Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas

Peluncuran dwilogi Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas ini tidak mendapatkan sambutan  yang gegap gempita  seperti tetralogi Laskar Pelangi. Mungkin saja, kurangnya sambutan atas buku  ini disebabkan oleh kekecawaan sebelumnya, dengan terbitnya tetralogi  terakhir Laskar Pelangi – Maryamah Karpov.  Sosok Maryamah Karpov yang dijanjikan dalam buku terakhirnya itu ternyata justru memunculkan sosok Nurmi pemain Biola. Lalu pembaca mencari-cari, di mana sosok Maryamah Karpov-nya? Hubungan dengan papan catur juga sekedar selintas ketika Nurmi sering bermain biola di kedai kopi, tempat para pecatur bertarung di sana. Dalam satu kesempatan Andrea Hirata pernah menjelaskan bahwa buku Maryamah Karpov memang buku yang tidak selesai. Singkatnya, Tetralogi Laskar Pelangi tidak ditutup dengan manis. Semestinya Edensor cukuplah menjadi penutup manis atas perjalanan hidup sosok Ikal bersama Laskar Pelangi dari sebuah sekolah dasar reot di pedalaman Belitong menggapai mimpi hingga di altar Sorbonne University, sehingga pengelompokan  tetralogi itu kurang tepat. Semestinya trilogi Laskar Pelangi.

Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas menurut saya lebih tepat digabung sekalian jadi satu menjadi trilogi Maryamah Karpov. Karena dalam dwilogi ini sosok Maryamah dikupas habis-habisan. Mulai dari sosok Maryamah kecil – Enong – hingga menjadi sosok Maryamah Karpov yang berubah menjadi master catur di kampungnya. Munculnya kembali sosok A Ling bolehlah dianggap sebagai pengobat rindu sekaligus menumpas dahaga rasa ingin tahu pembaca soal kelanjutan hubungan asmara antara Ikal dan A Ling. Tapi benang merah cerita tetap pada sosok Maryamah.

Terlepas dari kekecewaan itu, paling tidak saya menangkap ada beberapa keunikan dari dwilogi ini. Pertama, kemasan buku dwilogi benar-benar dibuat dwimuka, artinya buku dikemas secara bolak-balik dengan dua wajah. Begitu pembaca selesai dengan buku pertama, langsung dibalik saja. Sepanjang yang saya ketahui, kemasan ini baru pertama kali saya temukan dalam penerbitan buku. Ini berbeda dengan trilogi Rara Mendut karya YB Mangunwijaya, yang terdiri dari 3 buku sekaligus – Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Buku trilogi YB Mangunwijaya ini hanya memiliki satu wajah saja dengan ketebalan  802 halaman!  Keunikan kedua adalah pada riset Andrea Hirata soal catur. Novel ini seolah-olah berubah menjadi laporan pandangan mata penyiar radio pada kejuaraan catur. Di sana pembaca dapat menemukan istilah-istilah yang sangat khas dalam permainan catur. Hebatnya lagi, permainan catur itu di tangan Andrea Hirata berubah bak pertempuran sengit antar tokoh yang saling berhadap-hadapan. Keunikan ketiga, masih soal riset, Andrea Hirata dengan cerdas dan teliti mengupas habis perilaku masyarakat Melayu melalui tokoh-tokoh ciptaannya.  Soal perilaku masyarakat Melayu yang suka omong besar, sedikit pemalas, gemar main catur. Masih dengan gaya satire, parodi, humor dan konyol, khas Andrea Hirata.

Berbeda dengan  Laskar Pelangi yang berbicara soal bagaimana orang digerakkan oleh sebuah mimpi. Dalam dwilogi ini Andrea Hirata terobsesi untuk mendobrak kungkungan dominasi laki-laki atas perempuan dengan caranya yang mengejutkan: gadis Enong si pendulang timah yang kemudian berubah menjadi perempuan Maryamah sang master catur dalam upaya membalas sakit hatinya kepada laki-laki yang hendak mencelakainya, Overste Djemalam, dan mantan suaminya, Matarom! Dendam itu pada akhirnya terbayar lunas di atas papan catur, yang menghantarkan  Maryamah menjadi master catur bergelar Maryamah Karpov!

Review buku ditulis oleh Hartono, pengasuh Ruma Baca

4 Responses to “Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas”


  1. 1 nurhasanah Sunday, July 18, 2010 at 9:55 pm

    buku yang sangat menarik.wajib baca lah.aku sudah melihat hypotesis bang andrea terdahulu bagaimana lelaki model bang zaitun oleh karena kepiawaiannya mengolah gitar bisa punya 32 kekasih,terjawabkan mengapa ariel bisa punya banyak gadis?jd aku percaya aja sama ulasan atau hipotesa apapun dari bang andrea.bravoooooo bang.

  2. 2 ina Tuesday, July 20, 2010 at 8:12 am

    Satu lagi istimewanya Andrea: kemampuan bertuturnya yang mengikat pembaca sampai kata terakhir di novelnya! Harus disebut juga gaya mentertawakan keadaan tanpa terlihat menyakiti seperti hipotesanya mengenai warung kopi vs istri dan acara konyolnya dengan Ortoceria!

    “Say no to buku bajakan”

  3. 3 Diah Wednesday, July 21, 2010 at 8:51 am

    Kecewa berat dg karya Andrea utk kesekian kalinya setelah Maryamah
    Karpov. Dibuka dg kisah Enong & kelgnya, meninggalnya sang ayah yg
    begitu dramatis, tetapi langsung mentah begitu membaca chapter
    selanjutnya yg terkesan dipaksakan utk melanjutkan kisah Ikal & Aling.
    Hingga ke Cinta di Dalam Gelas, pun masih sama. Menjelaskan siapa
    sebenarnya Maryamah Karpov. Kesan saya karya Andrea kali ini biasa
    saja, alur cerita yg jumping, tdk sebombastis promonya. Apa Andrea
    sudah kehabisan ide atau krn tuntutan publisher? Hmm…silakan dijawab
    heheee. Tapi khas Andrea Hirata ttp ada, guyonan melayunya. Untuk
    koleksi lumayan lah, design bukunya jg unik.

    Salam,
    Diah

  4. 4 reglest Wednesday, January 18, 2012 at 8:05 pm

    Wow! Senang sekali membaca review ini (walau sedikit ketinggalan)
    Benar, saya setuju sekali bahwa maryamah karpov (MK) itu malah menyisakan tanda tanya dan tidak memuaskan. Secara penceritaan pun, dwilogi satu ini malah lebih mengena dibanding MK, gaya bercerita khas Andrea Hirata, benar-benar dapat saya sesapi dalam dwilogi ini. Dan yang paling saya nikmati adalah tokoh Maryamah itu sendiri.
    Lalu yang tak dapat saya pungkiri adalah, bagaimana saya menertawakan diri sendiri sebagai orang melayu yang disindir habis-habisan namun nyata pada buku ini.
    This is a nice book!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: