Backpacking Hemat Ke Australia

Saat ini kita sedang memasuki era di mana setiap orang punya kesempatan yang luas  untuk menjadi penulis buku, tanpa melihat rekam jejak sejarah kepenulisan seseorang. Topik yang diulaspun sangat beragam, mulai dari biografi, politik, keuangan, petualangan, memoar, sampai ke persoalan remeh-temeh seperti seni melipat kertas, mendaur ulang sampah, merawat bayi yang rewel, dll.

Jenis buku yang saat ini paling banyak diminati adalah buku yang mengulas sesuatu dari  tangan pertama alias pelaku langsung. Misalnya buku tentang perjalanan hidup sesorang yang berhasil keluar dari jerat narkoba, buku tentang kisah mantan narapidana atau bromocorah, dsb. Buku kisah petualangan, yang lahir dari tangan pertama  alias pelaku langsung kini juga mulai menjamur. Buku “Backpacking Hemat Ke Australia,” yang ditulis oleh Elok Dyah Messwati, seorang wartawan, yang sedang saya review ini adalah salah satunya. Sebenarnya sudah ada beberapa buku serupa yang bercerita tentang backpacking, misalnya  The Naked Travellers yang ditulis Trinity. Atau ada juga buku lain yang berkisah tentang perjalanan perempuan berjilbab melanglang buana secara backpacking.  Buku ketiga pada tetralogi Laskar Pelangi, “Edensor”  sejatinya juga mengisahkan petualangan Ikal dan Arai menjelajah dunia secara backpacking pula. Masing-masing buku memiliki keunikan dan kekuatan untuk menggaet pembacanya.

Buku “Backpacking Hemat Ke Australia” ini menurut saya menawarkan kekuatan lain yang belum pernah dibuat oleh buku-buku sebelumnya, yaitu dengan tampilan foto-foto full color yang hampir merajai setiap halaman. Cuma menurut saya pribadi, yang sedikit agak mengganggu barangkali adalah foto diri penulis yang lumayan banyak muncul di sana. Foto-foto obyek wisata yang dikunjungi atau orang-orang yang ditemui mungkin akan lebih menarik perhatian.  Atau kesan saya ini justru berlaku sebaliknya, justru disitulah kekuatannya! Karena dalam jagad digital dan jaman MTV saat ini, sesuatu yang diminati publik adalah yang good looking, funky, dan juga up to date. Kebetulan sang penulis, selain memang berlatar belakang wartawan yang tentu pandai menulis, juga good looking.  Jadinya klop, kata orang Belanda! Hal ini setali tiga uang dengan tayangan masak-memasak ala chef Farah Quinn yang akhir-akhir ini populer di layar kaca. Lezat masakanya, cantik pula pembawa acaranya.  This is it!

Foto-foto yang bertebaran hampir di setiap halaman itu juga bisa dimaknai sebagai alat provokasi visual yang efektif tentang betapa dahsyatnya jalan-jalan dengan cara backpacking. Kita bisa menikmati suasana alam dan menyelami keseharian orang-orang yang ditemuai.  Kira-kira  pesan yang ingin diwartakan melalui foto adalah:  kemarilah, jelajahi dunia seperti yang pernah aku lakukan di sini!

Buku “Backpacking Hemat Ke Australia” ini terbagi ke dalam 4 bagian besar. Bagian pertama menjadi perkenalan tentang sosok penulis yang keranjingan  jalan-jalan. Bagian kedua,  ketiga dan keempat kesemuanya menceritakan  perjalanan penulis  ke Australia.  Cuma,pada bagian kedua dan ketiga, warna backpacking-nya belum sekuat bagian ke empat.  Kunjungan pertama ke Australia memang karena tuntutan tugas sebagai seorang wartawan, lalu kunjungan kedua adalah karena dorongan spiritual ingin berjumpa dengan Sri Paus. Baru pada kunjungan yang ketiga, eksplorasi perjalanan secara backpacking benar-benar tergambar kuat pada buku ini. Dengan membaca kisah perjalanan pada buku ini, pembaca bisa ikut merasakan bagaimana perjalanan itu dilalui: mencari akal agar berhemat, mengurangi beban bagasi hingga 7 kg, naik pesawat gratis, menginap di rumah teman-teman yang tergabung dalam Hospitality Club, atau kadang-kadang tidur di ruang tunggu bandara,  dll. Pokoknya sengsara membawa nikmat!

Terakhir, kalau menelisik kegilaan penulis pada urusan jalan-jalan secara backpacking, saya menduga akan segera muncul buku seri kisah perjalanan bakcpacking hemat ke Eropa, Amerika, Afrika, atau Asia  dari penulis yang satu ini. Kita tunggu saja.

Review ditulis oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca

2 Responses to “Backpacking Hemat Ke Australia”


  1. 1 Ipung Tuesday, August 31, 2010 at 12:03 pm

    wah seru juga ya klo cerita jalan-jalan bisa dijadikan cerita buku.

  2. 2 Anton Toby Wednesday, November 3, 2010 at 4:30 pm

    I like its cover! Ngebayangin Australia yang bergurun dan eksotik untuk dijelajahi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,630 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: