus dan tajam Kartini berjuang.  Apa yang dipilih kartini merupakah buah perenungannya setelah membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar.

Alat perjuangan Kartini adalah sastra, ia berharap dari sastra orang akan tahu bahwa kolonialisme dan imperialisme adalah sesuatu yang kotor dan tidak memanusiakan manusia. Karena tugas manusia adalah memanusiakan manusia.

Buku yang dibagi dalam 6 bagian besar ini memang tepat jika dikatakan sebagai buku sejarah. Ketelitian Pram dalam meneliti bagian-demi bagian surat-surat Kartini memang merupakan kekuatan dari buku ini. Walaupun bagi saya masih ada tandatanya besar tentang hari-hari terakhir Kartini dalam hidupnya yang tragis, karena beliau meninggal ketika melahirkan anak pertamanya, dan ini tidak saya dapat di buku ini.

Akhirnya selamat menikmati buku, Selamat Hari Kartini, dan selamat mendapatkan pandangan yang berbeda yang disuguhkan oleh penulisnya.

Review buku ditulis oleh Wiyanto

3 Responses to “Panggil Aku Kartini Saja”


  1. 1 Public service delivery Tuesday, May 4, 2010 at 12:37 pm

    Trims atas review buku Kartininya. Yang dikenang selain ‘kebaya’ mungkin ialah judul bukunya, “Habis gelap terbitlah Terang”. Apakah ini judul yang ditulis RA Kartini sendiri atau oleh editor yang membukukan surat2nya? Tapi judul itu jelas memberi optimisme, harapan, memotivasi.
    Seandainya … Kartini lahir dizaman email/internet. Atau sebaliknya, bisakah komunikasi internet melahirkan pikiran-pikiran yang mencerahkan bangsa seperti itu? Salam, Risfan M

  2. 2 Hartono Tuesday, May 4, 2010 at 3:02 pm

    Berdasarkan kutipan dari Wikipedia tentang judul buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,”….

    Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku yang dikarang Kartini. Judul aslinya adalah ‘Dari Gelap Menuju Terang’. Kartini mendapatkan inspirasi dari kalimat Kitab Sucinya ‘mina dulumati ila nuur’.

    Semoga bermanfaat
    Hartono


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: