Sang Penyihir Dari Portobello

Bulan september ini tampaknya menjadi bulan khusus bagi  Paulo Coelho. Setelah “Veronika Memutuskan Mati,” Rumah Baca kembali menurunkan review novel  “Sang Penyihir Dari Portobello,”  di mana kedua novel itu ditulis oleh Paulo Coelho. Sebelumnya Rumah Baca juga sudah pernah mereview “The Alchemis,” oleh penulis yang sama.

Pertama-tama, saya sungguh tertarik dengan cover novel ini. Seorang perempuan bergaun merah dalam posisi duduk tertekuk, dan pose diambil dari atas. Kesan misterius sudah terkirim kuat lewat cover ini. Ini memang novel yang bersumber dari kisah nyata tentang seorang wanita misterius bernama  Athena. Paulo Coelho menuturkan kembali kisah ini dengan menggunakan  teknik penuturan dari cerita banyak orang – yang mengenalnya dengan baik maupun yang nyaris tidak mengenalnya sama sekali.  Jadinya seperti potongan-potongan dokumenter penuturan dari  para tokoh yang memberikan kesaksian tentang sosok Athena. Di sana ada Heron, seorang jurnalis yang jatuh cinta kepada Athena. Andrea, seorang artis yang merasa bahwa Athena telah merebut pacarnya sendiri, Heron, dari tangannya. Lukas, mantan suami Athena dan ayah dari Viorel, anak hasil hubungan mereka berdua.   Edda, sang dokter yang menjadi guru , spiritual   Athena.  Shamira R. Khalil, Ibu angkat Athena. Liliana, ibu kandung Athena, yang telah tega membuang dirinya ketika masih bayi, dan sedert tokoh-tokoh lainnya. Tokoh-tokoh itu bertutur tentang Athena yang dikenalnya. Tanpa terasa, melului tokoh-tokoh itu,  Paulo Coelho menyampaikan gagasan dan sekaligus gugatanya tentang cinta, gairah, suka cita, dan pengorbanan. Dia juga bisa dengan cair mengritik ritual keyakinan Katolik yang kaku, ketika Athena ditolak oleh Pastur Giancarlo saat menerima Ekaristi, karena Athena telah bercerai dari suaminya, yang membuat Athena berang dan mengutuk gereja Khatolik. Hingga kemudian Athena justru menemukan kedamian spiritual melalui tari dan seni kaligrafi.

Meniliki latar belakang sang penulis sendiri, Paulo Coelho  dilahirkan dari keluarga Katolik yang termasuk dalam golongan menengah, dan sekolah di sekolah Jesuit. Ketika dia menemukan panggilan sejati sebagai seorang penulis, kedua orang tuanya menentang keras keputusannya itu.  Kedua orang tuanya yang meghendakinya untuk menjalani kehidupan “normal.”  Karena harapan kedua orang tuanya tak kunjung dituruti,  hal itu semakin menghkawatirkan kedua orang tuanya, dan mengirimkan Paulo Coelho ke rumah sakit jiwa. Itulah sebabnya Paulo Coelho mampu mengambarkan secara detail dan mendalam orang-orang yang sakit jiwa dalam novel “Veronika Memutuksan Mati.”

Paulo Coelho adalah sosok eksentrik dan berjiwa bebas dan pencari sesuatu yang baru. Novel ini   kembali menegaskan soal keberanian manusia untuk keluar dari belenggu sosial. Sering kita tidak mampu menjadi diri sendiri karena terjebak oleh tekanan sosial. Seringkali kita tidak sanggup untuk mengabaikan  “apa kata tetangga,”  ketika sebuah keputusan penting kita ambil. “Kata tetangga” selalu menjadi bahan pertimbangan, sekalipun “kata tetangga” itu menjadikan kita tidak lagi menjadi sosok yang merdeka. Saya kok jadi ingat ada seorang sahabat yang sempat mengatakan kepada saya, “Saya sudah dimerdekakan… “  sementara saya sendiri masih saja terjebak dalam sebuah rutinitas yang menyiksa. Selalu saja ada alasan untuk berkilah dan berkata,  “Baiklah, akan saya bereskan yang ini dulu, barulah saya bisa mengabdikan diri pada impian-impian saya.”

Melalui Athena kita bisa belajar soal keberanian untuk merdeka dan jujur pada diri sendiri  meskipun harus berakhir dengan tragis, dibunuh secara brutal….!

Review ditulis oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca

3 Responses to “Sang Penyihir Dari Portobello”


  1. 1 mashar Wednesday, September 29, 2010 at 8:54 am

    Paulo Coelho mengajukan gugatan soal dominasi Agama, yang sudah terstruktur dalam jaringan kekuasaan (politik dan keimanan umatnya) yang dikonfrontir dengan aliran kuno/ purba. Athena dengan berani menyongsong “Sang Ibu” (sebagai versi lain dari “Tuhan yang feminin”).
    Ini termasuk novel berat, karena bisa menggerus keimanan kita masing-masing yang sudah kita imani selama ini. Pertahanan terkakhir ada di tangan kita masing-masing.

  2. 2 Evi Wednesday, October 20, 2010 at 9:03 pm

    Ternyata penyuka buku2 om Paulo Coelho juga ya ^_^ mas Har join di goodreads.com aja, bisa promo-in bukunya di sana juga loh ^_^

    • 3 mashar Thursday, October 21, 2010 at 11:31 am

      Yup! Membaca novel-novelnya Paulo Coelho kita diajak berpikir bebas. melintas kungkungan tradisi dan tekanan sosial yang selama ini membelenggu kita.
      Itulah kekuatan sebuah tulisan, harus mampu mengajak pembacanya berpikir dan berefleksi.
      Saran ke Goodreads.com akan dilaksanakan!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,340 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: